Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebat dengan Sang Ibu
Pintu ruang kerja itu terbuka tanpa ketukan. Farah melangkah masuk dengan wajah yang menunjukkan bahwa kedatangannya bukan sekadar untuk melepas rindu kepada putra semata wayangnya. Di balik meja kerja, Arslan masih fokus menatap layar laptop. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum sempat ia tinggalkan.
"Arslan, ada yang ingin mama bicarakan." Suara Farah membuat Arslan menghentikan gerakan tangannya sesaat. Namun hanya sesaat.
"Masalah apa lagi?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar, ia bahkan masih sibuk menekan-nekan tombol keyboard yang ada pada layar laptopnya.
"Ya, masalah rumah tanggamu." Mendengar itu, Arslan langsung mengembuskan napas panjang. Topik yang belakangan selalu berhasil menguras kesabarannya. Arslan menutup laptopnya perlahan.
"Ma, bisa nggak kita nggak ngebahas itu di kantor? Sebentar lagi beberapa rekan bisnis Arslan datang. Arslan lagi banyak kerjaan." Terang Arslan.
"Habis mau dibahas dimana? Udah beberapa kali mama nyuruh kamu datang ke rumah tapi kamu nggak pernah datang." Keluh Farah.
"Arslan sibuk ma." Jawab Arslan singkat. Farah mengangkat sebelah alis sambil melipat tangan di dadanya.
"Sibuk?! tapi hampir setiap hari selalu pulang sore dan jalan-jalan terus sama Zulfa." Farah selalu dapat informasi dari salah satu pelayan yang bekerja di rumah Arslan kalau Arslan dan istrinya sering menghabiskan waktu di luar rumah.
"Memangnya ada yang salah? Zulfa itu istri Arslan jadi wajar kalau kita sering jalan-jalan." Timpal Arslan.
"Tapi mama juga ibumu, masa kamu nggak mau meluangkan waktu juga buat ketemu mama di rumah?" Nada suara Farah mulai meninggi, ia mengutarakan kekesalannya. Arslan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kesabarannya seakan mulai menipis.
"Selama mama masih nyuruh-nyuruh Arslan nikah lagi, Arslan nggak akan mau meluangkan waktu buat ketemu mama." Kalimat itu meluncur begitu saja. Tegas, tanpa keraguan. Farah sontak terdiam. Namun hanya beberapa detik.
"Mama akan berhenti nyuruh kamu nikah lagi kalau Zulfa bisa ngasih kamu keturunan." Farah semakin mendesak Arslan. Arslan mengepalkan rahangnya. Lagi dan lagi ... semua kembali pada persoalan yang sama.
"Ini juga lagi diusahakan, ma!! Zulfa lagi berjuang buat bayi tabung lagi." Nada suaranya masih terkendali meski mulai terdengar berat. Sebenarnya Arslan kesal sekali dengan sikap Ibunya yang sangat terobsesi untuk memiliki cucu tapi sebisa mungkin Arslan bersikap sabar dan tenang menghadapi ibunya itu.
"Kamu sadar nggak sih, kalau istri kamu itu udah nggak bisa ngasih kamu keturunan..."
"Maa..." Arslan mencoba menyela, tetapi Farah tidak memberinya kesempatan.
"Kalau dokter sudah memvonis istrimu hanya bisa hamil lewat bayi tabung saja, itu artinya dia mandul...karna nggak ada dokter yang berani mengatakan kalau pasiennya mandul."
"CUKUP!!!" Bentakan Arslan menggema di ruangan itu. Rahangnya mengeras, sementara urat-urat di lehernya tampak menegang menahan amarah yang mulai meluap hingga tubuhnya terasa panas karena emosinya.
"Selama Zulfa masih punya rahim, dia masih ada harapan hamil," lanjutnya dengan suara berat. "Sekalipun harapan itu hanya lewat bayi tabung saja."
Farah mendengus pelan. "Terus kalau gagal lagi, gimana? Jangan bilang kalau mau coba lagi, mama capek dengernya."
Pertanyaan itu terlontar begitu dingin tanpa rasa empati. Farah bahkan memalingkan wajahnya seolah lelah mendengar harapan yang terus diulang. Sementara Arslan menatap ibunya tak percaya. Bukan karena pertanyaannya. Melainkan karena begitu mudahnya Farah mengabaikan perjuangan yang telah dilalui Zulfa selama bertahun-tahun.
"Kalau ada orang yang paling berhak merasa capek, itu Zulfa. Bukan mama!! Zulfa yang menjalani semua proses itu. Dia yang minum obat setiap hari. Dia yang disuntik berkali-kali. Dia yang harus menahan sakit, cemas, dan kecewa." Suara Arslan terdengar menyesakkan.
"Mama cuma ingin cucu, Arslan."
"Arslan tahu."
"Dan Mama juga memikirkan masa depan keluarga ini."
"Arslan juga memikirkannya."
"Lalu kenapa kamu selalu menolak solusi yang Mama kasih?" Arslan tertawa pelan dan berkata, "Menikah lagi bukan solusi buat Arslan bisa punya anak. Tidak ada jaminan laki-laki yang menikah dua kali pasti punya anak. Arslan tidak mau menyakiti perempuan yang sudah menemani Arslan selama sepuluh tahun. Dan satu hal lagi yang harus mama tahu, Arslan sudah tidak punya ruang untuk mencintai perempuan lain."
"Kamu itu jangan egois!! Hanya karna cinta kamu sampai mengabaikan hal yang lebih penting buat kelurga kita. Coba kamu pikir, bagaimana kalau kamu sampai tua nanti tidak punya keturunan, siapa yang akan mengelola perusahaan sebesar ini? Semua ini dibangun dari nol oleh Mama dan Papa. Bertahun-tahun kami bekerja keras, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan masa muda kami, jadi wajar kalau kami ingin ada penerus yang melanjutkan semuanya." Arslan terdiam beberapa saat, ucapan Farah membuat Arslan menghembuskan nafas gusar. Ia bahkan sampai memijit pelipisnya yang terasa mengetat.
"Jangan mengkhawatirkan sesuatu di luar kendali kita. Kita bisa jual perusahaan ini dan aset-aset lainnya, lalu hasilnya bisa kita sumbangkan ke banyak yayasan yang membutuhkan, seperti yayasan sosial, panti asuhan, rumah sakit, lembaga pendidikan, atau siapa pun yang membutuhkan. Lumayan kan bisa jadi tabungan amal kita untuk bekal akhirat. Siapa tahu nanti kita bisa masuk surga jalur kilat. Sesimple itu sebenarnya hidup, tolong jangan di bikin rumit!!"
"ARSLAN!!!" Wajah Farah seketika memerah. Suara bentakannya menggema di seluruh ruangan. Jari telunjuknya terangkat menunjuk wajah putranya. Tatapan matanya dipenuhi kemarahan dan ketidakpercayaan.
"Bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu!! ini bukan perusahaan kecil yang bisa kamu jual begitu saja, Ini warisan keluarga kita yang harus kita jaga untuk masa depan generasi selanjutnya. Kalau sampai perusahaan ini berani kamu jual, Mama orang pertama yang akan menentangnya." Nada suara wanita paru baya itu bergetar, namun Arslan tetap terlihat tenang mendengar amarah sang ibu, bahkan senyum tipis terukir dari bibinya. Senyum yang justru membuat Farah semakin kesal.
"Kenapa Mama marah?"
"Tentu saja Mama marah!"
"Padahal dari tadi Arslan cuma mengikuti logika Mama."
Farah mengernyit.
"Maksud kamu?"
"Mama lebih mementingkan perusahaan ini daripada kebahagiaan anak sendiri. Dan mama ingin Arslan tetap menjaga perusahaan ini dengan memiliki generasi penerus..."
Arslan berdiri dari kursinya. Tatapannya berubah serius hingga suasana terasa lebih berat.
"Tapi sayangnya, Arslan tidak berpikir seperti itu. Buat Arslan, ini bukan soal siapa yang mewarisi aset. Bukan soal siapa yang duduk di kursi direktur setelah kita tua nanti, bukan juga soal siapa yang meneruskan nama keluarga."
Arslan menatap ibunya dalam-dalam. Suaranya terdengar tenang. Namun setiap kata yang keluar terasa menghantam tubuh Farah. "Tapi ini soal orang yang paling Arslan cintai dan harus Arslan lindungi."
Farah terdiam. Sementara Arslan melanjutkan dengan nada yang lebih lembut.
"Kalau pada akhirnya Tuhan tidak mengizinkan kami memiliki anak, itu tidak akan membuat hidup kami berakhir. Kami tetap bisa bahagia. Kami tetap bisa menjalani hidup dengan baik."
Lalu ia menatap ibunya sekali lagi. "Karena tujuan hidup Arslan bukan mewariskan perusahaan. Tujuan hidup Arslan adalah menjaga orang yang sudah Tuhan titipkan kepada Arslan. Dan orang itu... adalah Zulfa."
Tok... Tok... Tok...
Ketukan di pintu memecah ketegangan yang sejak tadi memenuhi ruangan.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Vania melangkah masuk sambil membawa tablet di tangannya. Sekilas ia dapat merasakan atmosfer panas yang masih menggantung di antara Arslan dan Farah.
"Maaf mengganggu, Pak." Suaranya terdengar hati-hati.
"Saya hanya ingin menyampaikan kalau tamu anda sudah menunggu di ruang lobi."
Arslan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Lima menit lagi, suruh mereka masuk ke ruangan saya."
"Baik, Pak."
Vania mengangguk patuh. Namun sebelum berbalik pergi, ia sempat merasakan tatapan Farah mengarah kepadanya. Seketika tengkuknya menegang. Ia buru-buru menundukkan kepala, menghindari kontak mata dengan wanita yang beberapa menit sebelumnya masih mengancamnya di luar ruangan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Vania segera keluar dan menutup pintu dengan pelan. Begitu pintu kembali tertutup, Arslan mengembuskan napas panjang. Ia lalu berdiri dari kursinya dan merapikan jas yang dikenakannya.
"Lebih baik sekarang mama pulang." Farah langsung menatap putranya dengan wajah tak percaya.
"Kamu berani ngusir mama?"
"Arslan habis dapat proyek besar, tolong jangan ganggu urusan Arslan kalau mama ingin semakin kaya." Farah masih terlihat enggan beranjak. Namun Arslan sudah berjalan menuju pintu seolah menyuruh ibunya agar cepat pergi.
"Kamu berani sekali sama mama." Farah mendengus kesal.
"Arslan cuma berusaha menyelamatkan sumber kekayaan yang Mama khawatirkan dari tadi." Arslan tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Dengan cara halus Arslan mengulurkan tangan, mempersilakan ibunya keluar.
"Silahkan ..."
Farah menatap putranya beberapa saat. Ingin marah, ingin membantah. Namun pada akhirnya ia memilih mengalah. Dengan langkah yang sedikit kesal, wanita itu keluar dari ruang kerja putranya. Begitu Farah menjauh dari area kantornya, Arslan memejamkan mata sesaat. Kepalanya terasa berdenyut. Menghadapi negosiasi bisnis bernilai miliaran rupiah sering kali terasa jauh lebih mudah dibanding menghadapi ibunya sendiri. Namun tak peduli seberapa keras tekanan yang datang, satu hal tetap tidak akan berubah. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengatur rumah tangganya. Termasuk ibunya sendiri.
***
Setelah urusannya dengan sang ibu dan pertemuan bersama rekan-rekan bisnis selesai, Arslan segera menutup laptopnya. Ia bahkan tidak berniat menambah satu pekerjaan pun lagi hari itu. Ada sesuatu yang jauh lebih penting menunggunya di rumah.
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya dengan Zulfa yang ke-10. Sebuah hari yang selalu ia nantikan setiap tahunnya. Tanpa membuang waktu, Arslan langsung meninggalkan kantor lebih awal. Langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya. Sesekali senyum tipis terukir di wajahnya saat membayangkan ekspresi istrinya nanti ketika melihat kejutan yang telah ia siapkan.
Di tengah perjalanan pulang, ia sengaja mampir ke sebuah toko bunga langganannya. Matanya langsung tertuju pada rangkaian bunga lily putih yang tersusun rapi di dalam lemari pendingin kaca.
Bunga favorit Zulfa. Sejak dulu wanita itu memang menyukai bunga lily. Katanya, warna putihnya selalu mengingatkannya pada ketenangan dan ketulusan.Tanpa berpikir lama, Arslan membeli satu buket besar yang dirangkai dengan pita berwarna krem.
Setelah menyelesaikan pembayaran, ia kembali masuk ke mobil sambil membawa bunga tersebut dengan hati-hati. Meski telah menikah selama sepuluh tahun, Arslan tetap merasa bersemangat setiap kali hendak memberikan sesuatu kepada istrinya.Baginya, mencintai Zulfa bukanlah kebiasaan yang memudar seiring waktu.
Justru semakin lama, rasa itu semakin tumbuh dan mengakar dalam hidupnya. Mobil SUV berwarna putih yang dikendarainya melaju membelah jalanan ibu kota menuju kawasan tempat rumah mereka berada. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya gerbang rumah megah itu terbuka secara otomatis menyambut kepulangannya. Arslan segera memarkir kendaraan di garasi lalu turun sambil membawa buket bunga yang baru dibelinya.
Senyum masih menghiasi wajahnya saat melangkah masuk ke dalam rumah. Namun senyum itu perlahan memudar ketika tidak menemukan Zulfa di ruang keluarga. Biasanya, istrinya sudah menunggunya di sana.
"Zulfa?" Arslan mengerutkan kening ketika tak ada jawaban.
Ia kembali melangkah lebih jauh hingga aroma masakan yang begitu akrab menyambut indra penciumannya. Langkahnya otomatis berbelok menuju dapur. Dan di sanalah ia menemukan sosok yang sejak tadi dicarinya. Zulfa berdiri membelakanginya di depan kompor. Tangannya sibuk mengaduk masakan sementara beberapa hidangan lain telah tersusun rapi di atas meja dapur.
Arslan terdiam beberapa detik. Raut wajahnya berubah menjadi heran.
Bukankah mereka sudah merencanakan makan malam di luar sejak jauh-jauh hari?
Bukankah malam ini mereka akan merayakan ulang tahun pernikahan bersama?
Lalu kenapa istrinya justru terlihat sibuk memasak?
"Sayang..."
Suara Arslan membuat Zulfa menoleh. Senyum lembut langsung merekah di wajah wanita itu. Namun Arslan masih terlihat bingung.
"Kok masih masak?"
Tatapannya beralih pada berbagai hidangan yang hampir selesai disiapkan.
"Kita kan sudah punya rencana makan malam di luar malam ini."
Zulfa tersenyum misterius sambil mematikan kompor.
Sementara Arslan semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan oleh istrinya.
"Apa mungkin Zulfa lupa, ya?" tanya Arslan dalam hati.
Arslan menatap intens tubuh istrinya yang masih di balut daster pendek dengan tali tipis yang menggantung di atas lutut, ditambah Zulfa menggelung rambutnya ke atas membuat air liurnya nyaris tumpah melihat leher jenjang nan putih itu. Padahal semalam Arslan baru saja mendapatkan haknya tapi sepertinya Arslan masih menginginkan jatah itu lagi.
"Sayang, kenapa belum siap-siap?" Kedua tangan Arslan yang dipenuhi otot-otot itu melingkar di perut ramping Zulfa membuat tubuh zulfa tersentak kaget.
"Aduh kamu ngagetin aja!! Kamu nggak liat apa kalau aku lagi pegang pisau nanti kalau tanganku sampai ke iris, gimana?" Hardik Zulfa.
"Jangan sampai ke iris dong!! Ini juga ngagetinnya pelan-pelan." Zulfa hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban suaminya.
"Kenapa belum siap-siap?" .
"Memang kita mau kemana?" Arslan berdeham menanggapi pertanyaan istrinya, dan seperkian detik kemudian Zulfa langsung mengatupkan kedua tangan ke mulutnya. Zulfa sadar ia sudah melupakan moment terpenting dalam hidupnya.
"Maaf ya aku beneran lupa."
"Yaudah kamu cepet siap-siap, ya! Aku udah booking tempat khusus untuk kita dinner nanti."
"Wah ... mau dinner di restoran mana lagi nih?" Zulfa penasaran dengan kejutan dari suaminya.
"Rahasia dong! yang penting kamu siap-siap aja dulu." Zulfa menuruti perintah suaminya, ia berlari menuju lantai atas untuk membersihkan diri dan menghiasi wajahnya yang sudah memiliki kecantikan alami.
Tak selang beberapa lama kemudian Zulfa menuruni anak tangga dengan anggunnya. Membuat Arslan yang masih duduk di bawah sana menatap istrinya tak berkedip. Seorang Zulfa Azra tak perlu berdandan lama-lama sebab tanpa make up pun ia tetap terlihat cantik dan menarik.
"Ini untukmu." Arslan menyodorkan bunga lily kepada Zulfa yang saat ini sudah berada di hadapannya.
"Terimakasih nggak pernah bosan ngasih aku bunga." Zulfa tersenyum senang saat mencium aroma wangi dari bunga lily itu
"Terimakasih juga nggak pernah capek jadi istri aku." Dan mereka pun saling tertawa.
Lalu mereka menuju garasi mobil tempat koleksi mobil Arslan berjejer rapi.
"Kita mau naik mobil yang mana, ya?" tanya Arslan kebingungan.
"Yang mana aja deh, yang penting mobilnya bisa jalan." Jawab Zulfa. Lalu Arslan menunjuk satu mobil sportnya yang paling mahal, "Yang itu aja, ya."
"Mending kita pake mobil yang biasa aja deh."
"Kenapa kok jadi berubah pikiran gitu. Katanya yang mana aja." Sindir Arslan.
"Memangnya lokasi dinnernya jauh banget ya, sampai harus naik mobil yang kecepatannya di atas rata-rata."
"Nggak jauh-jauh banget sih, tapi nggak apa-apa juga kan, kalau kita naik mobil yang itu." Zulfa mengerucutkan bibirnya saat Arslan terlihat begitu ingin mengendarai mobil yang harganya selangit.
"Kenapa mukanya jadi badmood gitu? takut ya, kalau aku dilirik cewek cantik gara-gara naik mobil mahal," goda Arslan. Ia begitu gemas melihat istrinya kalau sedang cemburu.
"Selama aku di dekatmu aku pastikan nggak akan ada betina gatal yang berani menggoda kamu."
"Aduh .. galak banget istri orang!!" Arslan terkekeh mendengar perkataan istrinya itu.
Dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk menaiki mobil sport yang biasa Arslan bawa ke kantor sebab bahan bakar mobil yang tadi ingin mereka pakai sudah hampir habis, Arslan lupa memeriksanya.
Arslan sudah tidak sabar untuk membawa Zulfa menuju kejutan yang telah ia siapkan sejak jauh hari. Sebuah makan malam yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Lebih privat.
Lebih hangat.
Dan lebih berkesan.
Ia bahkan telah memesan sebuah kamar di hotel tempat mereka akan melanjutkan malam itu, kamar yang sudah dihias secara khusus dengan suasana romantis, seolah mengulang kembali momen-momen awal pernikahan mereka.
Bagi Arslan, anniversary bukan sekadar perayaan tanggal. Tapi pengingat bahwa di tengah kerasnya dunia yang ia hadapi setiap hari, ada satu tempat di mana ia selalu bisa kembali menjadi dirinya sendiri—bersama Zulfa.
Orang yang selalu ia pilih, setiap hari, tanpa ragu. Ia menoleh ke arah istrinya yang kini duduk di sampingnya di dalam mobil. Senyum kecil terukir di bibirnya. Dan tanpa sadar, ia menggenggam tangan Zulfa lebih erat dari biasanya. Seolah ingin memastikan bahwa apapun yang terjadi di luar sana, malam ini adalah milik mereka berdua. Sepenuhnya.