Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampan namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
baca ceritanya untuk lanjut🫶🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pagi yang seperti Neraka
...Bunyi nyaring alarm dari ponsel retak di atas nakas menghantam paksa kesadaran Rania. ...
...Dengan mata yang masih setengah terpejam dan kepala yang berdenyut berat akibat tidur yang kurang dari empat jam, ia meraba-raba nakas, mematikan benda bising itu, lalu menghela napas panjang....
...Setiap pagi, sebelum kakinya bahkan menyentuh lantai, sebuah mantra wajib selalu ia rapalkan dalam hati, Bertahanlah, Rania. ...
...Demi Ibu. Demi tagihan rumah sakit....
...Rania bangkit, melangkah gontai menuju cermin kamar mandi yang buram. ...
...Di dalam pantulan kaca, tidak ada sosok "Milky" yang menggemaskan dengan mata abu-abu berbinar dan senyum manis yang sanggup melelehkan hati para pria. ...
...Yang ada hanyalah Rania Adisti seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang tampak luar biasa mengenaskan. ...
...Lingkar hitam tebal menghiasi bagian bawah matanya yang sayu....
...Proses perubahannya dari seorang manusia menjadi "sekretaris magang paling menderita se-Arkananta Group" dimulai. ...
...Rania sengaja menarik rambut hitamnya yang tebal ke atas, menggulungnya menjadi cepolan acak-acakan yang jauh dari kata rapi. ...
...Selanjutnya, ia mengenakan kemeja putih yang ukurannya dua kali lebih besar dari ukuran tubuhnya yang mungil, dipadukan dengan rok span hitam kebesaran yang ia beli di pasar loak. ...
...Sentuhan terakhir yang paling penting adalah sepasang kacamata dengan bingkai bulat besar dan lensa super tebal....
...Penyamaran yang sempurna. ...
...Di gedung pencakar langit Arkananta Group, penampilan adalah segalanya. ...
...Dengan berpenampilan seburuk mungkin, Rania berhasil menjadi sosok tak kasat mata yang tidak akan pernah dilirik oleh siapa pun, terutama oleh para predator kantor. ...
...Namun sayangnya, cara itu sama sekali tidak berlaku di hadapan sang penguasa tertinggi lantai paling atas gedung ini....
...Tepat pukul tujuh lebih empat puluh lima menit, Rania melangkah keluar dari lift lantai tiga puluh. ...
...Suasana di lantai eksekutif itu sudah terasa mencekam, seolah-olah ada awan badai tak terlihat yang menggelayut di langit-langitnya. ...
...Para karyawan senior berjalan dengan terburu-buru, wajah mereka tegang, dan tak ada satu pun yang berani bersuara keras....
...Penyebab dari suasana neraka ini hanya satu, Arkananta Narendra sudah tiba di ruangannya....
...Rania menghembuskan napas pelan, merapikan letak kacamata bulatnya yang melorot, lalu bergegas menuju pantri khusus. ...
...Ini adalah tugas pertamanya setiap pagi, sebuah tugas yang lebih mirip dengan ritual penjinakan monster. ...
...Ia harus menyeduh secangkir black coffee tanpa gula menggunakan biji kopi arabika pilihan yang digiling dengan tingkat kehalusan presisi....
...Tangan Rania bergerak cekatan....
... Di kafe malam hari, ia terbiasa membuat berbagai ramuan minuman manis dengan estetika tinggi, jadi menyeduh kopi hitam seharusnya adalah perkara mudah. ...
...Namun, ingatkan Rania bahwa pria yang akan meminum kopi ini bukanlah manusia biasa. ...
...Dia adalah titisan iblis berwujud CEO tampan berdarah dingin....
...Dengan nampan perak di tangannya, Rania berjalan menuju pintu kayu jati ganda yang besar. ...
...Ia mengetuk pintu itu tiga kali dengan ritme yang teratur....
..."Masuk," terdengar suara bariton yang dingin dari dalam....
... Suara itu begitu tajam hingga sanggup membuat bulu kuduk Rania meremang seketika....
...Rania mendorong pintu dengan sikunya, lalu melangkah masuk dengan kepala menunduk dalam. ...
...Di balik meja kerja marmer yang luas, duduklah sang penguasa. ...
...Arkananta Narendra tampak luar biasa memukau, sebuah pemandangan indah yang sayangnya selalu tertutup oleh wataknya yang mengerikan. ...
...Setelan jas abu-abu gelap buatan desainer ternama melekat sempurna di tubuhnya yang tegap dan atletis. ...
...Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, menampilkan dahi yang tegas dan sepasang alis tebal yang saat ini sedang menyatu. ...
...Rahangnya yang kokoh tampak mengeras, sementara sepasang mata elangnya yang berwarna hitam legam terfokus sepenuhnya pada layar iPad di tangannya....
..."Selamat pagi, Pak Arkan. Ini kopi hitam Anda," ucap Rania dengan suara yang sengaja ia buat agak cicit dan bergetar, mencerminkan citra sekretaris magang yang penakut....
...Rania melangkah mendekat, meletakkan cangkir porselen putih itu dengan sangat hati-hati di sisi kanan meja kerja Arkan, memastikan posisinya tidak menggeser tumpukan dokumen lain....
...Arkan tidak langsung menyentuh kopi itu. ...
...Ia menyelesaikan ketikannya di iPad selama tiga puluh detik yang terasa seperti tiga puluh tahun bagi Rania. ...
...Setelah itu, ia meletakkan iPadnya dan mengulurkan tangan panjangnya yang dihiasi jam tangan mewah untuk meraih gagang cangkir....
...Rania menahan napas. ...
...Ia memperhatikan bagaimana bibir tipis Arkan menyentuh pinggiran cangkir, lalu menyesap cairan hitam pekat itu sedikit....
...Hening....
...Satu detik. Dua detik....
...Tiba-tiba, gerakan Arkan berhenti. ...
...Sepasang mata elang itu perlahan terangkat, menatap lurus ke arah Rania di balik lensa kacamata bulatnya....
... Tatapan itu begitu dingin, seolah-olah bisa membekukan darah di dalam nadi Rania saat itu juga....
...Brak!...
...Arkan meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja dengan hentikan yang cukup keras hingga menyisakan bunyi berdenting yang memilukan....
... Beberapa tetes kopi hitam terciprat keluar, mengotori permukaan meja marmer yang bersih....
..."Rania," panggil Arkan....
... Suaranya rendah, namun penuh akan ancaman yang berbahaya....
..."I-iya, Pak?" Rania meremas ujung kemeja kebesaran di balik punggungnya. ...
...Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena murni ketakutan akan kehilangan pekerjaannya....
..."Berapa suhu air yang saya minta untuk menyeduh kopi ini?"...
...Rania menelan ludah dengan susah payah....
... "Delapan puluh delapan derajat Celsius, Pak. Sesuai dengan instruksi tertulis di SOP ruangan pribadi Anda."...
...Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, menautkan jemarinya di depan dada, lalu menatap Rania dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara....
... "Lalu kenapa kopi yang ada di hadapan saya ini suhunya sembilan puluh derajat Celsius? Meleset dua derajat dari standar saya."...
...Rania tertegun....
... Sembilan puluh derajat? Yang benar saja! Pria ini punya termometer di dalam mulutnya atau bagaimana?!...
..."M-maaf, Pak. Saya sudah mengukur suhunya dengan termometer digital di pantri sebelum membawanya ke mari—"...
..."Saya tidak butuh alasan dari seorang pemagang bodoh yang bahkan tidak bisa membaca angka di termometer dengan benar," potong Arkan tanpa belas kasihan. ...
...Kalimatnya tajam, menusuk langsung ke harga diri Rania....
... "Dua derajat Celsius mungkin terdengar sepele bagi otakmu yang lambat itu, Rania. Tapi bagi saya, dua derajat itu mengubah seluruh tampilan rasa dari biji kopi ini. Kopi ini terlalu pahit dan gosong. Sama sekali tidak layak minum."...
...Dalam hati, Rania sudah menjerit histeris. ...
...Dasar bos psikopat! ...
...Mulutmu itu yang gosong! Kalau tidak mau kepahitan, kenapa tidak minum susu kocok saja sana?! Rania mati-matian menahan otot-otot wajahnya agar tidak berkedut. ...
...Di balik kacamata bulat besarnya, matanya menatap lantai dengan tatapan yang penuh dendam. ...
...Jika tatapan bisa membunuh, Arkan pasti sudah berubah menjadi abu saat ini juga....
..."Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Saya akan segera menggantinya dengan yang baru," ucap Rania, memaksakan suaranya agar tetap terdengar penuh penyesalan....
..."Tidak perlu. Waktu saya terlalu berharga untuk menunggu seorang amatir belajar menyeduh kopi," sahut Arkan dingin....
... Ia menarik sebuah tumpukan dokumen tebal yang berada di sudut mejanya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi....
...Wusss!...
...Tanpa peringatan apa pun, Arkan melemparkan tumpukan dokumen itu ke arah Rania....
... Berkas-berkas kertas seberat beberapa kilogram itu menghantam dada Rania sebelum akhirnya berhamburan, jatuh berserakan di atas lantai, mengelilingi sepatu usang yang dikenakan gadis itu....
...Rania terkesiap, mundur satu langkah karena terkejut....
..."Itu adalah laporan analisis pasar dan proposal untuk proyek di Jakarta Selatan yang kamu ketik kemarin," ujar Arkan dengan nada suara yang santai, seolah-olah baru saja melempar sampah ke tempatnya....
... "Semuanya sampah. Struktur kalimatnya berantakan, datanya tidak akurat, dan analisis risikonya terlalu dangkal. Saya heran bagaimana orang sepertimu bisa lolos dari proses penyaringan tim HRD."...
...Rania menatap lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai. ...
...Dadanya terasa sesak. ...
...Ia telah begadang setengah mati untuk menyelesaikan laporan itu, mengorbankan waktu istirahatnya yang sudah sangat minim, dan sekarang pria ini dengan mudahnya membuang semua kerja kerasnya ke lantai....
... Rasa hangat menjalar ke pelupuk matanya, namun Rania menolak untuk menangis di depan monster ini. ...
...Ia tidak akan memberikan kepuasan itu pada Arkananta....
..."Perbaiki semuanya. Saya minta draf yang baru sudah ada di meja saya sebelum jam makan siang. Jika ada satu saja kesalahan ketik atau data yang meleset..." Arkan menggantung kalimatnya, menatap Rania dengan senyuman miring yang begitu kejam di bibirnya....
... "...kamu bisa mengemas barang-barangmu dan keluar dari gedung ini detik itu juga. Paham?"...
...Rania mengepalkan tinjunya erat-erat di dalam saku rok kebesarannya. ...
...Rasa benci dan dendam membakar seluruh dadanya....
... Namun, bayangan wajah ibunya yang pucat di atas ranjang rumah sakit tiba-tiba melintas di pikirannya, meredam seluruh ego dan amarahnya. ...
...Ia butuh pekerjaan ini....
... Ia butuh uangnya....
...Dengan perlahan, Rania berlutut di atas lantai yang dingin. ...
...Satu per satu, ia memunguti lembaran kertas yang berserakan di bawah tatapan dingin dan tak acuh dari Arkan yang sudah kembali fokus pada iPad-nya....
..."Paham, Pak Arkan. Saya akan segera memperbaikinya," bisik Rania dari bawah....
...Saat ia memungut lembar terakhir, Rania melirik ke arah sepatu pantofel mengkilap Arkan yang berada tidak jauh dari wajahnya....
... Dalam hati, ia berjanji dengan sungguh-sungguh....
...Tunggu saja, Arkananta Narendra. ...
...Suatu hari nanti, aku bersumpah akan membuatmu berlutut dan memohon ampun padaku!...
...Rania bangkit berdiri dengan tumpukan dokumen di dekapannya, membungkuk pelan, lalu melangkah keluar dari ruangan neraka itu dengan hati yang hancur sekaligus penuh dendam yang membara....
... Pagi harinya telah hancur total, dan ia masih harus bertahan belasan jam lagi sebelum malam tiba....