raina Larasati janda dengan 2 anak suaminya meninggal karna serangan jantung sekarang dia harus banting tulang untuk menghidupi anak anaknya, dari yang tidak biasa bekerja sekarang Raina harus mencari nafkah......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adca_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Rania mulai sadar dan melihat sekelilingnya ko putih apa aku sudah menyusul mas Arman,
"Rania hey kamu kenapa Rania melihat Arsen di depan nya"
"Saya kenapa pak kenapa saya ada disini dengan kepala yang masih berat"
"kamu pingsan Rania kan saya sudah bilang kalau kamu gak enak badan jangan ikut istirahat"
"Rania menunduk merasa bersalah dan sudah merepotkan banyak orang, maaf pak tapi saya kesini untuk kerja bukan untuk jalan jalan atau istirahat"
"Iya karna kamu bebal akhirnya seperti ini"
kepala yang masih pusing demam masih tinggi Rania memejamkan matanya kembali Rania menghiraukan ocehan Arsen.
"Ayo bangun makan dulu kamu harus minum obat" Rania duduk meskipun kepalanya rasanya berat sekali Rania memaksakan dirinya bangun
"Ayo buka mulutmu saya suapin"
"tidak! usah pak biar saya sendiri saja" Rania tidak enak harus merepotkan terus Arsen.
"Gak usah banyak gaya Rania kamu duduk saja oleng terus ayo buka mulutnya "
Rania membuka mulut nya tapi baru beberapa suapan perutnya ingin memuntahkan nya seperti nya asam lambung nya kambuh.
"Sudah pak saya sudah mual kalau dipaksakan takutnya saya muntah disini"
"baik minum obat mu dulu Arsen, mengecek dahi Rania dan masih demam"
Rania langsung memalingkan muka diperhatikan seperti itu Rania juga malu pipinya yang sudah merah karena demam semakin merah.
"Kamu istirahatlah biar saya disini yang menjagamu"
"tapi pak gapapa saya sendiri kan bapak lagi kerja maaf saya merepotkan bapak"
"Sudah jangan banyak bicara kamu tidurlah"
Rania merasa risih di satu ruangan berdua tapi karena pengaruh obat Rania terlelap tidur dan tiba tiba Rania mengigau karna saking panas nya.
"Mas mas tunggu Rania mas mau kemana lagi kenapa gak disini saja bareng Rania Rania terus meracau memanggil nama suaminya"
"Rania Rania bangun tapi Rania tidak terbangun dan kembali tidur tenang, Arsen terus mengompres dahi Rania karna demam Rania belum kunjung turun juga."
Setelah tidur beberapa jam Rania terbangun dan melihat kepinggir Arsen ketiduran didekat nya baju Arsen yang sudah berantakan karna dari siang Arsen belum pulang ke hotel.
"Pak.. pak.. bangun sudah Maghrib, Rania membangunkan Arsen"
"kamu sudah bangun Rania bagaiman sekarang kamu sudah mendingan?"
"iya sudah lumayan meskipun masih agak pusing maaf saya merepotkan bapak"
"kalau bapak mau pulang ke hotel silahkan istirahat saja dihotel saya gapapa disini sendirian"
Gapapa saya disini saja sebentar lagi Adi kesini mengantarkan baju ganti saya. Kamu disini tanggung jawab saya kalau ada apa apa pasti saya yang disalahkan.
Di tengah obrolan dering hp Rania berbunyi, Rania langsung merapikan rambutnya dan duduk Rania tidak ingin ibu dan ayah nya khawatir.
"Hallo Rania apa kabar apa kamu baik baik saja ibu menghubungi mu dari tadi tapi tidak bisa"
"iya ibu Rania baik baik saja Rania tadi sibuk dilapangan makannya Rania tidak sempat membuka hp, kemana anak anak Bu?
"Mereka sedang jalan jalan bersama ayah mu biar mereka tidak terlalu sedih karna kamu belum pulang karna bagaimanapun ini pertama kalinya mereka kamu tinggalkan"
"iya Bu makasih maaf Rania selalu merepotkan"
"jangan bilang seperti itu terus Rania kamu anak ibu sudah sewajarnya ibu membantumu jangan ga enakan seperti itu, Rania kenapa muka kamu pucat apa kamu sakit?"