Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang dilakukan Keyra
"Ibu duluan, ya," pamit Bu Elia ketika mereka sudah berada di pertigaan koridor sekolah.
"Ya, bu," jawab Dira.dan Vira berbarengan.
Bu Elia tersenyum kemudian menatap Wanda lekat.
"Kalo ada apa apa, lapor sama ibu, ya." Setelah tersenyum tipis, Bu Elia melangkah pergi meninggalkan mereka.
Wanda menatap ketiga temannya yang sudah membantunya setelah Bu Elia menjauh.
"Makasih, ya, seragamnya. Besok saya kembalikan."
"Buat kamu, kok," sahut Dira.
"Kita masih mau ke kantin?" tanya Dira sambil menatap Keyra dan Vira.
"Iyalah. Aku masih lapar," sahut Vira antusias.
"Oke. Aku juga. Key, kantin, kan?" tanya Vira.
Keyra mengangguk.
"Kamu mau ikut kita ke kantin?" tawar Dira sambil menatap Wanda.
Wanda menggelengkan kepalanya. Dia ngga bawa uang jajan, tapi sudah bawa bekal masakan neneknya.
"Ikut aja," tukas Keyra sambil melangkah lebih dulu.
"Iya, ikut aja. Nanti aku traktir," tukas Vira yang seakan tau apa yang ada di dalam pikiran Wanda. Kemudian Vira juga ikut melangkah menyusul Dira.
"Kalo kamu jalan sama kita, Azula dan teman temannya bakal mikir buat ngerjain kamu lagi," ajak Vira sambil menggandeng Wanda, agar cewe itu masih menurut.
Keyra hanya melirik Wanda yang ditarik lengannya oleh Vira. Dia punya misi dari daddynya.
"Kamu bisa ambil dna Wanda?" tanya Malik tadi malam.
"Bisa, pa," jawabnya menyanggupi.
"Terimakasih, sayang."
*
*
*
Vira dan Dira mentreat Wanda dengan memesankan banyak makanan. Ada bakso, es jeruk dan beberapa irisan buah potong. Wanda sampai sungkan.
"Kamu sudah lama tinggal di rumah Aditama?" tanya Dira ingin tau. Dia jadi penasaran karena Kian beberapa kali membela Wanda dari kekasaran sikap Aditama.
"Tiga tahun," sahutnya sambil setelah menelan bakso ketiganya. Masih ada dua butir bakso lagi.
"Kamu kerja di sana?" Vira juga ikut bertanya.
"Iya."
"Jadi apa?" tanya Vira lagi.
"Pelayan. Bersih bersih kamarnya Aditama," sahut Wanda apa adanya.
"Ooh...."
Hening.
Mereka meneruskan makannya lagi.
"Makan buahnya." Keyra menyodorkan irisan semangka dengan garpu yang menancap di kulitnya. Selain sedotan, dia juga butuh gigitan Wanda di irisan buah semangka itu untuk tes dna.
"Terimakasih." Walau sungkan, Wanda menerimanya dan menggigitnya.
Keyra tersenyum samar melihatnya.
"Mama kamu kerja di rumah Aditama juga?" tanya Vira lagi. Tangannya masih memegang sumpit yang berisi gulungan mie.
Wanda menggelengkan kepalanya.
"Mungkin dulu. Mama meninggal, jadi aku dititipkan, karena nenek juga bekerja di rumah Aditama." Setelah mengatakannya, Wanda merasa heran dengan dirinya karena bisa bercerita seterus terang ini.
Hening lagi.
"Sorry," ucap Vira merasa ngga enak hati karena sudah membuka luka lama Wanda.
"Ngga apa apa." Wanda tersenyum.
Hening lagi.
Setelah selesai makan, Wanda pamit duluan.
Mereka terdiam sambil melanjutkan makan lagi.
"Aku pamit duluan, ya?" ucap Wanda beberapa lama kemudian.
"Oke."
"Terimakasih, ya."
"Santai aja." Dira dan Vira ikut berdiri ketika Wanda beranjak pergi.
Karena cukup terlindung oleh kedua kedua kerabatnya, Keyra mengambil plastik yang sudah dia bawa dari rumah dan menyimpan semua bukti dna Wanda.
"Kamu ngapain Key?" tanya Dira heran setelah membalikkan tubuhnya. Vira juga menatap Keyra curiga. Mereka sempat melihat sampah yang disimpan Keyra di saku jasnya.
"Disuruh daddy."
"Buat apa, sih?" tanya Dira yang masih belum paham.
Vira merenung sejenak.
"Kamu ini..... Masa gitu aja ngga tau," gemas kembarannya.
"Buat mastiin si Wanda itulah, anak papanya Aditama atau bukan. Iya, kan, Key?" bisik Vira di dekat telinga Dira yang reflek tertegun. Dia cukup shock mendengarnya.
"Kita balik ke kelas," ajak Keyra.
Dira masih terdiam mengikuti langkah keduanya.
"Kenapa harus repot repot kalo untuk itu. Tinggal kita ajak ke lab aja ambil darahnya," gerutu Dira pelan.
"Memangnya dia bakal ngasih?" cela Vira.
"Bilang aja buat cek kesehatan. Dia pasti percaya percaya aja," sanggah Dira masih bernada omelan.
"Gini aja udah cukup, kok, kata daddy," sahut Keyra sambil tersenyum agak lebar. Dia senang sudah berhasil memenuhi permintaan daddynya.
*
*
*
Baru saja Elia akan mengirimkan total biaya perbaikan sekolah ke Ezra, laki laki itu menelponnya sekarang.
"Ya, halo...." Elia yang menjawab lebih dulu.
"Lagi sibuk?"
Elia agak terkejut ketika om anak didiknya mengganti mode video call.
Elia merapikan penampilannya sebentar sebelum menerima mode tersebut.
Jantung Elia berdebar aneh ketika melihat laki laki itu tersenyum hangat. Elia akui, laki laki matang itu sangat tampan.
"Syukurlah kamu masih berada di ruangan kamu."
Kening Elia berkerut, tatapnya heran.
"Tentu saja saya masih di sini."
Ezra menganggukkan kepalanya.
"Aku mengira kamu sudah dipecat karena berani menghukum keponakan keponakan saya. Juga Aditama dan teman temannya."
Tentu saja tidak ada yang berani memecatnya. Hanya papanya saja yang sempat menasehatinya agar tidak terlalu keras menghukum siswa siswanya itu.
"Sebenarnya selain untuk menanyakan total biaya yang harus aku ganti, aku jiga ingin merekrutmu jadi stafku." Ezra tertawa berderai.
Elia mendelikkan matanya, tapi kemudian dia menghembuskan nafas panjang.
"Terpaksa saya tolak. Saya akan kirimkan total biayanya." Dia tidak mau lama lama melayani komunikasi laki laki yang sudah matang tapi masih suka main main. Menurutnya begitu.
"Oke. Titip keponakan keponakan saya, Bu Elia." Senyum simpatik Ezra terukir, seakan ingin menebarkan pesonanya sebagai laki laki dewasa yang masih jomblo.
"Tentu, Pak Ezra."
Video call pun berakhir.
Elia menghela nafas. Kenapa rasanya lelah sekali setelah berkomunikasi dengan dia, keluhnya dalam hati.
Dia pun mengirimkan total pembayaran kerugian sekolah. Ngga lama kemudian dia sudah mendapatkan pesan dari Ezra. Bukti transaksi m-bankingnya.
Kening Elia berkerut karena jumlahnya ternyata dua kali lipat.
Terpaksa Elsa mengirimkan pesan pada laki laki tajir sok dermawan itu.
Jumlahnya hanya separuh saja. Nanti saya kembalikan kelebihannya.
Tapi pesan itu tidak dibalas, bahkan juga belum dibaca.
Elia segera menelpon. Laki laki itu harus tau kalo ada kesalahan transfer. Tapi yang ada hanya nada memanggil.
Dua kali Elia melakukannya. Tetap saja tidak tersambung.
Huu-uuh..... Kenapa telponnya malah ngga aktif, batinnya mengomel.
Elia menghembuskan nafas panjang.
Nanti saja aku hubungi lagi.