"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Dingin yang Merayap di Balik Selimut
Bab 6: Dingin yang Merayap di Balik Selimut
Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar bagai ketukan palu yang menghakimi kesunyian malam. Adrian membeku di tempatnya, tangannya yang tadi mencengkeram jemari Santi di atas botol air dingin seketika terlepas. Ia berdeham kaku, mencoba menguasai kegugupan yang mendadak menyerang penampilannya.
"Han... kamu belum tidur?" tanya Adrian dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin, meskipun matanya bergerak gelisah menatap Hana yang berdiri di ambang lampu remang-remang.
Hana tidak langsung menjawab. Ia melangkah perlahan mendekati meja konter dapur. Tatapan matanya lurus, dingin, dan tertuju tepat pada daster satin putih tipis yang melekat ketat di tubuh Santi. "Tenggorokanku kering, Mas. Aku berniat mengambil air minum. Aku tidak tahu kalau dapur rumahku malam-malam begini berubah menjadi tempat yang begitu... ramai," ucap Hana tenang, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan sindiran yang menusuk.
Santi dengan cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura ketakutan sembari meremas ujung dasternya yang minim. "Maaf, Mbak Hana... tadi Santi kehausan karena kipas angin di kamar Santi kurang dingin. Santi tidak sengaja bertemu Mas Adrian di sini," cicit Santi dengan nada suara yang bergetar, seolah-olah ia adalah pelayan yang sedang diintimidasi oleh nyonya besar yang kejam.
"Santi, kembali ke kamarmu sekarang," perintah Adrian dengan suara berat.
"Baik, Mas... eh, Mas Adrian. Maafkan Santi, Mbak," ucap Santi dengan lirik, lalu melangkah tergesa-gesa kembali ke kamarnya di sudut dapur. Namun sebelum benar-benar menutup pintu, dari balik bahunya, Santi sempat melirik Adrian dengan pandangan mata yang sarat akan kode rahasia, seolah berkata bahwa permainan mereka belum selesai.
Setelah Santi menghilang, keheningan di dapur terasa semakin mencekam. Adrian menghela napas panjang, mengambil botol airnya, lalu menatap Hana dengan guratan jengkel yang tidak lagi disembunyikan. "Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh, Hana. Santi itu anak kampung yang masih polos. Dia hanya kehausan. Jangan hobi mencari-cari kesalahan orang lain hanya karena kamu sedang stres di rumah."
Hana menatap wajah suaminya, pria yang lima tahun lalu rela tidur di atas tikar beralaskan kardus bersamanya. Kini, pria itu begitu mudahnya membela wanita lain dan menuduhnya berhalusinasi.
"Aku tidak mengatakan apa pun, Mas. Aku hanya ingin mengambil air," jawab Hana lirih. Ia mengisi gelasnya dengan air putih, meminumnya hingga tandas, lalu berbalik berjalan kembali menuju lantai atas tanpa menatap Adrian lagi.
Di dalam kamarnya yang luas, Hana berbaring di sisi ranjangnya yang dingin. Ketika Adrian menyusul masuk beberapa menit kemudian, pria itu tidak lagi mendekatinya atau memeluk pinggangnya seperti dulu. Adrian langsung memunggungi Hana, menarik selimut tinggi-thggi, dan dalam sekejap terdengar dengkur halus darinya. Hana menatap punggung tegap suaminya di bawah temaram lampu tidur. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter di atas ranjang yang sama, namun Hana tahu, hati dan gairah suaminya kini telah melangkah bermil-mil jauhnya meninggalkan dirinya.
Keesokan paginya, suasana sarapan di rumah mewah itu kembali dipenuhi oleh atmosfer beracun. Ibu Broto sudah duduk di meja makan dengan wajah yang ditekuk masam, seolah-olah dia adalah orang yang paling tersakiti di rumah ini. Begitu Hana turun dan duduk di kursinya, Ibu Broto langsung menggebrak meja dengan ujung sendok peraknya.
"Hana! Ibu sudah dengar cerita dari Adrian soal kejadian semalam!" seru Ibu Broto dengan suara melengking yang seketika membuat ulu hati Hana berdenyut nyeri. "Kamu ini keterlaluan ya! Santi itu anak baik-baik, anak tetangga pamanmu sendiri di kampung. Dia baru satu hari kerja di sini, sudah kamu curigai dan kamu bentak-bentak di dapur malam-malam! Kamu mau bikin dia tidak betah kerja dan pulang ke kampung, hah?!"
Hana menghentikan tangannya yang baru saja hendak mengambil sepotong roti. "Ibu, Hana tidak membentak Santi semalam. Hana hanya mengingatkan bahwa pakaian tidur yang dia kenakan di rumah ini kurang pantas untuk ukuran seorang pekerja, apalagi di depan Mas Adrian."
"Kurang pantas bagaimana?!" potong Ibu Broto dengan galak. "Daster begitu mah biasa dipake anak muda zaman sekarang! Kamu saja yang pikirannya kotor dan sirik karena tubuhmu sekarang melar dan kusam sejak hamil! Jangan samakan Santi yang badannya masih bagus dengan dirimu yang tidak becus merawat penampilan!"
Adrian yang sedang mengunyah rotinya sama sekali tidak berniat menghentikan makian ibunya. Pria itu sibuk menggeser layar ponselnya, membaca laporan omzet harian dari Cabang Dua yang belakangan ini grafiknya mulai menunjukkan sedikit penurunan karena cita rasa bumbu yang tidak stabil sejak Hana dilarang masuk dapur.
"Sudahlah, Ibu, Han," sela Adrian dingin tanpa mendongakkan wajah. "Urusan daster tidak usah diributkan lagi. Yang penting hari ini aku harus fokus ke restoran. Cabang Tiga ada kendala pasokan daging dari vendor lama. Aku harus pergi mengeceknya sampai larut malam nanti."
Adrian berdiri, merapikan jas abu-abunya yang necis, lalu menyambar tas kerjanya. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke arah Santi yang sedang berdiri di dekat lemari es dengan pakaian pelayan yang rapi namun potongan roknya sengaja dibuat sedikit di atas lutut. "Santi, pastikan jamu dan vitamin Ibu sudah disiapkan ya. Dan... kalau ada berkas dari kurir sore nanti, taruh saja di meja kerja ruangan atasku."
"Baik, Mas Adrian. Hati-hati di jalan ya, Mas," jawab Santi dengan senyuman paling manis yang ia miliki, lengkap dengan tatapan mata yang berbinar penuh kepatuhan.
Adrian mengangguk sekilas, mengabaikan Hana sepenuhnya yang duduk membisu di ujung meja, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah. Hana merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya. Adrian bahkan tidak mengucapkan salam atau mengecup keningnya lagi sebelum berangkat kerja—sebuah ritual yang tak pernah absen selama lima tahun pernikahan mereka, yang kini lenyap begitu saja digantikan oleh perhatian dingin yang dialihkan pada Santi.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas penindasan berlapis yang menguras emosi Hana secara perlahan. Dengan dalih bed rest total yang diperintahkan dokter, Ibu Broto benar-benar mengurung Hana di lantai atas. Semua akses keuangan Hana ditutup rapat. Kartu kredit tambahan yang biasa Hana bawa untuk keperluan pribadi telah diblokir oleh Adrian dengan alasan "efisiensi pengeluaran selama omzet restoran berfluktuasi".
Setiap sore, Ibu Broto akan sengaja duduk di ruang keluarga lantai bawah bersama Santi, sengaja mengeraskan suara mereka agar terdengar sampai ke kamar Hana di lantai atas.
"Aduh, Santi... kamu ini memang menantu idaman seandainya kamu lahir dari keluarga kaya," puji Ibu Broto dengan suara melengking disengaja. "Lihat ini, pijatan tanganmu enak sekali di pundak Ibu. Tidak seperti Hana, dulu waktu baru menikah disuruh memijat Ibu saja alasannya capek karena habis pulang dari warung tenda. Sok sibuk sekali dia itu."
Santi yang sedang berlutut di belakang sofa sembari memijat bahu Ibu Broto terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat manja. "Ah, Ibu bisa saja... Santi kan cuma anak kampung yang tahu diri, Bu. Tugas Santi di sini memang untuk membahagiakan Ibu dan membantu meringankan beban Mas Adrian. Santi tidak berani menyamakan diri dengan Mbak Hana yang pintar berbisnis."
"Pintar berbisnis apa? Kalau tidak ada modal nama besar keluarga Broto dan kepintaran Adrian mencari relasi, warung tenda Hana itu paling sudah bangkrut digusur satpol PP sejak dulu!" timpal Ibu Broto dengan nada meremehkan yang sangat kental.
Hana yang sedang duduk di tepi ranjang kamarnya mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Air mata kegetiran mengalir di pipinya. Modal nama besar keluarga Broto? Hana ingin sekali berteriak dan melemparkan semua fakta ke wajah mertuanya bahwa saat mereka merintis bisnis dulu, Ibu Broto bahkan menolak meminjamkan uang seratus ribu rupiah untuk membeli gas elpiji dan justru mencaci-maki Adrian karena mau menikahi wanita yatim piatu seperti Hana. Sekarang, setelah miliaran rupiah mengalir ke rekening mereka, nama keluarga Broto mendadak menjadi pahlawan tunggal.
Ketertindasan harian itu semakin diperparah dengan perubahan sikap Adrian yang semakin drastis. Pria itu kini resmi berubah menjadi sosok misterius yang dingin. Ia selalu pulang di atas jam dua belas malam. Setiap kali Hana terbangun dan menanyakan alasannya, jawaban Adrian selalu sama: "Mengurus tiga cabang sendirian itu melelahkan, Hana! Jangan menambah beban pikiranku dengan pertanyaan-pertanyaan tidak bermutumu itu!"
Namun, hidung emas Hana tidak bisa dibohongi. Setiap kali Adrian meletakkan kemeja kotornya di keranjang cucian, Hana selalu mengendus aroma yang sama—aroma parfum murah beraroma buah yang identik dengan milik Santi, berpadu dengan aroma ruangan ber-AC yang pekat. Hana menyadari, perselingkuhan terselubung dan intrik di dalam rumahnya ini sudah mulai membangun jaring-jaringnya sendiri, perlahan namun pasti siap menjerat dirinya hingga terpojok ke dinding paling sudut. Namun di balik air matanya yang jatuh malam itu, Hana menatap buku catatan resep palsu di atas mejanya dengan tatapan yang semakin tajam. Teruslah melangkah, Mas... Teruslah bermain api dengan ibumu dan gadismu itu, karena saat apinya membesar, aku yang akan memastikan kalian terbakar di dalamnya.