NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:80.5k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

Beberapa hari setelah drama bakso tengah malam itu, cuaca kota sedang terik-teriknya. Siang itu, Nadia baru saja turun dari angkot sepulang dari kampus. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan lidahnya terasa sangat hambar. Rasa ngidamnya beralih arah, kali ini rahimnya merindukan sesuatu yang asam, segar, dan menggigit.

Tanpa pikir panjang, Nadia mampir ke tukang buah gerobak di dekat perempatan gang. Ia membeli mangga muda, kedondong, bengkuang, dan nanas, lengkap dengan bumbu kacang ulek yang pedasnya sedang.

Sampai di paviliun belakang, Nadia langsung membuat rujak sendirian. Dengan lahap ia mengunyah potongan mangga muda yang asam kecut tersebut. Namun, dasar bawaan bayi, baru habis setengah porsi, perutnya mendadak terasa penuh dan mual. Nadia tidak sanggup lagi menghabiskannya. Karena sayang jika dibuang, Nadia membungkus sisa buah-buahan yang sudah terpotong itu ke dalam mangkok plastik, lalu menyimpannya di dalam kulkas satu-satunya yang terletak di dapur rumah depan.

**

Malam harinya, sekitar pukul sepuluh, Ubay baru saja pulang. Langkah kakinya terdengar berat saat memasuki rumah depan. Seharian ini pasar sangat ramai, dan dia harus bolak-balik mengurus rantai pasokan gerobak kopi listriknya yang sempat bermasalah. Badannya lelah, kerongkongannya pun terasa sangat kering.

Ubay berjalan ke dapur, berniat mengambil sebotol air dingin.

Cklek.

Pintu kulkas tua itu terbuka, menyemburkan uap dingin yang menyegarkan. Namun, saat tangan Ubay hendak meraih botol air, pandangannya terhenti pada sebuah mangkok plastik bening yang ditaruh di rak tengah. Di dalamnya terlihat potongan mangga muda, kedondong yang menghitam karena getah, dan sisa bumbu rujak yang sudah sedikit berair di pojokan wadah.

Ubay tertegun. Ia mengambil mangkok itu dan memperhatikannya di bawah temaram lampu dapur.

Seketika itu juga, ada rasa sesak yang aneh mencubit dada sang preman jalanan. Ubay menatap sisa rujak itu dengan pandangan iba yang teramat dalam. Ada rasa kasihan yang mendadak membuncah di hatinya melihat cara Nadia bertahan hidup belakangan ini.

“Kasihan bener lu, Nad...” batin Ubay lirih, matanya masih menatap lekat mangkok plastik itu.

Di dalam kepalanya, Ubay membayangkan betapa sepinya hidup Nadia. Perempuan hamil pada umumnya akan bermanja-manja dengan suaminya, meminta ditemani makan rujak siang hari, atau disuapi sambil bercanda. Namun Nadia? Dia harus kuliah dengan perut yang mulai membawa beban, pulang ke rumah ini sendirian, membeli rujak sendirian, dan memakannya dalam keheningan paviliun belakang tanpa ada teman untuk berbagi rasa asamnya. Nadia terlalu sungkan untuk mengganggu Ubay, sehingga dia memilih menikmati kepayahannya dalam kesunyian.

Ubay menghembus napas panjang, menaruh kembali mangkok rujak itu ke tempatnya lalu menutup pintu kulkas dengan pelan.

Ia bersandar pada meja dapur, melipat kedua tangannya di dada. Pikiran Ubay melayang jauh ke depan. Di mata tetangga, di mata Pak RT, Pak RW, dan seluruh warga kampung, mereka berdua adalah pasangan suami istri baru yang sah dan bahagia. Status itu akan melekat pada mereka, setidaknya sampai anak itu lahir dan surat-suratnya selesai.

Ubay tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan tanggung jawab baru. “Biar bagaimanapun, sekarang dia itu istri gue. Mau satu tahun, dua tahun, atau bahkan sampai lima tahun ke depan di mata masyarakat, gue yang sudah ambil mandat buat jadi tamengnya. Gue gak boleh biarkan dia ngerasa sendirian terus kayak gini.”

Ubay melirik ke arah pintu belakang yang menghubungkan ke paviliun Nadia. Kamar itu sudah gelap, menandakan sang pemilik sudah terlelap. Ubay memantapkan hatinya, besok-besok, dia tidak akan menunggu Nadia meminta. Sebagai pria yang memegang takdir perempuan itu sekarang, Ubay bertekad untuk lebih peka menjaga dan menemani hari-hari berat istrinya.

**

Tekad yang dipatri Ubay di balik pintu kulkas semalam bukan sekadar angin lalu. Minggu pagi yang cerah, saat matahari baru saja mengintip di sela-sela pohon mangga, Ubay sudah sibuk di teras depan. Ia sengaja mengelap motor RX-King kesayangannya sampai mengkilap, sebuah ritual yang jarang ia lakukan seserius ini kecuali mau ada urusan penting.

Kuping Ubay menangkap langkah kaki pelan dari arah samping. Nadia keluar dari paviliun, sudah rapi mengenakan rok plisket panjang dan kemeja kuliahan yang longgar, lengkap dengan tas ransel kecilnya. Hari ini dia memang ada kelas pagi pengganti di kampusnya.

Nadia berjalan pelan, hendak melipir lewat samping pagar agar tidak mengganggu Ubay. Namun, suara berat Ubay langsung menghentikan langkahnya.

"Mau ke kampus?" tanya Ubay tanpa menoleh, tangannya masih sibuk mengelap spion motor.

Nadia tersentak kecil, lalu mengangguk canggung. "Iya, Mas Ubay. Ada kelas jam delapan pagi ini."

Ubay menyimpan kain lapnya ke atas jok, lalu membalikkan badan menghadap Nadia. Matanya menilik penampilan Nadia dari atas sampai bawah. "Lu sudah sarapan belum?"

Nadia agak gelagapan, ia refleks memegangi tali tasnya, menyembunyikan perutnya yang sebenarnya sudah mulai keroncongan sejak subuh akibat bawaan hamil muda yang bawaannya ingin mengunyah terus. "E-Eh... belum, Mas. Rencananya nanti mau beli roti atau bubur di dekat halte depan kampus aja."

Ubay mendengus pendek. "Halah, gaya lu pake beli roti segala. Anak di perut lu mana kenyang dikasih roti sebiji. Perempuan hamil muda itu makannya harus bener, gak boleh telat."

Ubay merogoh stang motor, mengambil sebuah helm cadangan berwarna merah yang biasanya berdebu di gudang, namun pagi ini sudah dilap bersih olehnya. Ia mengulurkan helm itu ke hadapan Nadia.

"Ayo, bareng gue. Gue anter sekalian kita cari sarapan yang bener di jalan," ajak Ubay, nadanya lempeng tapi sarat akan perintah yang tidak boleh dibantah.

Nadia memandangi helm merah itu dengan ragu. Rasa sungkannya kembali kumat, berkecamuk di dalam dada. “Aduh, masa iya kuliah aja harus dianter jemput? Mas Ubay kan pasti capek mau ke pasar,” batinnya bimbang.

"Ng-Nggak usah repot-repot, Mas Ubay," tolak Nadia halus, suaranya mengecil karena segan. "Saya bisa naik angkot kok dari depan gang. Mas Ubay pasti mau langsung ke pangkalan pasar, nanti malah jalannya kepotong."

"Gak ada repot-repot. Pasar gak bakal lari gue tinggal sejam," potong Ubay cepat, matanya menatap Nadia lurus-lurus. "Udah, buruan pakai helmnya. Apa mau gue pakein?"

Mendengar gertakan pelan itu, wajah Nadia seketika merona kemerahan. Ia buru-buru menerima helm itu dengan tangan sedikit gemetar. "I-Iya, Mas. Saya pakai sendiri."

Ubay naik ke atas jok motor, lalu menginjak tuas perlahan.

Breeem... brem... brem...

Suara knalpot RX-King yang khas itu menderu halus di halaman rumah. Nadia naik ke boncengan belakang dengan posisi duduk menyamping, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara punggung Ubay dan dirinya karena rasa canggung yang belum sepenuhnya mencair.

"Pegangan besi belakang yang kuat. Motor gue rada nyentak," seru Ubay dari balik helmnya.

Motor pun bergerak perlahan keluar dari pagar rumah tua, membelah jalanan kampung yang masih sepi. Sepanjang jalan menuju jalan raya, Ubay sengaja membawa motornya dengan kecepatan rendah, sangat berbeda dengan gaya berkendaranya yang biasanya ugal-ugalan seperti setan jalanan. Ia tahu ada nyawa lain yang sedang bergantung di balik jok motornya pagi ini.

Sesampainya di area ruko dekat pasar, Ubay memarkirkan motornya di depan sebuah warung soto ayam Madura yang kepulan uap kaldunya sangat harum.

"Turun. Kita makan soto dulu di sini. Kuah hangat bagus buat perut lu yang sering mual pagi-pagi," kata Ubay sambil melepas helmnya.

Nadia turun dari motor, menatap warung soto yang cukup ramai itu dengan binar mata yang lapar. Rasa perhatian Ubay yang mendadak meluap pagi ini perlahan-lahan mulai meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka, membuat Nadia sadar bahwa di balik jaket jeans belel dan tampang preman suaminya, ada hati yang teramat tulus melindunginya.

***

1
tati st🌼🌼
se exel bener2 susah di kasih nasehat atah pendapat
sutiasih kasih
abian lahir dri perempuan miskin ny sarah.....
ingetttt... kta"mu.... org miskin itu aib...
Safitri Agus
membaca novel ini harus sabar, menunggu saat-saat bom akan meledak di keluarga Pramoedya, kasihan Rika, nalurinya sebagai ibu juga mulai tumbuh seiring dgn yg ada di rahimnya,so emosional alias baper
Safitri Agus
tanggung jawab lu xel,
zufri zhoopye
jadi sedih aku Sampek mewek .tuh kan naluri keibuan mu muncul rika.pasti nyesel kalau setelah lahiran kelak km GK bisa gendong tuh baby
Nolis Karmini
penyesalan yg terlambat... tapi itu lebih baik daripada tidak menyesal sama sekali
yuli mamah
Rika dan Sarah sama sama ngenes🥹
Enisensi klara
Kok aku mikir mendingan Rika nikah sama Bryan aja yg lebih punya hati nurani 😓
partini
nanti baby dah lahir jauh dari Rika apa dia stress Secara lihat baby yg 9 bulan di dalam perutnya
masih segel si Laras hari gini oprasi biar perawan lagi aja banyak ko operasi selaput
Mutiara Anggraini
sedih jadi Rika... sebenarnya Rika baik cuma sifat biar terlihat ga mau kalahnya aja yg minus...
kalau ga baik ga mungkin Rasya mau jalanin 5 tahun sama Rika,dan Rika juga ga selingkuh dari Rasya....
semoga Rika dapat yang terbaik ya Mak rie kasian Rika,disebelah dia emang antagonis disini jangan dibikin merana lagi ya 🤪🤪
Enisensi klara: ya kasihan Rika dia setia tapi sifatnya aja yg minus ,tapi kasihan kalo dibuat ngenes 😓
total 1 replies
Amy Ibrahim
trimaksih othor. sehat slalu ya.
Hartini Safa
nah kan bener pasti mamanya axel iri krn semua udah bs nyentuh abian sedangkan dia belum... mksh kak rie up nya...
Enisensi klara
Sabar ya Bu Sarah ntar biar alam semesta yg mempertemukan mu dgn Abian 🤣🤣🤣jika alam gak merestui ya sabar 🤣🤣
S.R ciplux
yg nikah sama rika bryan apa axel ya
imung murjiyanti: kita tunggu sabar ya mbak smg aja bryan dia lebih waras drpd exel blm lagi nanti menghadspi sarah yg sewiyah2 dg orang di bwhnya 🙏
total 1 replies
Enisensi klara
Nah ..Sarah cemburu lihat Axel ada foto sama Abian dia blm ada 🤣🤣🤣
Enisensi klara
Ya...Tuhan 😭😭😭😭😭kasihan Rika mulai baper dgn kandungan nya dan mulai sayang sama janin nya tapi ga boleh terjadi karena itu milik Axel ,tapi naluri keibuan nnya muncul 😭
Enisensi klara
Betul itu kata Bryan mendingan nikahin aja Rika ,kasihan dia dicampakkan setelah lahiran kembali ke keluarga nya dan nanti jadi omongan tetangga dan orang2 masa depannya dimana 😓
Anna Annawaliana
bryan ada benarnya juga Axel kasian Rika
Enisensi klara
Ya..itulah nasib Rika ngenes lima tahun pacaran kemudian putus padahal udah tunangan ,semua karena sifat Rika sendiri yg gak bisa jaga lisannya 😏tapi kalo skr malahan kebalik hidup Rika kasihan karena ketemu Axel 😓
Enisensi klara
kalo kamu masih punya hati Axel nikahi Rika kasihan dia 😓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!