NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan yang Tak Diinginkan

Pagi setelah badai malam itu membawa atmosfer yang sangat berbeda di lantai 42 KALUMPERRI CORP.

Sinar matahari pagi yang cerah menembus sela-sela tirai jendela besar, menghangatkan ruangan CEO yang kini terasa jauh lebih bersahabat bagi Aulia Putri.

Tepat pukul 08.00 WIB, Aulia meletakkan segelas teh chamomile hangat, lengkap dengan sedikit perasan lemon dan sesendok madu hutan di atas meja kerja Khatyr, berdampingan dengan The Lazy Cheat Sheet berwarna hijau yang sudah ia susun sejak subuh.

Tidak ada lagi kopi hitam instan dingin untuk sang CEO. Aulia telah mengambil alih kendali penuh atas asupan kesehatan pria itu.

"Selamat pagi, Partner," sapa sebuah suara bariton yang terdengar jauh lebih segar dari biasanya.

Aulia menoleh dan mendapati Khatyr Ali Fatih melangkah masuk. Hari ini, sang CEO tampak luar biasa tampan. Setelan jas abu-abu mudanya terpasang sempurna tanpa kusut, rambutnya ditata rapi dengan sedikit pomade, dan yang paling penting, sepasang lingkaran hitam di bawah matanya yang kemarin tampak mengerikan, kini hampir tidak terlihat lagi.

Sorot matanya bersih, memancarkan energi positif yang sudah lama tidak Aulia lihat.

"Selamat pagi, Pak Khatyr," jawab Aulia dengan senyum tipis yang tulus. "Bagaimana tidur Anda semalam? Tanpa obat penenang?"

Khatyr menghentikan langkahnya di dekat meja, menatap gelas teh hangat di hadapannya, lalu beralih menatap Aulia dengan binar jenaka yang hangat. "Sembilan jam penuh tanpa mimpi buruk, Aulia. Itu adalah rekor tidur terbaikku dalam lima tahun terakhir. Sepertinya ancamanmu semalam jauh lebih manjur daripada resep dokter spesialis insomniaku."

Aulia tertawa kecil, kembali merapikan beberapa dokumen di tabletnya. "Saya senang mendengarnya, Pak. Itu artinya otak Anda hari ini harus bekerja dengan efisiensi seratus persen. Silakan tinjau map hijau di meja Anda. Seluruh laporan keuangan Sumatra sudah saya bereskan."

Khatyr duduk di kursi kulitnya dengan helaan napas lega, menyeruput teh hangat buatan Aulia, lalu bergumam puas. "Ah, ini benar-benar surga. Mulai hari ini, aku secara resmi menobatkanmu sebagai sekretaris, manajer risiko, sekaligus pelindung jiwaku yang paling berharga."

Aulia menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya akibat pujian tulus bosnya. "Jangan berlebihan, Pak. Fokuslah pada pekerjaan Anda sebelum jam tidur siang tiba."

Namun, kedamaian di lantai 42 yang manis itu tidak berlangsung lama. Tepat pukul 10.15 WIB, ketika Khatyr sedang serius meninjau rencana ekspansi digital bersama Aulia, interkom di meja kerja Aulia mendadak berdering dengan nada cepat dan panik.

Aulia menekan tombol pengeras suara. "Ya, Murni? Ada apa?"

"M-Mbak Aulia! Darurat tingkat dewa!" suara Murni terdengar bergetar hebat di seberang sana. "Ibu Besar... Ibu Rahayu Fatih baru saja keluar dari lift eksekutif! Dan beliau tidak sendirian!"

Khatyr yang sedang memegang pena langsung membeku di tempatnya. Wajah segarnya seketika berubah pucat seolah-olah baru saja melihat hantu di siang bolong. "Ibu? Kenapa Ibu datang ke kantor tanpa memberi tahu sekretaris pribadi atau protokolku terlebih dahulu?!"

"Dan ada yang lebih parah, Pak!" sambung Murni, suaranya semakin berbisik panik. "Ibu Besar membawa Tiffany Mahardika! Putri tunggal pemilik Mahardika Group! Mereka berdua sedang berjalan menuju ruangan Anda sekarang juga!"

Khatyr langsung bangkit berdiri dari kursinya, matanya berputar liar mencari tempat persembunyian. "Aulia! Cepat kunci pintu utama! Katakan pada mereka aku sedang berada di luar kota! Atau katakan aku sedang pingsan karena kelelahan!"

"Pak Khatyr, harap tenang!" potong Aulia tegas, mencoba menahan bahu bosnya yang sudah bersiap merangkak ke bawah meja kerjanya. "Anda tidak bisa bersembunyi dari ibu kandung Anda sendiri di kantor Anda sendiri. Itu konyol."

"Kamu tidak mengerti, Aulia!" bisik Khatyr panik, merapikan jasnya dengan tangan gemetar. "Ibuku membawa Tiffany. Itu artinya satu hal, Perjodohan. Ibuku sudah mencoba menjodohkanku dengan gadis sosialita itu sejak tahun lalu, dan Tiffany adalah tipe wanita yang tidak akan melepaskan mangsanya sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan!"

Sebelum Aulia sempat menyusun strategi pelarian, pintu ganda kayu jati ruang kerja CEO terbuka lebar dengan bunyi sentakan yang elegan namun tegas.

Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan keanggunan mutlak yang mengintimidasi seluruh ruangan. Ibu Rahayu Fatih mengenakan kebaya modern berbahan sutra premium berwarna lavender, dipadukan dengan selendang batik tulis sutra yang tersampir anggun di bahunya.

Rambutnya disanggul rapi tanpa celah, dan perhiasan berlian minimalis namun bernilai miliaran rupiah melingkar manis di leher dan jemarinya.

Di belakangnya, menyusul seorang gadis muda yang luar biasa cantik dengan gaun desainer Prancis berwarna merah muda pastel yang sangat modis. Gadis itu membawa tas tangan Hermes edisi terbatas, memancarkan aura sosialita kelas atas yang sangat percaya diri.

Dialah Tiffany Mahardika.

"Khatyr, putraku sayang," suara Ibu Rahayu terdengar sangat merdu namun sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Kenapa mukamu pucat begitu melihat ibumu sendiri datang berkunjung?"

Khatyr segera mengubah ekspresi paniknya dalam hitungan detik, memasang senyum manis seorang putra yang berbakti. "Ibu... selamat pagi. Tentu saja aku sangat senang Ibu datang. Hanya saja, aku sedikit terkejut karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya."

Khatyr melangkah mendekat, mencium tangan ibunya dengan takzim, lalu menatap gadis di belakang ibunya dengan anggukan kepala yang sopan namun sangat dingin. "Halo, Tiffany. Lama tidak bertemu."

"Halo, Khatyr," jawab Tiffany dengan suara yang manja, matanya menatap Khatyr dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan memuja yang sangat posesif. "Kamu kelihatan jauh lebih tampan dan rapi hari ini daripada saat kita bertemu di acara makan malam keluarga bulan lalu."

Ibu Rahayu tersenyum puas, lalu pandangan matanya yang tajam dan terlatih langsung beralih ke arah Aulia Putri yang berdiri tegak di samping meja kerja. Sebagai seorang wanita yang telah puluhan tahun mendampingi pendiri Kalumperri, Ibu Rahayu bisa membaca aura seseorang dengan sangat jeli.

"Dan siapa wanita muda yang cantik ini, Khatyr?" tanya Ibu Rahayu, menatap Aulia dengan pandangan menilai yang mendalam.

"Ah, Ibu, perkenalkan. Ini Aulia Putri, Sekretaris Eksekutif baruku," ujar Khatyr cepat. "Aulia, ini ibuku, dan ini Tiffany."

Aulia melangkah maju, membungkuk sopan dengan senyum profesional yang anggun. "Selamat pagi, Ibu Rahayu, Mbak Tiffany. Merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda berdua."

Ibu Rahayu mengangguk pelan, tampaknya cukup terkesan dengan sikap tenang dan sopan Aulia. "Sekretaris baru? Jadi kamu yang berhasil menjinakkan putra bungsuku yang pemalas ini hingga dia tidak pernah lagi bolos rapat akhir-akhir ini?"

"Saya hanya menjalankan tugas saya untuk memastikan efisiensi kerja Pak Khatyr berjalan dengan baik, Ibu," jawab Aulia diplomatis.

Tiffany, di sisi lain, melirik Aulia dengan tatapan meremehkan yang sangat tipis. Di matanya, Aulia hanyalah seorang karyawan biasa dengan pakaian kerja standar yang tidak akan pernah bisa menandingi kasta sosialnya. Ia segera berbalik menatap Khatyr, meraih lengan kokoh sang CEO secara sepihak dan menggelayut manja di sana.

"Khatyr, Tante Rahayu bilang siang ini kamu tidak ada jadwal padat. Bagaimana kalau kita makan siang bersama di restoran Prancis baru di daerah Kebayoran Baru? Aku sudah memesan meja privat terbaik untuk kita bertiga," ujar Tiffany dengan nada merayu yang sangat kental.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!