NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Empat Hari Sebelum Akad

Empat hari sebelum pernikahan, Shaka tidak masuk kerja.

Bukan karena sakit. Bukan pula karena ada urusan bisnis yang harus ia hindari.

Melainkan karena sejak pagi, Aruna sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah yang tidak memberi ruang untuk penolakan.

“Shaka, hari ini kamu tidak usah ke kantor.”

Shaka yang baru selesai memakai jam tangan menoleh. “Kenapa?”

“Hari ini kamu harus menemani Jenna memilih cincin. Setelah itu fitting baju pengantin.”

Shaka terdiam.

“Mama sudah atur jadwal?”

“Tentu saja.”

“Tanpa tanya aku dulu?”

Aruna menatap putranya dengan santai. “Kalau Mama tanya dulu, kamu pasti jawab sibuk.”

Shaka menghela napas.

Ia memang akan menjawab begitu.

Aruna mendekat, lalu merapikan sedikit kerah kemeja putranya.

“Pernikahan kalian tinggal empat hari lagi, Shaka. Ada hal-hal yang tidak bisa selalu Mama dan Papa urus. Cincin itu akan kamu pakaikan ke jari Jenna. Baju pengantin itu akan dia pakai saat menjadi istrimu. Setidaknya kamu hadir.”

Shaka menatap ibunya.

Kata istrimu masih terasa asing di telinganya.

Namun ia tidak membantah.

“Aku hubungi kantor dulu.”

“Tidak perlu. Mama sudah bilang ke Rafa.”

Shaka menatap ibunya datar. “Mama menghubungi Rafa?”

Aruna tersenyum manis.

“Dia sangat kooperatif.”

Shaka sudah bisa membayangkan wajah Rafa yang senang bukan main karena memiliki bahan ledekan baru.

“Ma.”

“Jangan protes. Sekarang jemput Jenna di kafenya.”

Shaka akhirnya hanya mengangguk singkat.

Ia bisa melawan banyak orang, tetapi tidak dengan ibunya.

 

Siang itu, mobil hitam Shaka berhenti di depan Jenna’s Bloom Café.

Kafe itu tampak sedikit lebih ramai dari biasanya. Dari luar, Shaka bisa melihat beberapa pelanggan duduk di dekat jendela, sementara bagian toko bunga dipenuhi warna-warna lembut dari mawar, lily, tulip, dan baby’s breath.

Ia sempat diam beberapa detik sebelum turun dari mobil.

Empat hari lagi, pemilik kafe itu akan menjadi istrinya.

Pikiran itu masih terasa tidak nyata.

Shaka membuka pintu mobil, lalu berjalan masuk ke dalam kafe. Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan ketika ia mendorong pintu kaca.

Di balik kasir, Alya sedang mencatat pesanan pelanggan. Ketika melihat Shaka masuk, ia sempat terdiam sebentar. Bukan karena tidak sopan, melainkan karena ia mengenali laki-laki itu.

Calon suami Kak Jenna.

Setidaknya, kabar itu sudah diketahui para karyawan sejak keluarga Nirankara mulai sibuk menyiapkan pernikahan.

“Selamat siang, Kak,” sapa Alya ramah. “Ada yang bisa dibantu?”

“Saya mencari Jenna.”

Alya mengangguk cepat. “Baik, Kak. Sebentar ya.”

Ia segera berjalan ke bagian belakang toko bunga, tempat Jenna sedang memeriksa beberapa pesanan buket untuk pengiriman sore.

“Kak Jenna,” panggil Alya pelan.

Jenna menoleh. “Iya, Alya?”

“Ada yang mencari Kakak.”

“Siapa?”

Alya menahan senyum kecil. “Mas Shaka.”

Gerakan tangan Jenna yang sedang merapikan pita langsung berhenti.

“Mas Shaka?”

Alya mengangguk.

Jenna menatapnya beberapa detik, seolah memastikan ia tidak salah dengar.

Sejak lamaran diterima, Jenna memang tahu ia akan lebih sering bertemu Shaka untuk urusan persiapan pernikahan. Tetapi ia tidak menyangka Shaka akan datang ke kafenya siang itu tanpa pemberitahuan langsung darinya.

Jenna menarik napas pelan.

“Baik. Jenna ke depan.”

Ia merapikan khimarnya, memastikan cadarnya terpasang dengan baik, lalu berjalan ke area utama kafe.

Di dekat kasir, Shaka berdiri dengan postur tegap. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan celana bahan gelap. Tidak memakai jas seperti biasa, tetapi tetap terlihat rapi dan sulit diabaikan.

Ketika Jenna mendekat, Shaka menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Jenna lebih dulu menunduk sopan.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Shaka.

Alya yang masih berada di sekitar kasir pura-pura sibuk merapikan struk, padahal jelas sekali ia sedang menahan rasa penasaran.

Jenna menyadari itu, lalu berkata dengan suara lembut, “Alya, tolong lanjutkan pesanan buket untuk sore nanti, ya.”

“Siap, Kak.”

Alya segera pergi, meskipun langkahnya tampak sedikit berat karena harus meninggalkan momen menarik itu.

Jenna kembali menatap Shaka.

“Mas Shaka ada keperluan?”

Shaka terdiam sebentar.

Panggilan Mas Shaka terdengar asing, tetapi anehnya tidak buruk.

“Mama meminta saya menjemput kamu.”

Jenna berkedip pelan. “Menjemput?”

“Hari ini kita harus memilih cincin. Setelah itu fitting baju pengantin.”

Jenna baru mengingat jadwal yang sempat dibahas ibunya pagi tadi. Karena sibuk mengurus kafe, ia tidak menyangka waktunya datang secepat ini.

“Oh.” Jenna menunduk sedikit. “Iya, Ibu memang sempat bilang.”

Shaka memperhatikan wajahnya yang tertutup cadar. Ia tidak bisa melihat seluruh ekspresi Jenna, tetapi dari matanya, ia tahu perempuan itu sedikit terkejut.

“Kalau kamu sedang sibuk, saya bisa tunggu.”

Jenna menatap meja bunga di belakangnya, lalu menggeleng.

“Tidak apa-apa. Pesanan bisa dibantu Naya dan yang lain.”

Ia memanggil Naya, memberi beberapa arahan singkat tentang pesanan buket, lalu mengambil tas kecilnya dari ruang belakang.

Naya, Alya, dan Amanda sempat saling pandang dengan senyum tertahan ketika Jenna berjalan keluar bersama Shaka.

Kevin yang berada di balik mesin kopi berbisik pelan, “Itu calon suaminya Kak Jenna?”

Amanda menyikutnya. “Jangan kepo.”

“Tapi keren juga.”

Naya tersenyum kecil. “Dingin-dingin begitu, tadi matanya nyari Kak Jenna.”

Alya menimpali, “Aku lihat juga.”

Mereka hampir tertawa, tetapi segera kembali bekerja ketika Jenna sempat menoleh dari pintu.

“Jenna pergi sebentar. Tolong jaga kafe, ya.”

“Siap, Kak Jenna,” jawab mereka serempak.

Jenna dan Shaka keluar dari kafe.

Mobil Shaka terparkir tidak jauh dari pintu masuk. Ia berjalan lebih dulu, lalu membukakan pintu penumpang untuk Jenna.

Jenna sempat terdiam.

Sikap itu sederhana, tetapi cukup membuatnya merasa dihargai.

“Terima kasih,” ucap Jenna pelan.

Shaka hanya mengangguk.

Setelah Jenna masuk, Shaka menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan ke sisi kemudi.

Begitu mobil mulai melaju, keheningan langsung memenuhi ruang di antara mereka.

Tidak ada suara selain mesin mobil, pendingin udara, dan samar-samar suara kendaraan dari luar.

Jenna duduk dengan tangan terlipat rapi di pangkuan. Ia menatap jalan di depan, sesekali melirik keluar jendela. Shaka fokus menyetir, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di jalan.

Mereka sama-sama sadar bahwa situasi ini canggung.

Terlalu banyak hal besar terjadi dalam waktu singkat, sementara percakapan kecil di antara mereka hampir belum ada.

Empat hari lagi mereka menikah.

Namun hari itu, mereka bahkan belum tahu bagaimana memulai obrolan biasa.

Akhirnya, Jenna lebih dulu bersuara.

“Mas Shaka tidak ke kantor hari ini?”

“Tidak.”

“Karena jadwal ini?”

“Iya. Mama yang mengatur.”

Jenna menunduk sebentar. “Tante Aruna sangat perhatian.”

“Dia terlalu bersemangat.”

Mata Jenna melengkung sedikit. “Ibu saya juga begitu.”

Shaka meliriknya sekilas.

“Bu Zahra?”

“Iya. Sejak pagi beliau sudah membahas banyak hal. Padahal Jenna belum sempat sarapan dengan tenang.”

Ada nada lembut dalam suara Jenna, seperti seseorang yang mengeluh kecil tetapi penuh sayang.

Shaka hampir tersenyum, tetapi ia menahannya.

“Mama juga begitu. Dia bahkan sudah menghubungi sekretaris saya sebelum saya setuju tidak masuk kerja.”

Jenna menoleh sedikit. “Sekretaris Mas Shaka?”

“Rafa.”

“Teman yang waktu itu datang ke kafe?”

Shaka mengangguk.

“Dia terlihat ramah.”

“Dia berisik.”

Jenna tidak bisa menahan senyum kecil di balik cadarnya. Matanya tampak lebih hidup.

“Mungkin karena Mas Shaka terlalu pendiam.”

Shaka terdiam.

Ia tidak menyangka Jenna akan mengatakan itu.

Jenna sendiri langsung sadar bahwa komentarnya terdengar terlalu spontan.

“Maaf,” ucapnya cepat. “Jenna tidak bermaksud tidak sopan.”

“Tidak apa-apa.”

Shaka menatap jalan, tetapi sudut matanya menangkap kegugupan kecil Jenna.

Aneh.

Ia tidak merasa tersinggung.

Justru untuk pertama kalinya, ia merasa percakapan mereka sedikit lebih ringan.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di toko perhiasan yang sudah dipesan Aruna.

Toko itu berada di dalam sebuah gedung butik eksklusif. Interiornya mewah, tetapi tidak berlebihan. Etalase kaca memamerkan berbagai cincin dengan desain elegan.

Seorang staf menyambut mereka dengan sopan.

“Selamat siang, Pak Arshaka, Bu Jennaira. Ibu Aruna sudah menghubungi kami. Silakan lewat sini.”

Jenna sedikit menunduk ketika namanya disebut berdampingan dengan Shaka.

Mereka duduk di meja khusus. Beberapa kotak cincin dikeluarkan satu per satu.

“Ada preferensi desain, Bu?” tanya staf itu kepada Jenna.

Jenna melihat beberapa pilihan cincin di depannya. Ada yang penuh berlian kecil, ada yang bentuknya klasik, ada pula yang sangat mewah.

“Jenna suka yang sederhana,” jawabnya pelan. “Tidak terlalu besar. Yang nyaman dipakai sehari-hari.”

Staf itu mengangguk, lalu mengeluarkan beberapa model lain yang lebih minimalis.

Shaka memperhatikan pilihan Jenna.

Tidak mengejutkan.

Perempuan itu memang tampak seperti seseorang yang tidak menyukai sesuatu yang terlalu mencolok.

Jenna menunjuk salah satu cincin dengan desain ramping, dihiasi satu batu kecil yang terlihat lembut.

“Yang ini bagus.”

Staf mengambil cincin itu, lalu memberikannya kepada Jenna untuk dicoba.

Jenna sempat kesulitan memasangnya karena merasa diperhatikan. Shaka yang duduk di sampingnya menyadari itu.

“Boleh saya lihat?” tanya Shaka.

Jenna menoleh.

Untuk sesaat, mereka saling diam.

Lalu Jenna menyerahkan cincin itu.

Shaka mengambilnya, kemudian dengan hati-hati mengarahkan cincin itu ke jari manis Jenna.

Gerakannya pelan. Tidak terburu-buru. Tidak kasar.

Jenna menunduk, menatap tangan Shaka yang menyentuh jarinya hanya seperlunya. Jantungnya berdetak lebih cepat, tetapi ia berusaha tetap tenang.

Cincin itu terpasang dengan pas.

Staf tersenyum. “Ukurannya cocok.”

Shaka menatap cincin di jari Jenna.

Sederhana.

Anggun.

Sama seperti pemiliknya.

“Bagus,” ucap Shaka singkat.

Jenna mengangkat wajah.

“Menurut Mas Shaka bagus?”

“Iya.”

Hanya satu kata, tetapi terdengar jujur.

Jenna menatap cincin itu lagi, lalu mengangguk.

“Kalau begitu Jenna pilih ini.”

Untuk cincin Shaka, pilihannya jauh lebih cepat. Ia memilih cincin polos berwarna senada, tanpa banyak detail.

Jenna sempat bertanya, “Mas Shaka yakin yang itu?”

“Ya.”

“Tidak ingin lihat yang lain?”

“Tidak perlu. Ini cukup.”

Jenna mengangguk.

Dalam hati, ia mulai menangkap sedikit sifat Shaka. Laki-laki itu tidak banyak bicara, tidak suka basa-basi, dan mengambil keputusan dengan cepat. Dingin, mungkin. Tapi tidak ceroboh.

Setelah urusan cincin selesai, mereka kembali ke mobil.

“Setelah ini ke butik yang Mama pilih,” ujar Shaka sambil menyalakan mesin.

Jenna menoleh kepadanya.

“Mas Shaka, boleh Jenna mengajukan sesuatu?”

Shaka melihatnya sekilas. “Apa?”

“Untuk baju pernikahan Jenna, boleh Jenna memilih di butik sahabat Jenna?”

Shaka diam sejenak.

Jenna melanjutkan, “Dia sudah lama menjadi sahabat Jenna. Dia juga desainer busana muslimah. Jenna merasa lebih nyaman jika fitting dengannya. Tapi kalau keluarga Mas Shaka sudah menentukan butik lain, Jenna bisa menyesuaikan.”

“Nama butiknya?”

“Alma Bride Atelier.”

“Alamatnya?”

Jenna menyebutkan alamat butik itu dengan hati-hati.

Shaka memasukkannya ke navigasi mobil, lalu mengubah arah perjalanan.

“Tidak masalah.”

Jenna menatapnya, sedikit terkejut.

“Benar tidak apa-apa?”

“Baju itu kamu yang pakai. Kamu lebih berhak memilih.”

Kalimat itu membuat Jenna terdiam.

Sederhana, tetapi baginya berarti.

Sejak proses pernikahan mereka bergerak cepat, banyak keputusan dibuat oleh keluarga. Bukan karena mereka mengabaikan Jenna, tetapi karena waktu yang sempit membuat semuanya harus berjalan praktis. Namun Shaka, dengan kalimat singkatnya, memberi ruang untuk pilihan Jenna.

“Terima kasih,” ucap Jenna pelan.

Shaka hanya mengangguk.

Mobil kembali melaju.

Keheningan kembali hadir, tetapi tidak setegang sebelumnya.

Jenna menatap jalan dari balik kaca jendela. Shaka fokus menyetir. Mereka masih canggung, masih belum tahu bagaimana menjembatani jarak antara dua orang asing yang akan segera menikah.

Namun ada sesuatu yang sedikit berubah.

Keheningan itu tidak lagi sepenuhnya dingin.

Ia lebih seperti ruang kosong yang menunggu diisi perlahan.

Beberapa kali Jenna ingin bertanya sesuatu, tetapi ia urungkan. Beberapa kali pula Shaka ingin membuka percakapan, tetapi kalimatnya berhenti di tenggorokan.

Akhirnya, mereka membiarkan diam menemani perjalanan.

Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan.

Melainkan karena keduanya sama-sama sedang belajar menerima kenyataan bahwa dalam empat hari, diam yang sama mungkin akan mereka bagi di rumah yang sama.

Dan di antara kecanggungan itu, Shaka sadar satu hal kecil.

Ia tidak merasa keberatan dengan keberadaan Jenna di sampingnya.

Jenna pun, meski masih canggung, tidak merasa takut duduk di sebelah Shaka.

Itu belum cukup untuk disebut kedekatan.

Tetapi untuk dua orang yang dipertemukan oleh lamaran keluarga, mungkin itu adalah awal yang tidak buruk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!