Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: KEHEBOHAN PAGI
Pagi pertama di mansion Wicaksono setelah kepulangan Anaya dari rumah sakit terasa sangat berbeda.
Di dalam kamar yang luas, seorang gadis dengan mata bulatnya masih tertidur lelap di balik selimut tebal. Matanya masih enggan terbuka walau kicauan burung di pagi hari dari arah balkon sudah sangat berisik.
Menyadari putrinya yang belum juga turun untuk sarapan, Mommy Siska memutuskan untuk naik dan membangunkan putri imutnya itu. Namun, baru saja tangannya hendak menekan tombol lift di lantai satu, suara pintu lift yang terbuka mendahuluinya.
Ting!
Muncul putra sulungnya yang sudah mengenakan seragam lengkap khas PRADIPTA INTERNATIONAL HIGH SCHOOL (PIHS) dengan tas yang disampirkan di bahu kanan. Penampilannya tampak sangat rapi dan tampan.
"Eh, Abang. Adek sudah kamu bangunin?" tanya Mommy Siska.
Mendengar pertanyaan sang ibu, Arka menoleh dan menyahut santai, "Belum, Mom. Abang tadi nggak masuk ke kamar Adek. Mungkin masih tidur, Mom."
Mommy Siska mengangguk pelan lalu melangkah masuk ke dalam lift. "Ya sudah, Abang ke meja makan saja dulu. Mommy mau bangunkan princess," ucapnya sambil berlalu di balik pintu lift yang menutup.
Setelah sampai di depan kamar putrinya, Mommy Siska mengetuk pintu beberapa kali untuk membangunkan si bungsu yang gemoy. Karena tak kunjung ada jawaban dari dalam, akhirnya Mommy Siska membuka pintu perlahan. Ia melangkah masuk dan seketika mendapati Anaya masih tertidur pulas dengan jari jempol yang masuk ke dalam mulut, persis seperti bayi yang sedang mengenyot dot.
"Ya Tuhan... anakku menggemaskan sekali," bisik Mommy Siska tertahan.
Tidak ingin kehilangan momen langka ini, ia cepat-cepat mengeluarkan ponsel, mengambil gambar putrinya yang tidur seperti bayi itu, lalu terkekeh pelan melihat hasil jepretannya sendiri.
"Sayang, wake up," ucap Mommy Siska lembut sembari mengusap pipi gembul putrinya.
"Eungghhh... Mommy..." jawab Naya dengan suara serak khas bangun tidur.
Mommy Siska yang melihat putrinya menggeliat kecil langsung tersenyum gemas. Putrinya ini benar-benar berubah menjadi makhluk paling menggemaskan, pikirnya. "Iya, Sayang, ayo bangun. Nanti ayam Adek habis, loh, dimakan sama Abang."
Mendengar kata 'ayam' yang terancam dihabiskan oleh abangnya, mata bulat yang menggemaskan itu seketika langsung terbuka. Pelupuk matanya mulai berkaca-kaca, siap menumpahkan cairan bening.
"Mommy... jangan dihabiskan ayam Adek," cicit Naya dengan suara bergetar menahan air mata yang hampir tumpah.
"Enggak, Sayang. Makanya ayok mandi sekarang, biar ayamnya nggak keburu habis sama Abang," saran Mommy Siska, menahan tawa sekuat tenaga.
"Eumm! Nay mau mandi, Mommy. Nay ndak suka ayamnya habis!" serunya bersemangat.
Naya langsung bangkit dan berlari kecil menuju kamar mandi.
Mommy Siska yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala, terheran-heran sekaligus gemas melihat tingkah polos anak bungsunya.
"Mommy tunggu di bawah ya, Sayang!" seru Mommy Siska sedikit berteriak.
"Ya, ya, Mommy!" sahut Naya dari dalam kamar mandi.
Beberapa saat setelah menyelesaikan acara mandinya, Naya berjalan riang menuju walk-in closet, sebuah ruangan khusus yang menyimpan banyak sekali koleksi baju-baju mewah milik raga barunya. Ia memiringkan kepalanya lucu sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk, seolah sedang berpikir keras.
"Nay pakai baju mana ya... hmm..." ucapnya berbisik pada diri sendiri.
Dengan mata yang memindai jajaran pakaian secara lucu, pilihan Naya akhirnya jatuh pada sebuah celana overalls denim di atas lutut yang dipadukan dengan kaus putih polos sebagai atasan. Setelah berpakaian, rambut cokelat panjangnya yang halus dibiarkan tergerai bebas dengan poni tipis yang membingkai wajah. Penampilan Naya pagi itu terlihat begitu segar dan imut tingkat maksimal!
(Ah, Author yang bayangin aja udah gemes sendiri, gimana sama Mommy, Daddy, dan Abangnya nanti, xixi!)
Dengan tingkah konyol dan sedikit centil, Naya berdiri berkaca di depan meja rias. Ia membubuhkan sedikit bedak bayi di pipinya, lalu mengoleskan sedikit lip balm agar bibir mungilnya tidak kering.
"Wawww, Nay cantik kayak Mommy, xixi," cicitnya sambil cekikikan lucu. Ia menatap pantulan dirinya lebih dekat. "Look, Kakak ini mukanya mirip Kanaya. Matanya sama, bibirnya sama, pipinya juga kayak Kanaya... bulat, xixi," celotehnya lagi.
Kanaya dan Anaya memang memiliki struktur wajah yang sangat mirip, bahkan tinggi badannya pun sama. Hanya saja, raga Anaya jauh lebih putih, bersih, dan terawat dibandingkan tubuh Kanaya yang dulu sering terpapar matahari saat mencari kayu bakar di desa.
Setelah dirasa siap, Naya akhirnya keluar kamar dan bersiap turun ke lantai satu. Karena masih takut menaiki kotak ajaib bernama lift itu sendirian, Naya memutuskan untuk turun menggunakan tangga darurat yang besar di tengah rumah.
"Hmm... hmm... hmm... la, la, la\~"
Langkahnya terasa sangat ringan. Dengan senandung ceria, Naya menuruni anak tangga satu per satu dengan hati-hati. Begitu matanya menangkap sosok Daddy, Mommy, dan abangnya yang sudah duduk rapi di meja makan mewah, Naya langsung berteriak heboh.
"Daddyyy! Mommy! Abanggggg! Naya yang cantik datangg!" serunya sambil berlari riang.
Prang!
Sontak saja beberapa pelayan yang ada di sana terlonjak kaget mendengar teriakan melengking dari nona muda mereka. Mereka langsung menoleh, dan seketika tertegun tegak saat melihat penampilan baru Nona Muda Anaya yang begitu imut, segar, dan menggemaskan.
Tidak hanya para pelayan, tiga orang Wicaksono di meja makan pun ikut menoleh ke sumber suara. Mereka dibuat terpana dan membeku di tempat melihat kecantikan Anaya yang dibalut kesan super imut pagi itu.
(Oh tidak... semuanya nge-freeze di tempat, termasuk Author wkwk!)
Dengan riang tanpa beban, Naya menghampiri keluarganya di meja makan. Ia langsung menarik kursi dan duduk di samping sang abang.
"Cantik sekali putri Daddy," puji Daddy Hendra, memecah keheningan dengan senyuman bangga yang sangat lebar.
Mendengar pujian yang blak-blakan itu, Naya langsung menunduk. Ia tersenyum malu-malu dengan kedua pipi gembul yang mendadak merona merah secerah warna tomat matang.
"Mommy... muka Nay panas," ucapnya sambil memegangi kedua pipinya yang menghangat, mengadu pada sang ibu.
Sontak saja Daddy Hendra dan Mommy Siska langsung tertawa terkekeh melihat tingkah ajaib dan keluguan putrinya itu.
"Itu namanya tersipu, Cil," celetuk Arka, membuat adik imutnya itu langsung menoleh cepat.
"Tersipu itu apa?" tanya si bocil satu ini dengan polosnya.
Arka yang sudah benar-benar berada di ambang batas pertahanan karena tidak sanggup menahan gemas, langsung mengulurkan tangan. Ia mencubit kedua pipi tembam Naya dengan gemas sampai memerah.
"Aww!" Merasakan sakit dan perih di pipinya, mata bulat Naya mulai berkaca-kaca. Air matanya sudah siap tumpah.
Arka yang masih diliputi rasa gemas luar biasa belum menyadari perubahan ekspresi sang adik, sampai tiba-tiba...
Satu... dua... tiga...
"Hwaaaaaaaaa! Mommy, Abang jahat, Mommy!" teriak Naya kencang. Runtuh sudah pertahanan air mata si dedek gemas yang satu ini. "Hiks... hiks... awas ya, Naya gak like Abang! Abang nakal, hwaaa!" ucapnya sesegukan di sela tangis.
Arka yang baru menyadari kesalahannya langsung panik setengah mati. Wajahnya pucat kelimpungan. "Princess, princess, maafkan Abang! Maaf, jangan nangis," paniknya sambil buru-buru mengusap lembut pipi adiknya yang memerah akibat ulah tangannya sendiri.
Mommy Siska dan Daddy Hendra yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.
"Abang, makanya jangan diisengin terus adiknya dong. Baru juga sembuh," tegur Mommy Siska sembari menarik Naya ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.
"Maaf, Mom. Habisnya Adek gemesin banget," cicit Arka pelan, benar-benar merasa bersalah sekaligus takut kena sidang oleh sang Daddy.
Melihat Naya yang berangsur tenang dan kini memilih pindah duduk di samping sang Mommy dengan sisa sesegukan kecil, Daddy Hendra akhirnya mengambil alih situasi dan menengahi. "Sudah, sudah. Ayo kita makan dulu. Nanti Abang bisa kesiangan berangkat sekolahnya."
Mendengar instruksi sang kepala keluarga, suasana meja makan akhirnya kembali tenang. Mereka semua menikmati sarapan pagi itu dengan khidmat, ditemani kehangatan baru yang belum pernah ada di mansion ini sebelumnya. Setelah selesai makan, Daddy Hendra bersiap ke kantor, sementara Kak Arka mengambil tas sekolahnya, bersiap menghadapi berangkat ke sekolah.
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB EMPAT..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP JAM 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
udah bikin satu kelas mikir berjamaah dianya malah anteng anteng aja🤭
Jangan lupa like, komen dan klik favorit yaa🥰
HAPPY READING & HOPE YOU ENJOY GUYSSS💜