Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ba 16
Hari yang dinanti atau lebih tepatnya, hari yang dikalkulasi akhirnya tiba. Katedral agung yang beberapa hari lalu menjadi saksi bisu pelarian bawah tanah, kini telah disulap menjadi benteng pertahanan korporat berkedok pesta pernikahan termegah abad ini. Ratusan lampu kristal memantulkan cahaya di atas altar, sementara deretan kursi diisi oleh para petinggi bisnis, diplomat, dan jurnalis ekonomi senior.
Di dalam ruang transit pengantin, Milly menatap bayangannya di cermin besar. Gaun putih berpotongan klasik yang dikenakannya tampak sangat anggun menempel di tubuhnya. Namun, di balik keindahan kain sutra prancis itu, Milly bisa merasakan bobot serat kevlar tipis yang melapisi bagian dada dan punggungnya sebuah pengingat konstan bahwa ia adalah pengantin dari seorang monster korporat kaku.
"Millyanita."
Suara bariton yang familier itu membuat Milly refleks menoleh. Arkan berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan tuksedo hitam kustom yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Tidak ada satu pun lipatan yang salah, tidak ada sehelai rambut pun yang keluar dari tempatnya. Sang Presdir Mahendra Group adalah definisi nyata dari kata perfeksionis.
"Tuan... Anda tidak seharusnya melihat pengantin wanita sebelum prosesi," ujar Milly, membetulkan letak kacamata bulatnya yang hari ini sengaja dipoles tanpa debu sedikit pun.
Arkan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan ketukan yang tegas. "Takhayul domestik tidak masuk dalam variabel operasional saya, Milly. Saya ke sini untuk memastikan draf pengamanan siber tahap akhir."
Pria itu mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk merapikan kerah gaun Milly yang sedikit miring. "Indikator risiko faksi perbankan Wijaya baru saja mencapai puncaknya di pasar gelap internasional. Seperti dugaan saya, mereka meluncurkan serangan siber tepat satu menit yang lalu untuk meretas proyektor katedral dan mencoba menampilkan dokumen palsu mengenai likuiditas Mahendra Group."
Milly menahan napas, dadanya berdegup kencang. "Lalu? Apa jebakan madumu sudah bekerja?"
Arkan menarik kembali tangannya, dan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin namun menawan terukir di wajah tampannya. "Bara baru saja melaporkan bahwa seluruh lalu lintas data mereka telah dialihkan ke server tiruan. Saat ini, sistem pelacakan internasional sedang membekukan aset sisa mereka di Swiss secara real-time. Prosesnya akan selesai tepat saat kita menyelesaikan janji pernikahan."
Pria itu kemudian mengulurkan siku lengannya ke hadapan Milly. "Waktunya tepat pukul sepuluh. Jangan terlambat satu detik pun, Calon Istriku."
Milly menatap siku lengan itu, lalu mengembuskan napas panjang untuk mengusir kegugupannya. Sambil tersenyum tipis, ia menyandarkan tangannya di sana. "Mari kita selesaikan eksekusi finansial ini, Tuan Presdir."
Pintu ganda katedral terbuka lebar, mengizinkan alunan musik organ yang megah mengiringi langkah kaki mereka. Di sepanjang karpet merah menuju altar, Milly bisa merasakan ratusan pasang mata menatap mereka dengan takjub. Di barisan depan sebelah kanan, ibunya tersenyum dengan air mata haru, dikelilingi oleh enam adik panti asuhannya yang tampak rapi dan bahagia.
Milly melirik tablet taktis kecil yang disamarkan sebagai dekorasi bunga di sudut altar. Angka persentase pembekuan aset musuh terus berjalan di sana: 45%... 60%... 75%.
Saat mereka berdua tiba di depan altar dan berhadapan langsung, Arkan menatap Milly di balik lensa kacamatanya dengan intensitas yang begitu dalam. Pendeta mulai membacakan sumpah pernikahan, suara agungnya menggema di langit-langit katedral yang tinggi.
"Arkananta Mahendra, bersediakah engkau untuk menerima Millyanita sebagai istrimu, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan?"
Arkan tidak langsung menjawab dalam satu detik pertama. Matanya tetap mengunci pandangan Milly, seolah sedang membaca seluruh sisa variabel masa depan yang telah ia rancang.
"Saya bersedia," ucap Arkan, suaranya yang berat dan penuh keyakinan mutlak terdengar begitu tegas, mengirimkan getaran aneh ke lubuk hati Milly.
Kini giliran Milly. Pertanyaan yang sama diajukan kepadanya. Milly melirik sekilas ke arah tablet dekorasi di sudut altar angka di sana baru saja menyentuh 100% dengan notifikasi hijau kecil Asset Seizure Completed. Skenario Arkan berjalan tanpa cacat tunggal. Musuh mereka telah musnah seutuhnya dari papan catur.
Milly kembali menatap pria kaku di hadapannya. Pria yang telah menyelamatkan keluarganya, yang mengikatnya dengan denda dan hitungan denda harian, namun juga yang selalu memastikan seujung rambutnya tidak terluka. Delapan tahun ke depan mungkin akan penuh dengan hitung-hitungan kalkulator dan aturan efisiensi yang melelahkan, tapi entah mengapa, Milly merasa siap untuk menghadapinya.
"Saya bersedia," ucap Milly dengan suara yang lantang dan senyuman tulus yang tidak lagi ia tahan.
Saat Arkan meraih jemarinya untuk menyematkan cincin pernikahan, pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik di dekat telinga Milly, di bawah riuh tepuk tangan para undangan yang menggema.
"Selamat datang di manajemen retensi asetku yang paling berharga, Millyanita. Detik pertama dari delapan tahunmu baru saja dimulai."
Riuh tepuk tangan undangan bergaung memenuhi aula katedral saat cincin platinum bertatahkan zamrud tersemat sempurna di jari manis Milly. Musik organ berganti menjadi simfoni klasik yang lebih ringan, menandai berakhirnya ketegangan di depan altar. Namun, bagi Arkan, kepuasan terbesar bukanlah upacara itu sendiri, melainkan grafik bursa efek yang baru saja diperbarui di gawai tersembunyi miliknya.
Saat mereka berjalan beriringan keluar katedral menuju limosin yang menunggu, Arkan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Milly.
"Faksi perbankan Wijaya dinyatakan bangkrut secara hukum internasional tepat sepuluh detik setelah kau mengucapkan kata 'bersedia'," gumam Arkan dengan nada sedatar laporan cuaca. "Saham Mahendra Group melonjak sebesar 3,8% begitu berita pembekuan aset mereka tersebar di media finansial."
Milly, yang masih berusaha mengatur napas karena beratnya gaun berlapis kevlar, mendongak dan mendengus pelan di balik kacamata bulatnya. "Jadi, secara teknis, ucapan janji suci saya tadi bernilai jutaan dolar untuk perusahaan Anda, Tuan?"
"Tepatnya beberapa puluh juta dolar, Millyanita," koreksi Arkan tanpa ragu. Ia membukakan pintu limosin untuk Milly dengan gerakan yang sangat sopan namun penuh wibawa. "Dan sesuai dengan klausul insentif efisiensi operasional, aku akan mengkalkulasi ulang sisa masa kontrakmu malam ini."
Bukan hotel bintang lima atau resor mewah di pulau pribadi, melainkan griya tawang (penthouse) utama di lantai teratas Menara Mahendra yang menjadi lokasi malam pertama mereka. Seluruh ruangan berdinding kaca itu menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota yang terhampar seperti permata labirin di bawah langit malam.
Milly sudah berganti pakaian dengan gaun tidur katun yang longgar, sementara kacamata bulatnya diletakkan di atas meja nakas. Ia duduk di tepi ranjang raksasa, menatap Arkan yang baru saja masuk setelah menanggalkan jas tuksedonya. Pria itu kini hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, memberikan kesan kasual yang sangat jarang ia tunjukkan.
Arkan berjalan mendekat, membawa buku catatan kecil bersampul kulit hitam yang selalu melekat bersamanya. Ia duduk di kursi lengan berjarak satu meter dari ranjang, lalu membuka lembaran baru.
"Gladi bersih yang sempurna, pelaksanaan tanpa cacat tunggal, dan lonjakan saham makro," kata Arkan sembari menggoreskan penanya. "Mari kita perbarui variabel hidupmu."
Ia membalikkan buku itu ke arah Milly, menunjukkan coretan rumus barunya yang rapi.
Milly menatap angka 7 tahun 6 bulan itu dengan perasaan campur aduk. Kontrak sembilan tahun yang awalnya terasa seperti hukuman mati kini telah terpangkas drastis hanya dalam hitungan minggu.
"Tujuh setengah tahun lagi," gumam Milly pelan, lalu menatap lurus ke dalam manik mata elang Arkan. "Tuan... jika Anda terus-menerus memotong kontrak ini dengan alasan performa kerja, bagaimana jika kontrak ini habis dalam waktu kurang dari tiga tahun?"
Arkan menutup buku hitamnya dengan bunyi ketukan yang khas, lalu bangkit dari kursinya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Milly hingga bayangan tubuh tegapnya mengurung gadis itu dalam temaram lampu kamar.
"Jika kontrak itu habis lebih cepat, itu artinya seluruh duniaku sudah sepenuhnya menjadi duniamu, Milly," bisik Arkan dengan suara bariton yang dalam, tangannya terangkat untuk mengusap pelan puncak kepala Milly dengan kelembutan yang tidak lagi disembunyikan. "Dan pada saat itu tiba, angka-angka di buku ini tidak akan lagi memiliki kuasa untuk membuatmu pergi."
Milly tertegun, merasakan debaran jantungnya berpacu dalam ritme yang tidak bisa lagi dikendalikan oleh logika apa pun. Sang Presdir perfeksionis telah memenangkan permainan finansialnya hari ini, tetapi di dalam kamar ini, sebuah skenario baru yang melibatkan hati mereka berdua baru saja resmi dimulai.