"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
happy reading guys
------------------------------
Bab 31: Fajar Pembersihan
Dua belas detik sebelum tuas pelatuk senapan serbu HK-416 di jemari Siska Amalia ditarik seutuhnya, frekuensi radio darurat pada jam tangan pintar milik Alta telah lebih dulu mengirimkan sinyal gelombang pendek berkode Protokol Alpha menuju komputer jinjing milik Sekretaris Hendra di luar koridor.
Sinyal darurat nirkabel itu secara otomatis membuka katup pengunci magnetik pada pintu lift VIP utama, memberikan akses instan bagi unit taktis bantuan yang sejak lima menit lalu tertahan di lantai dasar.
Bzzz... Klik!
Suara desingan halus dari pintu lift yang terbuka di ujung lorong luar menjadi pemandu arah yang mutlak.
Enam orang personel bersenjata dari komando pasukan elit Wijaya Corps merangsek masuk ke dalam koridor yang dipenuhi uap air hidran, sepatu bot militer mereka mengetuk lantai marmer dengan irama yang teratur dan taktis.
Namun, ketukan waktu di dalam ruang ICU terisolasi bergerak jauh lebih mengerikan.
"Devan! Kamu mengkhianatiku demi jalang itu?! Kalau begitu, kita mati bersama malam ini!"
raung Siska dengan urat-urat di lehernya yang menegang sempurna, sepasang matanya berkilat memancarkan kegilaan murni di balik kepulan asap hitam.
Di atas ranjang, Devan Mahendra yang memegang Glock-19 dengan pergelangan tangan yang gemetar hebat akibat pendarahan dalam, menahan napasnya sejenak.
Sebelum laras senapan Siska sempat memuntahkan timah panas ke arah dadanya, Anastasia Wijaya telah lebih dulu melompat bangkit dari lantai marmer.
Mengabaikan seluruh risiko keselamatan fisiknya demi melindungi Devan dan sisa masa depan si kembar, Anastasia menerjang maju dengan kecepatan penuh.
Kedua telapak tangan Anastasia mencengkeram kuat bagian laras depan senapan HK-416 milik Siska, menyentakkannya ke arah atas secara ekstrem tepat di detik yang sama saat Siska menarik pelatuknya seutuhnya.
Bang! Bang! Bang!
Tiga rentetan peluru laras panjang melesat liar membelah langit-langit kamar ICU, menghancurkan sisa struktur gips dan memicu jatuhnya serpihan semen kapur di atas tubuh mereka.
"Kurang ajar! Lepaskan senjataku, Anastasia!"
jerit Siska histeris, mencoba membalikkan popor senjatanya untuk menghantam wajah Anastasia.
Sebelum hantaman fisik itu mendarat, pintu baja utama ruang pemulihan didobrak terbuka dengan hantaman keras dari arah luar oleh pemimpin pasukan elit Wijaya Corps.
"Tiaraaap!!!"
raung komandan taktis dengan nada suara yang menggelegar tenang penuh otoritas mutlak [Punchy list].
Duar! Duar!
Dua dentuman senjata laras pendek dengan tingkat akurasi tinggi menggema keras membelah ruangan, dilepaskan oleh dua prajurit di posisi depan yang membidik langsung ke arah titik rawan Siska yang sedang membelakangi mereka.
Peluru kaliber sembilan milimeter itu menghantam telak bagian punggung kanan dan ulu hati Siska Amalia secara beruntun.
Efek hantamannya begitu instan.
Tubuh Siska seketika menegang sempurna, sepasang mata bulatnya melotot memancarkan sisa kegilaan dan rasa tidak percaya yang amat sangat seumur hidupnya.
Cengkeraman tangannya pada senapan serbu melemas tanpa daya, membiarkan senjata mewah itu jatuh berdenting di atas lantai yang basah.
Bruk!
Sosok Siska Amalia ambruk telentang di atas lantai marmer, tepat di depan serpihan kaca balkon yang hancur.
Darah segar berwarna merah pekat mulai mengalir deras dari balik pakaian narapidananya, menodai lantai ruang medis yang steril.
Wanita ular yang selama lima tahun ini merancang konspirasi fitnah, kini telah resmi mengembuskan napas terakhirnya di dalam sarang yang ia serang sendiri.
------------------------------
"Amankan perimeter! Periksa sisa penyusup di koridor tangga darurat!"
Hendra berteriak memberikan instruksi darurat kepada pasukannya, sementara jemarinya bergerak lincah menyalakan kembali sakelar daya baterai cadangan dinding agar lampu darurat ruangan menyala redup kembali.
Anastasia jatuh terduduk di atas lantai dengan napas yang memburu satu-satu, kedua telapak tangannya gemetar hebat di sela-sela rasa lega yang teramat luar biasa.
Ia segera membalikkan badannya, merangkul erat Alta dan Arka yang berada di bawah perlindungan sofa.
"Alta... Arka... kalian tidak apa-apa, Sayang?"
Arka menangis sesenggukan, menyembunyikan wajah kecilnya di balik ceruk leher Anastasia, sementara Alta hanya diam dengan sepasang netra elangnya yang terus menatap lekat-lekat ke arah ranjang Devan.
"Mami... Lihat Ayah,"
bisik Alta, suaranya datar namun sarat akan kecemasan taktis yang pekat [Punchy list].
Anastasia seketika menoleh ke arah ranjang dan memekik histeris.
Devan Mahendra tergeletak telentang dengan posisi gawai Glock-19 yang sudah terlepas dari cengkeraman tangannya.
Wajah tirus sang CEO kini benar-benar pucat tanpa sepeser pun darah, dan perban medis yang menutupi perut kirinya telah berubah warna menjadi merah pekat seutuhnya.
Aksi nekat Devan menegakkan punggungnya untuk menembak penyusup tadi telah membuat seluruh jahitan operasi besarnya robek kembali untuk yang ketiga kalinya.
"Devan! Jangan pejamkan matamu! Saya memerintahkanmu untuk tetap membuka mata!"
raung Anastasia penuh kepanikan yang teramat mendalam, melompat mendekati ranjang demi menekan luka pendarahan mantan suaminya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
"Dokter! Masuk sekarang juga! Siapkan ruang operasi utama darurat!"
Rian berteriak histeris melalui interkom dinding, memanggil tim medis bedah saraf yang sejak tadi bersiaga di balik barikade koridor depan.
Dua menit kemudian, tiga dokter spesialis bersama empat perawat senior merangsek masuk secara kronologis.
Mereka memasangkan kembali masker oksigen darurat berkonsentrasi tinggi ke wajah Devan, lalu dengan sigap mendorong ranjang perawatan tersebut keluar menembus pintu baja menuju lif darurat bedah.
"Nona Anastasia, mohon maaf! Kami harus melakukan tindakan penjahitan ulang pembuluh darah aorta pasien secepatnya! Peluang hidupnya berada di bawah tiga puluh persen jika pendarahan dalam ini tidak berhenti dalam waktu sepuluh menit!"
raung dokter kepala sebelum menghilang di balik belokan lift bersama tubuh Devan yang kian mendingin.
------------------------------
Pukul lima lewat tiga puluh menit pagi, koridor ruang tunggu VIP lantai bedah kembali diselimuti oleh keheningan fajar yang mencekam.
Lampu indikator merah di atas pintu ruang operasi utama menyala konstan, memantulkan pendaran pias yang mengerikan di atas lantai selasar yang dingin.
Anastasia duduk bersandar pada kursi besi dengan posisi kepala tertunduk, kedua tangannya menutupi wajah cantiknya yang basah oleh air mata penyesalan baru.
Pakaian blazer hitam mewahnya kini telah dipenuhi oleh noda bercak darah kering milik Devan Mahendra.
Di sampingnya, Alta duduk dengan tenang sembari merangkul erat bahu mungil Arka yang telah kelelahan menangis hingga tertidur lelap di pangkuannya dengan berbantalkan jas Hendra.
Sementara pertempuran medis di dalam sana sedang berlangsung dengan taruhan nyawa, Sekretaris Hendra berjalan mendekati posisi Anastasia dengan langkah kaki yang tertata rapi. Di tangannya, ia memegang sebuah kantung plastik transparan berisi barang bukti yang baru saja diamankan oleh tim identifikasi dari saku pakaian jenazah Siska di ruang ICU tadi.
"Nona Anastasia, mohon maaf mengganggu waktu Anda," Hendra membungkuk hormat, suaranya ditekan serendah mungkin demi menjaga privasi.
"Saat tim kami melakukan pemeriksaan luar pada jenazah Siska Amalia sebelum diserahkan ke pihak instalasi forensik, kami menemukan benda ini tersimpan di dalam saku pakaiannya."
Hendra menunjukkan sebuah liontin perak usang berlogo burung elang kuno—sebuah lambang otentik milik Keluarga Besar Mahendra masa lalu yang harganya tidak bisa ternilai oleh materi.
Anastasia mengernyitkan dahinya, menyeka sisa air mata di pipinya sebelum menerima kantung plastik tersebut.
"Siska mencuri liontin ini dari brankas pribadi ayah Devan sebelum ia kabur dari mobil tahanan?"
"Benar, Nona. Dan setelah tim siber melakukan pemindaian sinar-X darurat pada struktur perak liontin ini... kami menemukan adanya rongga rahasia di bagian penutup dalam,"
Hendra perlahan membuka pengunci perak tersebut menggunakan pinset khusus, mengeluarkan selembar gulungan kertas mikro yang sangat tipis dan berstempel resmi notaris negara tiga puluh tahun lalu.
Anastasia menerima lembaran mikro tersebut, menyusuri baris demi baris kalimat hukum dan bagan hasil tes DNA kuno yang tertera di sana menggunakan bantuan lampu senter gawainya. Hanya dalam waktu satu menit membaca, sepasang netra indah Anastasia melebar sempurna oleh guncangan horor rahasia yang teramat luar biasa pekat.
Darah pimpinan tertinggi Wijaya Corps itu seolah berhenti mengalir seketika, wajah cantiknya kian pias tanpa sepeser pun darah.
‘Ini... ini tidak mungkin... Konspirasi darah macam apa ini?!’ batin Anastasia menjerit histeris dalam keheningan batinnya yang paling dalam.
Notifikasi dokumen kuno tiga puluh tahun lalu itu membongkar sebuah plot twist silsilah keturunan yang teramat kejam: Devan Mahendra... pria yang selama tiga puluh tahun ini memegang takhta tertinggi sebagai pewaris tunggal Mahendra Group... ternyata sama sekali tidak memiliki sepeser pun hubungan darah dengan mendiang Hendra Mahendra, sang pendiri dinasti.
------------------------------
bersambung.......