"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, TransJakarta yang kami tumpangi akhirnya berhenti di halte pemberhentian terakhir. Begitu melangkah turun, aroma asin khas laut dan desau angin pesisir langsung menyambut kami. Kami telah sampai di pantai.
Rombongan kelas langsung bergerak menuju saung-saung sewaan di tepi pantai. Tanpa membuang waktu, anak-anak segera berhamburan ke ruang ganti untuk bertukar pakaian renang.
Suasana di sekitar saung mendadak ramai oleh berbagai karakter kelas kami. Ada Doni, cowok berbadan tegap yang menjadi kapten tim basket sekolah, tampak sibuk memamerkan gaya rambut barunya sambil memegang papan selancar sewaan. Di dekatnya, ada bimo, si pelawak kelas yang bertubuh agak tambun, sudah siap dengan ban renang berbentuk bebek kuning raksasa di pinggangnya, membuat anak-anak lain tertawa gemas. Sementara itu, Fanya dan kelompoknya tampak asyik mengoleskan sunscreen sambil berfoto bersama dengan latar belakang ombak.
Ketika semua orang mulai berlarian masuk ke dalam air yang jernih, aku justru memilih berdiri mematung di tepi pantai. Air laut yang menyapu mata kaki membuat seluruh tubuhku sempat menegang.
Melihatku hanya diam, beberapa anak yang sedang asyik bermain air mulai menoleh dan berjalan menghampiriku.
"Luna! Kok cuma berdiri di situ? Ayo buruan nyebur, airnya seger banget tahu!" seru Doni, mencoba menarik perhatianku sembari membetulkan posisi rambutnya.
Aku menunduk sedikit, meremas ujung kaus luarku dengan wajah memerah karena canggung. "Ah... itu, aku... aku sebenarnya nggak bisa berenang," jawabku pelan, malu-malu.
Mendengar pengakuanku, beberapa anak cowok sempat tertegun. Rania yang baru saja menyusul dari belakang langsung berkacak pinggang dan menunjuk mereka dengan ekspresi galak. "Heh! Awas ya kalau ada yang berani ngetawain Luna! Bakal kuhajar sampai melayang ke tengah laut!"
"Aku bantuin seret ke tengah," timpal Siti dengan wajah lempengnya yang khas, berdiri protektif di sebelah kananku.
Namun, alih-alih ejekan yang kudengar, suasana mendadak hening sejenak sebelum akhirnya Doni, Bimo, dan anak-anak lainnya justru mengembuskan napas panjang—terlihat sangat lega.
"Ya ampun, Lun... kirain kenapa," ujar Bimo sambil menepuk dadanya sendiri. "Jujur ya, kami semua selama ini mikir kalau kamu itu semacam manusia super yang bisa ngelakuin apa aja. Sempurna banget. Tapi ternyata... kamu sama kayak kami, punya kekurangan juga."
"Iya, Lun. Malah makin kelihatan manusiawi tahu," tambah Fanya sambil tersenyum ramah.
Mengetahui bahwa rahasia kecilku justru membuat mereka merasa lebih dekat denganku, rasa sesak di dadaku perlahan mencair. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.
Melihat ada kesempatan emas di depan mata, mata Doni langsung berbinar penuh taktik. "Eh, kalau gitu... biar aku aja yang ajarin kamu berenang, Lun! Kebetulan aku atlet renang waktu SD."
"Yeee, curang banget lo, Don!" potong Bimo, langsung menyingkirkan ban bebeknya. "Sama gue aja, Lun! Dijamin aman dan penuh tawa!"
"Sama aku aja, Luna!" sahut cowok-cowok lain yang mendadak ikut berkerumun dan saling sikut, berebutan untuk mengajukan diri menjadi instruktur renang pribadiku.
Melihat kegaduhan itu, Rania dan Siti langsung merentangkan tangan mereka, bertindak sebagai tembok pelindung besi di depanku.
"Mundur, mundur! Nggak usah modus ya kalian para buaya!" usir Rania berang, sementara Siti menatap para cowok dengan pandangan mengancam yang membuat mereka perlahan mundur teratur sambil menggerutu pasrah.
"Biar kami para cewek aja yang mengajari Luna," putus Siti mutlak. Fanya dan beberapa siswi lain langsung mengangguk setuju, mengepungku dengan aman dari jangkauan para cowok.
Saat tiba waktunya untuk benar-benar melangkah lebih dalam ke dalam air, tubuhku mendadak kembali bergetar hebat. Kenangan maut tentang paru-paru yang terisi air asin seolah berputar kembali di kepalaku.
Rania dan Siti yang menyadari perubahan fisikku langsung memegangi kedua lenganku dengan erat.
"Gak apa-apa, Luna. Santai aja, tarik napas dalam-dalam," ucap Rania dengan nada yang mendadak sangat lembut dan menenangkan.
"Jangan takut, kami nggak akan lepasin tanganmu," tambah Siti, menggenggam jemariku yang dingin.
Mereka memaklumi ketakutanku karena mengira aku hanya fobia tenggelam biasa—yang sebenarnya tidak salah, walau alasan di baliknya jauh lebih mengerikan dari yang bisa mereka bayangkan. Di bawah bimbingan sabar dari Rania, Siti, dan teman-teman perempuan lainnya, aku perlahan menurunkan tubuhku ke dalam air. Sentuhan hangat tangan mereka seolah menjadi jangkar yang menahanku agar tidak tenggelam ke dalam trauma masa lalu, membuatku perlahan melupakan kutukan, dan mulai menikmati arti cinta yang sesungguhnya dalam bentuk pertemanan.