Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bolos
Malika duduk di sisi jendela yang menghadap halaman sekolah, dengan dagu bertumpu pada telapak tangan. Sembari pandanganya ia arahkan pada lapangan.
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menahan rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya. Entah mengapa, berada di ruangan itu terasa begitu menyesakkan.
Apa ini perasaan Malika asli yang tertinggal?, Apa perasaannya sakit melihat Soren dan Rara, kenapa rasanya sesak sekali. Ia benci sangat benci dengan perasaan ini, kanapa tidak ia bawa perasaan sialan ini pergi kenapa membebani dia dengan perasan bodoh ini.
Sudah cukup ia tidak tahan lagi,sebisa mungkin ia menfokuskan diri semuanya sia-sia, persetan dengan pelajaran yang sedang berlansung. Ia bisa bertanya pada teman atau gurunya nanti.
Tak tahan berlama-lama, ia mengangkat tangan.
"Permisi, Bu. Saya izin ke UKS. Kepala saya pusing dari tadi," ucapnya dengan nada pelan, berusaha terdengar setenang mungkin.
"Kepala kamu sakit lagi Li, aku temanin mau?. " Aira bertanya dengan khawatir sembari memegang lengan Malika.
"Ga kok aman. " Mengacungkan jempolnya lalu Ia mendekatkan dirinya pada Aira dan berbisik "Gue mau bolos lo ga usah ikut di sini aja belajar yang bener!. "
Sang guru mengalihkan atensinya pada Malika. "Kalau begitu, silakan. Kalau kondisinya memburuk, segera hubungi guru piket." setelahnya sang guru kembali pada materinya.
"Baik, Bu. Terima kasih."Ia berdiri dan melewati bangku Soren dan Rara tapi tak Sediktpun menoleh ataupun mencari perhatian pada seron.
Seron yang melihat perubahan sikap Malika mengernyitkan dahi, tidak biasanya gadis itu mengacuhkan keberadaanya seperti ini.Dan apa tadi yang gadis itu katakan,sakit kepala?, apakah itu karena kelakuanya tempo hari.
Setelah sampai pada ambang pintu kelas Malika keluar, dan tungkainya Menyosori koridor .
Ia terus berjalan sampai tujuannya, yaitu belakang gedung sekolah yang di batasi tembok pembatas. Tempat ini sudah menjadi hal umum bagi mereka yang suka membolos di karenakan jarang di lewati siswa.
Malika menatap tembok beton yang menjadi pembatas itu yang catnya telah memudar, dipenuhi lumut tipis dan retakan-retakan.
"Alamak tinggi banget." Ia sedikit ragu lalu mengedarkan pandangan ke arah sekeliling dan melihat bangku, tanpa tunggu lama ia melangkah ke arah bangku dan menetengnya.
Setelah memberi jarak sedikit dari arah bangku pada beton, ia memulai ancang-ancang,Ia meletakkan tasnya terlebih dahulu di atas tembok .
Lalu kedua kakinya bertumpu pada bangku
Tangannya mencengkeram bagian atas tembok, sementara ujung sepatunya mencari celah di antara batu-batu yang menonjol.
Sedikit demi sedikit tubuhnya terangkat hingga berhasil duduk di bibir tembok.
Ia mengayunkan salah satu kaki ke sisi luar, lalu perlahan menurunkan tubuhnya. Ekspektasinya terlalu tinggi ia kira kakinya akan sampai dan berpijak pada tanah namun realitanya
Namun sial kakinya tidak sampai perkiraannya.
Ujung sepatunya hanya menggesek udara kosong.
Alisnya berkerut. Ia menggantung di bibir tembok, kedua tangan mencengkeram kuat agar tidak terjatuh begitu saja.
"Sial..."
Ia berusaha semaksimal mungkin agar kakinya berpijak ke tanah, namun sialnya tak bisa ingin nekat saja lompat, dianya takut shibal memang.
Tepat ketika keseimbangannya mulai limbung sebuah telapak tangan hangat tiba-tiba menopang telapak sepatunya.
Refleks ia menunduk.
Seorang pemuda berdiri tepat di bawahnya.
Tanpa banyak bicara, ia menahan kaki gadis itu agar pijakannya lebih mantap, sementara tangan satunya bersiap menghalau jika sewaktu-waktu ia kehilangan keseimbangan.
Sialnya lagi Malika malah kehilangan keseimbangan sehingga ia Refleks saja terjatuh dalam gendongan pria itu yang memang sudah menduga kalau Malika akan terjatuh.
Dalam gendongan pria itu bukannya turun, ia malah Refleks menautkan tanganya pada leher pria itu dan menatapnya penuh minat.
"Sampai kapan lo ngeliat muka gue?. " Ujar pria itu acuh.
Setelah sadar Malika buru-buru turun sembari membenarkan seragam sekolahnya
yang kusut.
maklum Alibi dia biar ga malu.
Ia mengangkat pandanganya ke arah pria itu"Thanks".
ujarnya lagi sembari menggaruk tengkuknya yang padahal tak gatal sama sekali.
Netra keduanya akhirnya bertemu, dan bersitatap cukup lama.
___________
For u🌺
Jangan lupa, vote, like sama Coment.
Makasih banyak untuk yang udah mau baca ceritanya samapai sini.
See u next chapter.