NovelToon NovelToon
Penguasa Para Dewa

Penguasa Para Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.

Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.

Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Rebusan Obat

Setelah meninggalkan gang sepi tempat ia memergoki Su Qingyue yang diam-diam memborong kue manis dengan wajah memerah, Lin Chen melangkah menyusuri sisa pasar sekte dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Mengetahui bahwa gadis es yang tampak sempurna itu memiliki sisi ceroboh dan manis membuat jarak di antara mereka terasa tidak lagi sejauh bumi dan langit.

Namun, ia tahu waktu tidak berpihak padanya. Waktu satu bulan menuju seleksi Akademi Bintang Tujuh adalah tenggat waktunya.

Lin Chen segera mendatangi deretan kios penjual tanaman obat. Berkat panduan dari Tua Hitam roh kuno di dalam cincin hitamnya yang gemar menyombongkan masa lalunya Lin Chen berhasil menemukan sisa bahan yang ia butuhkan dengan harga murah.

Ia membeli Daun Besi Dingin yang berfungsi menetralkan hawa panas di Dantian,  Akar Darah Merah untuk memperkuat ketahanan pembuluh darah, serta serbuk Tulang Harimau Batu yang berguna untuk memadatkan sumsum tulang belakang.

Tua Hitam sempat mencibir bahwa daun itu hanya berguna kalau direbus seratus hari, tetapi untuk tubuh Lin Chen saat ini, efeknya sudah lebih dari cukup.

Setelah semuanya terkumpul, Lin Chen kembali ke ujung jalan. Di sana, ia menemukan Zhu Da sedang duduk berjongkok sambil menatap nanar ke arah sebuah kedai bebek panggang. Pemuda gempal yang sangat memikirkan urusan perutnya itu tampak menelan ludah berkali-kali.

"Ayo pulang, Zhu Da," panggil Lin Chen, melemparkan sebuah kantong kertas kecil ke arah sahabatnya.

Zhu Da menangkapnya dengan sigap. Matanya berbinar saat mencium aroma dari dalam kantong. "Wah! Bakpao daging rusa! Terima kasih, Chen-ge! Kau memang yang terbaik!"

Keduanya pun berjalan kembali mendaki jalan setapak menuju asrama luar sekte, bersiap menghadapi malam yang panjang.

Malam itu, bulan purnama bersinar terang, menyinari gubuk kayu reyot di sudut pelataran asrama luar. Di dalam ruangan, sebuah tong kayu besar berisi air mendidih mengepulkan uap tebal yang berbau herbal menyengat.

Air di dalam tong itu berwarna merah pekat seperti darah, hasil rebusan dari Akar Darah Merah dan Tulang Harimau Batu. Di permukaannya, mengambang beberapa helai Daun Besi Dingin yang memancarkan kabut es tipis, menciptakan kontras suhu yang ekstrem.

Lin Chen menanggalkan jubah luarnya dan menatap air rebusan itu dengan tenang.

"Ingat, Bocah," suara Tua Hitam bergema serius. "Air ini akan merebus kulitmu sekaligus membekukan sumsum tulangmu di saat yang bersamaan. Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba membutuhkan tekanan ekstrem ini agar ototmu tidak meledak saat menyerap energi spiritual. Jangan sampai pingsan, atau usahamu malam ini akan sia-sia."

Tanpa ragu sedikit pun, Lin Chen melompat masuk ke dalam tong kayu tersebut.

"UURGH...!"

Erangan tertahan lolos dari sela-sela gigi Lin Chen. Sensasinya jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan. Hawa panas dari Akar Darah Merah menyerang pori-porinya seperti ribuan jarum besi yang dibakar, sementara hawa dingin dari Daun Besi Dingin menusuk langsung ke dalam Dantian, membekukan aliran darahnya.

Ia segera memejamkan mata dan memutar Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba. Energi murni meledak dan mengalir deras melintasi meridiannya. Di bawah tekanan air obat yang brutal, otot-otot Lin Chen menyerap khasiat herbal itu dengan kecepatan gila.

Lapisan keringat hitam dan berbau busuk kembali merembes keluar dari kulitnya, langsung larut ke dalam air rebusan. Suara gemeretak tulang terdengar ritmis dari dalam tubuhnya, seiring dengan struktur tulangnya yang semakin memadat menjadi sekeras baja.

Di tengah rasa sakit yang merobek kewarasan itu, Lin Chen mengunci pikirannya pada satu tujuan. Ia harus berdiri sejajar dengan Su Qingyue di panggung bergengsi Akademi Bintang Tujuh. Ia menolak untuk kembali menjadi 'sampah' sekte yang hanya bisa menatap punggung gadis itu dari kejauhan dengan pemikiran bahwa jalan mereka berbeda.

Di saat Lin Chen sedang berjuang melawan penderitaan di dalam tong obat, suasana yang sangat berbeda terjadi di pelataran murid inti sekte.

Di dalam sebuah kamar mewah yang diterangi batu cahaya kristal, Su Qingyue, gadis yang selalu dingin seperti es, sedang duduk sendirian di tepi ranjangnya. Jubah putihnya masih melekat rapi. Di atas meja di hadapannya, tergeletak setumpuk kantong kertas berisi berbagai macam kue manis.

Ia mengambil sebuah kue berbentuk kelopak bunga dari dalam kantong. Itu adalah kue rasa teratai kue yang direkomendasikan oleh Lin Chen tadi siang di pasar.

Su Qingyue menggigitnya pelan. Rasa manis dan harum teratai menyebar di lidahnya, membawa sensasi hangat yang aneh mengalir ke dadanya.

Ia memang menganggap semua orang sama. Selama ini, para murid pria yang mendekatinya hanya memiliki dua motif: memuja kecantikannya secara berlebihan, atau takut pada latar belakang dan bakat kultivasinya yang tinggi. Namun, pemuda bernama Lin Chen itu berbeda.

Bahkan saat memergokinya melakukan hal yang sangat memalukan dan meruntuhkan citra dinginnya, pemuda itu sama sekali tidak menertawakan atau memandangnya rendah. Alih-alih menertawakannya, Lin Chen hanya tersenyum tipis dan hangat, sangat menyadari bahwa gadis es ini memiliki sisi manusiawi yang begitu rapuh dan manis.

Su Qingyue menatap sisa kue di tangannya. Entah mengapa, saat mengingat tatapan tenang Lin Chen dan punggung tegapnya yang berlalu pergi, wajah gadis itu kembali memerah sedikit.

"Lin Chen..." gumamnya sangat pelan, suaranya berbaur dengan embusan angin malam di luar jendela.

1
Bernard
Mantap sekali Thor👍👍
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍💪💪💪👍👍👍
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
GEDE JAYANEGARA
bintang Toedjoe, obt sakit kepla
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
mbono keling
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
Bernard
Pleaseee.., tolong di lanjut
Sang_Imajinasi: lanjut terus kok kak tiap hari jam 3 sore
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
yoi
Bernard: Sangat bagus.., tolong lanjutkan 🙏
total 1 replies
saniscara_Patriawuha
gasss pollll manggg minnnn..
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤨🤨🤨Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🔜🔜🔜Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!