Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Calon Mertua
Sore itu Karel sudah kembali dari tugasnya di Bandung. Ada luka kecil di lengan kiri Karel kena sambaran peluru. Dia rencana ke rumah sakit biar kekasihnya merawatnya. Namun Adel masih di ruang operasi. Menunggu lima belas menit lampu tanda operasi padam, itu berarti bahwa operasi sudah selesai. Tidak lama Karel melihat kekasihnya keluar mau menemui keluarga yang anggota keluarga mereka baru selesai menjalankan operasi. Dia tersenyum, dan tentu dia merindukan sosok gadisnya.
Adel sudah melihat kekasihnya. Selesai menjelaskan kondisi pasien. Dia langsung berlari ke arah kekasihnya dan memeluk Karel Imanuel Barnabas. Karel memeluk dan mencium kening kekasihnya.
"Mas adek belum mandi."
"Ngak peduli." Tiba - tiba dokter Wibowo datang. Karel langsung memberi hormat kepada dokter. Karena pangkatnya dan beliau senior.
"Selamat sore dokter."
"Selamat sore dokter Adel."
"Karel kenalkan ini keponakan aku. Dokter Samuel Benito." Karel tersenyum dan menyalami Samuel. Karel tahu Samuel ini anaknya kakak dokter Wibowo yang di Amerika. Waktu Karel tugas belajar disana, dia membawa kiriman buat kakaknya yang duta besar disana.
"Karel Imanuel Barnabas. Tahu dokter ini anak dari kakaknya dokter yang duta besar itu kan."
"Betul!! Aku lupa kamu perna bertemu mereka."
"Hanya beberapa kali ke rumah, tidak bertemu. Katanya dokter Samuel ada di rumah sakit."
Adel kaget ternyata Karel dekat dengan keluarganya dokter Samuel. Dan Adel juga baru tahu, kalau dokter Wibowo itu omnya dokter Samuel.
Adel sudah bersih. Besok Adel rencana mau cuti seminggu ke Bali melihat orang tua. Rencananya Karel juga ikut. Dan sekarang Adel sedang mengobati luka di lengan kiri Karel. Akibat operasi yang dilakukan menangkap bandar narkoba.
"Mas... Ini luka dalam loh. Kenapa ngak di jahit."
"Aku mau calon istriku yang jahit."
"Mas, ngak boleh seperti itu, bisa infeksi kalau di biar lama dalam posisi terbuka."
"Iya sayang."
Akhirnya Adel menyuruh Karel kekasihnya tidur dan dia memulai tindakan menutup luka itu. Dia mulai menyuntik obat agar tidak merasa sakit pada saat di obati.
"Sayang....."
"Mas percaya sama adek kan." Ketakutan pada jarum suntik membuat Adel memperlakukan kekasihnya sangat lembut.
"Polisi penakut. Kalau besok macam - macam adek suntik sungguh - sungguh."
"Mas akan balas dengan suntikan mas." Karel membisikan itu di telinga Adel, karena tidak mau kekasihnya malu. Adel hanya memberi tatapan tajam. Karel tersenyum. Karena obat sudah bekerja, akhirnya operasi ringan pun terjadi.
Semua tindakan Adel kepada kekasihnya dilihat oleh Dokter Samuel. Ada penyesalan didada. Aksi Samuel di lihat oleh omnya.
"Om yakin, pasti ada penganti dokter Adel buat kamu."
"Om....."
"Om tahu, kan mama kamu sering cerita sama om."
"Aku terlambat om."
Surat cuti Adel dan Karel sudah keluar, mereka mendapat cuti selama dua belas hari. Pengajuannya terpisah - pisah. Mereka akan berlibur ke Bali. Karel menjemput Adel, namun nanti Kakaknya yang mengantar mereka ke bandara. Adel sudah membooking satu paviliun punya orangtuanya yang ada di sekitaran daerah pantai sanur. Dan penyewaan itu sepaket dengan tamu yang di jemput di bandara.
Penerbangan satu jam empat puluh lima menit di tempuh oleh Karel untuk bertemu dengan calon mertua. Ini bukan kali pertama Karel Imanuel Barnabas seorang intel polri dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi datang ke Bali. Tempat liburan yang tidak begitu menguras kantong, adalah di pulau ini. Dari pada dia berlibur ke eropa. Tidak terhitung berapa kali dia kesini. Liburan atau pun dinas.
Tiba di bandara Bali, Karel dan Adel di jemput oleh papanya. Orangtua Adel tidak tahu hubungan anaknya dengan tamu yang dia jemput yang akan menempati paviliun mereka kurang lebih dua belas hari.
"Ndhuk....... " Adel langsung melihat ke arah suara itu. Dia kenal dan hafal betul suara papanya. Adel langsung berlari menuju ke papanya. Dan langsung di peluk.
"Papa sekalian jemput tamu Karel Imanuel Barnabas. Jangan marah ya sayang." Adel tersenyum. Dari jauh, dia melihat Karel sedang mendorong kopor mereka berdua.
"Pa, ini tamu papa." Karel langsung menyalami papanya Adel.
"Selamat siang om saya Karel Imanuel Barnabas." Karel menunjukan kartu identitasnya. Kepada papanya Adel. Jarak dari bandara ke penginapan keluarga Adel tidak jauh. Hanya sekitar lima belas kilometer. Karena tidak macet mereka hanya menempuh dua puluh lima menit atau hampir setengah jam mereka tiba.
"Pa,......"
"Ya ndhuk."
"Adel mau kenalkan teman Adel."
"Iya nanti boleh di bawa ke rumah sayang. Kamu kan sudah besar. Papa juga rindu mengendong cucu papa ndhuk." Karel tersenyum, Adel sudah malu, wajahnya memerah.
"Yang papa jemput itu teman dekat Adel pa."
"Maksud ndhuk yang di samping papa."
"Iya pa. namanya Karel Imanuel Barnabas."
"Oooo sori nak Karel, papa ngak tahu. Maaf ya."
"Tidak masalah pa. Senang bertemu dengan bapak."
Karel baru tahu, bahwa di sepanjang pantai ini ada penginapan punya keluarga Adel. Seingatnya dia perna belajar menyelam disini bersama teman- temannya, namun tidak menginap, karena disini sering full.
Sampai di rumah, Adel disambut oleh mamanya. Dipeluk dan dicium, anak perempuan satu - satunya. Setelah mengantar Karel, Adel pamit karena dia tinggal di rumah mereka. Tidak besar hanya minimalis, namun rumah itu asri.
"Sayang, mas sendiri disini."
"Mas....."
"Oke ndhuk." Adel tersenyum. Karel memeluk dan mencium kekasihnya itu.
Jam makan siang, Adel membantu mamanya masak. Biasanya mereka akan makan bertiga. Namun mamanya meminta dirinya untuk mengundang tamu di paviliun dua untuk ikut. Adel tahu penghuninya adalah Karel kekasihnya.
"Ayo sayang, mama mau kenalan??" Adel memeluk mamanya. Dia langsung menelepon Karel. Namun tidak di angkat olehnya. Adel berpikir pasti Karel tertidur. Maka dia pun ke paviliun dua tempat Karel menginap.
"Mas..... Mas Karel??" Betul Karel masih tertidur. Karena sudah jam makan siang, Adel membangunkannya. Namun bukan Karel namanya jika tidak menjaili kekasihnya ini. Akhirnya Adel berada dalam pelukan Karel di atas tempat tidur.
"Mas... Mama dan papa tunggu kita makan siang bersama??"
"Mas, mau makan sama mertua mas???"
"Iya."
Karel langsung bersiap cepat. Karena ini adalah moment penting. Dia sudah tidak sabar mau memperkenalkan dirinya sebagai calon suami dari anak mereka.
"Nak, Karel kerja apa??"
"Saya polisi tante."
"Polisi???"
"Iya saya seorang polisi pangkat saya Ajun Komisaris Polisi."
"Oooo nak Karel perwira polisi."
"Iya om."
"Orangtua nak Karel??"
"Papa saya juga seorang polisi perwira tingkat tinggi tante."
"Apa mereka bisa menerima keluarga Adel?? Kami hanya keluarga biasa."
"Adel sudah kedua orangtua saya kenal tante." Mamanya Adel melihat ke arah anaknya.Adel tersenyum dan mengangguk kepada mamanya.
"Syukurlah. Tante takut."
Karel akhirnya tahu, bahwa mama dan papa Adel ini juga introvert pantas anak perempuannya juga seperti itu. Mereka menikah sudah berumur, dan di karuniai satu anak perempuan.
Selesai makan siang, Karel minum kopi bersama papa dan mama Adel. Sedangkan Adel baru mau mandi. Disitu mama dan papanya Adel bercerita tentang peristiwa yang perna Adel alami pada usianya lima belas tahun, yang sebenarnya sudah Karel tahu dari Adel sendiri.
Dari percakapan ini, Karel tahu. Bahwa bukan Adel yang terluka saja, namun kedua orangtuanya juga.
"Baru pelakunya sudah di hukum???"
"Sudah nak, dan sudah bebas juga."
"Masih hidup orangnya??"
"Masih."
"Karel harap dia tidak berkeliaran di sekitar sini."
Karel berjanji kepada mama dan papa Adel untuk mencintainya. Dia menerima semua kekurangan Adel.
Sore itu Adel dan Karel berjalan di sepanjang pantai menikmati udara pantai di sore hari dan melihat matahari terbenam, sambil menyusun rencana apa yang harus mereka lakukan selama liburan disini.
"Bukankah itu polisi yang menangkap Amos???"
"Mana???"
"Itu yang lagi berjemur dengan seorang perempuan."
"Iya betul itu orangnya."
"Kamu selidiki siapa perempuan itu. Aku mau datanya sekarang."