NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Salah Peluk

"Ini gue, orang ganteng pemilik black card yang lagi ada di hadapan lo sekarang."

Deg!

Alin ingin sekali memiliki kekuatan magis untuk menghilang ke dasar bumi atau melebur bersama debu koridor saat itu juga. Ia benar-benar lupa kalau sempat memberikan nomor ponselnya pada Rakha saat adegan tragis di mana ia tidak sengaja menumpahkan jus buah naga ke hoodie mahal milik cowok itu tempo hari. Dan sekarang, "Hanin" tertangkap basah memegang ponsel milik Alin.

"Eum... ini... sebenarnya hp-nya Alin nggak dibawa, Tuan Muda," ucap Alin sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

Wajahnya tersenyum kaku menyerupai manekin toko baju loak. "Soalnya tadi hp-nya lowbat parah belum sempat di-charger. Nah, karena dia buru-buru, dia nitipin hp-nya sama aku. Jadi pas aku selesai isi lagi daya baterainya, langsung aja aku kantongin. Takutnya ada panggilan darurat dari negara, eh ternyata dari kamu."

"Alan-alasan lo klasik banget kayak angkot," cibir Rakha, sama sekali tidak termakan omongan konyol itu. "Kalau gitu, gue minta alamat lengkap di mana si Alin kerja sekarang. Gue bakalan datangin dia sekarang juga buat nagih utang!" tuntut Rakha, sudah bersiap melangkah keluar kamar.

"Aku nggak tau di mana tempatnya! Dia nggak pernah bilang sama aku karena sifatnya tertutup kayak kerang!"

Hanin buru-buru merentangkan kedua tangannya, mencoba menghalangi jalan Rakha di ambang pintu. "Jadi... daripada kamu nyari-nyari dia yang gak jelas di mana, mending sekarang biar aku aja yang gantiin tugas dia buat bersihin kamar kamu! Soalnya bentar lagi jam sembilan aku juga harus pergi ke suatu tempat penting!"

"Lo jangan cari alasan terus buat nyembunyiin sepupu lo itu ya! Lo pasti tau dia ada di mana sekarang, cepetan kasih tau gue!! Di mana dia?!"

bentak Rakha kesal. Ia melangkah maju, mencondongkan tubuh jangkungnya yang intimidatif hingga Hanin terdesak mundur dan punggungnya menempel rapat ke tembok lorong.

"Kalau lo nggak ngasih tahu, gue bakalan acak-acak kamar kosan si Alin sampai hancur!"

"Aku kan udah bilang nggak tahu! Kamu budek atau gimana sih?! Lagian, coba aja kalau berani kamu acak-acak kosannya, orang pintunya juga udah aku gembok tiga lapis!" tantang Hanin, meski dalam hati nyalinya sudah ciut melihat tatapan mata elang Rakha yang sedekat ini.

Rakha mendengus frustrasi, mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. Ia melirik ke dalam kamar kosnya yang sudah menyerupai kapal pecah yang dihantam meteor, lengkap dengan tumpukan baju kotor di sudut ruangan.

Mengingat kepalanya masih sangat pening dan ia butuh tidur beberapa jam lagi, tak ada pilihan lain selain memanfaatkan "Hanin" yang malang ini sebagai pelampiasan.

"Lo ngapain masih berdiri mematung di itu kayak arca kuno?! Cepetan masuk dan kerjain tugas lo! Bersihin semua area kosan gue sampai mengilap, jangan ada debu satu persen pun! Cuciin juga semua baju kotor gue di pojokan!" perintah Rakha mutlak.

"Heh! Emangnya aku babu kamu apa?! Seenaknya aja kamu nambahin tugas! Janji semalam sama Alin itu cuma bersihin kamar doang, bukan sama cuci baju-baju jorok kamu segala ya!" protes Hanin dengan bibir mengerucut kesal.

"Ck! Jangan banyak bacot lo! Kerjain aja apa yang gue suruh. Jangan ngebantah, atau detik ini juga gue bakalan laporin sepupu lo si Alin ke polisi dengan pasal berlapis. Kalau perlu gue tuntut dia seribu tahun penjara biar membusuk di sel!"

gertak Rakha dengan wajah garang.

Tentu saja itu bualan belaka, mana ada hukum yang menuntut orang seribu tahun penjara hanya karena perkara enggan mencuci baju kotor tetangga kos.

"Iya, iya aku kerjain! Dasar Tuan Muda kejam, diktator, otoriter!" cicit Hanin akhirnya menyerah kalah.

Dengan bahu lunglai dan langkah gontai, ia melangkah masuk ke dalam kamar kos Rakha yang baunya sudah mirip perpaduan antara kaos kaki basah dan kandang macan, siap memulai ritual kerja paksa di pagi buta.

Rakha benar-benar tidak peduli lagi pada eksistensi Hanin yang kini berdiri kebingungan di tengah kamarnya. Bagi Rakha saat ini, bantal dan kasur jauh lebih berharga daripada basa-basi sepupu tetangganya yang udik itu.

"Kerjain yang benar! Yang bersih juga! Gue mau pas gue bangun nanti semuanya udah beres. Dan lo jangan berani-berani ganggu tidur gue lagi! Ngerti lo?!" geram Rakha dengan suara berat yang tenggelam.

Tanpa menunggu jawaban dari Hanin, ia langsung menjatuhkan tubuh jangkungnya ke atas kasur empuk, menarik selimut tebalnya sampai menutupi batas hidung.

"Iya, dasar beruang kutub," sahut Hanin super pelan, sambil menatap punggung Rakha dengan tatapan ingin melempar tabung gas melon.

****

Satu jam lebih berlalu dengan penuh penderitaan. Hanin sudah bermandikan keringat, bertempur habis-habisan dengan debu-debu purba di kolong tempat tidur dan memunguti puluhan bungkus camilan serta botol soda yang berserakan di lantai.

Kini, tibalah ia pada tugas terakhir yang paling ia benci: mencuci baju.

Dengan wajah masam yang ditekuk habis dan dua jari yang menjepit ujung kain dengan sangat jijik, ia memunguti tumpukan pakaian kotor dari lantai satu per satu.

"Jorok banget sih nih orang! Sampai celana dalamannya pun harus aku yang cuciin. Ganteng-ganteng tapi kelakuan higienisnya minus di bawah nol. Nyebelin banget!" gerutu Alin alias Hanin panjang pendek. Ia menatap ngeri ke arah sepotong celana dalam bermerek terkenal yang tersangkut mengenaskan di kaki meja belajar Rakha, lalu melemparkannya ke dalam mesin cuci mini di pojokan dengan ekspresi wajah yang sangat drama.

Namun, saat hendak menekan tombol start pada mesin cuci, Hanin mendadak mematung. Ia celingukan menatap rak kayu di area laundry kecil tersebut.

"Eh... tapi sabun cucinya kok nggak ada? Di mana ya?" gumamnya sambil membuka-buka laci yang ternyata hanya berisi botol sampo kosong, gel rambut yang sudah mengering, dan sikat gigi cadangan.

Dengan sangat terpaksa dan langkah kaki yang berat, Hanin melangkah mendekati ranjang tempat tidur Rakha. Ia berdiri tepat di sisi tempat tidur, menatap wajah cowok itu yang sedang mendengkur halus. Harus ia akui, saat tidur tanpa ekspresi angkuh seperti ini, wajah Rakha terlihat sangat tampan, mirip pahatan porselen pangeran di negeri dongeng.

Duh, bangunin nggak ya? Kalau nggak dibangunin, cucian nggak jalan dan aku nggak bisa pergi ke butik Oma Karin jam sembilan nanti, pikirnya bimbang di antara hidup dan mati.

"Rakha... Bangun... Sabun cucinya di sebelah mana?" Hanin mencoba memanggil dengan suara pelan, namun tidak ada respon sama sekali dari sang beruang kutub.

Gemas karena dikejar waktu yang terus berputar menuju pukul sembilan pagi, Alin akhirnya memberanikan diri mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk pipi kanan Rakha dengan pelan.

"Rakha, bangun ih! Sabunnya di mana—"

Tapi, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Dalam kondisi setengah sadar akibat pengaruh mimpi buruk di mana ia sedang dikejar oleh guling raksasa yang hendak merebut black card-nya, Rakha mendadak melakukan gerakan refleks. Tangan kekarnya bergerak secepat kilat, menyambar pergelangan tangan Hanin dengan cengkeraman yang sangat kuat.

Wusshh!

"Eh! Eh! Aaaaa!" Hanin memekik panik saat tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan akibat tarikan mendadak tersebut.

Ia oleng ke depan dan jatuh berdebam tepat di atas dada bidang dan kasur empuk milik Rakha. Belum sempat Alin mengumpulkan kesadarannya untuk segera bangkit berdiri, lengan kekar Rakha yang lain langsung melingkar dengan sangat erat di sekeliling perutnya, mengunci pergerakan tubuh gadis itu hingga menempel rapat tanpa jarak di atas tubuhnya.

Rakha memeluk Hanin dengan kekuatan penuh seolah-olah gadis itu adalah guling kesayangan yang hampir hilang di dalam mimpinya. Bahkan, ia sempat menyurukkan wajahnya yang wangi mint ke ceruk leher dan bahu Hanin, menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam.

Mata Alin membelalak sempurna seukuran mangkok bakso. Jantungnya serasa mau copot dari rongganya dan melompat keluar. Ia berusaha keras meronta, memukul-mukul lengan Rakha yang sekeras beton pracetak itu agar terlepas.

"Lepasin tangan kamu!! Jangan sembarangan pegang-pegang ya! Cepetan kamu bangun, dasar cowok mesum terselubung!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!