NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun

Restoran L’Ambroisie malam itu memancarkan kemewahan yang tenang. Alunan musik biola klasik berpadu dengan pencahayaan temaram yang dramatis, menciptakan suasana intim bagi para kaum elite ibu kota. Di salah satu meja sudut yang paling privat, Arka Narendra sudah duduk menunggu sejak tiga puluh menit yang lalu. Dia mengenakan kemeja hitam satin terbaiknya, lengkap dengan parfum maskulin yang dulu sering dipuji oleh Davira.

Setiap beberapa detik, Arka melirik jam tangan pintarnya dengan cemas. Jantungnya berdegup tak beraturan. Dia telah menyiapkan skenario kata-kata terbaik, sebuah untaian kalimat penyesalan yang telah dia latih di depan cermin kantornya sore tadi.

Tepat pukul tujuh malam, pintu masuk restoran terbuka. Sosok Vira Mahendra melangkah masuk, seketika merebut seluruh perhatian pasang mata di dalam ruangan tersebut.

Malam ini Vira mengenakan backless silk dress berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit putih susunya yang tampak sehat. Rambut asimetrisnya ditata sedikit bergelombang, memberikan kesan sensual namun tetap sangat terhormat. Tidak ada lagi perhiasan murahan; yang melingkar di lehernya hanyalah seuntai kalung berlian minimalis yang harganya setara dengan satu buah unit apartemen mewah.

Arka terpesona hingga sempat lupa cara bernapas. Dia buru-buru berdiri, mengulas senyum tertampan yang dia miliki, dan menarikkan kursi untuk Vira. "Selamat malam, Vira. Kamu terlihat... sangat luar biasa malam ini."

Vira duduk dengan keanggunan seorang ratu. Dia meletakkan tas jinjing Hermès miliknya di samping kursi, lalu menatap Arka dengan pandangan yang teramat datar. "Terima kasih, Tuan Arka. Dan terima kasih sudah bersedia memindahkan lokasi pertemuan ke sini."

Arka tersenyum kaku saat duduk kembali di kursinya. "Tentu saja. Apa pun untukmu. Lagi pula, tempat ini jauh lebih tenang. Kita bisa... bicara lebih bebas tanpa gangguan pekerjaan atau protokol formal kantor."

Seorang pelayan datang menyajikan anggur merah kualitas premium ke dalam gelas kristal mereka. Setelah pelayan itu pergi, Arka memajukan tubuhnya, menatap Vira dengan tatapan mata yang sengaja dibuat selembut dan sedalam mungkin.

"Vira... sejujurnya, aku tidak tahu harus mulai dari mana," ucap Arka, suaranya mendadak berubah serak penuh emosi buatan. "Tiga tahun ini... adalah neraka bagiku. Sejak malam kamu pergi, rumah itu terasa begitu kosong. Aku baru sadar betapa besarnya pengorbanan dan ketulusanmu selama ini."

Vira hanya diam, menopang dagunya dengan sebelah tangan yang lentik sembari memperhatikan sandiwara pria di hadapannya. Sudut bibirnya terangkat tipis, memancing Arka untuk terus mengeluarkan bualannya. "Oh ya? Neraka seperti apa, Tuan Arka? Bukankah Anda memiliki istri baru yang cantik dan seorang anak yang sangat Anda dambakan?"

Arka menghela napas panjang, memasang wajah seolah dia adalah korban takdir yang paling menderita. "Sheila bukan wanita seperti yang kupikirkan dulu, Vira. Dia manipulatif. Pernikahan kami didasari oleh paksaan ibuku yang mendambakan garis keturunan. Aku... aku terpaksa melakukan semua itu demi nama baik keluarga. Tapi hatiku, jiwaku, tetap tertinggal pada wanita yang menungguku pulang setiap malam selama tiga tahun. Yaitu kamu, Davira."

Arka mengulurkan tangannya di atas meja, mencoba meraih jemari Vira dengan gerakan perlahan. "Aku minta maaf atas kebodohanku dulu. Bisakah kita memulainya lagi dari awal? Aku berjanji akan menceraikan Sheila, dan kita bisa membangun kembali apa yang pernah hancur."

Vira melirik tangan Arka yang hampir menyentuh kulitnya. Dengan gerakan yang teramat halus namun tegas, Vira menarik tangannya untuk mengambil gelas anggur, membuat tangan Arka menggantung pasrah di udara.

Vira menyesap anggurnya sedikit, lalu menatap Arka dengan kilat mata yang sangat tajam, meruntuhkan seluruh topeng keramahan formalnya.

"Sandiwara yang sangat mengesankan, Tuan Arka Narendra," ucap Vira, suaranya terdengar begitu merdu namun sedingin es di kutub utara. "Penyesalan Anda terdengar begitu nyata, sampai-sampai aku hampir lupa bagaimana rasanya bersujud di lantai rumah Anda, memohon belas kasihan di saat tubuhku digerogoti sel kanker, sementara Anda menggendong selingkuhannya ke kamar atas."

Wajah Arka seketika memucat. "Vira, waktu itu aku tidak tahu kalau kamu benar-benar sakit parah—"

"Anda tahu, Arka! Anda hanya memilih untuk tidak peduli karena saat itu menganggapku sudah tidak berguna setelah ayahku bangkrut!" potong Vira, suaranya tidak meninggi, namun penekanannya begitu kuat hingga mencekik nyali Arka.

Vira memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Arka yang kini dipenuhi ketakutan. "Jangan pernah berani menyebut namaku dengan mulut kotormu itu lagi. Anda mendekatiku malam ini bukan karena menyesal, tapi karena Anda butuh uang 500 miliar rupiah milik perusahaanku untuk menyelamatkan Narendra Group, bukan?"

Sebelum Arka sempat menjawab, sebuah keributan kecil terdengar dari arah pintu masuk restoran. Suara melengking yang sangat familier bagi Arka mendadak memecah ketenangan tempat itu.

"Di mana suamiku?! Minggir! Aku tahu dia ada di dalam!"

Arka menoleh dengan cepat, dan matanya membelalak sempurna saat melihat Sheila, dengan gaun hamil yang tampak berantakan dan napas terengah-engah, menerobos barisan pelayan restoran. Wajah Sheila tampak merah padam penuh amarah dan kecemburuan yang membakar.

Sheila berhasil menemukan meja mereka. Dia melangkah lebar, lalu menggebrak meja makan dengan kasar hingga peralatan makan berdenting nyaring.

"Arka! Jadi benar kamu di sini?! Kamu berselingkuh di belakangku dengan mantan istrimu yang mandul ini?!" teriak Sheila histeris, menunjuk wajah Vira dengan telunjuknya yang bergetar.

Di saat yang bersamaan, di lantai mezanin yang terletak tepat di atas meja Vira dan Arka, seorang pria duduk di kegelapan dengan segelas wiski di tangannya. Tatapan mata elangnya sejak tadi tidak pernah lepas dari sosok Vira Mahendra.

Pria itu adalah Adrian Atmadja.

Adrian sengaja mengosongkan seluruh meja di lantai mezanin tersebut hanya agar dia bisa mengawasi jalannya makan malam Vira tanpa gangguan. Di sampingnya, Yuda berdiri dengan sikap takzim.

Ketika melihat Sheila datang dan membuat keributan yang berpotensi mempermalukan Vira, rahang Adrian mengeras. Dia meletakkan gelas wiskinya ke meja dengan bunyi yang berat. Adrian bersiap untuk berdiri dan turun tangan memanggil sekuriti setingkat kota untuk menyeret wanita pembuat onar itu.

Namun, gerakan Adrian terhenti saat dia melihat reaksi Vira di bawah sana.

Vira sama sekali tidak panik atau malu. Wanita itu tetap duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu menatap Sheila dengan pandangan meremehkan yang teramat elegan. Vira bahkan sempat mendongak kecil ke arah lantai mezanin—seolah tahu bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari atas—lalu melempar senyum tipis yang penuh kemenangan.

Adrian perlahan duduk kembali di kursinya. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyuman yang sangat menawan.

"Ternyata, dia tidak butuh pelindung untuk mengatasi ular-ular kecil seperti mereka," gumam Adrian dengan suara baritonnya yang rendah. Matanya berkilat penuh kekaguman yang kian mendalam. "Yuda, batalkan perintah sekuriti. Aku ingin melihat bagaimana wanitaku menjinakkan mangsanya."

1
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!