NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Tak lagi sepaket. (Grup keluarga).

|Anak-anak, ayok turun sekarang waktunya makan malam,

|Ini mama masak banyak, kesukaan abang sama adik,

|Ada nasi goreng seafood kesukaan abang,

|Ada juga ayam kecap kesukaan adik,

|Papa sama mama udah di bawah, tinggal nunggu kalian berdua.

|Andai saja, bisa kenyataan.

Di akhir pesan, Valeska menambahkan emoticon ketawa sembari menangis. Kaivandra terkejut saat menerima pesan dari grup keluarga, bernama tak lagi sepaket. Grup tersebut sengaja dibuat oleh Valeska. Dengan tujuan, agar dirinya bisa merasakan apa itu kasih sayang, ya ... walaupun bibit tersebut belum tumbuh.

|Dek, are you okey?

|Yes, i'm fine. Don't worry.

Balas Valeska, diakhiri emoticon berpelukan.

|Dek, ini bentar lagi abang pulang. Mau pesen apa? Belum makan malam 'kan?

|Nggak perlu bang, adek udah masak kok buat kita berdua makan. Ini masakannya udah jadi, tinggal nunggu abang pulang

|Serius? Ini abang lagi di parkiran kampus, hujannya belum reda. Bentar ya, dek.

|Kai, papa sudah transfer buat kalian berdua makan. Kalau habis bilang aja.

Kaivandra memutar bola matanya malas, dia hampir lupa jika di dalam grup chat ini ada Girga. Kaivandra maupun Valeska, langsung menghentikan percakapannya sesaat. Dan mengabaikan pesan yang dikirim oleh papa mereka.

|Abang masih lama? Adek udah laper banget, kayak mau meninggal aja, astaga, adek butuh makan,

|Hus! Bicaranya, jangan ngasal!

|Ini udah mau pulang, kalau laper, makan duluan aja. Kata dokter adek harus makan banyak,

|Kai, itu adik kamu udah kelaperan. Pulang cepat!

|Ya ampun, dek. Makan duluan aja, abang masih di jalan kayaknya.

|Abang hati-hati jangan ngebut, kalau udah di depan kasih tahu yaa. Okey abang?!

Bukannya merespon pesan dari papa mamanya, Valeska justru mengabaikannya. Sama seperti yang dilakukan oleh Kaivandra.

***

Kaivandra berjalan menuju motornya yang terparkir di ujung sana, syukurnya hujan yang sejak tadi turun deras mengguyur sebagian kota, sudah reda. Hanya menyisakan aroma tanah basah serta udara sejuk.

Dia merapatkan jaketnya, meskipun dingin mulai berkurang, memakai jaket saat berkendara tetaplah wajib.Kaivandra menghela napas panjang sebelum memakai helm full face nya, senang akhirnya bisa pulang setelah seharian berkutat dengan tugas perkuliahan.

Kaivandra sedikit tergesa-gesa lantaran sudah tidak sabar untuk makan malam bersama adiknya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Jalan raya sudah ramai kembali, dengan pengendara yang juga baru pulang dari kampus. Beberapa genangan air masih tampak jelas di tengah jalan membuat sebagian pengendara lebih berhati-hati agar tidak terkena pada orang yang sedang berjalan kaki.

Hanya butuh 25 menit, Kaivandra pun sudah sampai di depan apartemen. Dia berjalan santai melewati lobi, sekaligus menyapa sekilas satpam yang sedang berjaga, kemudian masuk ke dalam lift dengan perasaan senang saat mengingat Valeska sudah memasak untuknya.

Begitu pintu apartemen terbuka, aroma familiar langsung menyambutnya. Kaivandra menyimpan ranseln, lalu menggantungkan kunci motor di tempat biasa. Setelah mengambil minum dari dispenser, Kaivandra bertanya.

"Dek, kata dokter kemarin apa?"

"Jangan capek-capek, makan yang banyak. Gitu aja sih, emang kenapa?"

"Itu tahu, abang nggak nyuruh kamu buat masak. Lagian uang kita banyak, kenapa nggak beli aja?"

"Pengen masak aja, lagian adek masaknya yang simpel."

"Abang semalem begadang lagi?" tanya Valeska.

Hanya dari anggukan abangnya, yang sedang mengambil nasi, Valeska sudah mendapatkan jawaban.

"Banyak tugas memangnya?"

"Beuuh jangan ditanya, dek. Bukan banyak lagi, tapi buanyak," jawab Kaivandra.

"Nggak apa-apa, bang. Baru mencapai stres sekian persen, belum nyampe gila, semangat." Gadis yang masih duduk di bangku SMA kela X itu, langsung merebahkan badannya di sofa. Menunggu Kaivandra makan, sambil bermain dengan kucing kesayangannya yang bernama Molly.

***

Melihat Valeska terdiam, Kaivandra yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya, langsung mencubit pelan pipi sang adik yang amat gembul.

"Lagi mikirin apa?" Valeska menggeleng kecil.

"Lagi pengen mikir ini, bang. Kenapa ya selama enam belas tahun adek hidup di dunia, adek belum nemuin orang yang jual jus buah salak?" Kaivandra refleks mengangkat sudut bibirnya, kemudian terkekeh ringan.

"Kenapa setelah pulang dari rumah sakit kamu jadi random kayak gini, dek?"

"Adek penasaran aja, setiap cafe atau tempat makan yang kita kunjungi, menu jus buah salak nggak terdaftar di menu. Misteri yang belum terpecahkan,"

"Ouh ya? Benar juga apa kata adek. Masih menjadi misteri, dan kenapa sekarang pikiran adek itu random?Dan lebih banyak bicara? Kayaknya, sehari adek berbicara ngabisin lima ribu kata, ngoceh terus kayak burung kakak tua." Kaivandra beranjak dari meja belajar sambil membawa satu gelas air mineral dan membantu adik kesayangannya untuk minum.

Valeska berdecak sebal, "Abang nyamain adek sama burung? Jahat banget! Benar-benar sialan, gara-gara Prisha, adek jadi kepikiran sama jus salak!"

"Argh ... abang, engap." Valeska merintih saat mulutnya dibekam oleh Kaivandra.

"Ouh, sekarang adek bisa mengumpat? Diajarin sama siapa?" tanya Kaivandra, sedikit marah.

"Prisha yang ngajarin, bang. Maaf ya, adek keceplosan, janji nggak akan lagi." Lanjutnya dengan memberikan tanda piss. Kalau Kaivandra suda marah, Valeska tidak berani menatapnya. Karena bagi dirinya, Kaivandra itu sangat menyeramkan saat marah. Molly saja, langsung patuh kalau melihat Kaivandra marah padanya.

Di malam yang sama, Girga mengambil ponsel di saku celana. Pria dewasa itu berniat mengirimkan pesan kepada Delina, sampai sekarang keduanya berpisah rumah entah karena alasan apa lagi.

Delina, mama anak-anak.

|Anak-anak butuh seorang ibu!

|Lebih tepatnya, mereka butuh keduanya!

|Saya sibuk, Delina! Kenapa kamu nggak urus mereka, dan ajak tinggal bareng?

Di dalam kamar, Delina mencengkram ujung kasurnya demi menyalurkan semua emosi yang sudah meletup-letup. Dan akhirnya, Delina pun membalas pesan dari Girga disajikan fakta yang ada.

|Lho, kok gitu? Saya juga sibuk, Girga! Saat mereka diberikan pilihan, Kaivandra dan Valeska, memilih untuk hidup mandiri. Karena mereka nggak mau menyakiti perasaan orang tuanya, tapi kita sebagai orang tua?

Balasan pesan bentuk pertanyaan yang sengaja dibikin menggantung, berhasil membuat Girga berpikir. Dan akhirnya, Girga mematikan ponsel tersebut kemudian dimasukkan kembali ke dalam saku. Dalam hati, Girga ingin sekali mencaci maki Delina, karena sudah membuat dirinya mati kutu. Tapi di sisi lain, dia pun tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi kedua anaknya lantaran secara finansial mereka terpenuhi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!