Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Retakan dalam Keluarga
#
Setelah garden party itu, Rendra mulai ngeliat dengan lebih jelas, retakan yang udah lama ada di antara Wisnu dan Broto ini bukan sekedar father-son tension biasa, ini lebih dalam dari itu, ini adalah chasm yang udah berkembang selama bertahun tahun, dari ekspektasi yang nggak pernah kelar kelar sampai ke disappointment yang berubah jadi resentment yang underground.
Rendra start engineerin meetings sama Broto, always casual, always like by accident, ngajak dia coffee, atau bilang ada opportunity bisnis yang mungkin cocok buat divisi properti yang Broto handle. Dan Broto, yang clearly desperate buat ada orang yang, finally, ngerti dia, ngerti tekanan yang dia alami, langsung aja accept setiap invitation.
"Pak Rendra," Broto bilang, suatu sore, mereka lagi duduk di kafe kecil yang Rendra specifically choose karena jauh dari mata mata Hartono Group, "saya appreciate banget, Bapak always understand. Bapak nggak pernah judge saya kayak bapak saya sendiri."
Rendra ngelir Broto dengan expression yang calculated perfect, seperti orang yang tulus tulus empati, "people like your father, they often struggle expressing appreciation. They show love through expectation instead of encouragement. That's their limitation, not yours."
"Iya, betul," Broto ngangguk, minum kopi-nya, "tapi tetep aja, rasanya buruk banget, tau nggak, kalo lu kerja siang malam, kalo lu bikinin profit terus terusan, tapi yang orang lain liat, cuma, 'itu nggak cukup baik, harusnya kamu bisa lebih.' Seolah olah nothing is ever enough."
Rendra lean forward slightly, gesture yang calculated buat keliatan lebih intimate, "what if I told you, your worth isn't determined by what your father thinks? What if there's a way untuk you to prove yourself, independent from his approval?"
Broto matanya suddenly light up, like orang yang baru aja nemuin lifeline di tengah tengah drowning, "itu possible? Maksud Bapak gimana?"
"Ada beberapa opportunity di Asia Tenggara," Rendra bilang, slow, deliberate, "yang maybe cocok buat your skills. Project project yang would give you credibility independent dari Hartono Group. And Alief Capital... well, Alief Capital might be interested untuk partner dengan someone yang visioner seperti Anda."
"Serius?" Broto voice berubah, tone-nya berubah ke something yang keliatan lebih hopeful, "tapi, wouldn't that kinda... go against bapak's interest?"
"Not necessarily," Rendra jawab, smooth, "sometimes, diversification is good buat everyone. And your father should understand that. If he doesn't... well, that's his problem, not yours."
Dan dari situ, slowly, Broto start sharing more dan more information, like data data tentang cash flow Hartono Group, tentang siapa siapa yang potentially unhappy di management, tentang which divisions yang actually profitable dan which ones yang basically just suck up resources. Dia bilang semua ini naturally, like dia just making conversation, like dia nggak realize dia basically giving Rendra blueprint dari seluruh financial structure Hartono Group dari inside.
"Oh, dan Pak," Broto add, di salah satu meeting, "ada hal yang maybe Bapak should tau. Bapak tau soal investment di Yayasan Bhakti Cendekia itu, kan? Yang saya mention dulu?"
Rendra instantly alert, tapi dia keep face-nya cool, "yes?"
"Turns out," Broto lanjut, dengan tone yang keliatan confused, "that foundation, it's not really doing anything visible, you know? Biaya operasional-nya besar, tapi outputnya nggak jelas. Saya pernah tanya ke bapak, kenapa dia invest so much there, tapi dia langsung bentak bentak, dan bilang itu bukan urusan saya. Yang weird adalah, bapak jadi super defensive setiap kali ada yang mention foundation itu."
Rendra ngerasa jantungnya slightly accelerate, "interesting. That does sound unusual."
"Iya, kan? Dan yang lebih weird lagi," Broto lanjutin, "kenapa bapak ngalihkan conversation setiap kali saya tanya tentang siapa yang run the foundation. Seperti ada yang dia nggak mau aku tau."
"Perhaps there are personal reasons," Rendra bilang, trying hard buat nggak kedengeran terlalu interested, "some people prefer privacy soal certain matters."
Tapi dalem hatinya, Rendra udah connecting dots, Yayasan Bhakti Cendekia yang mysterious, yang connected ke Prasetyo Handoko, yang still receiving significant funding sampe sekarang, this could be the thread yang bisa lead ke the whole conspiracy.
Beberapa hari kemudian, Rendra sedang have lunch dengan Broto lagi, kali ini di restoran yang agak lebih upscale, ketika tiba tiba Wisnu dateng, unexpected, dan begitu dia liat Rendra dan Broto duduk bareng, conversation-nya keliatan intensive, ada something yang flash across Wisnu's face, ada paranoia, ada suspicion yang suddenly bloomed.
Wisnu approach mereka, dan greeting-nya keliatan formal, cold, "Broto. Pak Rendra. What a surprise meeting you both here."
"Oh, bapak!" Broto instantly keliatan nervous, "kami cuma... business discussion, tentang beberapa opportunity."
"Business discussion?" Wisnu repeat-in kata kata itu, dan matanya narrow sedikit, ngeliatin Rendra dengan intensity yang sudden, "dan Pak Rendra personally discussing business opportunities dengan my son?"
"Merely exploring potential synergies," Rendra jawab, smooth, cool, like he's been expecting this exact moment, "your son has impressive vision. It would be foolish para Alief Capital tidak to explore collaboration."
Ada moment dimana Wisnu jadi silent, dan Rendra bisa literally feel, at this exact second, something shifted dalam kepala pria itu, like puzzle pieces suddenly start connecting di otak-nya, like dia suddenly wondering, apa ada connection, apa ada pattern, apa ada reason kenapa investor yang mysterious ini tiba tiba so interested dalam anak-nya.
"I see," Wisnu bilang, akhirnya, suaranya calm pada surface tapi ada undercurrent dari paranoia, "but I hope you understand, Pak Rendra, that any major decisions regarding my son's involvement dalam projects would need my approval."
"Of course," Rendra jawab, dengan senyum yang just right, tidak terlalu confident, tidak terlalu submissive, "I respect family hierarchy."
Tapi begitu Wisnu walk away, after some awkward minutes dari conversation, Rendra bisa see, di matanya Wisnu, ada something yang berubah, ada trust yang suddenly fractured, ada wondering yang start eating him dari inside.
Dan when Broto nanya, "bapak kesal?" Rendra just smile, dan bilang, "probably just tired. Business pressure, I imagine."
Tapi honestly? Honestly, Rendra udah plant seed yang powerful sekali dalam pikiran Wisnu, seed dari doubt, dari paranoia, dari wondering apakah ada conspiracy yang sedang berjalan di belakangnya, dan those seeds, they're gonna grow, they're gonna spread, dan slowly, they're gonna choke the entire family structure dari inside.
Malem itu, Rendra sit di balcony penthouse-nya, ngeliatin lampu lampu kota Jakarta yang flickering di bawah, dan he realize, dengan mixture dari satisfaction dan ketakutan, bahwa dia basically just started the process dari destroying this family from within, tidak dengan kekerasan, tidak dengan bombastic revelation, tapi dengan something yang far more subtle, far more deadly: doubt, and the slow erosion of trust.