NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Jamuan Makan Malam yang Beracun

​Mansion utama keluarga David tampak lebih angkuh malam ini. Cahaya lampu gantung kristal yang biasanya terlihat indah, kini justru terasa menyilaukan dan menekan bagi Mireya. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker pemberian Calix—gaun yang elegan namun tertutup rapat, cukup untuk menyembunyikan memar-memar halus di lengannya.

​Di sampingnya, Calix melangkah dengan sisa keangkuhan yang sama. Pria itu tidak menggandengnya, hanya berjalan bersisian, memberikan jarak yang cukup untuk menegaskan bahwa ini hanyalah tuntutan formalitas.

​"Ingat," bisik Calix tanpa menoleh saat mereka hendak memasuki ruang makan besar. "Jangan bicara kecuali ditanya. Dan jangan pernah membuat Kakek merasa tersinggung."

​Mireya hanya mengangguk pelan. "Aku tahu tugas seorang 'kontrakan', Calix. Kamu tidak perlu mengingatkannya berulang kali."

​Pintu kayu jati berukir itu terbuka. Di ujung meja panjang, duduk seorang pria tua dengan rambut perak yang masih tampak gagah. William David. Di sisi kanan dan kirinya, duduk dua wanita yang langsung melemparkan tatapan tajam begitu Mireya melangkah masuk. Saras, bibi Calix, dan Bianca, sepupu perempuannya yang seumuran dengan Mireya.

​"Jadi ini gadis desa yang membuatmu melanggar sumpah untuk tidak menikah lagi, Calix?" Suara Saras terdengar melengking, penuh nada sarkasme. Ia menatap Mireya dari ujung kaki ke ujung kepala dengan bibir mencemooh.

​Calix tidak menjawab, ia hanya menarik kursi untuk Mireya. "Malam, Kek. Kenalkan, ini Mireya."

​William David meletakkan garpu peraknya. Matanya yang tajam dan berpengalaman menatap Mireya lekat-lekat. Ruangan itu mendadak hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

​"Kemari, Nak," ucap William lembut, jauh dari dugaan Mireya. "Mendekatlah. Biar kulihat siapa yang berhasil menjinakkan cucuku yang keras kepala ini."

​Mireya melangkah maju dengan sopan, membungkuk sedikit. "Selamat malam, Kek. Saya Mireya."

​"Duduklah. Kamu terlihat sangat... murni," ujar William dengan senyum tipis yang tulus. "Berbeda dengan wanita-wanita kota yang biasanya dibawa ke rumah ini hanya untuk pamer perhiasan. Kamu punya mata yang jujur."

​"Jujur atau hanya pandai berakting, Kek?" Bianca menyela dengan tawa kecil yang menghina. Ia menyesap wine-nya sembari menatap Mireya sinis. "Di zaman sekarang, gadis desa seringkali punya taktik lebih licin untuk menjerat pria kaya. Apalagi yang sedang kesulitan ekonomi seperti keluarga Pradipta."

​Mireya tetap tenang. Ia menduduki kursinya dengan punggung tegak. Ia sudah terbiasa dengan hinaan kedua orang tuanya sendiri, jadi cacian dari orang asing seperti Bianca tidak akan membuatnya menangis.

​"Saya di sini karena Tuan Calix yang meminta saya, Tuan Putri," jawab Mireya dengan nada datar namun menusuk. "Jika Anda menganggap saya menjerat, mungkin Anda harus bertanya pada sepupu Anda, kenapa dia memilih 'umpan' seperti saya daripada wanita-wanita kelas atas di lingkungan Anda."

​Bianca tersentak, wajahnya memerah karena jawaban berani itu. "Kamu—! Beraninya kamu bicara begitu?"

​"Sudahlah, Bianca," Saras menimpali dengan nada merendahkan. "Wajar saja dia bicara begitu. Orang yang dibesarkan di sawah memang tidak mengerti etika meja makan. Calix, aku tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu. Mengambil wanita yang hanya punya rahim untuk dijual tapi nol besar dalam tata krama."

​Calix hanya diam, memotong steak di piringnya seolah pembicaraan itu tidak penting. Sikap diam Calix membuat Mireya sadar bahwa ia benar-benar harus berjuang sendiri di meja ini.

​"Bibi Saras," Mireya memotong dengan suara lembut namun tegas. "Mungkin saya tidak tahu merk wine termahal atau cara memakai lima lapis sendok yang berbeda. Tapi saya tahu satu hal yang mungkin Anda lupakan: menghargai orang yang sedang duduk di depan makanan adalah etika paling dasar di belahan dunia mana pun. Baik itu di sawah, maupun di mansion ini."

​William David tiba-tiba tertawa keras, memecah ketegangan. "Hahaha! Bagus! Aku suka keberanianmu, Mireya. Saras, Bianca, diamlah. Kalian hanya mempermalukan diri sendiri di depan tamu istimewaku."

​Saras dan Bianca terbungkam dengan wajah masam. Namun, Bianca tidak menyerah begitu saja. Dengan gerakan yang disengaja saat pelayan hendak menuangkan air, Bianca menyenggol gelasnya hingga air wine merah itu tumpah tepat mengenai bagian depan gaun biru Mireya.

​"Oh! Maafkan aku! Tanganku licin," ucap Bianca dengan nada yang dibuat-buat panik, namun matanya berkilat penuh kemenangan. "Aduh, lihat gaun mahal pemberian Calix jadi kotor. Memang benar, barang mewah tidak akan pernah cocok dipakai oleh orang rendahan."

​Mireya melihat noda besar di gaunnya. Ia merasa dingin dan lengket, tapi ia tidak berteriak atau berdiri dengan panik. Ia hanya mengambil serbet putih, menekannya perlahan pada noda itu, lalu menatap Bianca dengan tatapan dingin yang membuat sepupunya itu terdiam.

​"Tuan Putri," ucap Mireya tenang. "Gaun ini mungkin kotor, tapi bisa dicuci. Namun perilaku yang sengaja dilakukan untuk mempermalukan orang lain... itu adalah noda karakter yang tidak bisa hilang hanya dengan deterjen mahal."

​"Kamu menuduhku?!" jerit Bianca.

​"Mireya, sudah cukup," Calix akhirnya bicara, suaranya dingin dan memperingatkan. Ia memberikan kode pada pelayan untuk memberikan tisu tambahan pada Mireya.

​Mireya menatap Calix, lalu kembali menatap William. "Maaf, Kek. Sepertinya saya harus membersihkan diri sebentar."

​"Silakan, Nak. Bi Ani akan mengantarmu ke kamar atas," ujar William, matanya memancarkan rasa hormat pada ketegaran Mireya.

​Saat Mireya berjalan keluar dari ruang makan diikuti oleh Bi Ani, ia bisa mendengar Saras berbisik dengan nada jijik, "Wanita itu benar-benar tidak tahu diri. Dia pikir dia siapa?"

​Mireya terus melangkah tanpa menoleh. Di dalam hatinya, ia berbisik pada dirinya sendiri: Aku tahu siapa aku. Aku adalah wanita yang kalian anggap rendah, tapi rahimku adalah kunci masa depan keluarga kalian. Teruslah menghina, karena setiap kata kalian hanya membuatku semakin kuat untuk bertahan sampai kontrak ini selesai.

​Di dalam kamar tamu di lantai atas, Mireya membersihkan noda itu sendirian. Pintu tiba-tiba terbuka, dan Calix masuk dengan wajah yang terlihat sangat marah.

​"Apa yang kamu lakukan di bawah tadi?!" geram Calix, menutup pintu dengan hentakan keras. "Aku sudah bilang jangan bicara lancang!"

​"Lancang?" Mireya berbalik, matanya berkaca-kaca namun suaranya tetap kuat. "Mereka menghinaku, Calix! Mereka memfitnahku gila harta dan menumpahkan minuman padaku. Apa aku harus diam saja seperti boneka yang kamu beli?"

​Calix maju, mencengkeram lengan Mireya, memaksanya mendekat. "Kamu memang kubeli, Mireya! Ingat itu! Tugasmu hanya melahirkan anakku, bukan membuat keributan di depan Kakekku!"

​"Lalu kenapa Kakekmu justru menyukaiku?" tantang Mireya, menepis tangan Calix. "Mungkin karena dia bisa melihat bahwa di rumah yang penuh dengan kemunafikan ini, hanya aku yang tidak memakai topeng. Kamu malu padaku? Atau kamu takut mereka benar tentang aku yang mulai 'mengacaukan' duniamu?"

​Calix terdiam, menatap Mireya dengan napas yang memburu. Kedekatan mereka kembali memicu atmosfer panas yang berbahaya. Amarah di mata Calix perlahan berubah menjadi gairah yang gelap saat ia menatap bibir Mireya yang bergetar karena emosi.

​"Jangan pernah merasa menang hanya karena Kakek menyukaimu," bisik Calix serak, menarik pinggang Mireya secara kasar hingga tubuh mereka bertabrakan. "Malam ini belum berakhir. Dan karena kamu sudah membuat kekacauan, anggap saja kita harus menanam benih lebih banyak lagi malam ini agar kamu tidak punya tenaga untuk bicara lancang besok pagi."

​Mireya ingin membantah, namun bibir Calix sudah lebih dulu membungkamnya dengan kasar, menyeretnya kembali ke dalam pusaran kontrak yang menyiksa sekaligus membingungkan hatinya.

1
umie chaby_ba
kasian calix 🤭
elief
calix sudah menerima hukumannya mireya, sudah cukup. coba kamu sekarang berdamai dengan hati kamu, mencoba memaafkan kembali. semoga hati mu luluh ya mireya dan kembali ke calix. 👍
Ariska Kamisa: Terima kasih kak atas komentarnya ❤️. Memaafkan memang penting, tetapi menyembuhkan luka juga butuh waktu. Kita lihat nanti apakah cinta Calix cukup kuat untuk meluluhkan hati Mireya kembali 🥹✨💕
total 1 replies
umie chaby_ba
kasian juga sih sebenarnya calix...
🤭
Ariska Kamisa: iya ya kak ... tapi mireya juga sakit sih kak
total 1 replies
elief
karya mu bagus thor, tetapi semangat dalam berkarya💪
Ariska Kamisa: MasyaAllah, terima kasih banyak kak. Komentar seperti ini yang bikin saya semangat berkarya dan melanjutkan cerita. Sehat dan bahagia selalu ya ❤️🌷
total 1 replies
elief
lanjut thor, semoga hati mireya luluh kembali.
Ariska Kamisa: siap kak, 👍
total 1 replies
elief
lanjut thor
Ariska Kamisa: siap kak👍
total 1 replies
umie chaby_ba
Ditinggal baru merasa kehilangan lo?! /Right Bah!/
Ariska Kamisa: ya begitulah manusia kak🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
lanjutkan thor💪
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan feeling ku juga Ilana karena belum tertangkap
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭 ketebakbya
total 1 replies
umie chaby_ba
bener mending pergi aja mireya!!!
Ariska Kamisa: iya yuk
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Tuhan... rencana zeana KW effort banget sampai di rekannya live lagi!! jahat banget /Panic/
Ariska Kamisa: iyah iih jahatnya kebangeten yaa
total 1 replies
umie chaby_ba
gob**k... /Angry/
itu berarti jebakan si zeana KW
Ariska Kamisa: sabar kak... sabar 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih masih ingat aja!
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
calix... lo awas aja nyakitin! tapi kayanya si calix masih ngarep zeana masih hidup kali 🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calix lo labil banget dih!! /Angry/
Ariska Kamisa: iyah emang calix nih... nakal🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah nyesek/Cry/
Ariska Kamisa: sabar ya kak 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
ada lagi aja! baru geh dimanjain bentar!
Ariska Kamisa: namanya hidup kak... selalu ngada-ngada..
stay read kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
zeana kw ini!!!
Ariska Kamisa: iyah ka terobsesi banget jadi kesayangannya calix
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean lo Bianca!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!