NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Nayla mengulas senyum tipis yang tampak kikuk. Setelah itu, ia bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan menuju jendela. Pandangannya diarahkan ke luar, seakan sengaja menghindari tatapan orang lain sambil menyembunyikan rona yang mulai menghiasi wajahnya.

"Sebenarnya aku tidak sempat menanyakan siapa dia," ujarnya sambil tersenyum tipis. "Dan lagi, kalau aku terlalu dekat dengan orang yang baru kukenal, nanti Kakak pasti kepikiran terus. Jadi aku memilih untuk tidak mencari tahu lebih jauh."

Rayan memandang adiknya tanpa berkata apa-apa. Ada firasat kuat bahwa Nayla belum menceritakan seluruh kejadian yang sebenarnya. Namun, melihat keraguan di wajah sang adik, ia memutuskan untuk menahan rasa penasarannya dan tidak memaksanya berbicara lebih jauh.

"Yang paling penting sekarang adalah kamu baik-baik saja. Kalau suatu saat ada hal mencurigakan atau sesuatu yang membuatmu merasa tidak aman, jangan mencoba menghadapinya sendirian. Segera kabari aku, mengerti?" ujarnya dengan nada tegas namun penuh perhatian.

Nayla menganggukkan kepala perlahan sebagai tanda mengerti. Namun, jauh di dalam benaknya, sosok Aris masih hadir dengan begitu jelas. Bayangan pemuda itu terus berputar di pikirannya, terutama tatapan matanya yang tenang dan menenangkan. Meski usianya mungkin sedikit lebih muda darinya, ada pesona yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Entah mengapa, setiap kali mengingatnya, Nayla merasakan ketertarikan yang perlahan tumbuh dan rasa penasaran yang semakin sulit diabaikan.

*****

Beberapa hari pasca persalinan, keadaan Alya berangsur-angsur membaik. Tenaga yang sempat terkuras perlahan kembali, membuatnya mampu menjalani hari-hari dengan lebih kuat dari sebelumnya. Meski demikian, luka batin yang ia simpan masih belum sepenuhnya pulih. Namun, Alya sadar bahwa hidup harus terus berjalan. Demi Fariz, putra kecil yang kini hadir sebagai alasan terbesarnya untuk tetap tegar, ia memilih melangkah maju. Bayi laki-laki itu telah menjadi pusat dunianya, sumber kekuatan yang memberinya semangat untuk menghadapi setiap hari.

Setiap hari, Alya memulai aktivitasnya sejak fajar menyingsing. Setelah membersihkan diri, ia memerah ASI dan menuangkannya ke dalam beberapa botol kecil yang telah disiapkan sebelumnya. Botol-botol itu kemudian ia titipkan kepada Bu Ami, seorang tetangga paruh baya yang dengan sukarela membantu merawat Fariz selama Alya bekerja.

Bu Ami dikenal sebagai wanita yang ramah dan penuh kasih sayang. Sikapnya yang hangat membuat banyak orang di lingkungan itu merasa nyaman berada di dekatnya. Sejak menyaksikan sendiri bagaimana Alya berjuang melewati berbagai kesulitan, rasa simpatinya semakin besar. Karena itulah, ia tak pernah keberatan mengulurkan bantuan, terutama untuk menjaga Fariz agar Alya bisa bekerja dengan lebih tenang.

Alya menatap putranya dengan lembut sebelum membelai pipinya pelan. Setelah mengecup kening Fariz yang masih terlelap, ia beralih kepada Bu Ami.

"Bu, Fariz saya titip dulu. Asi yang sudah saya siapkan ada di dalam botol-botol itu. Kalau nanti kurang atau ada apa-apa, kabari saya saja. Saya akan segera pulang," ujarnya dengan nada penuh harap.

Bu Ami tersenyum hangat lalu menepuk punggung tangan Alya dengan lembut.

"Jangan khawatir, Alya. Biar Ibu yang menjaga Fariz selama kamu bekerja. Fokus saja pada pekerjaanmu, nanti kalau ada sesuatu, Ibu akan langsung mengabarimu," ucapnya penuh ketulusan.

Hari-hari Alya kembali berjalan dalam irama yang penuh kesibukan. Sejak matahari mulai meninggi, ia menyusuri sudut-sudut pinggiran kota, mengumpulkan botol plastik dan kardus bekas yang masih memiliki nilai jual. Dengan karung lusuh di pundaknya, ia melangkah dari satu tempat ke tempat lain tanpa banyak mengeluh.

Memasuki sore hari, Alya beralih mengerjakan pekerjaan lain. Ia membantu beberapa tetangga yang membutuhkan tenaganya untuk mencuci dan merapikan pakaian. Meski upah yang diterimanya tidak seberapa, ia tetap menjalaninya dengan tekun demi memenuhi kebutuhan hidup.

Menjelang petang hingga malam tiba, Alya hampir selalu terlihat di warung kecil milik Bu Sekar. Gadis itu membantu menyapu lantai, menata barang-barang di rak, atau mengantarkan pesanan kepada pelanggan di sekitar lingkungan. Kesibukan itu membuat harinya terasa panjang, namun Alya tetap bertahan. Baginya, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan jujur adalah langkah kecil untuk terus melanjutkan hidup.

Meski kelelahan sering menguasai tubuhnya setelah seharian bekerja, Alya selalu menemukan ketenangan saat pulang ke rumah. Begitu melihat Fariz dan memeluknya erat, beban yang sejak tadi menempel di pundaknya perlahan terasa menghilang. Senyum kecil anak itu seakan menjadi obat bagi seluruh rasa penat yang ia rasakan. Dalam pelukan hangat tersebut, Alya kembali menemukan alasan untuk tetap kuat menghadapi hari-hari yang tidak mudah.

Di tengah kesunyian malam, tangis Fariz memecah keheningan rumah sederhana itu. Alya yang terbangun seketika segera menggendong putranya, mengayunkannya perlahan sambil menepuk punggung kecilnya dengan lembut.

"Jangan takut, Sayang," bisiknya pelan, berusaha menenangkan tangisan itu. "Ibu akan selalu ada di sampingmu."

Tanpa disadari Alya, di tempat lain seseorang tengah berusaha mengungkap keberadaannya. Sedikit demi sedikit, orang itu mengumpulkan informasi, menelusuri nama-nama yang berkaitan dengan kehidupannya di desa kecil tersebut. Setiap petunjuk yang ditemukan membawanya semakin dekat pada tujuan yang selama ini dicari.

*****

Keesokan paginya, Alya kembali memulai rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sebuah karung tua tergantung di bahunya saat ia melangkah menyusuri jalan-jalan pinggiran kota yang dipenuhi debu dan terik matahari. Keramaian kendaraan serta hiruk-pikuk aktivitas warga seakan menjadi latar yang akrab baginya.

Dengan tangan yang telah mengeras karena pekerjaan berat, ia memilah tumpukan barang bekas, mencari botol plastik dan kardus yang masih bisa dijual. Sesekali ia menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya, namun tak pernah menghentikan langkah atau mengurangi semangatnya.

Pekerjaan itu memang melelahkan, tetapi Alya menjalaninya dengan ketabahan yang luar biasa. Dalam benaknya hanya ada satu tujuan yang selalu memberinya kekuatan untuk terus bertahan Fariz. Demi putranya, ia rela menghadapi panas, lelah, dan kerasnya kehidupan tanpa sepatah keluhan pun. Setiap tetes peluh yang jatuh adalah bukti kasih seorang ibu yang tak mengenal batas.

Langkah Alya mendadak melambat ketika ia melewati sebuah kios kecil di tepi jalan. Dari dalam kios itu, suara televisi terdengar cukup keras, menarik perhatian orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada layar yang menayangkan sebuah wawancara eksklusif.

Di sana tampak seorang pria berpenampilan rapi mengenakan setelan jas hitam yang elegan. Senyum tipis menghiasi wajahnya, namun sorot matanya memancarkan ketegasan dan wibawa yang sulit diabaikan. Ia berbicara dengan tenang di hadapan para wartawan, menunjukkan kepercayaan diri yang lahir dari posisi dan pengaruh yang dimilikinya.

Pada bagian bawah layar, sebuah tulisan besar terpampang jelas. Rayan Elvano Wirajaya. CEO Wirajaya Corp

Napas Alya seakan tertahan di tenggorokan. Matanya membesar, terpaku pada sosok yang tampil di layar televisi. Untuk beberapa detik, ia hanya bisa berdiri diam, sementara suara-suara di sekitarnya perlahan memudar dari pendengarannya.

Jantungnya berdegup tidak beraturan. Wajah itu... bukan sekadar wajah seorang pengusaha yang sedang diwawancarai. Wajah itu adalah bagian dari masa lalu yang selama ini berusaha ia lupakan, kenangan yang telah lama ia kubur jauh di dasar hatinya.

Bayangan malam yang tak pernah benar-benar hilang kembali berkelebat dalam ingatannya. Senyum, tatapan, dan garis wajah pria itu masih begitu jelas meski waktu telah berlalu. Sosok yang kini berdiri di hadapan publik sebagai pria sukses dan berpengaruh ternyata adalah orang yang pernah mengubah jalan hidupnya selamanya.

Tanpa sempat berpikir panjang, Alya melangkah mundur dengan wajah pucat. Botol-botol yang tadi berada dalam genggamannya terlepas begitu saja, jatuh berserakan di atas tanah. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya dipenuhi kepanikan yang datang tiba-tiba.

Ia segera berbalik dan mempercepat langkahnya. Karung usang yang tergantung di pundaknya bergoyang hebat, nyaris terjatuh saat ia bergegas meninggalkan tempat itu. Keringat dingin membasahi tengkuknya, meski bukan karena terik matahari, melainkan karena kenangan yang mendadak kembali menghantuinya.

Alya terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, seolah ada sesuatu yang mengejarnya dari masa lalu. Setiap langkah terasa berat, namun ia memaksakan diri untuk terus bergerak hingga akhirnya tiba di rumah kecil yang selama ini menjadi tempatnya berlindung.

Sesampainya di rumah, Alya langsung menutup pintu rapat-rapat. Ia bersandar di balik daun pintu, berusaha mengatur napas yang masih memburu. Air mata mengalir tanpa suara di pipinya, sementara tubuhnya terus bergetar akibat rasa takut yang belum juga mereda. Bayangan kejadian yang baru saja dialaminya berputar-putar di dalam kepala, membuat dadanya terasa sesak. Dengan kedua tangan memeluk dirinya sendiri, Alya perlahan merosot ke lantai, mencoba meyakinkan hatinya bahwa kini ia sudah berada di tempat yang aman. Namun, ketakutan itu masih membekas kuat, seolah enggan meninggalkannya begitu saja.

Alya menundukkan kepala, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan.

"Aku baru sadar... ternyata dia berasal dari keluarga berada," gumamnya pelan sambil memandangi lantai. "Kalau aku mencoba mencarinya dan meminta pertanggungjawaban, apa yang akan terjadi?"

Ia menggigit bibir bawahnya, diliputi keraguan.

"Tidak... aku tidak bisa gegabah. Aku bahkan tidak benar-benar mengenalnya," lanjutnya lirih.

"Bagaimana kalau dia menolakku? Atau lebih buruk lagi, bagaimana kalau keluarganya justru membuat hidupku semakin sulit?"

Alya merengkuh Fariz dalam pelukannya dengan kuat, seakan bocah itu adalah satu-satunya harta yang harus ia jaga dari ancaman yang tidak terlihat. Jemarinya bergetar saat memeluk tubuh kecil tersebut, sementara dadanya dipenuhi kecemasan yang sulit dijelaskan. Rasa takut yang selama ini ia pendam kembali muncul ke permukaan, membuka kembali kenangan pahit yang belum sepenuhnya sembuh. Luka lama yang ia kira telah mengering kini terasa perih kembali, meninggalkan kegelisahan yang menggerogoti hatinya. Dalam diam, Alya hanya bisa memejamkan mata dan memeluk Fariz semakin erat, seolah dengan begitu ia dapat melindungi dunianya yang paling berharga.

Sejak peristiwa itu, Alya menjadi jauh lebih tertutup terhadap lingkungan sekitarnya. Ia memilih membatasi interaksi dengan orang-orang di luar lingkaran kecil yang dipercayainya. Hari-harinya dihabiskan dengan lebih banyak berdiam diri dan fokus pada rutinitas yang dianggap aman. Setiap kali harus berhadapan dengan orang asing, hatinya dipenuhi kewaspadaan, seakan ada bahaya yang mengintai di balik setiap tatapan dan pertanyaan. Perlahan, ia membangun tembok tak kasat mata di sekeliling hidupnya, berusaha melindungi diri dan orang-orang yang paling berharga baginya dari kemungkinan luka yang sama terulang kembali.

*****

Beberapa hari berlalu sejak malam yang menegangkan itu, tetapi pikiran Nayla masih sering kembali pada sosok pemuda yang telah membantunya. Di sela-sela kesibukannya, wajah lelaki itu tiba-tiba muncul dalam benaknya, lengkap dengan tatapan teduh yang membuatnya merasa aman saat itu.

Diam-diam, rasa penasaran mendorong Nayla untuk mencari jejak pemuda yang pernah menolongnya. Di waktu senggang, ia menelusuri berbagai platform media sosial, berharap menemukan petunjuk sekecil apa pun yang dapat mengarah padanya. Jarinya berkali-kali mengetik nama tempat kejadian malam itu, menelusuri unggahan dan komentar dari orang-orang yang pernah berada di sekitar lokasi tersebut.

Hingga suatu malam, saat sedang menelusuri berbagai unggahan di sebuah komunitas sekolah, perhatian Nayla tiba-tiba terhenti pada satu foto. Di layar ponselnya tampak seorang siswa SMA yang sedang ikut serta dalam kegiatan bakti sosial, membantu membagikan bantuan kepada warga dengan senyum sederhana di wajahnya.

Jantung Nayla berdegup sedikit lebih cepat ketika menatap foto itu lebih lama. Ada sesuatu yang terasa begitu familiar. Tatapan mata, bentuk wajah, dan ekspresinya mengingatkannya pada sosok yang selama ini memenuhi pikirannya.

Dengan tangan yang mulai gemetar karena gugup, ia membaca keterangan yang tertera di bawah unggahan tersebut. Aris Abrar Malik.

"Aris..." ucap Nayla hampir tak terdengar, matanya masih terpaku pada layar ponsel.

"Aris... kamu yang menolongku malam itu, bukan?"

Pesan itu sempat tersusun rapi di layar ponselnya. Jarinya bahkan sudah melayang di atas tombol kirim. Namun, sesaat kemudian, keraguan kembali menghampiri.

Nayla dilanda kebimbangan. Ada bagian dari dirinya yang ingin melupakan semua itu dan melanjutkan hidup seperti biasa. Namun, semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin kuat rasa ingin tahunya tumbuh.

Dengan keberanian yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit, Nayla memejamkan mata sesaat lalu menekan tombol kirim.

Pesan itu pun meluncur pergi dalam hitungan detik.

Beberapa menit berlalu terasa jauh lebih lama bagi Nayla. Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan melakukan hal lain, tetapi matanya terus melirik ke arah ponsel yang tergeletak di sampingnya.

Tiba-tiba, layar ponsel menyala disertai getaran singkat.

Nayla sontak menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat notifikasi pesan masuk.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia meraih ponselnya dan membuka percakapan itu. Napasnya tertahan sejenak ketika melihat nama pengirim yang tertera di layar. Aris.

"Iya benar, kamu gadis yang malam itu?" balas Aris.

Ada jeda beberapa saat sebelum pesan berikutnya masuk.

"Aku sempat bertanya-tanya apakah kamu baik-baik saja setelah kejadian itu."

Senyum tipis terukir di wajah Nayla saat membaca balasan demi balasan yang muncul di layar ponselnya. Percakapan yang awalnya hanya berisi ucapan terima kasih perlahan mengalir menjadi obrolan ringan yang terasa nyaman.

Tanpa mereka sadari, pesan-pesan sederhana itu menjadi langkah pertama menuju sebuah kisah yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Dua orang dari latar belakang yang sangat berbeda mulai dipertemukan oleh rangkaian kebetulan yang sulit dijelaskan.

Di satu sisi, Nayla hidup di tengah kemewahan sebagai adik dari pewaris perusahaan besar yang namanya dikenal banyak orang. Di sisi lain, Aris menjalani hari-harinya dengan kesederhanaan, sambil memikul kenangan pahit yang masih membekas dalam hidupnya.

*****

Hari demi hari berlalu, dan komunikasi antara Nayla dan Aris semakin sering terjalin. Awalnya hanya beberapa pesan singkat, tetapi lambat laun percakapan mereka menjadi bagian dari rutinitas yang diam-diam dinantikan oleh keduanya.

Mereka membahas banyak hal sederhana kegiatan sehari-hari, hobi, makanan favorit, hingga cerita-cerita kecil yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain. Namun justru dari obrolan ringan itulah tumbuh rasa nyaman yang sulit dijelaskan.

Bagi Nayla, Aris adalah sosok yang berbeda dari kebanyakan orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Tidak ada sikap dibuat-buat, tidak ada usaha untuk mengesankan siapa pun. Aris selalu berbicara apa adanya, dengan ketulusan yang terasa nyata di setiap kata.

Yang paling membuat Nayla merasa tenang adalah satu hal Aris tidak pernah menyinggung soal kekayaan, keluarga, atau kedudukan sosial. Seolah semua itu tidak penting baginya.

Di balik senyum yang semakin sering menghiasi wajahnya setiap kali berbincang dengan Aris, Nayla menyimpan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia mulai menikmati kehadiran pemuda itu dalam kesehariannya, tetapi ada satu hal yang terus mengusik pikirannya, Rayan.

Kakaknya dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga keluarganya. Bagi Rayan, keselamatan dan kebahagiaan Nayla selalu menjadi prioritas. Karena itulah, Nayla tidak yakin bagaimana reaksi sang kakak jika mengetahui bahwa ia sedang menjalin komunikasi dengan seseorang yang baru dikenalnya.

Terlebih lagi, keadaan keluarga mereka sedang jauh dari kata tenang. Berbagai persoalan yang melibatkan Zahra dan ayahnya, Tuan Dafa, telah menciptakan tekanan yang cukup besar. Suasana di rumah sering kali dipenuhi ketegangan, membuat setiap keputusan kecil terasa memiliki dampak yang lebih besar dari seharusnya

Siang itu, setelah beberapa kali menatap layar ponselnya, Nayla akhirnya memutuskan untuk menghubungi Aris terlebih dahulu. Jemarinya bergerak lincah di atas layar, mengetik pesan singkat dengan senyum tipis yang tanpa sadar menghiasi wajahnya.

"Kalau besok sore kamu ada waktu, mau ketemu sebentar?" tulis Nayla.

Ia menatap layar sejenak sebelum melanjutkan pesannya.

"Aku ingin ngobrol langsung denganmu. Tapi mungkin jangan di sekitar rumahku, ya."

Setelah berpikir beberapa detik, ia menambahkan satu kalimat lagi.

"Tentu saja kalau kamu tidak keberatan. Kalau sedang sibuk, tidak apa-apa juga."

Tak lama kemudian, balasan dari Aris muncul di layar ponsel Nayla.

"Bisa, kok," tulisnya. "Besok aku selesai dengan kegiatanku sekitar jam lima sore."

Beberapa detik kemudian, pesan lain menyusul.

"Bagaimana kalau kita bertemu di taman kota dekat halte bus? Tempatnya cukup ramai dan mudah ditemukan."

Nayla tersenyum kecil sebelum membalas pesan Aris.

"Oke, tidak masalah. Tapi sepertinya aku harus keluar diam-diam dulu," tulisnya.

Ia terkekeh sendiri, lalu menambahkan,

"Jadi kalau nanti aku datang sedikit terlambat, jangan langsung pergi, ya."

Keesokan harinya, Nayla kembali menjalankan rencananya. Ia mengenakan hoodie longgar dan topi sederhana untuk menutupi penampilannya yang biasanya mudah dikenali. Saat para pengawal sibuk dengan tugas masing-masing, gadis itu diam-diam keluar dari rumah tanpa menarik perhatian siapa pun.

Dengan langkah ringan, Nayla menuju taman tempat pertemuan mereka sebelumnya. Setibanya di sana, pandangannya segera berkeliling, menyusuri setiap sudut dengan penuh harap. Matanya mencari sosok pemuda sederhana yang sejak kemarin terus memenuhi pikirannya. Di antara pengunjung taman yang lalu-lalang, Nayla berusaha menemukan wajah yang kini terasa begitu akrab di ingatannya.

Tak berselang lama, Aris akhirnya muncul di ujung jalan setapak taman. Ia mengenakan kemeja sekolah yang tampak sederhana dipadukan dengan celana jeans yang warnanya telah memudar karena sering dipakai. Meski penampilannya jauh dari kesan mewah, ada sesuatu yang selalu membuatnya menonjol senyum tulus yang menghiasi wajahnya, hangat dan menenangkan siapa saja yang melihatnya.

Aris mengulas senyum tipis saat menghampiri bangku taman tempat Nayla menunggu. Setelah duduk di samping gadis itu, ia meliriknya sekilas dengan ekspresi tak percaya.

“Jadi kamu benar-benar datang juga?” katanya ringan. “Kupikir kemarin kamu cuma asal bilang.”

Nayla menoleh ke arah Aris, menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

“Lucu juga, ya,” ujarnya pelan. “Biasanya aku nggak gampang akrab dengan orang lain. Tapi entah kenapa, ngobrol sama kamu rasanya cukup nyaman.”

Waktu berlalu tanpa terasa. Mereka terus berbincang, berpindah dari satu topik ke topik lainnya. Mulai dari lagu-lagu yang mereka sukai, impian yang ingin mereka kejar, hingga berbagai kenyataan hidup yang terkadang terasa tidak berpihak pada siapa pun.

Sesekali, obrolan mereka diselingi tawa ringan. Aris bahkan sampai menahan perutnya ketika Nayla dengan ekspresi serius menirukan cara bicara guru les privatnya yang terkenal kaku dan penuh aturan. Nada suara, gerakan tangan, hingga raut wajah yang dibuat Nayla begitu mirip sehingga membuat Aris tak mampu menahan gelak tawanya.

*****

Hari-hari terus bergulir, membawa waktu melangkah begitu cepat. Tanpa terasa, Baby Fariz kini telah berusia dua tahun. Rasanya seperti baru kemarin Alya duduk gemetar dalam ketakutan saat mengetahui ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahimnya. Kini, anak itu telah tumbuh menjadi balita mungil yang aktif dan penuh rasa ingin tahu.

Fariz sudah mampu berjalan dengan langkah-langkah kecil yang masih goyah, sering kali terhuyung sebelum akhirnya tertawa sendiri. Suara cadelnya yang memanggil, “Mama...” selalu berhasil membuat hati Alya menghangat. Setiap kali mendengar panggilan itu, segala lelah dan kesulitan yang ia hadapi seolah menghilang begitu saja, tergantikan oleh kebahagiaan sederhana yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Setiap hari, Fariz nyaris tak pernah terpisah dari Alya. Ke mana pun gadis itu pergi untuk mencari nafkah, putra kecilnya selalu berada di sisinya. Saat menyusuri jalanan kota mengumpulkan botol dan kardus bekas, membantu mencuci pakaian milik warga, hingga berburu barang-barang yang masih bisa dijual kembali di sela-sela kios pasar, Fariz setia menemaninya.

Kadang Alya menggendongnya dengan selendang yang sudah mulai usang, kadang pula menggenggam tangan mungilnya saat mereka berjalan perlahan menyusuri gang-gang sempit. Meski hidup mereka jauh dari kata mudah, kehadiran Fariz menjadi sumber kekuatan yang tak tergantikan bagi Alya.

Di tengah terik matahari yang membakar kulit dan rasa lelah yang sering membuat tubuhnya nyaris menyerah, tawa riang serta senyum polos anak itu selalu mampu mengembalikan semangatnya. Setiap kali Fariz menatapnya dengan mata berbinar atau memanggilnya dengan suara cadel yang menggemaskan, segala beban yang menyesakkan hati terasa sedikit lebih ringan. Bagi Alya, Fariz bukan hanya anaknya, tetapi juga alasan terbesar untuk terus bertahan dan melangkah maju menghadapi kerasnya kehidupan.

Namun, tidak semua tempat bisa menjadi ruang yang aman bagi Fariz. Setiap kali Alya harus membantu berjualan di warung Bu Sekar, ia selalu memilih untuk tidak membawa anaknya ikut serta. Suasana warung yang sempit, ramai, dan penuh lalu-lalang orang membuatnya khawatir akan keselamatan si kecil.

Biasanya, Alya akan menitipkan Fariz kepada salah satu tetangga yang dikenal baik hati dan peduli. Wanita itu seakan melanjutkan kebiasaan seorang tetangga tua yang dulu juga sering menjaga Fariz saat ia masih lebih kecil, dengan kasih sayang yang tulus dan penuh perhatian. Kehangatan yang diberikan para tetangga itulah yang sedikit meringankan beban Alya di tengah kerasnya kehidupan yang ia jalani setiap hari.

Sayangnya, beberapa minggu terakhir membawa kabar yang tidak mengenakkan. Bu Ami, sosok yang selama ini membantu menjaga Fariz, jatuh sakit dan tidak lagi mampu mengurus si kecil seperti biasanya. Kondisi itu sempat membuat Alya kebingungan dan merasa kewalahan.

Namun, di tengah kekhawatirannya, masih ada beberapa tetangga baik hati yang bersedia membantu secara bergantian. Meski begitu, rasa cemas tetap kerap mengendap di hati Alya. Sebagai seorang ibu, ia selalu merasa tidak ada tempat yang lebih aman bagi Fariz selain dalam pelukannya sendiri. Setiap kali harus meninggalkan anaknya, hatinya tak pernah benar-benar tenang, seolah ada bagian dari dirinya yang tertinggal bersama si kecil itu.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!