Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 14
Begitu pintu kamar Arkhasa tertutup rapat dan memastikan bocah itu sudah terlelap di balik selimutnya yang hangat, Alysia berdiri dengan punggung tegak. Ia tahu, di balik pintu kamar utama mereka di ujung lorong, badai telah menunggu.
Alysia masuk ke dalam kamar. Damian berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang, membelakangi pintu. Suara langkah Alysia yang pelan justru membuat suasana terasa semakin mencekam.
"Apa maumu Alysia?" tanya Damian berbalik dan berjalan mendekat ke arah Alysia yang akan melangkah menuju kamar mandi mengganti pakaiannya.
"Kenapa kamu mempengaruhi Arkhasa menjadi anak yang tak menghormati aku sebagai ayahnya? Kenapa kamu mendidik anakku seperti itu?"
Alysia kali ini mendekat dan membuat jarak di antara mereka semakin dekat. Hal itu justru membuat Damian merasa tak nyaman. Apalagi aroma parfum lembut dan manis milik Alysia kembali tercium dengan jelas.
"Apa selama enam tahun ini kau juga ikut mendidik dan kau tahu perasaan dan yang di inginkan Arkha? Apa kau lihat mainan mahal yang kau beli lewat pilihan sekretarismu itu di lirik oleh Arkha? Tidak kan? Karena kau tak pernah tahu keinginan Arkha! Apalagi sekretarismu! Aku... Aku wanita yang selama enam tahun bersama Arkha dan juga mengurusnya. Aku yang tahu keinginan, kesukaan dan apapun tentang anakmu! kamu ayahnya, tahu apa? Kamu ayah yang egois, Mas!" ujar Alysia berani.
Damian tertegun sejenak. Rahangnya mengeras, otot di lehernya menonjol menahan amarah yang sempat tertahan. Dia tidak menyangka akan mendengar ledakan emosi seberani itu keluar dari mulut Alysia. Wanita yang selama ini selalu dia anggap sebagai sosok yang tenang, penurut, dan mungkin sedikit tak berdaya di bawah bayang-bayang otoritasnya.
Langkah kaki Damian terhenti tepat satu jengkal di depan Alysia. Dia sedikit menunduk, menatap tajam ke arah manik mata wanita itu yang menyala oleh sisa-sisa amarah dan air mata yang ditahan.
"Egois?" gumam Damian dengan suara berat yang merendah, nyaris seperti geraman.
Dia semakin memangkas jarak yang tersisa, membuat atmosfer di kamar itu terasa semakin sesak.
"Kau pikir semua yang kulakukan, semua kerja keras, semua fasilitas yang kusediakan hanya untuk memuaskan egoku? Aku membangun dunia agar anak itu tidak kekurangan apa pun, Alysia. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dia dapatkan darimu seorang diri!"
"Dunia yang kau bangun itu kosong, Mas!" potong Alysia, suaranya kini bergetar namun tetap lantang.
"Arkha tidak butuh dunia. Dia hanya butuh kehadiran ayahnya. Tapi yang dia terima? Cuma paket-paket kiriman, jadwal makan yang diatur asisten, dan sesekali tatapan dinginmu saat kau merasa dia tidak bersikap 'seperti anak seorang Damian'."
Damian mendengus sinis, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.
"Jadi sekarang kau merasa berhak menghakimiku? Karena kau yang memandikan dan menemaninya tidur, kau pikir kau punya hak untuk menjauhkan dia dariku? Kau pikir kau bisa mengubahnya menjadi bagian dari dirimu, dan menjadikannya alat untuk melawanku?"
"Tidak! Aku bahkan ingin kau paham Mas! Arkha butuh perhatianmu! Setidaknya setiap kali bersama Arkha simpat ponsel dan tabletmu! Fokus dengarkan cerita Arkha! Dia hanya ingin perhatian kamu, walau sedikit! Apa kamu paham?" Alysia mendongak
Meski jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang sangat tipis. Aroma maskulin yang tajam dari Damian kini bercampur dengan parfum manis Alysia, menciptakan kontras yang menyesakkan.
Alysia selalu kesal dengan hatinya yang berkhianat. Dia tak bisa menyembunyikan rasa cinta kepada pria dingin di depannya. Pria yang tak pernah menganggap keberadaannya. Tapi kenapa dia malah mencintai pria ini? Apa yang di lihatnya dari Damian yang bahkan tak pernah peduli dengan dirinya.
"Aku hanya sedang berusaha menyelamatkan hatinya agar tidak mati, sama seperti hatimu yang sudah mati!"
Damian mencengkeram lengan Alysia dengan satu tangan, menariknya sedikit lebih dekat hingga napas mereka beradu.
"Jangan pernah bicara tentang hatiku seolah kau mengenalnya, Alysia!"
"Kita hidup bersama, tidur bersama di atas ranjang dingin ini selama enam tahun! Kamu fikir aku tak tahu, Mas!" Alysia membalas tatapan itu tanpa gentar, meski kulitnya terasa panas akibat cengkeraman Damian.
"Kau tak pernah mencintaiku saat mengajakku menikah kan? Bahkan sampai detik ini! Karena hatimu milik wanita lain bukan?" bisik Alysia menahan air mata yang ingin merobos keluar dari kedua matanya.
"Enam tahun aku berusaha membuat kamu jatuh cinta atau setidaknya kamu melihatku sebagai seorang istri atau wanita dewasa! Tapi tak pernah kan, mas? Kamu tak pernah berusaha untuk melakukan kewajibanmu sebagai suami padaku! Hati wanita mana yang sedang kamu jaga, Mas Damian?" akhirnya Air mata Alysia lolos.
Dia benci dengan dirinya yang terlihat lemah di depan Damian. Damian tertegun.
Cengkeramannya pada lengan Alysia melonggar seketika, seolah aliran listrik baru saja menyentak sarafnya. Dia mematung, matanya yang tajam kini menyipit, menatap genangan air mata yang membasahi pipi Alysia.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Damian tidak melihat seorang istri yang sedang membangkang, melainkan seorang wanita yang hancur karena penantian yang sia-sia.
Alysia tertawa getir, sebuah suara yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Damian.
"Lihat? Kamu bahkan tidak bisa menyangkalnya," bisik Alysia dengan suara parau.
"Kamu tidak bisa bilang 'tidak', kan? Kamu tidak bisa bilang kalau kamu mencintaiku, atau setidaknya menganggapku sebagai istri yang nyata, bukan sekadar pelengkap kebutuhan anakmu."
Alysia menyapu air matanya dengan kasar, berusaha menegakkan kembali punggungnya yang seolah patah oleh kenyataan.
"Enam tahun, Damian. Enam tahun aku menjadi saksi bisu bagaimana kamu mengunci pintu hatimu rapat-rapat. Aku selalu bertanya-tanya, siapa wanita itu? Apakah dia sudah tiada? Atau apakah dia adalah alasan kenapa kamu menjadi pria sedingin es yang tidak tahu cara memeluk anaknya sendiri?"
Damian tetap terpaku. Bayang-bayang masa lalu yang selama ini dia kubur dalam-dalam seolah muncul ke permukaan, menari-nari di depan matanya setiap kali dia menatap Alysia. Ia merasa seperti pecundang yang sedang dihakimi oleh kebenaran yang tidak berani dia akui sendiri.
Alysia berbalik, hendak melangkah menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti.
"Mulai malam ini aku akan tidur di kamar tamu. Kita tak perlu lagi berakting di atas ranjang besar yang dingin selama enam tahun ini!
"Jangan khawatir selagi aku masih terikat sebagai istrimu yang sah. Aku akan tetap memastikan Arkha tak kehilangan kasih sayang seorang ibu. Dan aku akan masuk ke sini untuk menyiapkan kebutuhanmu. Sebagai bentuk kewajiban ku sebagai seorang istri!"
Tanpa menunggu jawaban Damian, Alysia tak jadi ke kamar mandi di kamar itu. Melainkan membawa piyamanya menuju ke kamar tamu.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,