Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.
Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.
Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng Es Sang Pendekar
Tetua Agung Peng sontak berdiri dari kursinya.
"Sekarang juga, Senior?"
Nada suaranya dipenuhi keterkejutan.
Boqin Changing menganggukkan kepala dengan tenang.
"Sekarang saja."
Ia lalu melirik ke arah luar tenda, tepat ke arah hutan lebat yang tampak begitu sunyi.
"Lagipula... Aku baru saja membunuh tiga orang mereka."
Tatapannya tetap tenang.
"Kalau mereka memang berasal dari kelompok yang bermarkas di dalam hutan itu, maka cepat atau lambat mereka pasti akan menyadari bahwa tiga orangnya tidak kembali."
"Begitu mereka sadar... mereka akan mulai bersiap."
Boqin Changing kemudian kembali memandang Tetua Peng.
"Kalau kita menunggu lebih lama lagi, justru mereka yang akan memiliki lebih banyak waktu untuk menghilangkan jejak atau menyiapkan penyergapan."
Tetua Peng menganggukkan kepala perlahan. Penjelasan itu sangat masuk akal.
Ia segera berkata,
"Kalau begitu, Senior. Aku akan segera mempersiapkan sebuah regu kecil."
"Kita pilih orang-orang dengan kultivasi tertinggi agar pergerakan lebih mudah."
Namun Boqin Changing menggeleng pelan.
"Tidak perlu."
Tetua Peng sedikit terkejut.
"Tidak perlu?
Boqin Changing menjawab datar.
“Biarkan semuanya ikut."
Suasana di dalam tenda kembali sunyi.
Tetua Peng kembali bertanya dengan hati-hati.
"Tetapi... bukankah jumlah orang sebanyak ini justru terlalu besar? Kita sudah diketahui."
"Kalau seluruh pasukan ikut masuk, bukankah akan semakin mudah diketahui keberadaan kita?"
Boqin Changing justru tertawa kecil.
"Hahaha... Sudah terlanjur ketahuan."
"Sama saja."
Kalimat sederhana itu membuat Tetua Peng terdiam.
Memang benar. Sejak keberadaan tiga pengintai musuh ditemukan, operasi mereka sebenarnya sudah kehilangan unsur kerahasiaannya. Kini, menyembunyikan jumlah pasukan sudah tidak lagi memberikan keuntungan sebesar sebelumnya.
Tetua Peng akhirnya menarik napas panjang.
"Baik. Kalau begitu kami akan segera mempersiapkan semuanya."
Boqin Changing menganggukkan kepala.
Pertemuan pun segera dibubarkan. Seluruh pemimpin kelompok bergegas keluar dari tenda.
...*******...
Suasana perkemahan yang semula tenang mendadak berubah sibuk. Para murid senior berlari ke sana kemari.
Beberapa orang mulai membongkar tenda. Sebagian lainnya memeriksa kembali senjata, bekal makanan, hingga pil penyembuh yang mereka bawa.
Di berbagai sudut perkemahan terdengar suara percakapan.
"Apa?"
"Misinya berubah?"
"Bukannya kita hanya akan mengintai?"
"Aku juga baru mendengarnya."
"Katanya Senior Chang yang mengubah keputusan."
Beberapa murid senior tampak saling berpandangan. Mereka jelas terkejut.
Sejak awal mereka diberitahu bahwa operasi ini hanyalah misi pengintaian. Bahkan sebagian besar perlengkapan yang mereka bawa juga disesuaikan untuk perjalanan panjang. Namun kini, mereka justru akan langsung memasuki markas musuh.
Meski demikian, tidak ada seorang pun yang mengeluh. Perintah sudah diberikan. Tugas mereka hanyalah menjalankannya.
Di sisi lain, suasana justru dipenuhi antusiasme.
"Aku benar-benar tidak menyangka."
"Kita akan bertarung bersama Pendekar Chang."
"Selama ini aku hanya mendengar kisahnya."
"Aku juga."
"Konon ia mampu membantai puluhan ribu pendekar aliran hitam seorang diri."
Percakapan serupa terdengar di mana-mana. Nama Boqin Changing memang telah menjadi legenda di seluruh Kekaisaran Qin.
Banyak orang hanya mengenalnya dari cerita. Cerita yang terdengar terlalu berlebihan. Cerita yang bahkan sulit dipercaya oleh akal sehat. Namun hari ini, mereka akan melihat sendiri kemampuan orang yang disebut sebagai pendekar nomor satu Kekaisaran Qin.
Tidak sampai setengah jam kemudian, seluruh persiapan selesai. Tenda-tenda telah dibongkar. Seluruh perlengkapan yang tidak diperlukan ditinggalkan di perkemahan bersama beberapa penjaga.
Sementara itu, sekitar seratus pendekar telah berkumpul membentuk barisan panjang di depan pintu masuk hutan. Para pemimpin kelompok berdiri di barisan depan.
Tetua Agung Peng melangkah maju beberapa langkah. Tatapannya menyapu seluruh orang yang hadir.
"Dengarkan baik-baik."
Seketika seluruh percakapan berhenti.
"Mulai saat ini... misi mengalami perubahan."
Kalimat itu langsung membuat seluruh murid memusatkan perhatian.
"Kita tidak lagi melakukan pengintaian. Kita akan langsung memasuki hutan."
"Dan... membasmi kelompok Aliran Hitam yang berada di dalam."
Beberapa murid langsung membelalakkan mata. Beberapa lainnya nampak tenang. Sepertinya mereka sudah mendengar kabar itu duluan.
Kemudian pandangan mereka perlahan beralih ke satu sosok yang berdiri tidak jauh dari Tetua Peng, Boqin Changing.
Pemuda itu berdiri dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Ekspresinya tetap tenang. Tidak terlihat sedikit pun ketegangan. Melihat sosok itu, rasa gugup di hati banyak orang perlahan menghilang.
Seseorang berbisik pelan.
"Itu Pendekar Chang..."
"Orang yang membunuh lebih dari seratus ribu pendekar aliran hitam di Kota Fuzhou.”
Murid lain mengangguk pelan.
"Kalau ia ada di sini..."
"Mungkin..."
"Misi ini tidak sesulit yang kubayangkan."
Semangat para pendekar perlahan bangkit. Mereka merasa sedang mengikuti seseorang yang selama ini hanya hidup dalam kisah-kisah legenda.
Tetua Peng kemudian membungkukkan badannya ke arah Boqin Changing.
"Senior. Silakan memimpin barisan."
Boqin Changing tidak menolak. Ia melangkah perlahan menuju posisi paling depan. Semua mata mengikuti langkahnya.
Namun baru beberapa langkah berjalan, Boqin Changing tiba-tiba berhenti.
Ia menoleh ke samping. Tatapannya jatuh kepada Wang Zhou.
"Patriak."
Wang Zhou sedikit terkejut. Ia memanggil Boqin Changing dengan sapaan formal.
"Ada apa, Tetua Chang?"
Boqin Changing tersenyum tipis.
"Ayo. Temani aku di depan."
Wang Zhou sempat terdiam beberapa saat.
"Eh... aku?"
"Iya."
Boqin Changing menganggukkan kepala.
"Berjalanlah di sampingku."
Tanpa memberi kesempatan Wang Zhou menolak, ia kembali melangkah.
Wang Zhou akhirnya hanya tersenyum kecil sebelum segera menyusul dan berdiri tepat di sisi Boqin Changing.
Pemandangan itu langsung menarik perhatian seluruh orang yang berada di sana. Tatapan mereka kepada Wang Zhou berubah.
Kini mereka benar-benar menyadari sesuatu. Di tempat ini, mungkin hanya ada satu orang, yang diperlakukan Boqin Changing bukan sebagai bawahan, bukan pula sebagai orang yang harus menghormatinya. Melainkan sebagai seseorang yang benar-benar ia hormati. Orang itu adalah Patriak Wang Zhou dari Sekte Dua Pedang Petir.
Barisan gabungan Aliran Putih itu akhirnya mulai bergerak memasuki hutan Bukit Cemara Berjajar. Boqin Changing berjalan paling depan dengan langkah yang tenang. Di sisi kirinya, Wang Zhou berjalan mengimbanginya. Sementara itu, Tetua Agung Peng, Dai Xung, serta para pemimpin kelompok lain mengikuti beberapa langkah di belakang mereka. Ratusan pendekar lainnya membentuk barisan memanjang di belakang.
Begitu memasuki kawasan hutan, suasana langsung berubah. Pepohonan cemara dan pepohonan lainnya yang menjulang tinggi menutupi sebagian besar cahaya matahari. Udara menjadi lebih dingin. Tanah dipenuhi daun-daun kering yang mengeluarkan bunyi pelan setiap kali terinjak.
Tidak seorang pun berani lengah. Mereka sadar, jika kelompok aliran hitam benar-benar menjadikan tempat ini sebagai markas, kemungkinan besar berbagai jebakan telah dipasang di sepanjang jalur masuk.
Beberapa murid bahkan terus mengamati tanah di depan mereka. Sebagian lainnya mengawasi pepohonan di atas kepala. Pedang dan senjata mereka sudah berada dalam posisi siap digunakan kapan saja.
Namun berbeda dengan seluruh orang di belakangnya, Boqin Changing justru berjalan dengan santai seolah sedang menikmati perjalanan. Ia bahkan memiringkan kepalanya ke arah Wang Zhou.
"Patriak."
"Ya?"
"Apakah dulu Patriak pernah datang ke sini?"
Wang Zhou menganggukkan kepala pelan.
"Pernah. Tetapi hanya beberapa kali. Sebagian besar hanya melewati daerah pinggir hutan."
Boqin Changing kembali bertanya dengan nada ringan.
"Kalau begitu... apakah Patriak pernah mengajak Guru ke sini?"
Yang dimaksudnya tentu saja Wang Tian, guru yang pernah membimbingnya.
Wang Zhou tertawa kecil.
"Pernah. Dulu kami sempat mencari tanaman obat di bagian utara bukit. Hanya saja kami tidak masuk terlalu dalam."
Boqin Changing mengangguk-angguk.
"Kalau begitu memang sudah lama sekali ya."
Percakapan mereka terus berlanjut. Mereka mengingat beberapa tempat yang pernah mereka datatangi, bahkan sesekali tertawa kecil karena mengingat kejadian-kejadian lama.
Di belakang mereka, para pendekar hanya saling berpandangan. Perasaan mereka terasa sangat aneh.
"Apa..."
"Orang itu benar-benar sedang mengobrol?"
"Ini bukan seperti memasuki markas musuh."
"Lebih mirip jalan-jalan sore."
Salah seorang tetua dari sebuah sekte kecil menggelengkan kepala pelan.
"Apa Pendekar Chang sama sekali tidak takut dengan jebakan?"
Tetua lain hanya menghela napas.
"Mungkin... bagi orang sekuat dirinya, jebakan seperti itu memang tidak berarti."
Rombongan terus berjalan semakin jauh memasuki hutan.
Suasana di sekitar semakin gelap. Matahari telah mulai condong ke barat. Cahaya yang berhasil menembus celah-celah dedaunan semakin sedikit.
Hutan menjadi semakin sunyi. Tiba-tiba Boqin Changing menghentikan langkahnya. Ia mengangkat satu tangan.
Seketika seluruh rombongan ikut berhenti. Suasana langsung berubah tegang.
Boqin Changing menatap sebuah batu berukuran sedang yang berada tepat di depannya. Kemudian ia menunjuk batu itu.
"Ini jebakan."
Semua orang langsung mengikuti arah jarinya. Sebuah batu biasa. Tidak ada sesuatu yang tampak mencurigakan.
Boqin Changing berkata dengan tenang,
"Jika seseorang menginjak batu itu... maka ratusan anak panah yang telah dipasang di sekeliling kita akan langsung dilepaskan."
Ucapan itu membuat banyak orang buru-buru menoleh ke berbagai arah. Mereka menyipitkan mata, berusaha menembus kegelapan di antara pepohonan.
Beberapa saat kemudian...
"Aku menemukannya!"
Seorang murid menunjuk ke atas. Di balik ranting-ranting pohon besar, tampak sebuah pelontar anak panah yang disamarkan dengan dedaunan.
"Di sini juga ada!"
"Ternyata di sana juga!"
Satu demi satu jebakan mulai terlihat.
Puluhan bahkan mungkin ratusan anak panah telah dipasang mengarah tepat ke jalur yang sedang mereka lewati. Wajah banyak orang langsung memucat.
Seorang murid senior mengembuskan napas lega.
"Syukurlah Senior Chang langsung menyadari jebakan ini."
"Kalau tidak... mungkin banyak dari kita yang sudah terluka."
Beberapa orang mengangguk setuju. Mereka benar-benar merasa beruntung.
Namun. Boqin Changing justru menoleh ke arah mereka. Tatapannya tenang. Lalu tanpa berkata apa pun, ia melangkah maju.
Tap!
Kakinya dengan sengaja menginjak batu yang tadi ia tunjuk.
"..."
Semua orang membeku.
“Eh...”
"Apa?!"
"Senior!"
Belum sempat siapa pun bereaksi....
Klik!
Terdengar bunyi sesuatu yang sangat pelan dari dalam tanah.
Detik berikutnya....
Sret! Sret! Sret! Sret! Sret!
Ratusan anak panah melesat dari segala arah. Dari balik pepohonan. Dari semak-semak. Dari atas dahan. Seluruh anak panah itu itu meluncur dengan kecepatan luar biasa menuju rombongan.
"Sial!"
"Cepat!"
"Siap bertahan!"
Hampir seluruh pendekar secara refleks mencabut senjata mereka. Bahkan beberapa orang sudah ingin berteriak mengumpat Boqin Changing karena sengaja mengaktifkan jebakan tersebut.
Namun sebelum satu pun anak panah mencapai mereka, udara di sekitar mendadak berubah sangat dingin.
Wuuusss...
Kabut putih tipis muncul dari tubuh Boqin Changing. Uap es perlahan keluar dari pori-porinya, menyelimuti area di sekitarnya.
Detik berikutnya...
Kraakkk!!
Sebuah dinding es raksasa muncul mengelilingi seluruh rombongan. Dinding itu berdiri kokoh seperti benteng kristal yang menjulang tinggi.
Tak lama kemudian.....
Duar! Duar! Duar!
Ratusan anak panah menghantam permukaan es secara bersamaan. Suara benturan bergema ke seluruh hutan.
Namun tak satu pun anak panah berhasil menembusnya. Semuanya tertancap di permukaan dinding es. Dalam beberapa tarikan napas saja seluruh serangan berhenti.
Keheningan kembali menyelimuti hutan. Para pendekar berdiri terpaku.
Mereka menatap dinding es bening yang kini mengelilingi mereka. Kemudian perlahan-lahan mereka mengalihkan pandangan kepada Boqin Changing.
Uap dingin masih terus keluar dari tubuh pemuda itu. Pakaiannya berkibar pelan tertiup angin, sementara embusan hawa beku terus menyebar dari sekelilingnya.
Tidak perlu ada penjelasan. Semua orang langsung memahami. Orang yang telah menciptakan benteng es raksasa itu adalah Boqin Changing.
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat