Tentang Ulama, di benak Tumang ialah seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan. Tanpa sayu, parau dan Lelah memberikan nasehat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya. Seperti perkataan Malaikat Jibril, “Ulama adalah Pelita dunia dan akhirat.”
Selain berkelana mencari dambaan hati, Tumang juga selalu berusaha memperbaiki diri dan berusaha sabar, Ridha dengan apa yang di dapat dari karunia Allah serta selalu berbuat Kebajikan. InsyaAllah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan yang ramai
Belum ada yang menyadari, Pesantren itu telah lama tidak berpenghuni. Orang-orang yang para santri baru itu temui tidak lain adalah sosok-sosok arwah yang masih menampakkan wujudnya di atas muka bumi.
❄
Suasana di sekitar pondok pesantren menjadi semakin mencekam seiring berjalannya waktu. Gangguan makhluk astral yang semakin merajalela menyisakan tanda-tanda ketakutan di wajah-wajah para santri. Arwah yang masih merasakan kematian berulang itu adalah sosok Udin. Salah satu santri yang paling keras menahan serangan tersebut. Dia tidak sadar telah terjatuh kemudian mengalami hal yang sama.
Kehadiran makhluk halus semakin terasa kuat, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang menghunus nyawa Udin tepat di saat itu.
Tanah merah di pemakaman pesantren masih menjadi saksi bisu dari kepergian para santri. Suasana duka yang begitu terasa menggelayuti mereka. Terutama isak tangis sosok Boy, yang merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi. Namun, bukan hanya kepergian tersebut yang menjadi misteri. Di pandangan santri nampak keberadaan Boy yang seolah-olah masih menghantui mereka. Bisikan-bisikan kematian yang datang dari makhluk halus itu semakin membingungkan, menggiring mereka ke dalam gelombang ketakutan yang tak terkendali.
Perkumpulan di saung dua dan tiga menjadi saksi dari pertemuan yang mengungkapkan sisi lain dari kejadian-kejadian misterius yang belum terungkap. Penampakan makhluk halus yang masih muncul di sekitar pesantren mengundang kecurigaan, terutama saat mereka melupakan kematian Boy dan Udin dengan cepat. Tapi, ketika Brewok, salah satu santri, mencoba membuka rahasia, dia malah dihentikan oleh kesakitan yang tak tertahankan.
Rahasia yang lebih besar terkuak ketika beberapa pria berpakaian hitam tiba-tiba muncul dan menggeledah gudang, menemukan para santri yang sedang bersembunyi. Teriakan meminta pertolongan terdengar hingga ke kejauhan, namun saat teman-teman mereka berusaha menyelamatkan, mereka malah diseret masuk ke dalam hutan oleh makhluk halus.
Joko menyaksikan kejadian itu dari kejauhan, kepanikan melanda hatinya. Namun, keanehan baru saja dimulai. Saat dia berusaha memberitahu Tumang, rekan satu saungnya, mereka malah diseret ke dalam kegelapan hutan yang dipenuhi oleh kabut pekat. Penampakan yang tak terduga dari sosok yang seharusnya sudah tiada membuat mereka semakin bingung, apalagi ketika mereka kehilangan arah dan tubuh Tumang tiba-tiba jatuh ke dalam jurang.
Pertemuan kembali dengan teman-teman satu saungnya hanya membuat kebingungan semakin memuncak. Keanehan di sekitar pesantren semakin terasa, terutama ketika para pekerja berpakaian hitam mulai menggelar sesuatu di sekitar asrama putri. Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu hal yang pasti, misteri yang menghantui pesantren ini belum juga terpecahkan.
Tumang dan Butet melihat segalanya terjadi di hadapan mata mereka, menyaksikan Santri lain yang berjuang keras melawan gangguan makhluk astral. Namun, semakin lama, serangan itu menjadi semakin tak tertahankan baginya. Seakan ada api yang membara di dalam tubuhnya, menyulut rasa sakit yang tak terlukiskan. Mereka berjuang melawan gangguan tersebut, tiba-tiba terserang oleh penyakit lamanya yang kembali muncul tanpa diduga.
Batuknya tak kunjung mereda sepanjang malam, menyebabkan tubuhnya tergoncang oleh rasa sakit yang menyiksa. Nyawanya pun akhirnya melayang pada malam jumat Kliwon yang sunyi, tepat pukul tiga dini hari, sementara teman-teman sekamarnya baru menyadari bahwa penyakit ghaib yang di derita.
Bungkam atas kejadian yang menimpa.
Suasana duka menyelimuti pemakaman, di mana tanah merah masih basah menandakan tempat peristirahatan terakhir Udin. Di saung dua, kesedihan begitu terasa, terutama saat Wali yang merasa sangat bersalah memukul-mukul dadanya dengan keras. Namun, keheningan itu terputus tiba-tiba oleh pekikan keras dari Paijo, yang membungkam seisi ruangan dengan fakta yang mengejutkan tentang bisikan kematian yang menyelimuti jiwa berduka yang telah tiada.
Di perkumpulan saung tiga dan dua, mereka mengingat kembali kejadian-kejadian misterius yang belum terungkap. Penampakan sosok Boy yang seolah masih menghantui pesantren membuat mereka merasa ketakutan yang semakin nyata. Pertanyaan-pertanyaan tentang kejanggalan yang tak terpecahkan terus menghantui pikiran mereka, sementara kecemasan akan nasib mereka sendiri semakin mendalam.
Rahasia yang terungkap tentang penggeledahan gudang oleh beberapa pria berpakaian hitam menambah kengerian di antara para santri. Teriakan memohon tolong dari mereka yang diseret ke dalam hutan hanya menambah ketakutan yang melumpuhkan. Tubuh yang terluka, darah yang mengalir di tanah, dan rintihan kesakitan yang menyayat hati menciptakan suasana mencekam di sekitar pesantren.
Ketika Joko menyaksikan para santri dibawa pergi oleh makhluk-makhluk itu, ketakutan merajalela dalam dirinya. Namun, kebingungan semakin bertambah saat pagi menjelang dan para santri kembali seperti biasa di tempatnya masing-masing, tanpa jejak kejadian mengerikan yang baru saja terjadi.
Di tengah kabut pekat yang menyelimuti hutan, gelagat aneh dari makhluk-makhluk halus membuat Butet dan Tumang merasakan ketakutan yang tak terlukiskan. Jeritan Butet yang keras dan tampaknya tubuh para ustadzah yang tembus pandang hanya menambah kengerian yang melumpuhkan. Dan ketika teman-teman satu saung menyaksikan Tumang yang terluka dan berusaha menjelaskan kejadian-kejadian yang aneh, ketakutan merayap masuk ke dalam hati mereka dengan kekuatan yang menakutkan, merasuki setiap serat keberadaan mereka dengan kekuatan yang tak terbendung.
"Aku telah merasakan terjatuh di jurang berkali-kali Tet. Tapi kenapa tubuh ku bagai tulang besi yang mulai tidak merasakan sakit."
"Kemungkinan besar kita bermimpi yang sama Tum___"
Butet yang menyodorkan selembar surat dari perbatasan tempat mereka berdua berdiri. Tunang belum sempat membaca isinya.
(Terdengar suara aneh yang memekik telinga).
......................
Suara angin yang melolong seolah-olah menyampaikan pesan dari alam lain, membuat suasana semakin mencekam. Butet dan Tumang meraba-raba dalam kegelapan, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekitar mereka. Namun, kegelapan hutan hanya menelan setiap langkah mereka, menyelimuti dengan ketakutan yang tak terlukiskan.
Dalam keheningan yang menyusup ke dalam jiwa, mereka berusaha mencerna isi surat tersebut dengan hati-hati, mencari petunjuk tentang kejadian misterius yang semakin meruncing. Tetapi, setiap kata yang terpampang di atas kertas hanya menambah kebingungan yang semakin mendalam, seakan menjauhkan mereka dari kebenaran yang sebenarnya.
Dengan hati yang berdebar-debar, Butet dan Tumang memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut. Mereka meninggalkan saung tanpa memberitahu siapapun, memilih untuk menyusuri jejak misteri yang semakin menggelayuti pesantren tersebut.
Langkah mereka terhenti di sebuah bangunan tua yang tersembunyi di balik pepohonan rimbun. Bangunan itu terkesan terlantar dan ditinggalkan bertahun-tahun lamanya. Tanpa ragu, mereka memasuki bangunan itu, hati-hati menjelajahi setiap ruangannya yang penuh dengan debu dan keheningan yang menakutkan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki menggema di lorong gelap, membuat mereka terperanjat. Dengan hati-hati, mereka mengikuti suara itu hingga mencapai ruangan yang terang benderang. Di sana, mereka melihat sekelompok orang yang sedang berkumpul di sekitar meja besar, sementara seorang pria tua dengan jubah hitam duduk di kursi paling utara.
Butet dan Tumang mengintip dari balik pintu, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Mereka terkejut saat menyadari bahwa para pria berpakaian hitam itu sedang melakukan ritual yang mengerikan, dengan lambang-lambang yang tidak mereka kenali dan bahasa yang tidak jelas menggetarkan jiwa.
Tiba-tiba, sorot mata mereka tertuju pada seorang gadis muda yang terikat di tengah lingkaran ritual. Wajahnya pucat dan matanya penuh dengan ketakutan yang tak tersembunyi. Butet dan Tumang saling memandang, tanpa kata, mereka tahu bahwa mereka harus beraksi untuk menyelamatkan gadis itu dan mengungkap kebenaran di balik segala misteri yang menghantui pesantren itu.
Balung seharusnya suruh dzikir saja biar nggak ketasukan setan atau apa gitu. jangan biarkan jiwa kita kosong apalagi saat kondisi kita dalam ketakutan seperti itu. Tukang dan teman teman seharusnya kalian baca surat pendek saja biar para setan nggak bisa mendekati kalian.
Maaf ya kak🙏😊💕
namun juga menegaskan bahwa kegelapan itu tidak terkalahkan. Selain itu, interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah lapisan kompleksitas pada cerita, dengan pembaca dibawa pada perjalanan yang penuh dengan ketidakpastian dan keberanian yang tersembunyi. Kesimpulannya, komentar tersebut berhasil menarik perhatian pembaca dan membangun suasana yang mencekam.
Penjelajah pemberani yang menantang kegelapan memberikan dorongan pada narasi, namun nasibnya yang tragis menegaskan bahwa kekuatan jahat itu tidak terbendung. Suara-suara mengerikan yang menggema dari rumah tua yang terkutuk menambah lapisan ketegangan yang mencekam, sementara ketidakberdayaan warga desa yang terperangkap dalam cengkeraman kegelapan menciptakan atmosfer yang memicu adrenalin.
Interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah kompleksitas pada cerita, dengan kehadiran tokoh tua tersebut memberikan nuansa yang lebih dalam terhadap rahasia yang tersembunyi di balik kegelapan itu. Ketegangan mencapai puncaknya ketika suara gemuruh yang menakutkan kembali menggema, memotong keheningan malam dengan kekerasan yang menakutkan, meningkatkan ketidakpastian dan kecemasan pembaca.
Dengan setiap langkah yang diambil Butet dalam usahanya untuk melawan kegelapan, pembaca merasakan ketegangan yang semakin memuncak, sementara suara tawa jahat Kliwon dan pengikutnya menggema di antara bayangan-bayangan gelap, menambah ketakutan yang menyelimuti pikiran.❤️
Sirih harus benar-benar kuat untuk bertahan menghadapi semua ancaman yang muncul dari kegelapan. Di bab ini si Butet liat si nenek menapak di atas tanah nggak?