NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26_Arisan maut part2

Tok...

Tok...

Tok...

Suara ketukan di pintu kamar itu kembali terdengar. Pelan. Teratur. Seolah orang yang berada di luar sedang menunggu dengan sabar.

"Bu Rina...Boleh saya masuk?" suara anak kecil itu kembali terdengar lirih. Nadanya polos, tetapi terdengar sangat dingin.

Rina menutup mulutnya agar tidak menjerit. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat.

"A-aku tidak akan membuka pintu!" teriaknya dengan suara bergetar. Wajahnya memucat, sementara air mata mulai membasahi pipinya.

Tidak ada jawaban. Hening.

Beberapa detik kemudian...

Tok!

Tok!

Tok!

Ketukan itu berubah menjadi sangat keras.

Brak!

Brak!

Brak!

Seolah seseorang sedang menghantam pintu menggunakan kepala.

"Bu Rina..." panggil suara anak kecil itu lirih. Nadanya terdengar memelas, tetapi ada sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang.

"Buka pintunya..." lanjutnya pelan. Suaranya terdengar seperti berasal dari balik pintu, sangat dekat, seolah wajahnya benar-benar menempel di sana.

"Aku kedinginan..." rintihnya lagi. Kini suaranya berubah serak dan berat, disertai napas panjang yang terdengar tidak wajar, seakan berasal dari tenggorokan yang terluka.

Suara anak kecil itu kini berubah serak. Disusul suara tawa perempuan.

"Hihihihihihi..." tawanya lirih. Mula-mula pelan, lalu semakin lama semakin nyaring dan melengking, membuat seluruh ruangan terasa semakin dingin. Tawa itu bergema dari berbagai arah, seolah perempuan itu berada tepat di belakang, lalu berpindah ke atas langit-langit rumah.

Rina segera mengambil kursi dan menyandarkannya ke pintu.

"Tolong..." bisik nya lirih.

"Siapa pun..." lanjutnya dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Tolong aku..." bisiknya sambil menangis. Wajahnya dipenuhi keputusasaan.

Saat itu juga Azan subuh mulai terdengar dari kejauhan. Seketika semua suara menghilang. Ketukan berhenti.

Rina memberanikan diri membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa. Namun di lantai tergeletak sebuah gulungan kertas putih.

Dengan tangan gemetar ia membukanya.

Nomor 1.

Di bagian bawahnya terdapat tulisan merah.

"Jangan terlambat."

Keesokan harinya...

Rina sama sekali tidak berani keluar rumah. Ia mencoba menghubungi polisi.

"Ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya petugas dengan nada ramah.

"Saya diteror..Ada surat...Ada hantu..." Suara Rina terdengar kacau. Wajahnya masih dipenuhi rasa takut, sementara tangannya terus gemetar memegang telepon.

Petugas itu terdiam sesaat.

"Bu..." ucapnya hati-hati. Nada suaranya terdengar pelan, sementara wajahnya menunjukkan rasa tidak enak.

"Kalau memang ada ancaman dari seseorang, kami bisa datang." lanjutnya tegas. Sorot matanya tampak serius, berusaha meyakinkan Rina.

"Tapi kalau soal hantu..." katanya lirih. Ia mengembuskan napas pelan, sementara ekspresinya berubah semakin canggung.

"Itu di luar kewenangan kami." tutupnya dengan nada menyesal.

Klik.

Telepon ditutup.

Rina semakin panik. Ia mencoba membakar surat hitam itu. Api langsung menyala.

Namun anehnya...Surat itu sama sekali tidak terbakar.

Malah... Tulisan merahnya berubah.

"Tidak ada yang bisa membatalkan arisan."

Rina menjatuhkan surat itu.

"Ya Tuhan..." bisiknya pelan. Wajahnya semakin pucat.

Malam Jumat.

Pukul sepuluh lewat lima puluh menit. Langit Desa Sukamurni dipenuhi awan hitam. Angin bertiup sangat dingin. Rumah tua di ujung desa berdiri sunyi. Cat temboknya mengelupas. Jendelanya pecah. Pintu kayunya terbuka sendiri.

Kreeeek...

Rina berdiri beberapa meter dari rumah itu.

"Aku tidak boleh masuk..." gumamnya. Wajahnya dipenuhi keraguan.

Saat hendak berbalik...

Bruk!

Seseorang menabraknya.

"Maaf!" ucap seorang pria gemuk sambil terengah-engah. Wajahnya tampak panik, sementara matanya terus melirik rumah tua itu.

Rina menatap pria tersebut.

"Anda juga dapat surat?" tanyanya pelan. Wajahnya masih tegang.

Pria itu mengangguk cepat.

"Iya. Namaku Dodi. Aku dipaksa datang." Wajahnya dipenuhi ketakutan.

Belum sempat mereka berbicara lagi... Datang seorang wanita paruh baya.

"Astaga...Jadi bukan cuma saya?" ucapnya. Wajahnya tampak pucat.

"Saya Bu Lilis. Saya juga menerima surat itu."

Tak lama kemudian...Lima orang lainnya berdatangan.

Seorang guru bernama Pak Hasan. Mahasiswi bernama Nia. Pedagang bernama Wawan. Pemuda bernama Arga. Dan seorang wanita muda bernama Siska.

Mereka saling berpandangan. Tak seorang pun mengenal yang lain.

"Tunggu..." ucap Pak Hasan pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan.

"Kalau dihitung...Kita ada delapan orang." Semua langsung terdiam.

Kalimat dalam surat itu kembali teringat. Hanya delapan orang. Angin tiba-tiba bertiup sangat kencang.

Brak!

Pintu rumah tua menutup sendiri. Lampu-lampu tua di dalam rumah menyala satu per satu.

Krek...

Krek...

Krek...

Seolah ada seseorang yang sedang menyalakannya.

"Siapa di dalam?" teriak Wawan. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.

Tidak ada jawaban.

Lalu...

Sebuah suara perempuan tua terdengar dari dalam rumah.

"Silakan masuk...Arisan akan segera dimulai..."

Delapan orang itu saling berpandangan.

"Aku tidak mau masuk!" teriak Siska. Wajahnya dipenuhi kepanikan.

Ia berlari menjauh. Baru beberapa langkah...

Brak!

Tubuhnya seperti menghantam dinding tak kasatmata.

"Aduh!" jeritnya sambil memegangi dahinya.

Ia mencoba lagi.

Brak!

Kembali terpental.

"Tidak bisa keluar!" teriaknya histeris. Wajahnya dipenuhi air mata.

Semua mencoba berlari. Hasilnya sama. Mereka seperti terjebak dalam sebuah kubah tak terlihat.

Rina mulai menangis.

"Kita...Kita benar-benar terperangkap."

Perlahan...Pintu rumah kembali terbuka sendiri.

Kreeeek...

Di ruang tamu...Sudah tersedia delapan kursi melingkar.

Di tengahnya...Terletak sebuah kotak arisan tua.Kotak yang sama seperti yang dilihat Rina semalam.

"Masuk..." bisik suara perempuan itu.

"Kalau tidak...Kalian semua mati malam ini." lanjutnya

Dengan langkah gemetar...Mereka memasuki rumah tersebut.

Begitu seluruh peserta masuk...

Brak!

Pintu tertutup sendiri. Terdengar suara rantai mengunci dari segala arah.

Clek...

Clek...

Clek...

Ruangan langsung berubah dingin. Napas mereka tampak mengepul.

Lalu...

Seorang nenek tua muncul perlahan dari balik kegelapan. Rambutnya putih panjang menyentuh lantai. Kulitnya penuh luka. Matanya hitam seluruhnya. Di bibirnya tersungging senyum mengerikan.

"Selamat datang...di Arisan Maut." Suaranya menggema ke seluruh ruangan.

Nenek itu mengangkat kotak arisan.

"Aturannya sederhana." ucapnya sederhana.qr

"Setiap orang..." lanjutnya pelan. Tatapannya menyapu satu persatu wajah peserta yang dimulai di liputi ketakutan.

"Mengambil satu gulungan." Katanya tanpa berkedip. Tangannya mengusap perlahan permukaan kotak arisan, sementara suaranya terdengar dingin dan penuh tekanan.

"Nomor yang keluar..." ucapnya lagi.

"...adalah urutan kematian." bisiknya pelan. Senyumnya melebar perlahan, memperlihatkan deretan gigi yang mulai menguning, sementara tawanya yang tertahan membuat suasana berubah semakin mencekam.

Semua peserta membeku. Wajah mereka memucat seketika, napas terasa tercekat, dan tak seorang pun berani mengulurkan tangan ke arah kotak arisan itu.

"Tidak!" teriak salah seorang peserta dengan suara bergetar. Wajahnya dipenuhi kepanikan, matanya membelalak lebar, sementara tubuhnya mundur beberapa langkah sambil menggeleng kuat-kuat karena tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Ini gila!" bentak Arga. Wajahnya memerah karena marah, sementara kedua tangannya mengepal.

Ia langsung menerjang nenek itu. Namun tubuhnya menembus sosok sang nenek.

Bruk!

Ia justru terjatuh menghantam lantai. Nenek itu tertawa.

"Hehehehehe..." tawanya terdengar pelan.

"Permainan..." ucapnya lirih. Tangannya mengusap permukaan kotak arisan tua itu dengan perlahan, sementara wajahnya tampak penuh kepuasan.

"...sudah dimulai." bisik nya dingin.

Kotak arisan terbuka sendiri. Delapan gulungan perlahan berputar.

Tok...

Tok...

Tok...

Suaranya bergema memenuhi rumah tua.

Dengan tubuh yang gemetar... Satu per satu peserta mulai mengambil gulungan mereka.

Rina membuka miliknya.

Nomor 8.

Ia mengembuskan napas lega. Namun hanya sesaat.

Dodi membuka gulungannya. Nomor 1. Wajah pria itu langsung pucat pasi.

"T-tidak...Ini pasti salah..." ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi ketakutan.

Nenek itu tersenyum semakin lebar.

"Tidak pernah salah..." ucapnya pelan.

"...Peserta nomor satu..." lanjutnya lirih.

"...silakan menerima hadiah arisan." katanya dengan nada lembut yang justru terdengar jauh lebih menyeramkan.

Lampu rumah tiba-tiba padam. Gelap gulita.

Lalu...Terdengar suara langkah kaki berat mengelilingi ruangan.

Duk...

Duk...

Duk...

Semakin dekat. Semakin keras.

"Dengar...Ada seseorang..." bisik Bu Lilis. Wajahnya dipenuhi rasa takut.

Sebuah cahaya merah menyala dari langit-langit. Semua mendongak. Dan seketika...Mereka menjerit bersamaan.

Di atas plafon...Puluhan tangan hitam merayap seperti laba-laba. Seluruh tangan itu perlahan mengarah...tepat ke arah Dodi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!