NovelToon NovelToon
Mahar Rasa Bersalah

Mahar Rasa Bersalah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:891.1k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.

​Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .

​Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.

Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Julukan yang mendarah daging

​Malam peresmian proyek kompleks perumahan elit itu seharusnya menjadi malam kemenangan bagi Danu Subroto. Aula hotel bintang lima itu berkilau oleh cahaya lampu kristal, memantulkan kemewahan yang selama ini menjadi dunia Danu. Di sampingnya, Sekar berdiri dengan anggun mengenakan kebaya biru tua pilihan Riana, namun tangannya yang menggenggam lengan Danu terasa sedingin es.

​Danu bisa merasakan getaran itu. Ia sengaja memakai jam tangan kulit cokelat pemberian Sekar, membiarkannya terlihat jelas di bawah manset kemejanya yang mahal. Baginya, itu adalah pernyataan perang terhadap siapa pun yang berani meremehkan istrinya.

​Namun, badai yang sesungguhnya datang saat sosok wanita dengan gaun merah menyala melangkah mendekat, Lidya.

​"Selamat, Danu" Suara Lidya mengalun merdu, tatapannya juga lembut terlihat jelas jika memuja Danu sebagai seseorang yang pernah menjalin hubungan. Dia datang bersama dengan Rita.

"Aku tidak menyangka kamu benar-benar berani membawa dia ke acara sekelas ini. Kamu tidak takut relasi bisnismu bingung melihat penimbang pakumu tiba-tiba memakai berlian?" Ucap Rita yang menatap setajam silet kepada wanita di samping Danu.

​Sekar merasa seluruh oksigen di sekitarnya tersedot habis. Bisik-bisik di sekitar mereka mulai terdengar seperti dengungan lebah yang menyakitkan. Kata-kata penimbang paku yang diucapkan Rita dengan nada menghina itu meruntuhkan pertahanan Sekar seketika.

​"Rita tutup mulutmu!" Suara Danu merendah, sangat dingin dan penuh ancaman.

"Sekar adalah istriku. Dia memiliki hak lebih besar untuk berdiri di sini daripada kamu yang bukan siapa-siapa!"

"Rita, apa yang kamu katakan. Jangan cari gara-gara!" Tegur Lidya pada sahabatnya.

​Rita tertawa sinis, matanya melirik jam tangan di pergelangan Danu.

"Istri karena tanggung jawab, kan? Semua orang juga tahu, Danu. Kamu memakai jam murahan itu hanya untuk menunjukkan pada dunia kalau kamu adalah pria yang suci karena mau bertanggung jawab atas kesalahanmu. Tapi semua orang tahu, seleramu bukan di pasar malam!"

​Sekar tidak sanggup lagi mendengar kelanjutannya. Ia merasa menjadi beban yang memalukan bagi Danu. Tanpa sepatah kata pun, ia melepaskan tautan tangannya pada lengan Danu.

​"Mas... Sekar mau pulang!" Bisik Sekar dengan suara yang pecah. Jika hanya menghadapi Rita, mungkin dia masih bisa. Tapi saat ini dia harus berhadapan dengan masa lalu Danu untuk pertama kalinya. Ditambah lagi, semua tamu menatap ke arahnya saat ini. Tentu saja jiwa ketidakpercayaan diri atas status dan juga layar belakangnya semakin membuncah.

​"Tunggu Sekar. Kita selesaikan ini..." Danu hendak menahan, namun seorang pejabat penting tiba-tiba memanggil namanya untuk naik ke atas panggung guna sesi pemotongan pita. Sebagai penyuplai utama, Danu tidak bisa mengabaikan protokol tersebut.

​"Mas Danu selesaikan saja acaranya. Sekar pulang sendiri pakai taksi" Ucap Sekar dengan nada yang sangat patuh, namun matanya kosong.

​Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Sekar berbalik dan berjalan cepat meninggalkan aula. Ia mengabaikan panggilan Riana yang mengejarnya di lobi. Di dalam taksi menuju rumah, Sekar menangis tanpa suara. Ia merasa perhiasan yang ia kenakan sangat berat, seolah mengejek status sosialnya yang sebenarnya.

​Sesampainya di rumah besar keluarga Subroto, suasana sunyi menyambutnya. Sekar langsung menuju kamar utama. Dengan tangan gemetar, ia melepas satu per satu perhiasan pemberian Danu, kalung berlian, anting, dan gelang, lalu meletakkannya dengan rapi di atas meja rias. Ia seolah sedang mengembalikan barang pinjaman yang tidak pernah menjadi miliknya.

​Ia mengganti kebayanya yang indah dengan daster katun lamanya yang sudah pudar. Di sana, ia duduk bersimpuh di atas sajadah, menangis sesenggukan. Rasa rendah dirinya kini berada di titik puncak. Ia merasa telah mempermalukan Danu di depan umum. Ia merasa jam tangan itu, hadiah tulusnya, justru menjadi alat bagi orang lain untuk menghina suaminya.

​Dua jam kemudian, suara mobil Danu terdengar masuk ke halaman. Tak lama, langkah kaki yang berat dan terburu-buru menaiki tangga. Pintu kamar terbuka dengan sentakan keras.

​Danu berdiri di sana, masih mengenakan jasnya. Wajahnya tampak sangat lelah, namun matanya memancarkan kemarahan dan kekhawatiran yang bercampur jadi satu. Ia melihat Sekar yang sedang duduk di tepi ranjang dengan daster lusuhnya, kontras dengan tumpukan perhiasan mewah di meja rias.

​"Kenapa kamu pulang sendiri seperti ini Sekar?!" suara Danu menggelegar di kamar yang sunyi itu.

​Sekar berdiri dan menunduk, kembali ke mode pelayan yang sangat patuh.

"Maafkan Sekar, Mas. Sekar hanya ingin pulang agar Mas Danu tidak perlu malu lagi menjelaskan soal jam tangan itu atau soal asal-usul Sekar pada teman-teman Mas"

​Danu mendekat, ia mencengkeram bahu Sekar dengan tangan yang gemetar karena menahan emosi.

"Siapa yang bilang Mas malu?! Mas membawamu ke sana agar mereka tahu siapa wanita yang Mas pilih!"

​"Mas memilih Sekar karena tanggung jawab, bukan?" Tanya Sekar lirih, air mata kembali mengalir.

"Mas Danu tentu masih mempunyai perasaan sama Mbak Lidya. Mereka benar, Mas memakai jam tangan itu hanya untuk membuktikan kalau Mas pria yang bertanggung jawab. Tolong Mas, lepaskan saja jam itu. Jangan siksa diri Mas demi menjaga perasaan saya!"

​Danu terdiam. Ia menatap jam tangan kulit cokelat di pergelangan tangannya, lalu menatap perhiasan yang dilepas Sekar. Ia merasa segala usahanya untuk membahagiakan Sekar justru berbalik menjadi senjata yang melukai istrinya sendiri.

​"Aku tidak akan melepas jam ini" Ucap Danu dengan nada yang kaku dan keras kepala.

"Mas harus bagaimana lagi untuk membuktikan kalau apa yang Mas lakukan ini tulus, Sekar? Mas memakai jam tangan ini atas keinginan Mas sendiri, Mas tulus setulus kamu memberikan ya untuk Mas! Apa usaha Mas selama ini tidak pernah terlihat di mata kamu? Apa kamu tidak bisa merasakannya?" Danu terlihat sangat frustasi.

"Jangan lagi sebut masa lalu. Itu hanyalah sesuatu yang sudah Mas buang semuanya" Lanjut Danu.

"Dan aku tidak ingin melihatmu memakai daster lusuh ini lagi. Kamu adalah istriku, Sekar! Berhenti bertingkah seolah kamu masih buruh di tokoku!"

​"Tapi di mata mereka, saya memang tetap buruh itu, Mas!" teriak Sekar, untuk pertama kalinya ia berani meninggikan suara.

"Dan di mata Mas, Sekar hanya ibu dari anak ini. Mas tidak perlu membohongi diri sendiri"

​Sekar berjalan menuju sudut kamar, memunggungi Danu. Jarak di antara mereka kini terasa lebih lebar daripada jarak hotel dan rumah. Danu berdiri mematung di tengah kamar, menyadari bahwa semakin ia mencoba menarik Sekar ke dunianya yang mewah, semakin Sekar merasa terasing.

Danu tak tinggal diam, dia merengkuh tubuh kecil Sekar dari belakang. Danu memeluknya dengan erat, mengusap perut Sekar dengan lembut.

"Sayang, sekarang cuma kamu yang ada di dalam hidup Mas. Mas sayang sama kamu Sekar" Lanjut Danu.

Tubuh Sekar agak menegang. Seakan tak percaya dengan apa yang Danu ucapkan.

"Kalau kamu memang tidak bisa percaya diri, dan terus terbebani dengan julukan penimbang paku yang diberikan oleh orang-orang, tolong percaya sama Mas. Cuma itu yang Mas mau dan Mas butuhkan darimu!"

1
pipi gemoy
ini Sekar nangis lagi, sdh di bela suami masih saja minder hedeh
lelah yg baca liat si Sekar nga ada mental pejuang 😑😑😑😑😑
Ari Sawitri
Yups betul sekali.. berjuang klu sendiri ya jatuhnya sakit sendiri. klu memang pasangan nya tdk mau diperjuangkan ya sdh ngapain jga berjuang.. betul kamu ibas ..
Ari Sawitri
klu aku pergi jauh dr ibunya dan bisnis keluarga itu
buktikan berjuang de nol dr Sekar ditempat yg jauh dan orang orang yg baru juga. lingkungan toxic kok masih bertahan disitu trs. kok ikut emosi ya aku .. 😅😅😅
Ari Sawitri
lama lama jengkel ama Sekar.. hanya kata cinta yg dipermasalahkan, tp dia sendiri tdk mau membuka diri dan hati. selalu berasumsi sendiri .. kasian Danu berjuang sendiri..ayoo jangan oon terus Sekar jangan menye menye .. lawan orang orang yg menghina kamu
Ari Sawitri
wow salut dg Danu .. gentle itu namanya laki laki sejati. dan harusnya pisah aja jangan hidup ama mertua klu mertua model Bu Subroto gt 🤨😕 ga nyadar klu anaknya jg salah. Sekar disini korban malah diperlakukan spt Sekar menjebak Danu 🤨😔
pipi gemoy
yg baca saja lelah liat kelakuan Sekar dikit dikit nangiss 👻😂
pipi gemoy
memang susah mengubah karakter seperti sekar
sabar Danu 💪🏼🌹
pipi gemoy
hadir Thor
ayu cantik
suka sekali
Lola Maulia
😍😍😍😍😍
juwita
pacar yg membawa ke jalan sesat
juwita
😍😍😍😍😍
juwita
alah sekarang blg gitu nanti mah pasti blg perutnya ky macan belang🤣🤣🤣
Naufal hanifah
bagus ceritanya
juwita
ulat bulu masih ngerayap aj. kirain udh metong🤣🤣
juwita
kasihan dd utun g pernah di tengok sm papa Danu🤣🤣
juwita
bu brot kapan sadarnya. sblm ajal menjemput cpt lah tobat bu brot🤣🤣
juwita
sebenernya boleh aj makan junkfood sekali" asal jgn tiap hari bikin kantong bocor🤣🤣🤣
juwita
nah gitu sekar lawan km istri sah kuasa jgn kalah sm palakor🤣🤣
juwita
emg ada rambut yg botak lbh manis dr pd yg ada rambutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!