"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11 -Perhatian yang Nyata
Di sebuah klinik, Adrian menatap nanar ke arah Hanum yang kepalanya tampak dibalut perban.
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja menabraknya tadi," ucap seorang pria dengan raut wajah ketakutan di sudut ruangan.
"Ad, jangan marahin dia. Aku yang salah karena tadi kepalaku lagi pusing banget, jadi jalannya gak fokus," sahut Hanum cepat sembari menatap Adrian dengan tatapan yang dibuat selemah mungkin.
Adrian mengembuskan napas pendek. "Ya sudah, saya maafkan. Kamu boleh keluar."
"Terima kasih banyak, Tuan." Orang tersebut langsung membungkuk dan bergegas pergi dari ruangan.
"Maafkan aku ya, Num. Harusnya aku jemput kamu tadi," sesal Adrian sembari mengusap lembut kepala Hanum yang terbalut perban.
"Gak apa-apa, Ad. Aku ngerti kok... lagian aku kan bukan istrimu," sahut Hanum lirih dengan senyuman yang dipaksakan, sengaja menyentil status hubungan mereka.
Adrian tidak membalas ucapan itu. Namun, ia mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Hanum. Saat ini, pikiran Adrian benar-benar berada di persimpangan jalan; antara harus melepaskan atau terus mempertahankan.
Sementara itu, di sisi lain, Alyssa sudah berada di atas motor besar milik Arden. Ia terpaksa ikut bersama adik iparnya itu karena situasi jalanan yang sudah teramat sepi dan tidak ada satu pun kendaraan umum yang lewat.
Sepanjang jalan, Alyssa terus bergerak gelisah, berusaha menahan ujung dress-nya yang terus terangkat akibat embusan angin malam. Arden yang menyadari ketidaknyamanan itu lewat kaca spion, langsung membelokkan dan menepikan motornya di pelataran sebuah toko pakaian yang masih buka.
"Kok berhenti? Kita mau ngapain di sini, Den?" tanya Alyssa bingung saat turun dari motor.
"Sudah, ikut aku saja dulu ke dalam," ajak Arden tanpa penjelasan. Pria itu langsung menggenggam lembut tangan Alyssa dan membimbingnya masuk.
Arden membawa Alyssa menuju deretan pakaian wanita. Dengan mata elangnya, Arden mulai memilah-milih pakaian yang menurutnya cocok. Pilihan pertamanya jatuh pada sebuah kaos polos berwarna hitam, lalu ia mengambil celana jins panjang yang senada. Sebagai sentuhan terakhir, Arden menarik sebuah jaket kulit hitam—biker jacket namanya. Arden tersenyum puas menatap setelan pilihannya.
Tanpa banyak bicara, Arden langsung membawa pakaian-pakaian itu ke kasir dan membayarnya. Setelah beres, ia menyerahkan kantong belanjaan itu kepada Alyssa.
"Gantilah pakaianmu di dalam. Pasti gak nyaman banget, kan, pakai dress pendek sambil naik motor malam-malam?" ucap Arden dengan suara yang tenang namun menenangkan.
Alyssa menerima kantong itu dengan ragu. Dengan perasaan campur aduk, ia melangkah masuk ke dalam kamar ganti sementara Arden setia menunggu di luar.
Lima menit kemudian, pintu kamar ganti terbuka. Alyssa melangkah keluar setelah selesai berganti pakaian.
Arden seketika tertegun, matanya terpaku menatap penampilan Alyssa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Siapa yang akan menyangka kalau wanita modis di depannya ini adalah kakak iparnya sendiri? Jika orang asing melihat mereka sekarang, pasti semua orang akan mengira kalau Alyssa adalah kekasihnya. Pakaian yang Arden pilih melekat dengan sangat pas dan sempurna di tubuh proporsional Alyssa.
“Ba-bagaimana bisa dia tahu ukuran bajuku dengan pas seperti ini?” batin Alyssa dalam hati. Dadanya berdegup sedikit lebih kencang saat memperhatikan Arden yang kini sedang melemparkan senyuman super manis ke arahnya.
"Ayo," ajak Arden pelan. Pria itu bahkan tidak segan untuk kembali menggandeng erat tangan Alyssa menuju pelataran parkir.
Perlakuan itu sontak membuat Alyssa terkejut. Ia sempat mencoba menarik jemarinya untuk melepaskan tautan tersebut, namun cengkeraman tangan Arden terasa begitu kuat sekaligus menghangatkan. Alyssa akhirnya hanya bisa pasrah dituntun sampai ke samping motor besar pria itu.
"Jangan lupa peluk yang erat. Nanti kamu jatuh," kata Arden santai seraya memakai helmnya, sebelum kemudian menaiki dan menyalakan mesin motor.
"Aku—" Belum sempat Alyssa menyelesaikan kalimat penolakannya, Arden sudah lebih dulu menarik tuas gas dan mengegas motornya dengan sentakan cukup mengejutkan.
Hal itu tak pelak membuat tubuh Alyssa hampir terjungkal ke belakang karena tidak siap. Demi keselamatan nyawanya, dengan sangat terpaksa Alyssa langsung melingkarkan kedua lengannya erat-erat pada pinggang kokoh Arden.
Di balik kaca helm full face-nya, Arden tersenyum tipis merayakan kemenangan kecilnya. Sementara itu di belakangnya, Alyssa hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah, merutuki detak jantungnya yang mendadak sudah tidak aman lagi.
Arden pun mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan ibu kota yang berangsur sepi. Angin malam yang berembus kencang malam itu seolah membawa kisah baru, menjadi saksi bisu bagi dua insan yang takdirnya mulai bertautan.
Arden, tak serta merta membawa pulang Alyssa. Dia, lebih dulu membawa Alyssa ke taman kota dimana tempat anak muda menghabiskan waktu bersama pasangan.
"Kok kesini?" tanya Alyssa bingung.
"Aku belum makan malam, Kak. Jadi, temani aku dulu ya!" Arden selalu mencari alasan agar tetap dekat dengan Alyssa.
"Baiklah." Pasrah Alyssa.
Arden memesan banyak makanan, dia tau semua makanan yang ada disini kesukaan Alyssa. Batagor, cilok, cimol dan martabak telur.
Semua itu, tak luput dari perhatian Alyssa. Dalam hati, dia bertanya-tanya bagaimana Arden bisa tau sampai hal terkecil? Sedangkan Adrian? Makanan kesukaannya saja dia tidak tahu.
Setelah cukup, Arden mengajak Alyssa duduk disalah satu bangku dekat dengan pohon besar. Walau sudah malam, tapi tempat tersebut sangatlah ramai apalagi jika malam minggu.
"Makan yang banyak, Kak. Kakak pasti lapar," kata Arden, bahkan dia mengambil kan martabak telur.
"Arden..." Lirih Alyssa.
"Aku tau, Mas Adrian gak pernah memperlakukan Kak Alyssa dengan baik. Maka dari itu, izinkan aku untuk menggantikan tugasnya."
Arden berdiri dan menunduk lalu berbisik pada Alyssa, bisikan itu membuat Alyssa terkejut.
"Arden, ini salah. Den, gak bisa aku istri Kakakmu." Ujar Alyssa, dia sampai berdiri dari duduknya.
"Ya aku tau," balas Arden, kini dia duduk santai memakan makanan yang ada di hadapannya. Sementara Alyssa, hatinya menjadi tak menentu karena perkataan Arden.
Bersambung ...
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣