Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 24
Damian mematikan mesin. Hening sesaat.
"Arkha, tunggu di sini sebentar, ya? Papa harus bicara dengan kakek dan nenekmu dulu," ucap Damian lembut sambil mengusap kepala putranya.
"Arkha mau ikut, Pa. Arkha kangen Mama," sahut anak itu dengan mata berkaca-kaca.
Damian menghela napas panjang. Dia tidak bisa melarangnya. Dia pun membuka pintu mobil dan menggandeng tangan kecil itu dengan erat.
Ayah Alysia membukakan pintu, wajahnya tampak lelah namun tidak ada kilatan amarah yang meluap-luap. Dia menatap Damian sejenak, lalu pandangannya beralih ke cucunya yang sudah tiba di depan pintu.
"Eyang! Uti!" seru Arkhasa sambil menghambur ke pelukan kakek dan neneknya.
Sang nenek (Uti) segera merengkuh Arkhasa dengan kasih sayang yang tulus, menciumi kening cucunya berulang kali. Ayah Alysia kemudian menatap Damian kembali, kali ini dengan isyarat kepala yang tenang.
"Masuklah, Damian. Kita bicara baik-baik di dalam," ucap Ayah Alysia dengan nada rendah namun tegas.
Damian mengangguk setelah juga mencium tangan mertuanya. Dia melangkah masuk dengan perasaan yang campur aduk. Di ruang tamu yang sederhana namun rapi itu, Uti menatap Damian dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kekecewaan, namun tetap ada ruang untuk kemanusiaan.
"Arkha, sayang... Ikut Uti, ya? Mama ada di kamar. Uti antar ke sana," ujar Uti lembut sambil menggandeng tangan cucunya.
Arkhasa mengangguk patuh dan segera melangkah menuju kamar Alysia.
Damian memperhatikan punggung kecil itu menghilang di balik pintu kamar, sebelum akhirnya duduk berhadapan dengan Ayah Alysia. Hening sejenak menyelimuti ruangan. Ayah Alysia menghela napas panjang, menatap menantunya yang kini tampak begitu berbeda. Damian terlihat sekali lelah dan banyak pikiran, dan hal itu tak bisa di sembunyikan dari gurat wajahnya yang tampak sangat lelah.
"Damian," Ayah Alysia memulai pembicaraan dengan suara tenang.
"Selama ini kami diam karena kami menghargai pilihan putri kami. Tapi melihat kondisi Alysia belakangan ini, kami tidak bisa lagi berpura-pura semuanya baik-baik saja."
Damian menunduk dalam, tangannya bertaut erat di atas pangkuan.
"Saya sadar saya telah gagal, Ayah," jawab Damian dengan suara parau.
"Saya sudah buta oleh ambisi dan tekanan Ibu. Tapi malam ini, saya datang dengan membawa tekad untuk meluruskan semuanya. Saya siap membuang jabatan, harta, bahkan menghadapi konsekuensi hukum demi melindungi Alysia dan Arkhasa. Saya tidak lagi ingin menjadi boneka dalam permainan Ibu atau siapa pun."
Ayah Alysia menatap mata Damian, mencari kejujuran di sana.
"Kata-kata manis tidak akan menyembuhkan luka enam tahun, Damian. Apa yang membuatmu yakin kamu bisa mengubah keadaan sekarang?"
"Karena saya baru saja menyadari bahwa tanpa Alysia, dunia saya tidak berarti apa-apa," sahut Damian tegas.
"Anak perempuanku memang ku didik untuk tak pernah membuka aib suami kepada siapapun termasuk kami. Aku dan ibunya juga tak tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian berdua. Namun..." Ayah Alysia menjeda ucapannya.
"Tadi pagi saat melihat dia pulang dalam keadaan seperti itu membuat hati kami han-cur. Bahkan sampai sekarang Alysia tak mengatakan alasannya kenapa. Nak, jika memang selama enam tahun ini kamu tak mencintai Anakku, dan hatimu masih di miliki wanita lain. Lepaskan dia Nak... Tolong jangan sakiti anak kami lebih dari ini. Kalau kamu butuh ibu untuk Arkha, Alysia pasti akan mau menjadi ibunya tanpa harus mengorbankan hatinya! Kami juga menyayangi Arkhasa seperti cucu kami sendiri. Dia tak akan kehilangan itu! Jika memang hanya sosok ibu untuk anakmu yang kamu butuhkan, bukan sosok istri dan ibu!"
Damian terdiam, kepalanya tertunduk dalam. Dia bisa merasakan tatapan Ayah Alysia yang begitu berat, bukan hanya berisi amarah, melainkan tumpukan kekecewaan yang telah terpendam selama bertahun-tahun. Dan ternyata ayah mertuanya bisa menebak semuanya dengan benar. Walau Alysia tak pernah mengatakan kepadanya. Mengenai hati dan rumah tangga dingin yang dia jalani dengan Damian.
"Kamu pikir dengan datang ke sini dan mengucap penyesalan, semua luka di hati putriku akan langsung sembuh?" suara Ayah Alysia bergetar, bukan karena emosi yang meledak, melainkan karena rasa sakit yang mendalam sebagai seorang ayah.
"Damian, kami melihat Alysia setiap hari. Kami melihat bagaimana cahayanya perlahan padam karena dia harus berpura-pura bahagia di depanmu dan ibumu juga kami. Dia tidak pernah mengeluh, dia menelan semua duri itu demi menjaga martabat suaminya."
Ayah Alysia bangkit dari duduknya, berjalan perlahan di hadapan Damian.
"Kamu bilang kamu buta karena ibumu? Itu bukan alasan, itu pengecut. Seorang pria yang sudah memiliki istri dan anak seharusnya menjadi pelindung, bukan alat yang bisa disetir ke sana kemari. Kamu sudah menghancurkan masa muda putriku, Damian. Kamu sudah membuat dia merasa tidak cukup berharga hanya karena ibumu menginginkan menantu yang lebih 'bergengsi'."
Damian memejamkan mata, membiarkan setiap kata itu menjadi tamparan bagi jiwanya. Dia tidak membantah, karena memang itu adalah kebenaran yang tidak bisa dia sangkal.
"Saya tahu, saya sudah salah selama enam tahun ini, Ayah," bisik Damian dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Saya tidak meminta Ayah dan ibu memaafkan saya malam ini, atau besok. Saya bahkan tidak layak mendapatkannya. Tapi saya berjanji, mulai detik ini, saya tidak akan membiarkan ada satu orang pun, termasuk Ibu saya sendiri, menyakiti Alysia lagi. Jika saya gagal lagi, saya sendiri yang akan pergi dari hidupnya selamanya."
"Tolong beri saya kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Saya akan berusaha meyakinkan diri saya sendiri juga dan Alysia. Saya ingin memulai semuanya dari awal bersama Alysia. Walau..." Damian menggantung kalimatnya. Ayah Alysia menatap lekat ke arah Damian.
"Walau mungkin setelah ini, kehidupan saya mungkin akan jauh lebih berbeda. Saya akan melepaskan jabatan saya setelah ini. Dan kehidupan kami akan jauh lebih sederhana..."
"Anakku bukanlah wanita yang gila hartamu dan keluargamu. Jika memang dia seperti itu, susah pasti selama enam tahun pernikahan dengan mu dia sudah mengambil banyak kan?"
"Bicarakan baik-baik dengan Alysia. Itu Masalah kalian berdua, sebagai orang tua ayah tak bisa ikut campur terlalu dalam!" jawab Ayah Alysia.
"Terima kasih, Ayah!"
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,