NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu

Sisa-sisa tanah basah akibat badai malam sebelumnya menyisakan hawa dingin yang menusuk pada rumah tangga itu. Awan menutupi matahari yang seharusnya menemani hari, halaman samping rumah keluarga Yang sudah dipenuhi deru napas terengah-engah.

Tangan Yang Chan gemetar hebat. Remaja itu berada dalam posisi kuda-kuda rendah yang menyiksa, dengan kedua telapak kaki mencengkeram tanah liat yang dingin.

Di depannya, Bing Chan berdiri tegak memegang sebilah ranting pohon tipis. Wajah ibunya terlihat sangat datar, tanpa belas kasihan sedikit pun.

"Turunkan lagi pinggulmu, Chan. Kau sedang berlatih bela diri, bukan mengantre pembagian sembako gratis," tegur Bing Chan dengan nada tenang namun dingin.

Yang Chan menggigit bibirnya erat-erat, menahan rasa panas menjalar di otot pahanya. Umurnya sudah empat belas tahun, usia di mana remaja kota mulai membangkitkan bakat spiritual.

Namun ia berbeda. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda bakat spiritual sama sekali. Ia hanya seorang remaja biasa yang tidak berbakat, harus berjuang keras melatih fisiknya setiap pagi.

'Satu detik di posisi ini terasa seperti setahun penuh siksaan,' gerutu Yang Chan dalam hati, sementara keringat bercampur embun pagi menetes dari ujung dagunya.

Lututnya akhirnya menyerah. Yang Chan jatuh terduduk di atas tanah basah, dadanya naik turun meraup oksigen sebanyak mungkin.

Bing Chan tidak memarahinya. Ia hanya menghela napas pendek, lalu melangkah mendekati anak laki-lakinya itu.

Langkah kaki wanita itu hampir tidak mengeluarkan suara di atas tanah berlumpur. Ia menggunakan ujung ranting kayunya untuk mengetuk ringan punggung Yang Chan yang membungkuk.

"Punggungmu harus tetap lurus, seperti tiang rumah yang menyangga beban atap," tutur Bing Chan sambil mengoreksi posisi tulang belakang anaknya.

Sentuhan ranting itu terasa sangat presisi. Hanya dengan sedikit dorongan beberapa sentimeter, beban berat di paha Yang Chan mendadak terasa jauh lebih seimbang.

Yang Chan mendongak, menatap ibunya dengan saksama. Gerakan berputar dan ayunan tangan Bing Chan terlihat sangat elegan dan efisien, seolah udara membelah diri memberi jalan baginya.

Itu bukanlah gerakan istri petani miskin biasa. Ada sisa-sisa kebiasaan dari seorang praktisi bela diri hebat yang tersamar di balik kesederhanaan gerakannya.

"Kekuatan tidak selalu lahir dari bakat spiritual yang dianugerahkan langit," kata Bing Chan, pandangannya menatap kegelapan hutan liar di seberang batas desa.

"Kadang, keteguhan hati yang keras kepala bisa memaksa dunia untuk tunduk padamu," lanjut ibunya dengan nada yang terdengar begitu dalam.

Yang Chan terdiam. Ada kehangatan yang mengalir masuk ke dadanya, mengikis rasa lelahnya. Dedikasi ibunya membuat tekad remaja itu perlahan mulai terbentuk kembali.

Setelah latihan fisik selesai, Bing Chan menyuruh anaknya membersihkan diri sebelum melangkah masuk ke dapur yang masih gelap.

Di ruangan mungil itu, Bing Chan berdiri di depan cermin kaca buram dekat tempat cuci piring. Keadaan di sekitarnya sangat sunyi.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan matanya. Sesaat kemudian, gelombang energi spiritual yang tipis namun luar biasa padat mulai berputar menyelimuti tubuhnya.

Garis wajahnya yang cantik jelita, kulitnya yang seputih pualam, serta aura anggun praktisi tingkat atas perlahan mulai memudar, tergulung oleh energi tak terlihat.

Dalam hitungan detik, penampilannya berubah total. Kulit wajahnya tampak kusam, dipenuhi bintik-bintik gelap tipis dan kerutan halus. Pakaian tidurnya yang rapi tertutup celemek lusuh penuh noda minyak.

Ia membuka mata kembali, menatap bayangan seorang ibu rumah tangga biasa yang kusam di cermin buram tersebut.

'Ini jauh lebih aman untuk kami,' gumam Bing Chan dalam hati, merapikan rambutnya yang diikat acak-acakan. Menyembunyikan identitas asli adalah harga mutlak demi kedamaian keluarga kecil mereka.

Aroma harum nasi goreng bawang segera memenuhi dapur begitu ia menyalakan tungku api. Tidak lama berselang, Yang Wei masuk dari pintu belakang, menaruh cangkulnya dengan helaan napas lelah.

Pria paruh baya itu tampak basah oleh embun pagi, dengan sisa-sisa tanah keabu-abuan menempel di celananya.

Mereka bertiga berkumpul di meja makan kayu yang bergoyang setiap kali disenggol. Sepiring besar nasi goreng sederhana diletakkan di tengah meja untuk sarapan mereka hari ini.

"Tanah di petak barat sudah mulai membatu lagi," ujar Yang Wei membuka obrolan, tangannya yang kapalan menyuap nasi perlahan. Pandangannya mengarah ke jendela.

Di luar sana, langit pagi masih diselimuti awan abu-abu tebal yang menggantung rendah, seolah menolak memberikan ruang bagi sinar matahari untuk masuk.

"Badai dingin ini sepertinya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Tanaman yang baru kita sebar kemarin bisa membusuk di dalam tanah sebelum sempat tumbuh," lanjut ayahnya dengan cemas.

Kehangatan di meja makan mendadak menguap, digantikan keheningan yang menekan. Yang Chan menatap ayahnya, lalu beralih ke ibunya yang sedang mengunyah makanan dengan tenang tanpa ekspresi.

"Kita masih memiliki sedikit sisa tabungan untuk bertahan selama beberapa minggu," sahut Bing Chan, suaranya kembali terdengar seperti istri petani yang sedang menghitung anggaran dapur.

"Namun, jika cuaca buruk ini terus berlanjut hingga bulan depan, kita benar-benar harus mencari jalan lain," tambahnya, meletakkan sendoknya di atas meja.

'Sial. Cuaca ekstrem ini benar-benar tidak memberi kami napas,' batin Yang Chan, rasa cemas mulai merayapi pikirannya. Pemahaman tentang kedamaian alam yang ia pelajari kemarin mendadak terasa jauh ketika dihadapkan pada kenyataan perut yang harus diisi.

Yang Wei hanya terdiam, pandangannya tertuju pada hamparan ladang gersang di luar jendela yang kini mulai perlahan diselimuti oleh kabut dingin yang pekat, menyembunyikan sisa-sisa harapan mereka di bawah bayang-bayang badai yang mengancam.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!