Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Hadiah Sang Penyintas (Bagian 1)
Embun pagi masih menggantung di ujung rerumputan.
Leon berdiri diam di tepi sungai kecil, memandangi tubuh Wolf Ape yang tergeletak tak bernyawa. Dada makhluk itu tak lagi naik turun. Mata merahnya yang sebelumnya dipenuhi keganasan kini kehilangan cahaya, menyisakan tatapan kosong yang mengarah ke langit.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain gemericik air sungai dan embusan angin yang menggoyangkan dedaunan.
Leon mengembuskan napas panjang.
Baru sekarang ia menyadari betapa cepat jantungnya berdetak. Kedua telapak tangannya masih gemetar, bukan karena kelelahan semata, melainkan karena tubuhnya belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa ia baru saja bertarung demi mempertahankan hidup.
"Jadi... beginikah rasanya menghadapi kematian?"
Di dunia asalnya, pertarungan terbesar yang pernah ia alami hanyalah adu mulut dengan pelanggan yang marah saat bekerja di minimarket. Ia tidak pernah membayangkan suatu hari harus menusukkan kayu ke mata monster demi tetap bernapas.
Perlahan, tubuh Wolf Ape mulai berubah.
Bulu hitamnya memudar menjadi butiran cahaya. Daging dan tulangnya hancur menjadi partikel-partikel kecil yang melayang ke udara seperti debu yang tertiup angin.
Leon menyipitkan mata.
"Mayatnya... menghilang?"
Beberapa detik kemudian, tidak ada lagi jejak monster itu.
Yang tertinggal hanyalah sebuah kristal merah seukuran telur ayam dan sebuah peti kayu kecil berwarna hitam yang sebelumnya tersembunyi di bawah tubuh Wolf Ape.
"Peti?"
Leon menoleh ke arah Lyra.
Gadis berambut perak itu hanya tersenyum tipis.
"Silakan ambil. Itu milikmu."
"Milikku?"
"Monster di dunia simulasi akan meninggalkan hadiah setelah dikalahkan. Namun tidak semuanya menjatuhkan peti. Bisa dibilang, keberuntunganmu cukup baik."
Leon mendekati peti tersebut dengan hati-hati.
Kayunya berwarna hitam pekat, tetapi dihiasi garis-garis emas yang membentuk pola aneh. Saat telapak tangannya menyentuh permukaannya, peti itu langsung memancarkan cahaya lembut.
Ding!
【Peti Kayu Tingkat Rendah】
Apakah Anda ingin membukanya?
Ya / Tidak
Leon memilih Ya.
Klik.
Tutup peti terbuka dengan sendirinya.
Cahaya putih memenuhi pandangannya selama beberapa detik sebelum perlahan menghilang.
Di dalam peti hanya terdapat dua benda.
Sebuah kantong kulit kecil.
Dan sebuah cincin hitam tanpa hiasan.
Leon mengambil kantong kulit itu terlebih dahulu.
Saat membukanya, ia menemukan belasan koin berwarna perak yang terasa dingin di telapak tangannya.
【Koin Sistem ×15】
Mata uang universal yang digunakan di Dunia Simulasi.
"Koin?"
Leon membolak-balik salah satunya.
Di permukaannya terdapat ukiran pohon raksasa yang akarnya menjalar hingga memenuhi seluruh sisi koin.
Ia belum mengetahui fungsi benda itu, tetapi instingnya mengatakan bahwa koin tersebut akan sangat berguna di masa depan.
Kemudian ia mengambil cincin hitam.
Bentuknya sederhana, bahkan terlihat kusam.
Namun saat menyentuhnya, sebuah informasi baru muncul.
【Cincin Penyimpanan Tingkat Rendah】
Ruang Penyimpanan: 5 Meter Kubik.
Status: Belum Terikat.
Leon membelalakkan mata.
"Ruang penyimpanan?"
Ia segera mengenakan cincin itu di jari telunjuk kirinya.
Sesaat kemudian, ia merasakan hubungan aneh antara pikirannya dan cincin tersebut.
Saat ia memikirkan kristal merah di tanah...
Whoosh!
Kristal itu menghilang.
Beberapa saat kemudian, ketika ia membayangkan ingin mengeluarkannya kembali...
Kristal tersebut muncul tepat di telapak tangannya.
Leon tertawa kecil.
"Ini benar-benar seperti novel fantasi."
Lyra mengangguk.
"Bahkan di dunia simulasi, cincin penyimpanan termasuk barang yang cukup berharga."
Leon memandangi cincin di jarinya dengan senyum puas.
Ia baru memasuki dunia ini kurang dari satu hari.
Namun sudah mendapatkan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Meski begitu, satu pertanyaan terus mengganggu pikirannya.
"Lyra."
"Ada apa?"
"Kalau dunia ini hanya simulasi..."
"...mengapa semua benda yang kudapat terasa begitu nyata?"
Lyra tidak langsung menjawab.
Ia berjalan menuju sungai, lalu mengambil segenggam air.
Air itu mengalir di sela-sela jemarinya.
"Apa menurutmu air ini palsu?"
Leon menggeleng.
"Tidak."
"Karena memang bukan."
Ia menatap Leon dengan sorot mata yang jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
"Dunia Simulasi bukan ilusi."
"Bukan mimpi."
"Dan bukan dunia virtual."
"Tempat ini benar-benar ada."
Kalimat itu membuat Leon terdiam.
"Kalau begitu..."
"Di mana sebenarnya kita berada?"
Lyra tersenyum tipis.
"Itu pertanyaan yang belum pantas kamu ketahui."
"Terlalu cepat mengetahui jawabannya hanya akan membuatmu kehilangan fokus."
Leon menghela napas.
Lagi-lagi jawaban yang menggantung.
Namun ia mulai terbiasa dengan cara Lyra berbicara.
Administrator itu selalu menjawab secukupnya, seolah ada aturan yang membatasi apa yang boleh dan tidak boleh ia katakan.
Tepat saat Leon hendak menyimpan kembali cincin itu, suara mekanis kembali menggema.
Ding!
【Misi Tersembunyi Selesai】
Pengguna pertama berhasil mengalahkan monster tanpa bantuan Administrator.
Hadiah Khusus Dibuka.
Silakan memilih salah satu hadiah berikut:
1. Pedang Baja Pemula
2. Busur Pemburu Pemula
3. Kitab Kelas Acak (Langka)
Leon membaca ketiga pilihan itu perlahan.
Tatapannya berhenti cukup lama pada pilihan terakhir.
Kitab Kelas Acak.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada informasi.
Hanya satu kata yang tertulis di sampingnya.
Langka.
Leon mengangkat kepalanya dan menatap Lyra.
"Apa sebenarnya kelas itu?"
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresi Lyra berubah.
Ia tidak lagi tersenyum.
Sebaliknya...
Tatapannya dipenuhi keseriusan.
"Pilihanmu hari ini..."
"...akan menentukan jalan hidupmu di dunia simulasi."