" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Sang pewaris
"Baiklah, sebagai anak satu-satunya, aku akan memenuhi keinginan Ayah untuk memimpin perusahaan keluarga kita, tapi..." ucapan Sean menggantung.
"Tapi apa?" ucap Ayah yang sangat tahu kalau anak pembangkang itu tidak akan pernah menurut tanpa syarat.
"Aku ingin memimpin perusahaan dengan independen tanpa campur tangan siapa pun, termasuk keluarga besar kita," pernyataan Sean yang membuat Ayahnya bernapas berat.
"Aku tidak peduli mau dia keluarga atau tidak. Dalam bisnis, aku hanya akan bersama orang-orang yang berkompeten di bidangnya, bukan karena dia adalah keluargaku," pernyataan Sean yang sangat tidak suka dengan cara kerja sistem kekeluargaan yang kadang sangat tidak adil.
"Apa Ayah setuju?" tanya Sean yang akhirnya sang Ayah mengangguk lantaran sudah melihat kemampuan Sean dalam memimpin perusahaan pribadinya.
"Dan satu lagi, hentikan perjodohan yang Ayah rencanakan untukku," ucap Sean karena puncak pertengkaran yang membuat Sean keluar dari rumah utama, bahkan dicoret dari pewaris takhta, adalah masalah perjodohan.
"Tapi Shania adalah wanita ideal untuk menjadi Nyonya Besar penerus keluarga kita. Bahkan, dia mengerti dengan jelas tata krama dalam keluarga besar kita," ucap Ayah yang mengenal bibit, bebet, dan bobot Shania. Sebab itulah dia menjodohkan Sean dengan Shania.
"Jika Shania ideal menurut Ayah, jadikan saja dia istri kedua," pernyataan Sean.
Plakkkk!
Kali ini Ibunya yang menampar lengan Sean.
"Hahahaha, Ibu bisa cemburu juga," tawa cekikikan Sean.
"Ibu bisa mendapatkan yang lebih baik darinya," bisik Sean yang bahkan sudah sedari dulu ingin membawa Ibunya pergi agar terbebas dari aturan yang mengekang keluarga ini.
Plakkkk!
Kali ini Ayah yang menampar lengan Sean.
"Jangan coba-coba membawa kabur istriku," tegas Ayah yang walaupun selama ini terlihat tegas dan cuek, tetapi pada kenyataannya dia sangat mencintai istrinya. Bahkan, beberapa kali juga pernah melanggar aturan keluarga demi istrinya.
"Jika Ayah masih memaksa Ibuku mengikuti aturan yang sudah tidak sewajarnya lagi, aku akan membawanya pergi," pernyataan Sean tanpa ragu.
"Sean, jika memang kamu tidak menyukai Shania, maka bawakan calon menantu untuk Ayahmu. Barangkali dia akan menyukainya," kata Ibu menengahi pembicaraan.
"Ibu dengar, aku hanya akan menikahi wanita yang aku sukai, bukan yang Ayah sukai," pernyataan Sean.
"Kau memang tidak boleh menikahi wanita yang aku sukai," pernyataan Ayah yang membuat Sean langsung tertawa lepas.
Satu-satunya wanita yang Ayah sukai hanyalah Ibu, itu pun masih sering dimarahinya.
"Baiklah, Ayah. Aku akan memimpin perusahaan keluarga jika Ayah menyetujui persyaratan yang aku ajukan," ucap Sean yang sebenarnya sangat menghormati Ayahnya.
Hanya saja, Sean ingin membuka pikiran Ayahnya agar tidak terlalu terpaku dengan aturan lama yang bahkan kadang hanya memberatkan kehidupan semodern sekarang.
"Deal?" ucap Sean sambil mengulurkan tangannya dengan perasaan senang. Akhirnya, Ayahnya yang keras kepala itu melunak.
"Baiklah, Ayah menyetujui semua keinginan kamu, tapi kamu harus kembali tinggal di rumah ini," ucap Ayah yang membuat Sean terdiam.
Semenjak Sean pergi empat bulan yang lalu, rumah utama menjadi sangat sepi. Ayah tidak bisa memungkiri kalau dia juga merindukan anak pembangkang yang sejak dulu selalu membuatnya berteriak setiap hari di sepanjang rumah mewah dua lantai ini.
"Tidak, aku akan tetap tinggal di rumahku," pernyataan Sean.
"Jadi, kamu bakalan tetap ninggalin Ibu," suara kecil Ibu yang merasa sangat kesepian sejak Sean tak pernah lagi pulang.
"Ibu bisa tinggal di rumahku," kata Sean sambil menggenggam tangan Ibu dan mengecupnya.
"Kau ingin tinggal di rumah ini atau kami yang akan pindah ke rumahmu yang kecil itu?" pernyataan Ayah yang tentunya tidak mau berpisah dengan istrinya meskipun sehari.
"Yang mengajak Ayah pindah siapa?" tawa Sean meledek Ayah yang rupanya tidak mau ditinggal Ibu walaupun cuma sehari.
"Aku adalah Ayahmu dan tanpa aku, tidak ada seorang pun yang boleh membawa pergi istriku," pernyataan kepemilikan dari Ayah.
"Tapi aku anaknya," pernyataan Sean.
"Biji toge, jangan merasa lebih berhak. Kau itu ada hanya karena aku membuatnya," pernyataan Ayah yang tiba-tiba kehilangan wibawa setelah lama tidak berdebat dengan Sean.
"Dan buatanmu adalah duplikat, sama-sama keras kepala," ucap Ibu yang kadang merasa lelah melihat Sean yang sejak dulu selalu bertengkar dengan Ayahnya setiap saat.
"Aku, keras kepala?" tanya Ayah sambil menunjuk dirinya sendiri yang kemudian diangguki Ibu.
Keesokan harinya.
Sean berangkat ke perusahaan utama bersama Ayahnya setelah sarapan.
Ayah melakukan konferensi pers kepada publik yang sangat mengejutkan, bukan cuma perpindahan jabatan, tetapi juga pergantian kepemilikan perusahaan kepada putra tunggalnya.
"Aku pikir dia tidak menyayangiku," ucap Sean sambil mengusap setetes air mata yang jatuh di sudut matanya.
Setelah pengumuman yang mengundang pro dan kontra itu, di hari yang sama Sean langsung menjabat sebagai presiden direktur Brisbane Company.
Siang harinya, selesai makan, Ayah akan langsung pulang, tetapi dia ingin menanyakan sesuatu kepada Sean.
"Sean, di mana kamu membeli bolu pandan kemarin?" tanya Ayah yang membuat Sean terdiam seketika.
Sean menatap Bimo yang sedang mengumpulkan berkas di sebelahnya sambil tengah senyum-senyum sendiri.
"Aku lupa. Lagian, kenapa harus bolu pandan yang kemarin? Bukankah banyak toko bolu pandan yang lain?" pernyataan Sean yang memang tidak tahu di mana orang menjual bolu itu.
Karena si gadis pengganggu yang memberikannya kemarin!
"Bolu pandan itu rasanya beda. Sayang sekali kemasan bolu itu polos sehingga tidak tertera identitas apa pun tentang toko penjualannya," ucap Ayah dengan lirih.
"Ayah menginginkannya lagi?" tanya Sean.
"Iya, setelah menyuruh pelayan membeli beberapa, tidak ada rasanya yang seenak itu," ucap Ayah yang sepertinya ingin membeli bolu itu lagi ketika pulang kantor.
"Sudahlah, Ayah pulang dulu. Istirahat. Nanti aku carikan," ucap Sean.
"Tapi kau baru membawanya semalam. Bagaimana bisa sudah lupa tempat membelinya?" ucap Ayah menatap Sean yang langsung membuang muka.
"Katakan, kau mendapatkannya di mana?" ucap Ayah yang sudah akan pulang, tetapi kembali berjalan menghampiri Sean yang duduk di kursi kerja.
"Bimo, di mana kalian membeli bolu itu?" tanya Ayah menatap Bimo yang selalu ikut ke mana pun Sean pergi.
"Di, di..." Bimo menjadi gelagapan ketika ditanyai Ayah.
"Seseorang memberikannya," kata Sean akhirnya menjawab setelah lama diam.
"Untukmu?" tanya Ayah.
"Tidak, untuk orang tuaku," ucap Sean yang ingat perkataan Ara.
Di sini Ayah bisa menyimpulkan kalau Sean sedang dekat dengan seorang wanita, tetapi Ayah tidak akan ikut campur sesuai janjinya.
"Baiklah, Ayah pulang," kata Ayah tiba-tiba memeluk Sean sampai anak yang jarang mendapat pelukan itu melotot.
"Nanti minta dia buatkan untuk Ayah lagi, ya," bisik Ayah sambil menepuk-nepuk bahu Sean dengan senyum lebarnya.
"Belum jadi calon mertua sudah merepotkan," celetuk Sean sambil menggelengkan kepala menatap Ayahnya yang sudah berjalan pergi.