NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUASA

“Kak Fira kapan balik ke Seoul?” tanya Gea di sela-sela momen hangat buka puasa bersama keluarga besarnya malam itu.

Berlian Safira atau yang akrab dipanggil Fira, adalah kakak Lyon yang bekerja di Seoul setelah lulus kuliah di Negeri Ginseng tersebut.

“Kamu pengen Berlian cepet balik ke Seoul, Ge?” ledek Kian jahil. Entah kenapa, sejak dulu dia lebih nyaman memanggil sepupu yang seumuran dengannya itu dengan nama pertamanya, Berlian.

“Iiih, gak gitu! Jutsru sebaliknya. Kalo bisa, malah Kak Fira gak usah balik ke Seoul lagi dan tinggal di Jakarta aja,” kata Gea dengan nada merajuk yang manis.

Fira terkekeh pelan melihat ekspresi adik sepupunya itu.

“Kakak bakal balik ke Seoul, Ge. Kan Kakak masih kerja di sana. Tapi nanti, nunggu pacar kakak dateng ke sini dulu,” ucap Fira.

Sepasang mata Gea terbelalak kaget mendengar Fira membahas pacar. Reaksi spontan itu sontak membuat Fira kembali tertawa renyah. “Iya, pacar kakak mau berkunjung ke Indonesia dalam waktu dekat. Dia mau kakak kenalkan secara resmi sama Papa dan Mama,” tutur Fira menjelaskan.

“Kak Fira… mau nikah?” tanya Gea memastikan, suaranya naik satu oktaf karena antusias.

Fira mengangguk mantap dengan binar bahagia yang terpancar jelas dari matanya.

“Siapa? Namanya siapa, Kak? Ganteng? Oppa Oppa Korea, ya?” cecar Gea penuh semangat.

Malam itu, Fira mengeluarkan ponselnya. Dia memperlihatkan beberapa foto pacarnya kepada sepupu-sepupunya. Pria itu ternyata seorang warga negara Jepang yang besar di Osaka, menempuh studi kuliah di Seoul, hingga akhirnya bekerja di perusahaan yang sama dengan Fira. Di sanalah awal mula benih-benih cinta mereka tumbuh.

“Kak Fira jauh-jauh kerja di Seoul, malah kecantol cowok Jepang,” goda Gea sambil tersenyum lebar, jemarinya mengusap layar ponsel yang menampilkan foto-foto bahagia Fira dan sang kekasih.

Fira tersenyum manis, lalu menatap Gea lekat, berkata, “kapan-kapan ajak pacar kamu juga dong, Ge. Kakak pengen kenal sama pacarmu itu.”

“Iya, Fir. Lagian Papa sama Ibun sebenarnya udah mengundang Jay buat ikut bukber bareng keluarga besar kita minggu depan,” sahut Ibun, ikut menimpali obrolan para anak muda itu dengan senyum hangat.

Kalimat sederhana dari Fira yang langsung disambut konfirmasi dari Ibun seketika membuat senyum di bibir Gea membeku. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa sadar, Gea melirik ke arah Papanya yang duduk di sebelah Ibun. Pria paruh baya itu hanya diam, melanjutkan makannya tanpa ekspresi, seolah enggan ikut antusias.

Ingatan Gea mendadak terlempar pada cerita Lyon sore kemari tentang bagaimana sang papa baru saja mengeluhkan sikap Jay yang dinilai kurang sopan karena tidak pernah turun dari mobil setiap kali mengantarnya pulang malam. Di tengah riuh rendah tawa sepupunya yang mengagumi foto kekasih Kak Fira, Gea hanya bisa menggenggam ponselnya erat-erat, mendadak bingung harus mengondisikan Jay seperti apa agar tidak membuat Papanya semakin kecewa.

...****************...

Suasana buka puasa bersama hari itu terbilang santai. Ruang makan yang diisi oleh sembilan orang tersebut dipenuhi denting sendok dan obrolan ringan yang mengalir di sekitar meja makan berukuran cukup besar. Fira menjadi orang yang lebih banyak bersuara. Alasan pertama karena dia baru pertama kali kenal dengan pacar adik sepupunya itu. Seseorang yang hanya pernah dia lihat sekilas melalui unggahan foto di media sosial Gea.

Namun, atmosfer santai di meja makan mendadak berubah menjadi serius ketika Papa angkat bicara.

“Jay.”

Jay yang masih mengunyah langsung menegakkan posisi duduknya.

“Ya, Om?”

“Gea udah pernah bilang soal curfew ke kamu?”

Jay menatap Gea yang duduk di sebelah kanannya selama satu detik, sebelum kembali memandang pria paruh baya di ujung meja.

“Sudah, Om.”

“Tolong, kalau nanti kalian pergi dan memang sekiranya gak bisa pulang tepat waktu, tolong kabari Om, ya.”

Papa memberikan banyak wejangan dan ceramah yang cukup panjang mengenai tanggung jawab menjaga anak perempuan orang lain. Walau nada bicaranya terdengar lembut dan tenang, tapi cukup untuk membuat lawan bicaranya kikuk dan mati kutu.

“Biar orang rumah gak khawatir aja, Jay,” timpal Kian, membantu untuk mencairkan suasana. “Jalanan malem sekarang ada aja bahayanya. Begal lah, orang mabok bawa mobil ugal-ugalan lah. Ngeri”

Jay mengangguk, kerongkongannya terasa kering, berkata, “iya, baik, Om. Sebisa mungkin kedepannya kami pulang sebelum jam sepuluh malam.”

“Nanti kamu minta aja nomor telepon Om dari Gea ya, Jay.”

“Iya, Om.”

“Kamu lebaran pulang kampung, Jay?” tanya Ibun, berusaha mencairkan suasana tegang di sana. Ibun bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana wajah Jay yang kaku dan tegang.

“Kayaknya gitu, Tan. Semalem Mama udah nyuruh saya buat pesen tiket pesawat,” jawab Jay, tampak lebih lega karena topik pembicaraan yang akhirnya beralih.

“Aslinya mana, Jay?” tanya Fira ikut menimpali, membuka obrolan baru.

Obrolan ringan yang kembali mengalir di antara keluarga besarnya itu sedikit banyak membuat Gea menghembuskan napasnya, lega. Sepanjang Papa membuka suaranya tadi, napas Gea tercekat di tenggorokan.

Entah kenapa, rasanya ada terlalu banyak hal yang dia pikirkan saat ini, hingga membuatnya merasa tidak nyaman yang mengganjal di dada. Padahal, kalau dipikirkan lagi dengan kepala dingin, Papanya hanya mengatakan hal yang wajar. Mengingatkan dengan nada santai, tanpa menyudutkan atau meninggikan suaranya. Namun bagi Gea, dinamika hubungannya dengan Jay belakangan ini perlahan-lahan mulai terasa seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis, ringkih dan mudah hancur.

...****************...

Lebaran pertama setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Jay dan Gea, harus berjauhan. Namun, hal itu tidak menghalangi kedua pemuda itu untuk tidak teleponan atau video call di setiap malamnya.

Seperti malam ini, Gea sedang bersantai di dalam kamarnya setelah memilih pamit undur diri dari ruang TV lantai bawah, meninggalkan sepupu-sepupunya yang masih asyik bermain dan mengobrol seru di sana.

“Hallo,” suara Jay menyapa dari sebrang layar begitu panggilan video terhubung.

Gea merebahkan tubuhnya dalam posisi tengkurap di atas kasur. Menyandarkan ponselnya pada headboard.

“Lagi apa, Ya?” tanya Jay.

“Tadi main board game aja sama sepupu-sepupu aku. Sodara dari papa dari kemaren nginep di rumah, Ay. Kamu baru makan jam segini?” tanya Gea melihat kekasihnya yang sedang menikmati makan malamnya. Gea melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukkan larut malam.

“He-em. Tadi udah makan sih. Tapi rasanya kurang nampol ya, laper lagi aku bawaannya,” katanya diikuti kekehan. “Kangen deh aku sama kamu.”

“Huuuu, gombal.”

“Kok gombal? Beneran, ini aku,” Jay tertawa.

“Kalo beneran kangen, pulang dong makanya,” ucap Gea dengan senyumnya yang merekah.

“Huh, kalo bisa juga udah dari kemaren aku pulang,” keluh Jay dramatis. “Besok ada acara gak kamu?”

“Hem… paling mau jalan-jalan aja sama sodara aku, Ay. Kalo kamu?”

“Aku ada janji ketemu sama temen aku. Temen SMA aku. Kebetulan dia juga lagi pulang kampung.”

“Oooh ya? Daerah kamu sama temen SMA kamu itu deket?”

“Iya, deket banget malah. Lucu ya, padahal kita udah lama gede di Jakarta, tapi ternyata satu kampung. Kalo pas pulang kampung gini jadi berasa punya temen. Kalo kamu lebaran gak pernah pulang kampung, Ya?”

“Semenjak kakek-nenek dari Papa udah gak ada, gak pernah mudik lagi. Paling bergilir aja setiap taun, mau ngumpul di rumah siapa. Gitu. Taun ini di sini ngumpulnya.”

“Kalo dari keluarga Ibun?”

“Kalo keluarga Ibun udah di sini semua. Kayaknya terakhir aku ngerasain mudik jaman SD kelas tiga deh. Itu juga aku udah lupa rasanya gimana,” kata Gea diiringi tawa renyah.

Obrolan mereka pun terus bergulir tanpa arah. Hingga akhirnya,mereka memutuskan untuk memanfaatkan fitur share layar untuk nonton film bersama. Namun, rasa lelah akibat aktifitas seharian, membuat Gea lebih dulu terpejam. Bahkan film yang mereka tonton belum mencapai setengah durasi.

Di Seberang sana, Jay menurunkan volume suara. Ia menatap wajah Gea yang tertidur begitu damai selama beberapa saat. Senyum tipis yang tulus terukir di bibir Jay. Sebelum dia mematikan koneksi mereka, Jay menyempatkan untuk berbisik di mikrofon, mengakatan ‘I love you, Yaya’ .

Kalimat tulus itu meluncur di keheningan malam, menjadi pernyataan cinta walau kekasihnya sudah sampai ke alam mimpi.

...****************...

Gea baru saja menghabiskan segelas es kelapa dan semangkuk mi yamin-nya. Sembari menunggu mengunggah saudara-saudaranya yang lain menghabiskan makan siang mereka yang telat, Gea membuka Instagram dan mengunggah beberapa foto-foto dia hari ini.

Setelah unggahannya berhasil, Gea mendapati lingkaran profil Jay dibarisan atas menyala, tanda kekasihnya baru mengunggah story. Tidak hanya satu, melainkan beberapa foto sekaligus. Foto-foto yang menampilkan Jay dengan the so-called temen SMA yang semalem pria itu ceritakan.

Dada Gea mendadak terasa sempit. Ini bukan pertama kali Gea melihat Jay berfoto dengan sangat dekat dengan perempuan itu. Setiap kali Jay izin untuk berkumpul dengan teman-teman SMA-nya, wanita itu selalu ada di sana, dan mereka selalu foto bersama.

Gea tahu mereka hanya teman SMA. Tapi, entah kenapa, ada rasa yang membuat dirinya tidak nyaman dengan kedekatan mereka yang begitu kasual. Cemburu? Mungkin saja. Terlebih dengan kenyataan pahit yang mendadak melintas di benak Gea. Selama mereka berpacaran, wajah Gea hampir tak pernah ada di feed Instagram Jay. Kalaupun Jay pernah mengunggahnya, hanya separuh wajah atau siluet. Jay juga sangat jarang membagikan momen kencan mereka di stories. Jay beralasan, dia tidak suka mengumbar hubunan mereka di media sosial. Tapi siang ini, Gea melihat bagaimana Jay dengan ringannya memajang foto bersama perempuan lain.

Jemari Gea bergerak aktif, mengetik di kolom komentar story Jay. Dia ingin melayangkan protes. Namun, belum selesai kalimat itu di tulis, Gea terdiam dan menghapusnya. Gea bingung harus mengatakan apa tanpa terdengar kalau dia bad mood.

Pantainya cantik banget

Akhirnya, kalimat itulah yang dikirimkan Gea. Kemudian, Gea memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menyesap sisa es kelapanya, berharap rasa dingin bisa meredakan rasa sesak dan tak nyaman dalam relung hatinya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!