"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15 Otewe Beli Rumah
Kedua tangan Vanessa sudah penuh dengan belasan kantong belanja bermerek papan atas dunia, mulai dari Dior, Chanel, hingga Hermes. Sepatu hak tingginya bahkan terasa mulai menyiksa tumitnya setelah berkeliling mall mewah itu selama hampir empat jam penuh.
Ia berhenti sejenak, mengambil napas panjang, lalu menoleh pada sahabatnya yang justru terlihat begitu segar dan penuh energi.
"Terus sekarang kita mau kemana lagi, Rana? Pulang, kan?" tanya Vanessa dengan nada memelas. Ia benar-benar mengira hari pembalasan dendam ini sudah selesai.
Namun, Kirana justru menoleh, membenarkan letak kacamata hitam mahalnya, dan tersenyum santai.
"Beli rumah."
"What?!"
Vanessa sampai berhenti melangkah di tengah pusat perbelanjaan. Beberapa pengunjung sampai menoleh ke arah mereka karena suara Vanessa yang terlalu keras.
"Kamu serius?!" mata Vanessa membelalak nyaris keluar.
"Sangat serius."
"Rana, astaga! Kamu tahu nggak sih kamu baru aja menghabiskan lebih dari satu setengah miliar dalam waktu empat jam? Baju, tas, perhiasan, jam tangan dan sekarang kamu mau beli rumah?!"
Kirana mengangguk dengan raut wajah setenang air danau. Seolah ia baru saja ditanya apakah ia ingin mampir membeli segelas es kopi.
"Iya, Van. Beli rumah."
Vanessa memegang dahinya yang mendadak pusing. "Rana, kamu benar-benar kerasukan setan belanja hari ini."
"Bukan kerasukan, Van."
Kirana melangkah perlahan ke arah pagar pembatas kaca di lantai dasar, menatap kosong ke arah air mancur buatan di bawah sana. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh gurat kepedihan yang selama ini selalu ia sembunyikan rapat-rapat.
"Aku baru sadar."
Vanessa menelan ludah, perlahan mendekati sahabatnya. "Sadar apa?"
Kirana memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Vanessa. "Selama tiga tahun aku menikah dengan mas Ardy, aku nggak pernah punya tempat yang benar-benar bisa kusebut rumah."
Vanessa terdiam. Mulutnya yang semula ingin mengomel seketika terkunci.
"Kamar megah yang kutempati setiap malam itu, itu milik mas Ardy. Rumah mewah yang kutinggali, itu milik keluarga Ardy," ucap Kirana pelan, namun setiap kata yang keluar terasa begitu tajam. "Bahkan udara dan napas yang kuhirup di sana, rasanya seolah aku harus meminta izin dulu pada mereka."
Suara Kirana mulai melemah, bergetar menahan luapan emosi yang bertahun-tahun mengendap.
"Aku capek, Van."
"Rana..." lirih Vanessa, hatinya ikut teriris.
"Aku selalu hidup dalam ketakutan. Aku nggak mau lagi terbangun suatu pagi, lalu tiba-tiba mereka mengusirku hanya karena mas Ardy lebih memilih perempuan itu dan aku untang-lantung bingung harus pergi kemana membawa diriku."
Kalimat itu terasa begitu menyakitkan. Vanessa menatap nanar wajah sahabatnya. Selama ini, dunia tahu Kirana adalah nyonya dari seorang pengusaha kaya raya. Namun kenyataannya, Kirana tidak pernah memiliki apa-apa. Seluruh hidupnya, identitasnya, dan poros dunianya hanya berputar di sekitar Ardy.
Kirana menarik napas dalam-dalam, mengusap setitik air yang hampir jatuh dari sudut matanya. Ia kembali menegakkan punggungnya.
"Aku harus bersiap."
"Bersiap untuk apa?"
Kirana menatap lurus ke depan. "Kalau nanti Mas Ardy benar-benar menceraikanku dan menikahi Siska, aku sudah punya tempat untuk pulang. Tempat yang murni milikku."
Vanessa langsung meletakkan beberapa kantong belanjaannya di lantai, lalu menggenggam kedua tangan sahabatnya erat-erat. Ia paham luka itu, tapi ada satu hal yang mengganjal pikirannya.
"Tapi Rana, kamu yakin mau pakai uang mas Ardy untuk beli properti atas namamu? Dia pasti akan mengamuk."
Kirana tersenyum miring. Bukan senyum sedih, melainkan senyum seorang wanita yang sudah kehilangan seluruh rasa takutnya.
"Selama ini aku mengorbankan tiga tahun masa mudaku untuk mengabdi padanya. Aku kehilangan kebebasanku. Aku kehilangan harga diriku di depan keluarganya. Dan aku kehilangan bayiku karena kelalaiannya."
Vanessa menahan napas. Tragedi keguguran itu adalah luka paling mematikan dalam hidup Kirana.
"Jadi, Van," lanjut Kirana dengan nada dingin yang menusuk, "kalau hari ini aku mengambil sedikit kenyamanan dari miliaran hartanya untuk menjamin sisa hidupku yang sudah ia hancurkan, kurasa itu masih harga yang terlalu murah untuk ia bayar."
Vanessa tidak bisa membantah. Bahkan jika ia mencoba, lidahnya terasa kelu. Ucapan Kirana memang mutlak benarnya. Selama tiga tahun, Kirana hidup seperti bayangan. Tak ada seorang pun di rumah mewah itu yang memikirkan kebahagiaannya. Sekarang, sudah waktunya Kirana memikirkan dirinya sendiri.
"Ayo," ajak Vanessa akhirnya, mengangguk mantap dengan mata berkaca-kaca. "Kita cari rumah paling bagus untukmu."
Sementara mereka berjalan menuju area pameran properti, ponsel Kirana kembali bergetar.
Kirana menghentikan langkah, mengambil ponselnya, dan hanya melirik layar itu sekilas. Tanpa beban, jarinya menekan tombol samping.
Suara dering seketika senyap.
Beberapa detik kemudian, ponsel itu bergetar lagi.
Vanessa melirik layar ponsel yang terus menyala terang itu. "Itu udah panggilan ke berapa, Rana?"
Kirana mengangkat bahu acuh tak acuh. "Entahlah. Aku berhenti menghitung setelah panggilan kesembilan. Mungkin sekarang yang kelima belas?"
"Kamu nggak kasihan lihat dia kalut begitu?" tanya Vanessa, setengah bercanda setengah serius.
"Kasihan, tentu saja." Kirana tersenyum sinis. "Makanya kubiarkan dia menunggu lebih lama biar jantungnya makin sehat karena berdebar kencang."
Tak sampai semenit, benda pipih canggih itu kembali bergetar. Lagi, lagi dan lagi. Notifikasi pesan masuk bersahut-sahutan seperti rentetan tembakan.
Vanessa sampai geleng-geleng kepala melihatnya.
"Rana, kalau dulu mas Ardy terlambat angkat telepon satu kali saja, kamu langsung panik sampai mau nangis, takut dia marah."
"Iya," jawab Kirana, menatap ponselnya dengan senyum hambar. "Dulu aku takut setengah mati dia marah. Aku takut jadi istri yang nggak sempurna."
"Sekarang?"
"Sekarang, aku berharap dia merasakan sedikit saja dari rasa cemas, bingung, dan panik yang dulu setiap malam kurasakan saat dia pergi bersama Siska."
Akhirnya, jemari lentik Kirana membuka panel notifikasi untuk melihat pesan-pesan yang terus memborbardir layarnya.
[Angkat, Kirana! Kamu dimana? Kenapa banyak sekali notifikasi kartu kredit yang masuk ke ponselku? Ingat, jangan buat ulah! Kamu mau menguras uangku? Aku tunggu balasanmu dalam lima menit! Kalau tidak, aku akan blokir kartunya]
Membaca ancaman terakhir itu, Kirana sama sekali tidak gentar. Ia tahu Ardy terlalu gengsi untuk memblokir kartu black cardnya sendiri, karena itu akan jadi pertanyaan besar di kalangan perbankannya.
Kirana tak mengetik balasan satu huruf pun. Ia membiarkan notifikasi centang biru menyala, lalu dengan santai memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Vanessa terkekeh pelan melihat ketenangan itu. "Rana, kamu kelihatan jahat banget sekarang."
"Bukan jahat, Van." Kirana menata rambutnya perlahan. "Aku hanya sedang belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar bahwa dunia nggak akan kiamat hanya karena aku nggak langsung menjawab telepon suamiku tersayang itu."
Kalimat spontan itu membuat Vanessa tertawa lepas di tengah mal.
"Rana, aku cinta perubahan barumu ini," ucap Vanessa.
Kirana ikut tersenyum lebar. "Aku juga."
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy