Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberuntungan masih berpihak pada Awan
Mama Andin keluar dari kamarnya memandang di sekeliling tempat. "Yah, Awannya mana?" tanya Mama Andin sudah siap dandan menor.
"Mama kamu mau kemana?" tanya Pak Alam dengan mendelikkan matanya, memperhatikan seluruh tubuh Mama Andin dari ujung rambut sampai ujung kuku.
"Ke pasar lah emang kenapa Yah?" Mama melirik sinis tidak suka di tanya dengan gaya kaget dan di pandangi Pak Alam.
"Itu dandanan menor amat dan baju kamu?..." Pak Alam heran.
"Hem, kenapa gak boleh? pakai baju beginian?" Mama Andin kesal di komentarin.
"Bukan gak boleh si Ma, cuma kan ....," Pak Alam berhenti berbicara karna ditimpali Mama Andin.
"Hah banyak bicara kamu! bilang aja cemburu Mama dandan cantik begini. Awan mana?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Awan, barusan pergi," ujar Pak Alam datar.
"Apa ...!" Mama Andin histeris.
"Astaga, Mama? suaramu seperti ledakan bom atom aja! bisa meledak kuping Ayah," gerutu Pak Alam sambil menutup kupingnya.
"Ayah gak bilang ke Awan ya? kalau Mama mau nebeng!" ujar Mama Andin memanas.
"Ada bilang tadi, cuma ...," Pak Alam berhenti berbicara.
"Cuma apa?" timpal Mama Andin melototi Pak Alam.
"Awannya marah sama Mama, karna sudah bilang ketetangga kalau mobil yang di pakainya itu pemberian Pak Agung."
"Ayah ....! kenapa bilang gitu sama Awan sih!" ucap Mama Andin dengan suara nyaring.
"Mama kok teriak sih! minta di sodok tu moncong!" Pak Alam ikutan memanas.
Mama Andin jadi kesal ia memukuli Pak Alam.
"Gak jadi deh jalan pake mobil mewah gak jadi juga pamernya...!" lirih Mama Andin mewek ia pergi ke kamar melepas semua pakaiannya dan menggantinya dengan yang biasa di pakai ke pasar, ia juga menghapus dandanannya.
"Dasar lelaki egois! gak bisa lihat kita senang aja, kenapa juga pake bilang ke Awan segala," cibirnya kesal.
"Nasib banget sih! gagal naik mobil mewah," ucapnya cemberut sambil mengambil sepeda lamanya warisan Kakek Awan. Mama Andin pergi ke pasar dengan mengayuh sepeda lamanya dengan cemberut.
Pak Awan tertawa melihat Mama Andin yang berwajah cemberut sambil mewek padanya.
"Dasar Mak-Mak kurang kerjaan," ujar Pak Alam cikikikan.
"Ada-ada sih Mama. Hah, sudah siang juga nih harus siap-siap kerja," ucap Pak Alam bergegas pergi kedalam berganti baju dengan pakaian yang biasa di pakainya narik angkot.
"Saat nya memulai aktivitas mudah-mudahan aja ada rejeki hari ini, banyak penumpang. Amin," ucap Pak Alam menuju angkotnya dan siap meluncur di terminal untuk mengais rezeki. Pak Alam jalan pelan saat keluar gang rumahnya dan melaju saat di jalan raya.
Di tempat lain Awan dan Senja sudah tiba di kampus Senja. Kampus Senja agak jauh dari kampus Awan.
Setelah mengantar Senja Awan pun melanjutkan perjalanan menuju kampusnya. Tapi, sebelum Awan jalan, tiba-tiba saja Senja memegang tangan Awan. Darah Awan seketika mengalir dan detak jantungnya berdetak kencang tidak beraturan.
Kira-kira Senja mau ngapain ya? tanya Awan membatin jujur ia berharap kalau Senja akan menciumnya karna ia melihat Senja semakin mendekatinya dan menatapnya dalam.
"Awan, nanti sehabis pulang kuliah temani aku ke toko buku mau? pliss ...," ucap Senja tiba-tiba.
Hah, jadi itu perlu ya? Awan tersentak dan mengusir pikirannya yang tegang.
"Oh mau ke toko buku? boleh deh," sahut Awan gugup.
"Makasih banyak ya Mas," ujar Senja semangat.
"Pakai apa?" Awan bingung.
"Biar teman aku yang jemput. Kita pergi nya pakai mobil aku bolehkan?" tanya Senja menatap Awan.
"Hem, sebenarnya boleh tapi ...?" Awan berpikir sejenak ia benar-benar malu.
"Tapi apa? kamu sibuk ya?" Senja memasang wajah lemah.
"Bukan, bukan gitu," sahut Awan tidak enak.
"Terus?"
"Bagiamana dengan orang tuamu kalau aku di sana pakai mobilmu otomatis mereka akan bertanya aku harus jawab apa?" tanya Awan meminta pendapat Senja.
"Hem ..., kirain ada apa. Tinggal bilang aja mobil lagi di servis gampang kan?"
"Em aku malu Sayang, bilang gitu nanti malah mereka curiga lagi kemarin kan mobilnya baik-baik saja."
"Ya ampun Mas Awan, baper banget sih? Papa gak akan banyak pertanyaan kok. Kamu tenang aja semuanya beres kamu tinggal menunggu teman aku aja di rumah mu, Setelah itu ia akan mengantar kita. di rumahku dan kita pergi sama-sama. Oke? Papa gak akan ijinkan aku keluar kalau gak sama orang yang tepat Mas," jelas Senja melirih.
"Oh gitu? kasian banget sih jadi kamu!" Awan terseyum meledek.
"Yah gitu deh. Papa orang nya overprotektif aku harap kamu tidak seperti itu nantinya hidup aku bagaikan burung yang di dalam sangkar tau!" ucap Senja sedih.
"Hem, yang sabar ya Sayang, bentar lagi aku akan membebaskan kamu dari sangkar emas yang membelenggu selama ini," ujar Awan sambil tersenyum meledek.
"Ah, Mas Awan malah meledek," gerutu Senja memasang muka kesal.
Awan terpukau melihat raut Senja yang begitu imut dan menggemaskan seakan ia ingin mencium bibir mungil yang dimiliki Senja. Hasratnya itu kembali terlintas tapi buru-buru ia mengusirnya mengingat saat itu sudah siang. Ia tidak mau kuliahnya berantakan gara-gara perasaan konyolnya itu. Awan pun melanjutkan perjalanannya menuju kampus.
Saat di kampus Awan langsung memarkir mobil Niko ke tempat biasa Niko parkir ia menelpon Niko kalau mobilnya sudah ada di parkiran, sudah di perbaiki. Niko menjawab telpon dari Awan ia mengatakan kalau dirinya belum masuk hari itu. Dengan senangnya Awan mengepalkan tangannya karena hari itu iya masih berkesempatan untuk mengantar Senja ke toko buku. Niko menyuruh Awan untuk merawat mobilnya seperti mobil sendiri karna Niko sedang pergi keluar negeri selama beberapa hari.
Akhirnya aku bisa menikmati hari-hari bersama Senja dengan adanya mobil Niko itu menjadi kesempatan bagiku untuk jalan berdua Senja, Awan terseyum penuh kebahagiaan.
Sepulang kuliah Awan menelpon Senja kembali ia janji akan menjemput Senja di kampusnya dan mereka pun pulang sama-sama. Senja tersenyum bahagia melihat Awan datang menjemputnya.
"Mas Awan masih memakai mobil ini?" tanya Senja.
"Iya Sayang, karna Niko lagi ke luar negeri jadi aku di suruh pakai mobil ini sampai dia balik nanti."
"Wah, enak dong kamu di pinjamkan mobil. Teman kamu baik banget yah," puji Senja.
"Iya Sayang, Niko emang baik orang nya ia adalah anak tunggal di keluarganya. Papa dan Mamanya juga baik banget mereka orang kaya dan terkenal kedermawanan nya suka menolong dan membantu orang-orang yang perlu bantuannya," jelas Awan bercerita sedikit tentang Niko.
"Oh gitu ya, bagus dong, aku bangga melihat ada orang kaya seperti itu jadi mereka tidak serakah dengan harta dan selalu berbagi," sambung Senja.
"Iya itu benar, aku juga salut pada orang yang seperti itu. Tapi di bumi sudah jarang banget orang seperti itu kebanyakan orang kaya suka memperkaya dirinya sendiri tidak peduli pada sesama," ujar Awan.
"Kalau kamu jadi orang kaya, kamu jangan seperti itu ya Mas, Senja gak suka orang seperti itu."
"Yah gak lah Sayang, Pacar kamu ini kan orang baik calon penghuni surga gitu lho....," ucap Awan sambil tersenyum.
"Amin," Senja mengaminkan ucapan Awan ia bahagia punya pacar seperti Awan. Semoga Awan selamanya jadi orang baik, batin Senja berdoa.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir