NovelToon NovelToon
Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Harem
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.

DING!

"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Munculnya Sistem

Mendapatkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan di Universitas Teknologi Nusantara menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup Faris. Gajinya memang tidak besar. Bahkan jika dibandingkan dengan pekerjaan serabutannya yang lain, penghasilannya tidak jauh berbeda. Namun bagi Faris, uang bukan alasan utama dia menerima pekerjaan itu.

Yang membuatnya bahagia adalah kesempatan. Kesempatan untuk berada di dalam kampus impiannya. Kesempatan untuk melihat dunia yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari balik gerbang, dan kesempatan untuk belajar.

Hari pertamanya dimulai sebelum matahari terbit. Dengan mengenakan seragam petugas kebersihan berwarna biru tua, Faris menyapu halaman kampus yang masih sepi. Udara pagi terasa segar. Gedung-gedung tinggi yang menjulang di sekelilingnya membuat dadanya berdebar.

Ia benar-benar berada di sini. Di kampus yang selama ini hanya hadir dalam mimpi-mimpinya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Faris mulai mengenali setiap sudut universitas. Dia mengetahui lokasi perpustakaan, laboratorium, ruang dosen, kantin, hingga gedung fakultas teknik yang paling sering ia kunjungi diam-diam.

Pada awalnya Faris hanya berdiri di dekat jendela kelas sambil mendengarkan dosen mengajar. Kemudian keberaniannya mulai tumbuh. Ketika melihat beberapa kursi kosong di bagian belakang ruang kuliah, ia memberanikan diri masuk secara diam-diam.

Tak ada yang memperhatikannya. Mahasiswa terlalu sibuk mencatat materi. Dosen terlalu fokus menjelaskan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Faris duduk di dalam ruang kuliah universitas. Meski bukan mahasiswa resmi. Meski hanya penyusup. Namun saat mendengar dosen menjelaskan konsep struktur bangunan dan perhitungan beban, matanya langsung berbinar. Ia mencatat setiap kata. Menghafal setiap rumus. Menyerap setiap penjelasan seperti spons yang menyerap air.

Hari demi hari berlalu. Rutinitas Faris menjadi sederhana. Pagi membersihkan kampus. Siang mengikuti kuliah secara diam-diam.

Sore bekerja tambahan demi biaya hidup dan obat ibunya. Malam belajar hingga larut. Hidupnya memang melelahkan. Namun dia merasa bahagia.

Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu siang, setelah sebuah kelas Teknik Sipil berakhir, Faris sedang membereskan catatannya ketika tiga mahasiswa menghampirinya.

Mereka berpakaian rapi dan terlihat berasal dari keluarga berada. Orang pertama bertubuh tinggi dengan rambut klimis, namanya Yudi. Orang kedua bertubuh besar dan memiliki tatapan meremehkan, namanya Arman. Sedangkan yang terakhir memiliki senyum tipis yang membuatnya terlihat licik, namanya Zaki.

"Kamu bukan mahasiswa sini, kan?" tanya Yudi sambil menyeringai.

Jantung Faris langsung berdebar. "A-aku..."

"Tak perlu bohong!"

Arman merebut catatan dari tangan Faris. "Masa petugas kebersihan ikut mencatat materi kuliah?"

Zaki tertawa pelan. "Wah, ternyata ada penyusup."

Wajah Faris memucat. Selama ini dia selalu berhati-hati. Namun ternyata tetap saja ketahuan.

"Tolong jangan laporkan aku," mohon Faris.

Ketiga mahasiswa itu saling berpandangan. Kemudian mereka tertawa. Bukan tawa ramah. Melainkan tawa seseorang yang baru menemukan mainan baru.

"Tenang," kata Yudi. "Kami tidak akan melapor."

Faris menghela napas lega. Namun kalimat berikutnya langsung menghancurkan ketenangannya.

"Asal kamu melakukan apa yang kami suruh."

Senyuman di wajah Yudi membuat bulu kuduk Faris berdiri. Sejak hari itu hidupnya berubah. Menjadi jauh lebih buruk.

Awalnya permintaan mereka terlihat sederhana. Membawakan tas, membelikan makanan, mengambil tugas yang tertinggal. Namun lama-kelamaan semuanya berubah menjadi perbudakan.

Faris diperlakukan seperti pelayan pribadi. Jika Yudi ingin kopi, Faris harus membelikannya. Jika Arman malas mengambil buku, Faris yang harus melakukannya. Jika Zaki ingin membersihkan mobilnya, Faris yang harus bekerja. Bahkan beberapa kali mereka menyuruh Faris melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak masuk akal.

Suatu hari Arman dengan sengaja menjatuhkan minuman ke lantai.

"Lantai kotor."

"Lalu?" tanya Faris.

Arman tersenyum sinis. "Bersihkan dengan tanganmu!"

Mahasiswa lain yang melihat kejadian itu tertawa. Faris mengepalkan tangan. Harga dirinya terasa diinjak-injak. Namun dia tidak berani melawan. Karena ancaman mereka selalu sama.

"Kalau tidak mau, kami laporkan ke pihak kampus."

Kalimat itu menjadi rantai yang mengikatnya. Jika pihak kampus mengetahui bahwa dia mengikuti kuliah secara ilegal, bukan hanya pekerjaannya yang hilang. Impian yang selama ini dia perjuangkan juga akan hancur.

Karena itulah Faris memilih diam. Memilih menahan amarah. Memilih bertahan.

Hari demi hari penderitaan itu terus berlanjut. Bahkan saat tubuhnya semakin lelah. Bahkan saat harga dirinya dihancurkan sedikit demi sedikit.

Suatu malam, Faris pulang lebih larut dari biasanya. Ketika membuka pintu rumah, dia melihat ibunya sedang duduk sambil memegangi dada.

"Ibu!"

Faris segera menghampiri.

Siti tersenyum lemah. "Aku tidak apa-apa."

"Kita harus ke rumah sakit."

"Tidak."

"Ibu sakit."

"Kita tidak punya uang."

Kalimat itu membuat Faris membeku. Ia tahu ibunya benar. Tabungan mereka hampir habis. Penghasilannya tidak cukup. Bahkan untuk membeli obat bulan depan saja dia belum tahu caranya.

Malam itu Faris duduk di samping ranjang ibunya hingga larut. Saat melihat wajah wanita yang telah berjuang membesarkannya seorang diri itu, dia semakin yakin bahwa dirinya harus berhasil.

Apa pun yang terjadi. Faris harus menjadi insinyur. Ia harus mengubah hidup mereka. Namun takdir tampaknya belum selesai mempermainkannya.

Seminggu kemudian, ketika Faris sedang mengikuti kuliah secara diam-diam di salah satu kelas teknik, suasana mendadak berubah.

Pintu ruang kuliah terbuka. Beberapa polisi masuk bersama petugas kampus. Ruangan langsung menjadi gaduh.

"Ada apa?"

"Kenapa polisi datang?"

Mahasiswa mulai berbisik satu sama lain.

Seorang polisi melangkah ke depan kelas. "Kami mendapat informasi mengenai peredaran obat-obatan terlarang di lingkungan kampus. Kami akan melakukan pemeriksaan."

Suasana seketika menjadi tegang. Faris ikut gugup meski tidak melakukan kesalahan apa pun. Polisi mulai memeriksa tas mahasiswa satu per satu.

Di sisi lain ruangan, Yudi, Arman, dan Zaki saling bertukar pandang. Tatapan mereka membuat Faris merasa tidak nyaman. Akan tetapi dia tidak sempat memikirkan lebih jauh.

Pemeriksaan terus berlangsung. Hingga akhirnya seorang polisi berhenti di depan Faris.

"Tasmu!"

Faris menyerahkan tasnya. Polisi membukanya. Beberapa detik kemudian wajah polisi itu berubah. Tangannya mengangkat sebuah plastik kecil berisi beberapa butir pil dan serbuk mencurigakan.

Ruangan langsung hening. Mata semua orang membelalak. Faris sendiri membeku.

"Apa itu?" gumamnya.

Polisi menatap tajam. "Ini milikmu?"

"Tidak!"

"Tas ini milikmu?"

"Iya, tapi..."

Kalimat Faris terhenti. Karena dia benar-benar tidak tahu bagaimana benda itu bisa berada di dalam tasnya.

Polisi lain segera mendekat. Setelah memeriksa isi plastik tersebut, wajah mereka menjadi serius.

"Obat-obatan terlarang."

Dunia Faris seolah berhenti berputar. "Tidak mungkin. Itu bukan milikku!"

Polisi tidak langsung mempercayainya. Mereka mulai bertanya kepada mahasiswa lain. Saat itulah semuanya menjadi semakin buruk.

Yudi mengangkat tangan. "Saya pernah melihat dia berperilaku mencurigakan."

Faris menoleh tak percaya.

Arman ikut berbicara. "Saya juga."

"Dia sering membawa tas itu ke mana-mana."

Zaki mengangguk. "Kami curiga sejak lama."

Mata Faris membelalak. Mereka berbohong. Mereka sedang menjebaknya. Namun tidak ada bukti.

Tidak ada saksi yang akan membelanya. Bahkan sebagian mahasiswa mulai memandangnya dengan jijik.

"Jadi dia pengedar?"

"Pantas saja bukan mahasiswa."

"Seram juga."

Suara-suara itu menusuk hati Faris seperti pisau. "Aku tidak bersalah!" teriaknya.

Namun tidak ada yang mendengarkan. Polisi segera memborgol tangannya.

Saat logam dingin itu mengunci pergelangan tangannya, Faris merasa seluruh hidupnya runtuh dalam sekejap. Impian, harapan dan masa depannya. Semuanya seperti hancur berkeping-keping.

Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk. Faris ditahan. Meski terus menyatakan dirinya tidak bersalah, bukti yang ditemukan terlalu kuat. Lebih buruk lagi, tidak ada siapa pun yang mampu membelanya. Ia hanyalah pemuda miskin. Bukan anak pejabat. Bukan anak pengusaha. Tidak memiliki pengacara. Tidak memiliki koneksi. Yang paling menyakitkan adalah ketika dia memikirkan ibunya.

Bagaimana keadaan ibunya sekarang? Apakah sudah makan? Apakah penyakitnya kambuh? Apakah ada yang menjaganya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya. Malam demi malam. Tanpa jawaban.

Suatu malam, Faris duduk sendirian di sudut sel. Tatapannya kosong. Tubuhnya terasa lelah. Hatinya lebih lelah lagi.

Faris merasa benar-benar kalah. Ia sudah berusaha keras. Namun hasilnya tetap sama. Kemiskinan, ketidakadilan, dan pengkhianatan. Mungkin memang tidak ada tempat bagi orang seperti dirinya di dunia ini. Mungkin mimpinya sejak awal terlalu bodoh. Mungkin dia memang ditakdirkan gagal.

Faris menundukkan kepala. Air mata jatuh tanpa mampu dia tahan.

"Ayah... Ibu... Maafkan aku."

Suara itu keluar begitu pelan. Hampir tidak terdengar. Saat itulah sesuatu yang aneh terjadi. Sebuah suara mekanis tiba-tiba bergema di dalam kepalanya.

DING!

Faris langsung mengangkat kepala. Matanya membelalak. Ia melihat cahaya biru muncul di hadapannya. Cahaya itu membentuk layar transparan yang melayang di udara.

"Apa..."

Jantungnya berdetak kencang..Ia mengira dirinya sedang berhalusinasi. Namun suara itu kembali terdengar.

DING!

[Selamat datang di Sistem Profesi Terhebat!]

Faris membeku. Tulisan demi tulisan mulai muncul di hadapannya.

[Sistem mendeteksi bahwa pengguna memiliki tekad luar biasa untuk menjadi seorang insinyur.]

[Evaluasi selesai.]

[Kecocokan pengguna: 100%]

[Selamat!]

[Anda terpilih sebagai pewaris Sistem Profesi Terhebat.]

Napas Faris tercekat. Pikirannya kosong. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun layar itu terus menampilkan tulisan baru.

[Sistem mendeteksi bahwa Anda memiliki mimpi besar menjadi insinyur dan akan membantu mewujudkannya!]

[Profesi Pertama Dibuka: INSINYUR.]

[Misi Pemula Aktif.]

[Bersihkan nama Anda dan ungkap dalang yang menjebak Anda.]

[Hadiah: Paket Pengetahuan Insinyur Dasar, 100 Poin Sistem, dan Mata Analisis Tingkat 1.]

Mata Faris membelalak semakin lebar. Dia beberapa kali mengucek matanya. Takut semuanya hanya halusinasi.

1
Ita Xiaomi
Faris kerja yg giat dan bahagiakan ibumu jg.
Ambu Rinddiany Thea
awas noh gengsi jadi cintrong
Rommy Wasini Khumaidi
bagus ceritanya,makasih sudah membuat cerita yang bagus
Desau: makasih kak😍🤭
total 1 replies
Rommy Wasini Khumaidi
gengsi digedein si Vanesa
Ambu Rinddiany Thea
gantuuung lagi kaya jemuran kan kan😔
Ambu Rinddiany Thea
tenang ris rata2 emamg semua cewe gt ga mau kalah bentar lagi juga mesem mesem sendiri 🤭😁
Rommy Wasini Khumaidi
yah belum dapat point ya Ris,sabar bentar lagi vanesa bakal mengakui kekalahanya
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣 mulai resah
Ita Xiaomi
👍👍👍. Di daerah ortuku pernah mengalami jembatannya ambruk dan banyak nyawa yg melayang. Anak-anak yg kehilangan nyawa 😢
Ita Xiaomi
Mau lihat reaksi arsitek utama saat ktm ama Faris.
Rommy Wasini Khumaidi
sudah pasti Faris akan menemukan solusi
Ambu Rinddiany Thea
lah malah nyalahin orang dasar otak dengkul , cerita anak kuliahan tp sableng .. wkwkwkwkw
Rommy Wasini Khumaidi
yeyy Faris jadi kaya👏👏
Apriwan 99
up yg banyak ,ok sampai jumpa bulan depan
Ita Xiaomi
Baru belajar sistemnya😁
Ita Xiaomi
Alhamdulillah bs kumpul lg ama ibunya.Klo dah sukses nanti berbagi rejeki jg dgn Bu Nuri, Pak Adi dan Pak Bandi.
Ita Xiaomi
Nanti bantu pak Adi di galerinya dan bantu Pak Bandi jg di proyeknya😁.
Rommy Wasini Khumaidi
selamat ya Ris,atas kebebasanmu dan pencapaian poin sistemnya
Ambu Rinddiany Thea
Alhamdulillah akhirnya setelah sekian purnama bebas juga kamu faris , borong semua faris gunakan semua hadia dari sistem buat masa depan kamu .. 🥰
Rommy Wasini Khumaidi
Semoga cepat keluar ya Ris
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!