"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 33
Burung-burung berkicau riang menyambut pagi. Hamparan sawah hijau yang mulai menguning membentang luas, bergoyang pelan ditiup angin. Di kejauhan, nampak gunung berdiri megah seolah menjadi penjaga desa yang tak pernah lelah. Mata air yang jernih terus mengalir melewati pematang sawah, menghidupi setiap jengkal tanah dan menjadi denyut kehidupan bagi seluruh warga.
Desa kecil itu begitu damai. Keramahan dan gotong royong telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sanalah Layla dilahirkan, dibesarkan, dan belajar tentang arti keluarga sebelum takdir membawanya jauh dari rumah.
Di sebuah warung sederhana di tepi jalan desa, Sulastri duduk termenung di balik etalase kayu.
Tatapannya kosong menembus jalanan yang lengang.
Sesekali ia melirik ponsel di atas meja, berharap ada kabar dari putri sulungnya.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Layla... bagaimana kabarmu di sana, Nak?" bisiknya lirih.
Rasa rindunya kembali membawanya pada kenangan beberapa bulan silam.
Hari ketika seorang pria asing datang mengubah kehidupan keluarganya untuk selamanya.
...----------------...
Di ruang rawat rumah sakit yang sederhana, Solah terbaring lemah.
Selang oksigen menutupi hidungnya, sementara dua botol infus menggantung di sisi ranjang.
Wajahnya pucat, tubuhnya semakin kurus setelah memaksakan diri bekerja demi keluarga.
Tabungan yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun perlahan habis untuk biaya pengobatan.
Setiap hari yang berlalu terasa seperti perlombaan melawan waktu.
"Bu... maafkan aku..." suara Solah terdengar lirih.
"Aku... malah jadi beban buat kalian."
Air mata Sulastri hampir jatuh. Namun ia segera mengusapnya sebelum sempat terlihat oleh sang suami.
"Bapak jangan bicara begitu."
Ia menggenggam tangan Solah dengan kedua tangannya.
"Dulu bapak yang bekerja siang malam demi kami. Sekarang biarkan kami yang berjuang untuk bapak. Tidak ada seorang pun di keluarga ini yang pernah menganggap bapak sebagai beban."
Senyumnya tampak rapuh.
"Jangan menyerah ya, Pak."
Di balik pintu, seseorang berdiri diam sejak tadi.
Zhao Lee.
Pria itu mendengarkan seluruh percakapan tanpa menyela. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Beberapa pengunjung rumah sakit diam-diam meliriknya. Penampilannya yang rapi dan karismatik membuat banyak orang bertanya-tanya siapa sebenarnya pria muda itu.
Tok...
Tok...
Zhao Lee mengetuk pintu pelan sebelum masuk ke dalam.
Sulastri buru-buru berdiri.
"Silakan, Dok..."
Zhao Lee menggeleng tipis.
"Maaf. Saya bukan dokter."
Ia membungkukkan badan dengan sopan.
"Perkenalkan, nama saya Zhao Lee."
Sulastri dan Solah saling berpandangan.
"Ada keperluan apa, Nak?" tanya
Sulastri hati-hati.
Tatapan Zhao Lee beralih kepada keduanya.
"Saya datang membawa sebuah kesepakatan."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
"Saya akan menanggung seluruh biaya pengobatan Pak Solah, kebutuhan keluarga, serta pendidikan cucu-cucu Bapak dan Ibu."
Ia meletakkan sebuah map di atas meja.
"Sebagai gantinya... saya akan menikahi Layla secara sah menurut hukum dan agama."
Sulastri membeku.
"Jika Bapak dan Ibu setuju, saya membutuhkan tanda tangan wali."
Suasana menjadi hening.
Tak ada ancaman.
Tak ada paksaan.
Namun keadaan mereka saat itu membuat pilihan lain nyaris tidak ada.
Setelah beberapa menit yang terasa begitu panjang, tangan Sulastri perlahan meraih pulpen.
Air matanya menetes ketika tinta itu menyentuh kertas.
Zhao Lee memandang keduanya dengan tenang.
"Saya berjanji akan menjaga Layla sebaik mungkin."
Sulastri menatap pemuda itu.
"Bagaimana dengan Alif dan Lisa?"
"Mereka akan tetap mendapat pendidikan terbaik. Saya akan mempersiapkan masa depan mereka sedikit demi sedikit sebelum membawa mereka masuk ke dunia saya."
"Berarti... mereka tetap tinggal bersama kami?"
"Untuk sementara, iya."
Zhao Lee mengangguk.
"Dan pernikahan ini harus tetap menjadi rahasia."
"Bu.."
Pelukan kecil dari belakang membuyarkan lamunan Sulastri.
Lyly menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Ibu lagi mikirin Kak Layla ya?"
Sulastri hanya mengangguk pelan.
"Tadi Kak Layla video call sama Alif sama Lisa. Kata mereka Kak Layla lagi sakit."
Air mata Sulastri kembali jatuh.
"Kasihan sekali kakakmu..."
Suaranya bergetar.
"Semua ini salah Ibu dan Bapak. Kami gagal menjaga kalian..."
Lyly segera memeluk ibunya lebih erat.
"Jangan bilang begitu, Bu."
"Semua orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing."
Ia tersenyum kecil.
"Kak Layla hebat."
"Sejak kerja di Singapura, ekonomi keluarga kita jauh lebih baik."
"Aku juga ingin sukses seperti Kak Layla."
Kalimat sederhana itu justru membuat tangis Sulastri semakin pecah.
Tak ada seorang pun di rumah itu yang mengetahui harga mahal yang harus dibayar Layla demi membuat keluarganya tetap bertahan.
Di kamar lain, Alif duduk tekun di depan meja belajarnya.
Buku-buku olimpiade memenuhi meja kecil di hadapannya.
Sesekali ia teringat pada sosok yang selalu memberinya semangat.
Pak Lee.
Pria itu pernah berkata,
"Kesuksesan bukan dibangun dalam semalam. Ia lahir dari disiplin, keberanian mengambil keputusan, dan kerja keras yang dilakukan setiap hari."
Kalimat itu selalu terngiang di kepala Alif setiap kali rasa lelah mulai datang.
Ia tersenyum tipis.
Dalam benaknya, Pak Lee adalah sosok dermawan yang mengubah hidup keluarganya tanpa pernah meminta balasan.
Alif sama sekali tidak menyadari bahwa di balik semua kebaikan itu, tersembunyi sebuah alasan yang jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan.
...****************...
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️
bener² keinginan author yang dicurahkan ke tulisan loh gaa🤭🤭