Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
Azura berlari secepat kilat melintasi ruangan yang berbau lembap dan pengap itu, sepatu botnya beradu keras dengan lantai batu dingin. Ia berlutut tepat di samping kasur tipis yang kotor itu, dan tanpa ragu sedikit pun, ia merengkuh tubuh kecil yang kurus kering itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat.
Namun, alih-alih membalas pelukan itu dengan gembira, tubuh kecil itu justru meronta lemah dan menolak. Orion mendorong dada Azura dengan tangan kecilnya yang gemetar, tulangnya bahkan terasa di tangan Azura. Ia memalingkan wajah dengan ketakutan, matanya terpejam rapat seolah takut melihat wajah asing yang ia kira akan menyakitinya lagi.
"Pergi! pergi ... jangan sentuh Orion... jahat... kalian semua jahat! Orion cuma mau mama!" gumam bocah itu dengan suara parau dan lirih, bibirnya bergetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh dahinya yang panas.
Di dalam benak kecilnya yang sudah terluka, ia berpikir wanita yang memeluknya ini hanyalah pelayan lain yang dikirim Evelin untuk mengganggunya, atau wanita jahat lain yang akan memukulnya, membiarkannya kelaparan, atau membiarkannya sendirian dalam kegelapan ini. Ia sudah terlalu sering berharap dan terlalu sering dikecewakan. Ia takut berharap lagi.
Hati Azura terasa terkoyak-koyak mendengar penolakan itu. Rasa sakit di dadanya jauh lebih perih daripada ratusan luka fisik yang pernah ia terima seumur hidupnya. Ia ingin berteriak, ingin menghancurkan segalanya di sekitarnya karena telah membuat anaknya menjadi setakut ini, menjadi anak yang kehilangan rasa percaya pada kebaikan orang lain.
"Orion... Sayang... ini mama nak. Ini mama..." bisik Azura dengan suara gemetar berusaha menahan isak tangisnya, tangannya yang bergetar menyentuh pipi anak itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, berusaha meyakinkannya bahwa ia bukan bahaya.
"Bohong... Mama gak ada... Kakek jahat itu pisahin mama dari Orion, mamaa ..." tangis anak itu mulai terdengar, namun masih memalingkan wajah.
Roel yang melihat itu cepat-cepat menyalakan lampu. Begitu ruangan tersebut terang, Orion perlahan membuka matanya yang kabur karena air mata dan demam. Ia menatap wajah wanita di hadapannya, menatap mata itu, menatap hidung itu, dan menatap senyum yang penuh air mata namun begitu akrab dan begitu ia rindukan.
Detik berikutnya, mata besar anak itu melebar, lalu seketika basah sepenuhnya. Keraguan dan ketakutan yang ada di sana lenyap seketika, berganti dengan kesadaran yang meledak-ledak.
"Mamaa...!! MAMAAA...!!"
Orion menjerit sejadi-jadinya, sekuat sisa tenaga yang ada di tubuhnya yang lemah itu. Ia langsung melompat masuk ke dalam pelukan ibunya, memeluk leher Azura seerat-eratnya, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu sambil menangis sejadi-jadinya. Suara tangisannya memecah keheningan ruangan, penuh dengan rasa rindu yang menumpuk, rasa sakit, dan rasa lega yang luar biasa.
"Mamaa... Orion udah gak kuat nunggu mama... Orion pikir mama gak akan pernah datang lagi... Hiks... Orion sakit... Orion haus... Orion takut gelap..." isak anak itu tak berhenti-berhenti, tangannya yang kurus mencengkeram pakaian Azura.
Azura membalas pelukan itu dengan begitu erat, mencium kening dan rambut anaknya yang berbau tidak sedap karena lama tidak dibersihkan. Air matanya jatuh membasahi bahu kecil Orion, hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengar setiap kata yang keluar dari mulut mungil itu. Rasa bersalah memenuhi pikirannya. Ia ibu yang buruk. Ia membiarkan anaknya menderita sendirian di tempat neraka ini terlalu lama.
"Maafkan mama, sayang... Maaf karena mama datangn terlambat ... bikin Orion nunggu lama," Azura menangis tersedu-sedu, suaranya bergetar tak mampu lagi ia kendalikan.
"Mama di sini sekarang. Mama gak akan pergi lagi. Mama janji. Gak ada yang boleh nyakitin kamu lagi. Gak ada yang boleh bikin kamu takut lagi."
"Mereka jahat ... Hiks ... Kak Roel juga gak diijinin masuk nemuin Orion lagi ... Orion gak ada temen..." rintih Orion, menceritakan segalanya sambil tergagap-gagap di antara isak tangisnya.
Di belakang mereka, Roel berdiri dengan kepala tertunduk, kedua tangannya mengepal kuat, urat-urat di lengannya menonjol jelas. Rahangnya mengeras menahan rasa marah yang hingga hampir meledak. Bagi Roel, Orion bukan sekadar pangeran muda atau anak majikannya, bocah itu sudah seperti adik kandungnya sendiri, sosok kecil yang selalu ceria dan manja padanya.
Namun di tempat ini, kekuasaannya begitu terbatas. Dia hanyalah anak bawahan, anak pengawal, orang yang tidak dianggap. Apalagi pengawal putri Azura yang tak di anggap semua orang di Istana ini. Ketika Raja memberikan hak asuh dan penjagaan Orion sepenuhnya ke tangan selir Evelin, Roel tak bisa berbuat banyak selain mengintai diam-diam dan berusaha mengirimkan kabar, karena jika ia melawan, nyawanya akan hilang begitu saja dan tak ada lagi yang bisa memantau keselamatan bocah ini.
Maaf pangeran ... Maaf karena tak bisa melindungi pangeran dengan baik...
Batin Roel bergumam penuh kepedihan, matanya memerah menahan amarah yang membara di dadanya. Ia berjanji dalam hati, setiap tetes air mata yang jatuh dari mata Orion hari ini akan ia tuntut kembali seribu kali lipat dari mereka yang bertanggung jawab.
Azura perlahan mengusap punggung anaknya, berusaha menenangkan tangisannya yang mulai mereda menjadi sesenggukan panjang. Ia merasakan betapa panasnya tubuh kecil itu, demam yang cukup tinggi menyerang anaknya yang sudah lemah karena kurang makan dan minum.
"Sudah, sayang... Sudah jangan menangis lagi. Mama sudah bawa obat, Mama sudah bawa air, dan makanan enak buat kamu," ucap Azura lembut, mengusap sisa air mata di pipi Orion yang kotor dan kurus itu. Ia menatap mata anaknya lekat-lekat dengan tekad baja yang kembali tumbuh di hatinya.
"Sekarang, mama akan bawa kamu pergi dari kamar gelap dan kotor ini. Kamu akan tinggal dengan kak Roel beberapa hari ini, sampai mama menyelesaikan urusan mama di sini dan kita pergi jauh-jauh dari sini. Kamu setuju kan?"
Orion mengangguk lemah, masih memeluk leher ibunya erat-erat. Pada saat Azura hendak keluar menggenggam erat tangan sang putra, selir Evelin muncul dengan tampang garangnya.
"Kau mau bawa anak itu ke mana putri? Kau baru saja menikah dengan pangeran Xavier. Anak itu sudah tanggung jawabku untuk menjaganya. Serahkan dia padaku." kata wanita itu iblis itu.
Azura segera menyembunyikan Orion di belakangnya, dan Roel siapa siaga.
"Anakku, aku yang akan mengurusnya."
Evelin tersenyum sinis.
"Kau berani melawan raja? Pengawal!"
Lalu dua orang pengawal maju hendak merampas Orion, namun dengan cepat Roel melindungi, melawan kedua pengawal selir itu. Orion memeluk ibunya dari belakang, ketakutan sekali.
kan ga ada yg bisa kendalikan Xavier di kerjaan Utara skalipun...
ayooo xavier bantu Azura&Orion😭
Seorang ibu tdk akan rela,anak disakiti dan telantarkan,sungguh biadab mereka.
ga semua duduk manis
azura akan berusaha bawa orion pergi kasian anaknya sangat menderita, hati seorang ibu hancur melihat anaknya disiksa...putri azura akan berjuang membebaskan anaknya dan membawa pergi, minta bantuan pangeran xavier zura sebaiknya jujur, pangeran xavier hatinya sangat baik pasti akan membantu menolong anakmu...