Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Enam
Malam mulai menyelimuti kota. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, sementara angin berembus pelan membawa udara yang lebih sejuk setelah teriknya siang.
Di sebuah rumah bergaya modern, ruang keluarga tampak hangat dengan cahaya lampu berwarna kekuningan. Aroma teh melati memenuhi ruangan.
Di sofa panjang, Zoya duduk berselonjor sambil memeluk bantal kecil. Sesekali ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Di sampingnya, Mama Dina sedang melipat beberapa pakaian yang baru selesai disetrika. Suasana begitu tenang. Hingga akhirnya Zoya memecah keheningan.
"Ma ...."
"Iya?" Mama Dina tidak menghentikan pekerjaannya.
"Papa Farhan lembur lagi, ya?"
Mama Dina mengangguk pelan. "Iya. Katanya masih ada beberapa berkas yang harus diselesaikan. Mungkin pulangnya agak malam."
Zoya mengembuskan napas pelan. "Nggak capek apa ya?"
Mama Dina tersenyum kecil. "Namanya juga tanggung jawab. Papa memang begitu dari dulu. Kalau pekerjaannya belum selesai, pasti nggak akan pulang sebelum semuanya beres."
Zoya hanya mengangguk. Beberapa detik berlalu dalam diam.
Namun, terlihat jelas dari raut wajahnya kalau ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Mama Dina menyadarinya. "Ada apa?" tanyanya lembut.
"Ma, masih ingat dengan Chelsea, anaknya Papa Farhan dan istrinya Chika?"
Mama Dina tampak berpikir, "Yang nenek cerita kalau ternyata itu bukan darah dagingnya Papa?"
Zoya mengangguk dan berkata, "Dan Mama tau nggak, ternyata Chelsea itu adik angkatnya El."
"El pacar kamu?" tanya Mama Dina dengan ekspresi wajah yang terkejut.
Zoya mengangguk. Saat baru dekat dengan dengan El, ia menceritakan pada ayah tirinya Farhan. Pria itu terkejut saat ia mengatakan kalau saat ini sedang dekat dengan anak seorang pengusaha ternama Arsaka.
"Saat aku baru dekat dengan El, tiga bulan lalu, aku mengatakan pada Papa kalau El anaknya seorang pengusaha ternama bernama Arsaka. Lalu Papa bilang kalau ia sangat mengenal Arsaka."
Mama Dina tampak mengangguk sambil mendengarkan cerita putrinya. Zoya memang cerita kalau ia sedang dekat dengan seorang anak pengusaha kaya. Dikenalkan temannya. Tapi tak menyangka jika kekasihnya sang anak berkaitan dengan masa lalu sang suami.
"Dari mana kamu tau kalau Chelsea adik angkatnya El itu anaknya Papa Farhan dengan Tante Chika?" tanya Mama Dina penasaran.
"Papa Farhan bilang. Ia sebenarnya sangat merindukan putrinya itu, walau tau Chelsea bukan darah dagingnya, tapi ia tetap ingin bertemu. Selama ini ia tak berani karena takut dengan Om Arsaka."
Mama Dina masih diam mendengar anaknya bercerita. Ia tahu semua masa lalu sang suami dari mertuanya. Farhan tak banyak bercerita. Ia bahkan mengatakan kalau ia memiliki anak dari mantan istrinya yang meninggal.
Awalnya Mama Dina mengira itu memang anak kandungnya hingga sang mertua menceritakan semuanya. Ia baru tahu kalau ternyata Farhan suaminya berpisah dari istri kedua setelah mengetahui Chika mengkhianati pernikahan mereka.
"Chelsea itu bukan darah dagingnya, tapi tetap saja Papa Farhan menganggap itu putrinya," ucap Mama Dina penuh penekanan.
"Aku juga tak suka saat Papa Farhan mengatakan kalau sebenarnya ia sangat merindukan Chelsea. Makanya aku mengatakan siapa sebenarnya Chelsea pada El. Ia ternyata belum tau kalau Chelsea anak dari wanita yang pernah mengganggu rumah tangga mamanya dulu."
"El itu anaknya Hana istri pertama Papa Farhan?" tanya Mama Dina. Ia baru paham dengan ikatan rumit mereka.
"Ya, Ma."
"Ternyata dunia ini kecil. Kamu pacaran dengan anaknya mantan istri papa Farhan."
Chelsea tertawa menyadari kalau ucapan mamanya benar. Ia pacaran dengan anaknya mantan istri papa tirinya.
Mama Dina memandang putrinya beberapa saat. Ia mengira percakapan mereka akan berakhir di sana.
Namun, Zoya justru kembali membuka suara. "Ma ... jujur saja."
"Apa?"
"Aku sebenarnya nggak suka waktu Papa bilang kalau beliau masih merindukan Chelsea."
Kening Mama Dina langsung berkerut. "Nggak suka?"
"Iya."
"Kenapa?"
Zoya memeluk bantal semakin erat. "Entahlah ... aku merasa aneh saja."
Mama Dina menatap putrinya dengan penuh tanda tanya.
"Papa sudah menganggap Chelsea seperti anak sendiri sejak dari kandungan. Walau akhirnya ia tau itu bukan darah dagingnya, tapi ia tak akan mudah melupakan."
"Tapi tetap saja ...," gumam Zoya pelan.
"Maksudmu?"
"Aku nggak mau harus berbagi."
"Berbagi apa?"
"Kasih sayang Papa."
Mama Dina menghela napas pelan. "Zoya ...."
"Belum lagi kalau nanti soal harta."
Mama Dina langsung menoleh cepat. "Harta?"
"Iya Ma. Kalau suatu hari Chelsea datang lagi, gimana kalau Papa tetap menganggap dia anaknya dan memberinya bagian hartanya."
Suara Zoya terdengar datar, tetapi ada nada tidak suka yang sulit disembunyikan. Mama Dina meletakkan pakaian yang sejak tadi dilipatnya.
"Kamu nggak boleh berpikir seperti itu."
"Ma itu mungkin saja. Karena sampai detik ini Papa Farhan tak pernah mau jujur kalau Chelsea bukan darah dagingnya. Foto kecil Chelsea juga masih terpajang di rumah ini."
Zoya mengalihkan pandangan. Beberapa saat kemudian ia berkata pelan, "Itu yang menjadi salah satu alasan kenapa aku akhirnya menceritakan semuanya ke El."
Mama Dina menatapnya. "Kamu cerita apa?"
"Aku bilang kalau Chelsea adalah anak dari wanita yang dulu pernah merebut suami pertama mamanya."
Mama Dina tampak terkejut. "Kamu mengatakan itu?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena menurutku El berhak tahu."
Mama Dina terdiam beberapa saat. "Reaksi El bagaimana?"
"Dia kaget."
"Wajar."
"Dia sama sekali nggak menyangka." Zoya mengangguk pelan. "Setidaknya sekarang dia tahu siapa Chelsea sebenarnya."
Mama Dina tidak langsung menanggapi. Ia justru merasa ada sesuatu yang mengganjal. "Lalu gimana reaksinya El?"
Zoya menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia tidak langsung menjawab. Gadis itu hanya memainkan ujung bantal di tangannya.
Dalam hati, pikirannya jauh lebih rumit daripada yang ia ucapkan.
Sejak awal mengenal El, ia tahu pria itu berasal dari keluarga terpandang. Kehidupan El yang serba berkecukupan membuatnya membayangkan masa depan yang nyaman jika hubungan mereka berlanjut.
Selama berpacaran, El memang sering memanjakannya. Mengajaknya makan di restoran mahal, memberinya hadiah pada hari-hari tertentu, dan memenuhi beberapa permintaannya tanpa banyak bertanya.
Kini, setelah mendengar bahwa El meninggalkan rumah, Zoya mulai cemas. Bukan karena ia berhenti menyayangi El, tetapi karena ia takut perubahan itu juga akan mengubah kehidupan El.
"Kalau sampai hubungannya dengan keluarganya benar-benar hancur ... bagaimana nanti?" batinnya.
"Kalau dia sudah tidak hidup seperti dulu ...."
Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepalanya.
Mama Dina memperhatikan perubahan ekspresi putrinya. "Apa yang terjadi setelah kamu mengatakan tentang Chelsea?"
"El terkejut dan langsung bertanya pada orang tuanya. Mereka tak juga mengakui kebenaran itu dan justru El di usir dari rumah."
"Apa?" tanya Mama Dina dengan suara terkejut.
"Itu yang aku takutkan. Aku takut setelah pergi dari rumah ia tak memiliki apa-apa lagi. Jika itu terjadi, aku tak mau lagi bersamanya."
Zoya berkata dengan lantang. Ia tak akan mau menikah dengan El jika pria itu tak memiliki apa-apa lagi.
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka
coba kl biar kn saja pasti topeng Zoya akn terbuka.
kl bgini Zoya pasti lbih hati hati demi warisan el.