Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dan Batas Baru
Tiga hari berlalu dengan cepat, meski bagi Viona setiap jam terasa seperti hitungan detik yang penuh kecemasan. Namun, kabar baik akhirnya datang. Dr. Hendra mengizinkan Rani pulang dengan catatan ketat: istirahat total, obat teratur, dan pantangan makanan pedas atau asam selama satu bulan ke depan.
Pak Wahyu sudah menyiapkan mobil di halaman rumah sakit. Zidan membantu memindahkan barang-barang Rani ke dalam mobil dengan efisiensi khasnya, sementara Viona membantu ibunya berjalan perlahan menuju pintu keluar. Udara pagi yang segar menyambut mereka, berbeda jauh dengan aroma antiseptik rumah sakit yang selama ini menyelimuti.
Di dalam mobil, suasana hening namun nyaman. Rani duduk di kursi tengah, diapit oleh Pak Wahyu di sebelah kiri dan Viona di sebelah kanan. Zidan menyetir dengan tenang, matanya sesekali melirik ke spion untuk memastikan kondisi ibunya.
"Rumah kita rasanya beda ya kalau ditinggalin Ibu," ucap Viona pelan, memecah keheningan. "Sepi. Dingin."
Rani tersenyum lemah, memegang tangan Viona. "Maafkan Ibu ya, Nak. Sudah bikin kalian khawatir semua."
"Jangan minta maaf, Bu," sahut Pak Wahyu lembut dari samping. "Yang penting sekarang Ibu sehat. Dan mulai hari ini, tidak ada lagi urusan dapur atau berkebun berat-berat. Itu tugas kami."
Zidan terkekeh kecil dari kemudi. "Terutama tugas Viona. Aku cuma bisa bantu beli bahan masakan online dan masak nasi pakai rice cooker. Sisanya, serahkan pada chef andalan kita."
Viona mendengus geli. "Dasar Kakak, mau enak doang. Tapi oke deh, demi Ibu, aku jadi koki dadakan."
Mereka tertawa kecil, ketegangan yang menumpuk selama seminggu terakhir perlahan mencair. Saat mobil berhenti di depan pagar rumah mereka—sebuah rumah dua lantai dengan taman belakang yang luas—Viona merasa lega sekaligus gugup. Kembali ke rumah berarti kembali ke realitas baru: dinamika keluarga yang berubah.
Sesampainya di dalam, Rani langsung dibantu berbaring di kamarnya yang sudah disiapkan Pak Wahyu dengan bantal tambahan dan suhu ruangan yang sejuk. Setelah memastikan ibunya nyaman, Viona dan Zidan turun ke ruang tamu. Pak Wahyu sedang menelepon kantor, mengatur jadwal kerjanya agar bisa lebih banyak di rumah.
Viona duduk di sofa, menghela napas panjang. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya fisik, tapi juga emosional.
Zidan masuk ke ruang tamu membawa dua gelas air putih. Ia meletakkannya di meja kopi, lalu duduk di sofa tunggal di hadapan Viona. Tatapannya serius, berbeda dengan sikap santainya saat di mobil tadi.
"Vion," panggil Zidan.
"Hm?" Viona menatapnya, menunggu.
"Aku perlu bicara soal pengaturan jaga malam," ucap Zidan datar. "Dokter bilang Ibu butuh pengawasan 24 jam minimal seminggu pertama. Bapak punya jadwal rapat besok lusa, jadi mungkin beliau nggak bisa full time."
Viona mengangguk. "Aku siap jaga malam, Kak. Aku kan biasanya susah tidur anyway."
"Bukan itu maksudku," potong Zidan. Ia mencondongkan tubuh ke depan, siku bertumpu pada lututnya. "Kamu juga butuh istirahat. Kamu hampir kolaps kemarin karena stres. Kalau kamu sakit, siapa yang jagain Ibu? Siapa yang... yang jagain kamu?"
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada yang lebih rendah, hampir seperti bisikan. Viona merasakan jantungnya berdebar sedikit lebih kencang.
"Lalu solusinya apa, Kak?" tanya Viona, mencoba mengalihkan perhatian dari getaran di dadanya.
"Kita bagi shift," jawab Zidan tegas. "Malam ini sampai besok pagi, aku yang jaga di kamar Ibu. Kamu tidur di kamarmu, kunci pintu, istirahat total. Besok malam giliran kamu. Begitu seterusnya sampai kondisi Ibu benar-benar stabil."
Viona mengerutkan kening. "Tapi Kakak kan kerja. Kakak nggak bakal bisa fokus kalau kurang tidur."
"Aku sudah atur ulang jadwal meeting. Sebagian besar bisa dilakukan via Zoom dari ruang kerja di lantai bawah. Lagipula," Zidan menatap Viona lurus-lurus, "aku lebih efektif bekerja dalam kondisi terkontrol daripada melihat kamu kelelahan dan membuat kesalahan karena kurang tidur."
Alasan logis itu sulit dibantah. Tapi ada hal lain yang membuat Viona ragu. Tidur di kamar yang sama dengan ibu memang wajar, tapi tahu bahwa Zidan akan berada di rumah, berjaga-jaga di malam hari, menciptakan kedekatan yang berbeda. Intim. Penuh kesadaran.
"Yakin Kakak nggak keberatan?" tanya Viona lagi, mencari-cari alasan.
Zidan berdiri, berjalan mendekati sofa tempat Viona duduk. Ia berhenti tepat di depannya, cukup dekat hingga Viona bisa mencium aroma sabun mandi pria yang bersih dan maskulin darinya.
"Aku tidak pernah keberatan untuk melindungi apa yang penting bagiku, Vion," ucap Zidan pelan. Matanya terkunci pada mata Viona, intens dan dalam. "Dan kamu... serta Ibu... adalah prioritas utamaku sekarang."
Udara di antara mereka seolah menjadi padat. Kata-kata itu sederhana, tapi bobotnya luar biasa. Prioritas utama. Bukan karena kewajiban darah, bukan karena kasihan. Tapi pilihan.
Viona menelan ludah, sulit untuk mempertahankan kontak mata yang begitu jujur. Ia menunduk, memainkan ujung jarinya yang gelisah.
"Baiklah, Kak," bisik Viona. "Kalau Kakak yakin."
Zidan tersenyum tipis, senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. Ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Viona sekali lagi—gestur yang kini menjadi tanda kasih sayang khusus mereka.
"Pintar. Sekarang naik ke kamar. Mandi air hangat, minum susu, dan tidur. Itu perintah dokter... dan perintah kakakmu."
Viona tertawa kecil, rasa canggungnya sedikit berkurang. "Iya, Tuan Arsitek."
Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju tangga. Namun, baru mencapai anak tangga ketiga, langkahnya terhenti. Ada keraguan terakhir yang masih menggelayut di benaknya. Ia menoleh kembali ke arah Zidan yang masih berdiri di ruang tamu.
"Kak Zidan..." panggilnya pelan.
Zidan mengangkat alis, menunggu dengan sabar. "Ya?"
"Kalau... kalau Ibu nanti bangun tengah malam dan takut sendirian, Kakak jangan marah ya," bisik Viona, suaranya kecil dan ragu.
Zidan menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis yang membuat sudut matanya melunak secara signifikan. "Aku tidak akan pernah marah pada Ibu, Vion. Dan aku juga tidak akan membiarkan dia merasa sendirian."
Ia melangkah satu tingkat mendekati Viona, menatapnya lekat dengan tatapan yang menenangkan. "Termasuk kamu. Jika kamu butuh apa pun di tengah malam, ketuk dinding kamarmu. Aku akan datang. Selalu."
Janji itu terdengar sederhana, namun bagi Viona, itu adalah jangkar keamanan yang paling kokoh. Ia mengangguk pelan, kali ini dengan hati yang benar-benar ringan.
"Makasih, Kak," gumamnya.
Viona melanjutkan langkahnya ke atas, hatinya terasa hangat meski tubuhnya lelah. Ia tahu, malam ini ia akan tidur dengan nyenyak. Bukan hanya karena ia percaya pada kemampuan Zidan menjaga Ibu, tapi karena ia tahu, di lantai bawah sana, ada seseorang yang rela begadang demi memastikan dunianya tetap aman.
Dan bagi Viona, itu adalah bentuk cinta paling nyata yang pernah ia rasakan.
Malam itu, hujan turun lagi. Tapi kali ini, suaranya tidak menakutkan. Bagi Viona, derai hujan itu seperti pengiring tidur, pengingat bahwa badai telah berlalu, dan matahari akan terbit lagi esok hari. Bersama Zidan. Bersama keluarga yang utuh.