"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Mencari Pekerjaan
Beberapa hari terakhir, Alena disibukkan dengan berbagai panggilan wawancara kerja.
Hampir setiap hari ia berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Dengan pakaian rapi, ia berusaha meyakinkan para pewawancara bahwa dirinya masih layak diberi kesempatan.
Namun hasilnya selalu sama, ia di tolak dengan alasan yang serupa.
"Maaf, Bu Alena. Kami mencari kandidat yang lebih aktif di dunia kerja."
"Pengalaman Ibu memang bagus, tetapi sudah terlalu lama tidak digunakan."
"Kami membutuhkan seseorang yang bisa langsung beradaptasi dengan ritme kerja saat ini."
Setiap kali mendengar kalimat-kalimat itu, Alena hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi.
Sore itu, Alena berjalan lunglai menyusuri trotoar yang ramai dengan map berisi berkas lamaran yang tergenggam lemah di tangannya.
Sudah tiga perusahaan yang ia datangi hari ini. Dan ketiganya memberikan jawaban yang sama.
Ia mengembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya. "Aku tidak menyangka mencari pekerjaan akan sesulit ini," gumamnya pelan.
Beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah kesal. "Alasan macam apa itu?" gerutunya. Ia menghentikan langkah dan menatap kosong ke arah jalan raya. "Hanya karena aku sudah lama menjadi ibu rumah tangga, mereka langsung menganggap kemampuanku tidak cukup baik."
"Bukankah yang seharusnya dinilai adalah kemampuan kerjaku? Kenapa status sebagai ibu rumah tangga seolah menjadi kekurangan?"
Alena menghela napas panjang. Ia baru menyadari betapa sulitnya kembali memulai setelah bertahun-tahun mengabdikan hidup untuk rumah tangga.
Ia terdiam sesaat. Kepalanya menengadah, menatap langit.
Setiap kali ia sendirian, ia selalu teringat dengan pengkhianatan suaminya. Dan, dadanya akan terasa sesak.
Rasanya ia ingin marah, ingin berteriak, meluapkan seluruh rasa sakit yang menumpuk di dalam hatinya. Tetapi sekarang, tidak lagi. Tidak ada air mata ataupun ledakan emosi.
Yang tersisa hanya kehampaan, seolah seluruh kesedihan itu telah membeku menjadi sesuatu yang dingin.
Ia tidak tahu apakah itu pertanda dirinya mulai kuat. Atau, justru karena hatinya sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.
Alena kembali berjalan dengan kepala tertunduk. Pikirannya melayang entah ke mana. Hingga samar-samar ia mendengar suara rintihan seseorang yang terdengar kesakitan.
Langkahnya langsung terhenti. Ia mengangkat kepala dan menoleh ke sekeliling. Lalu, pandangannya berhenti pada seorang pria tua yang tergeletak di dekat halte sambil memegangi dada kirinya dengan wajah pucat dan napas tersengal.
Mata Alena membulat. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari menghampiri.
"Kakek!" Ia berjongkok di samping pria itu lalu membantu menopang tubuhnya agar bisa duduk. "Kakek, bisa dengar saya?" tanyanya panik.
Pria tua itu membuka mata dengan susah payah. Tangannya gemetar menunjuk ke arah saku jasnya.
"O-obat..." lirihnya.
Alena langsung mengerti. Ia merogoh saku jas pria tersebut dengan hati-hati dan menemukan sebuah botol obat kecil.
Ia membuka tutup botol itu dengan tangan gemetar. Lalu, mengeluarkan satu kapsul dan memberikannya pada pria itu
"Ini obatnya, kek."
Alena membantu memasukkan kapsul itu ke mulut pria tersebut, lalu segera mengambil botol air mineral yang berada di tasnya.
"Pelan-pelan, Kek."
Pria tua itu menelan obatnya dengan susah payah.
"Bagaimana? Apa sudah lebih baik?" tanya Alena.
Namun, sebelum pria itu sempat menjawab, tubuhnya tiba-tiba limbung. Matanya terpejam dan seluruh tubuhnya kehilangan tenaga.
Alena membeku. Wajahnya langsung pucat.
"Kakek?"
***
Setelah beberapa saat, kelopak mata pria tua itu akhirnya bergerak.
Ia membuka matanya. Pandangannya tampak kosong sesaat sebelum mulai fokus pada langit-langit kamar rumah sakit.
Alena yang sejak tadi duduk menunggu di samping ranjang langsung berdiri. Wajahnya yang semula tegang berubah lega.
"Syukurlah kakek sudah sadar," ucapnya sambil tersenyum.
Ia segera menekan tombol panggil yang berada di samping tempat tidur untuk memberi tahu perawat bahwa pasien telah sadar.
Pria tua itu berkedip beberapa kali sebelum menoleh ke arahnya.
"Di mana aku?" suaranya terdengar lemah.
"Di rumah sakit, Kek. Tadi Kakek pingsan di jalan."
Pria itu mengingat-ingat sejenak, lalu tatapannya kembali tertuju pada Alena.
"Kamu yang membawaku ke sini?"
Alena mengangguk. "Iya, kek."
Pria tua itu terdiam sesaat. Kemudian senyum tipis muncul di wajahnya yang pucat.
"Terima kasih, Nak."
Alena tersenyum kecil. "Tidak perlu berterima kasih, kek. Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama."
Pria itu menggeleng pelan. "Belum tentu. Aku ingat, banyak orang di sana. Tapi, tidak ada yang menolongku."
Alena tidak tahu harus menjawab apa.
Pria tua itu kembali bertanya. "Oh, ya siapa namamu?"
"Saya Alena."
"Alena..." ulangnya pelan. "Nama yang indah. Oh, ya. Panggil saja aku Kakek Rendra."
"Baik, Kek."
Suasana menjadi sedikit lebih santai. Tapi, tiba-tiba Alena teringat sesuatu yang membuat ekspresinya berubah canggung.
"Oh iya, Kek. Saya mau minta maaf. Tadi saya mengambil ponsel Kakek tanpa izin."
Kakek Rendra mengangkat alisnya.
"Saya khawatir terjadi sesuatu, jadi saya mencari nomor keluarga Kakek dan menghubunginya."
Mendengar itu, Rendra justru menghela napas panjang. Raut wajahnya berubah seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Dia akan datang?"
"Ng?" Alena berkedip bingung.
"Aku hanya tinggal berdua dengan cucuku. Tapi, anak itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja daripada menemani kakeknya sendiri."
Alena tersenyum tipis. "Kalau begitu, dia pasti sangat menyayangi Kakek. Penyakit Kakek cukup serius. Jadi, dia bekerja keras karena ingin memberikan yang terbaik untuk Kakek."
Rendra memandang Alena beberapa saat. Lalu, menggeleng pelan sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian, perhatian Rendra tertuju pada map yang ada di pangkuan Alena.
"Apa itu?"
Alena menoleh. "Oh, ini?" Ia mengangkat map tersebut. "Surat lamaran kerja."
"Kamu sedang mencari pekerjaan?"
Alena mengangguk. "Iya, kek. Tapi, belum ada yang cocok."
Rendra mengulurkan tangan. "Coba aku lihat."
Alena langsung terkejut. "Hah?"
Belum sempat Alena bereaksi, Rendra sudah mengambil map itu dari tangannya. Pria tua itu mulai membuka lembar demi lembar isinya.
Alena merasa tidak enak. Ia melihat jam di layar ponselnya lalu, berkata dengan canggung. "Ehm... Kek. Sepertinya saya harus pulang. Cucu Kakek juga sebentar lagi akan datang."
Dengan cepat Alena mengambil kembali map nya. "Saya pamit dulu, ya."
Rendra mengangkat kepala. "Eh? Tunggu—"
Namun Alena sudah berdiri. "Semoga Kakek lekas sembuh."
Sebelum pria tua itu sempat berkata apa pun lagi, Alena buru-buru keluar dari kamar.
"Kenapa buru-buru sekali?" gerutunya pelan.
Tidak lama kemudian, pintu kamar kembali terbuka.
Seorang pria tinggi dengan setelan jas gelap masuk dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya terlihat tegang dan penuh kekhawatiran.
"Kakek!"
Pria itu langsung menghampiri ranjang. "Bagaimana keadaan Kakek?"
Namun bukannya menjawab, Rendra justru memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Hmph."
Pria itu menghela napas panjang. "Kakek..."
"Mau apa kamu datang ke sini?"
"Aku mengkhawatirkan mu, kek."
Rendra berdecak pelan. "Kalau memang khawatir, cepat menikah. Jadi, ada yang merawat kakek."
"Kek..." Pria itu langsung memijat pelipisnya. "Kita sudah berkali-kali membahas ini."
"Ck, dasar cucu durhaka."
Pria itu hanya bisa menghela napas pasrah. Menghadapi kakeknya memang jauh lebih sulit daripada menghadapi rapat perusahaan.
"Oh iya. Tadi ada seorang wanita yang menolong Kakek. Dia yang membawa Kakek ke rumah sakit," seru Rendra.
Ekspresi pria itu langsung serius. "Iya, tadi dia yang menghubungi ku."
"Baguslah. Kalau bukan karena dia, mungkin sekarang yang kamu temui jasad kakek," seru Rendra.
"Kek!" tegur pria itu. "Jangan bicara seperti itu."
Rendra tersenyum. "Pokoknya kamu harus berterima kasih padanya."
Pria itu mengangguk singkat. "Iya, kek. Nanti aku akan mencarinya."
Rendra menyipitkan mata. "Namanya Alena. Dia sedang mencari pekerjaan.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...