Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh tahun kemudian!
Dua puluh tahun kemudian.....
"Bu, Sri berangkat dulu ya," kata Sri sambil meraih tangan ibunya dan menyalaminya dengan takzim.
"Iya, kamu hati-hati lho di jalan. Nanti jangan telat pulang," kata perempuan paruh baya itu lembut. Guratan-guratan halus di wajahnya memancarkan keteduhan, menatap anak gadis di hadapannya dengan binar mata yang penuh, sebuah tatapan yang selalu sama sejak dua puluh tahun lalu.
Sri menyengir lebar, merapikan tali tas ranselnya sebelum melangkah ke pintu.
"Sri sih bakal pulang cepat, asalkan Ibu masak enak untuk makan Sri malam nanti."
"Jadi maksud kamu, makanan yang Ibu masak selama ini tidak pernah enak, begitu?" sahut perempuan itu, pura-pura bersungut dengan berkacak pinggang, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum.
Sri tertawa kecil, melangkah mendekat lalu merangkul manja pundak ibunya yang kini mulai tampak sedikit ringkih.
"Iya enak, Bu. Makanan yang Ibu masak itu selalu enak, tidak ada tandingannya di dunia! Tapi, akan jauh lebih enak lagi kalau nanti malam Ibu masak makanan favoritnya Sri."
Perempuan paruh baya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah manja putrinya. Sambil mengusap kepala Sri dengan penuh kasih sayang, ia mengantarkan langkah sang gadis keluar pagar rumah.
Mata perempuan itu terus menatap punggung Sri yang perlahan menjauh dan hilang di belokan jalan. Sebuah helaan napas panjang lolos dari dadanya.
Setiap kali melihat Sri tumbuh menjadi gadis yang sehat, ceria, dan cantik, hatinya selalu dipenuhi rasa syukur yang teramat besar kepada Yang Maha Kuasa.
Baginya, melihat senyum di wajah Sri adalah bayaran yang lebih dari cukup untuk menebus semua memori jahanam, darah, dan tangisan di hutan dua puluh tahun silam.
Suasana taman belakang kampus sore itu terasa begitu teduh. Matahari yang mulai tenggelam menyisakan semburat jingga di langit, menembus rimbunnya pohon-pohon peneduh yang mengelilingi area rumput hijau tersebut.
Di sinilah tempat favorit mahasiswa untuk berkumpul, sebuah taman terbuka yang luas, di mana semua orang bebas duduk lesehan beralaskan rumput.
Di salah satu sudut taman yang agak tenang, Sri tampak sedang duduk lesehan dengan menyilangkan kakinya. Di sekelilingnya, lembaran naskah berserakan di atas rumput, tertahan oleh botol-botol tumbler agar tidak terbang tertiup angin sore.
Memasuki Semester 5 di jurusan Film dan Televisi berarti garis batas antara tugas biasa dan industri nyata mulai terlihat. Mereka diwajibkan memproduksi sebuah film dengan skala yang jauh lebih kompleks.
Bukan lagi sekadar drama biasa, kali ini mereka ditantang untuk memproduksi sebuah film horor. Dan di dalam kelompoknya, Sri memegang tanggung jawab paling besar, dia adalah sutradaranya.
"Sri, draf naskah dan kru sudah beres semua," ujar Bagas, sang produser, yang duduk lesehan di sebelah Sri sambil meluruskan kakinya ke depan.
"Masalah kita sekarang tinggal dua hal, cast utama, dan tempat atau lokasi di mana kita akan melaksanakan proses shooting nanti."
Sri mengangguk setuju, matanya fokus menatap tablet digital di pangkuannya yang menampilkan beberapa foto opsi lokasi.
"Benar. Film horor kita ini bukan cuma soal jumpscare murahan. Aku tidak mau akting yang tanggung. Kalau pemerannya tidak bisa menyampaikan rasa teror yang nyata, dan kalau lokasi syutingnya kurang mendukung, atmosfer seram yang kita bangun bakal sia-sia."
Tak lama kemudian, dua mahasiswa Seni Teater yang sudah mereka ajak kerjasama, Angga dan Dita, berjalan mendekat. Setelah menyapa, keduanya langsung ikut duduk lesehan, melingkari tumpukan kertas naskah di atas rumput.
Suasana santai khas taman kampus itu sedikit mengurangi ketegangan obrolan mereka yang membahas proyek menyeramkan ini.
"Terima kasih sudah mau gabung," buka Sri dengan senyum ramah, namun auranya tetap memancarkan kepemimpinan seorang sutradara.
"Jadi, proyek film horor Semester 5 kami ini judulnya Darah terkutuk. Masalahnya, saat ini kami masih mematangkan jajaran cast dan mencari tempat yang pas untuk mengeksekusinya. Proses syutingnya akan memakan waktu seminggu atau bahkan lebih jika ada kendala."
Angga mengambil salah satu lembar naskah dari atas rumput, dahinya berkerut saat membaca sinopsisnya.
"Karakter pria utamanya harus mengalami ketakutan luar biasa karena dikejar sesuatu? Ini menarik, tapi pasti butuh pendalaman emosi dan fisik yang sangat menguras tenaga. Masalah tempat juga penting, harus punya aura yang pas untuk sebuah film horor."
"Tepat," sahut Sri, matanya berbinar antusias. Dia memajukan posisi duduk, menjadi lebih dekat dengan kedua calon pemeran itu.
"Dan di situlah peran kalian. Sebagai sutradara, aku tidak akan cuma mengarahkan kalian harus lari ke mana. Aku butuh kita bedah karakter ini bersama di sini. Aku mau akting yang benar-benar menghayati, ekspresi panik dan ketakutan yang murni, bukan yang dibuat-buat. Sembari kita fiksasi kerja sama ini."
Dita, yang akan memerankan karakter wanitanya, tersenyum tertantang sambil memeluk lututnya.
Di tengah keseruan pembicaraan itu, langkah kaki beberapa orang di atas rumput membuat perhatian mereka teralihkan. Tiga orang anak teater tampak datang menghampiri mereka.
Mey, Darwis, dan Doni berjalan mendekat bersama dengan Bimo, si asisten sutradara yang sejak siang tadi memang bertugas menjemput bala bantuan.
Bimo tersenyum lebar, lalu segera memperkenalkan ketiga orang itu kepada Sri.
"Nah, Sri, ini mereka anak teater yang kemarin aku ceritakan. Ini Mey, Darwis, dan Doni. Mereka tertarik pas dengar kita mau bikin proyek film horor," ujar Bimo bersemangat.
Sri menyambut mereka dengan senyuman ramah, meski gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Halo semuanya, terima kasih ya karena sudah mau membantu." Kata Sri mengalami satu persatu dari mereka.
"Berati kendalanya tinggal satu, lokasi untuk syuting." Tambah Sri.
Mendengar keluhan Sri, Darwis yang baru saja duduk langsung menjentikkan jarinya seolah mendapat ide cemerlang.
"Kalau soal lokasi syuting, kenapa tidak di desanya Mey saja?" usul Darwis sambil menunjuk temannya.
"Desanya Mey itu masih sangat asri, banyak pepohonan rindang dan hutan yang lebat. Pokoknya cocok sekali kalau dipakai untuk membuat film horor." Sambungnya.
"Oh ya?" kata Sri, matanya berbinar antusias mendengar usulan Darwis.
Sri kemudian mengalihkan pandangannya langsung kepada Mey yang duduk di hadapannya.
"Berarti sekarang tinggal persetujuan Mey saja. Bagaimana, Mey? Apa kamu tidak keberatan kalau kita nanti melaksanakan proses syuting film horor ini di desamu?"
Mey tersenyum santai lalu menjawab,
"Ya, kalau aku sih terserah saja, Sri. Aku sama sekali tidak keberatan kok. Malah senang kalau desaku bisa jadi tempat syuting film kampus kita." Ujar Mey, dia justru senang, karena itu waktunya dia menunjukkan pada orang desa kalau nanti dia akan menjadi seorang artis.
Jawaban Mey seketika membuat suasana di lingkaran itu menjadi jauh lebih lega. Bagas sang produser langsung mencatat poin penting itu di tabletnya, sementara Bimo si asisten sutradara mengacungkan jempolnya kepada Sri.
Masalah besar mengenai tempat syuting yang sejak tadi membuat kepala mereka pusing, sudah terpecahkan.
"Bagus kalau begitu," kata Bagas, sang produser yang sejak tadi menyimak perbincangan mereka sambil mengangguk-angguk puas.
Bagas lalu merapikan catatan kecil di depannya dan berkata lagi.
"Nanti semua hasil obrolan hari ini akan aku konfirmasi ke anak-anak lain yang hari ini tidak hadir. Oh ya, nanti juga Bimo sama Tris, temani aku ke desa Mey untuk mengurus perizinan proses syuting kita. Kita berangkat lusa ya."
Bimo langsung mengacungkan jempolnya tanda siap. Sebagai produser, Bagas merasa sangat lega karena dua kendala besar dalam produksi film horor ini, cast dan lokasi tempat mereka akan melaksanakan syuting, perlahan mulai teratasi. Kini, mereka tinggal bersiap untuk perjalanan dua hari lagi menuju desa Mey untuk survei lokasi dan perizinan.