NovelToon NovelToon
Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: ohlyn

Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
​Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Makan Siang

Sinar matahari pagi yang menembus jendela kamar Naura terasa berbeda hari ini. Jika biasanya ia terbangun dengan semangat mengejar berita, pagi ini rasa cemas menyusup di antara denyut jantungnya. Kejadian di gudang logistik milik perusahaan ayah Kaelith kemarin malam benar-benar membukakan matanya: ini bukan lagi sekadar investigasi jurnalisme yang bisa diselesaikan dengan draf berita, melainkan sebuah permainan berbahaya yang melibatkan orang-orang kuat.

Naura menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia membuka laptop, memindahkan salinan foto dokumen yang diambilnya kemarin ke dalam sebuah hard disk terenkripsi yang ia sembunyikan di tempat aman. Tangannya masih sedikit gemetar.

Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Kaelith.

“Mbak Reporter, sudah bangun? Jangan lupa makan siang. Gue tunggu di kafe depan kampus jam 12. Ada hal penting yang mau gue omongin soal dokumen semalam. Nggak usah protes, ini demi kelancaran investigasi kita.”

Naura mendengus pelan. Pria itu selalu punya cara untuk mengatur jadwalnya. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia juga butuh bicara dengan Kaelith. Ketegangan semalam belum sepenuhnya hilang dari pikirannya.

Pukul 12:00 siang, Naura sudah berada di kafe yang dimaksud. Kali ini, ia memilih duduk di dekat jendela agar bisa melihat situasi di luar. Tak lama kemudian, Kaelith muncul. Ia mengenakan kaus polo berwarna gelap dengan hoodie yang menutupi kepalanya—sebuah usaha untuk sedikit menyamarkan diri.

Ia duduk di depan Naura tanpa basa-basi. "Lo makan apa?"

"Gue baru aja pesen salad," jawab Naura singkat.

Kaelith memanggil pelayan dan memesan nasi goreng gila dengan tambahan porsi ekstra. "Biar lo ada tenaga buat mikir. Investigasi butuh asupan nutrisi yang cukup, bukan cuma sayuran hijau."

Naura hanya memutar bola matanya. "Bisa nggak kalau ketemu tuh, hal pertama yang dibahas bukan soal apa yang gue makan?"

Kaelith tertawa pelan, senyum yang sama yang selalu berhasil membuat pertahanan Naura sedikit goyah. "Bisa. Yaudah gimana hasil foto semalam? Aman kan?"

"Aman. Gue sudah simpan di tempat yang cuma gue yang tahu," jawab Naura dengan suara rendah. "Kael, setelah kejadian semalam, gue makin yakin ini skandal yang sangat besar. Nota-nota itu... angkanya nggak main-main."

Kaelith menatap Naura, tatapannya kini serius. "Gue tahu. Dan gue juga dapet kabar dari seseorang di dalam perusahaan bokap gue, kalau mereka mulai sadar ada penyusup di gudang semalam. Mereka mulai melakukan pemeriksaan internal."

Naura menahan napas. "Apa itu artinya mereka tahu kalau lo yang melakukannya?"

"Belum pasti. Tapi mereka tahu ada seseorang yang punya akses masuk ke sistem. Mereka sekarang lagi melacak log akses masuk gembok elektronik itu," jawab Kaelith. Ia meraih segelas es teh, menyesapnya sedikit. "Gue mungkin dalam bahaya, Naura. Tapi gue lebih khawatir sama lo."

"Gue? Kenapa gue?"

"Karena lo yang bawa data itu. Kalau mereka tahu lo reporter yang lagi ngulik kasus ini, lo bakal jadi target pertama," ujar Kaelith tajam.

Suasana hening sejenak. Hanya ada suara denting sendok dan hiruk-pikuk mahasiswa di kafe tersebut. Bagi Naura, kata-kata Kaelith terasa seperti peringatan nyata akan bahaya yang sedang mengintai.

"Terus kita harus gimana?" tanya Naura.

"Gue bakal cari cara buat alihin perhatian mereka ke orang lain," kata Kaelith. "Gue akan buat skenario seolah-olah ada kebocoran data dari pihak internal departemen keuangan. Lo tetep lanjutin investigasi, tapi tolong, jangan bergerak sendiri. Selalu kabari gue ke mana pun lo pergi."

Naura menatap Kaelith dengan pandangan heran. "Lo ngerasa perlu jadi bodyguard gue terus, ya?"

"Kalau perlu, iya," jawab Kaelith tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya.

Tiba-tiba, suara tawa dari meja di seberang ruangan menarik perhatian mereka. Sekelompok mahasiswa, termasuk Keisha Valencia, tampak sedang asyik berbincang. Keisha melirik ke arah meja Kaelith dan Naura dengan tatapan yang sangat tidak ramah.

"El, itu Keisha, kan?" bisik Naura, ia menunduk sedikit, berusaha agar tidak terlalu menarik perhatian.

"Iya," Kaelith menoleh sekilas lalu kembali menatap Naura. "Jangan peduliin dia. Dia cuma lagi berusaha cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Dia kelihatan nggak suka banget sama gue," kata Naura.

Kaelith tersenyum miring. "Dia memang nggak suka kalau ada orang yang bisa bikin gue nggak fokus sama urusan BEM. Tapi tenang, gue bisa handle dia."

Naura merasa sedikit tidak nyaman. Ia tidak ingin menjadi alasan konflik di antara anggota BEM. Namun, di sisi lain, ia sadar bahwa ia telah melangkah terlalu jauh untuk mundur.

"Lo tahu, Kael," ujar Naura pelan. "Sebenarnya gue bisa saja berhenti sekarang. Kasus ini terlalu besar buat reporter magang kayak gue. Kalau gue mundur, mungkin gue bakal aman."

Kaelith meletakkan sendoknya, lalu menatap Naura dengan sangat intens. "Lo bisa mundur kalau lo mau. Gue nggak akan nahan lo. Tapi, lo yakin mau biarin orang-orang ini terus berkuasa dengan uang hasil korupsi yang seharusnya buat fasilitas pendidikan mahasiswa?"

Naura terdiam. Kata-kata Kaelith mengenai sasaran empuk. Ia ingat alasan mengapa ia memilih menjadi jurnalis: untuk mengungkapkan kebenaran, bukan untuk mencari aman.

"Gue nggak akan mundur," jawab Naura mantap.

Kaelith tersenyum lebar, senyum yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dan cerah. "Itu baru namanya mitra kerja gue."

Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Mereka makan dalam diam selama beberapa menit. Di tengah suasana itu, Kaelith sesekali mencuri pandang ke arah Naura, cara dia mengunyah makanannya, cara dia menatap layar ponselnya sesekali. Ada rasa penasaran yang besar dalam diri Kaelith terhadap gadis di depannya ini.

"Lo tahu, Nau," ucap Kaelith tiba-tiba di sela-sela makan. "Gue sebenarnya nggak pernah bayangin bakal kerja sama sama reporter yang galak kayak lo."

Naura tertawa kecil. "Lo juga bukan ketua BEM yang gue bayangin. Gue pikir ketua BEM itu kaku dan sok bijak."

"Dan gue ternyata bukan?"

"Lo malah kayak berondong yang hobi banget bikin darah tinggi," goda Naura.

Kaelith tertawa lepas, suaranya menarik perhatian beberapa orang di kafe. "Berondong, ya? Oke, gue terima sebutan itu. Tapi ingat, berondong ini yang bakal jagain lo sampai kasus ini selesai."

Mendengar itu, Naura merasa wajahnya menghangat. Ia segera menghabiskan saladnya untuk menutupi rasa salah tingkahnya.

Setelah makan siang selesai, mereka bergegas keluar dari kafe. Cuaca di luar mulai mendung, seolah-olah mencerminkan tensi yang semakin meningkat di sekitar kampus.

"Gue antar balik ke kantor?" tanya Kaelith.

"Boleh," jawab Naura.

Di dalam mobil, selama perjalanan kembali, mereka tidak banyak bicara. Namun, ada kenyamanan yang berbeda di antara mereka sekarang. Kepercayaan yang mulai terbangun perlahan namun pasti.

"Kael," panggil Naura saat mobil berhenti di depan gedung redaksi.

"Ya?"

"Makasih ya. Makasih sudah percaya sama gue."

Kaelith menoleh, menatap Naura dengan tatapan yang lembut, jauh dari citra ketua BEM yang biasanya ia tunjukkan. "Sama-sama, Naura. Gue percaya sama lo, bukan cuma sebagai reporter, tapi sebagai seseorang yang... ya, lo tahulah."

Naura jantungnya berdebar kencang. Ia segera membuka pintu mobil. "Oke, makasih tumpangannya. Hati-hati di jalan."

Naura melangkah masuk ke dalam gedung redaksi dengan perasaan yang sangat campur aduk. Ia tahu, setelah siang ini, hubungan mereka tidak akan lagi sekadar mitra investigasi kasus. Ada sesuatu yang lebih dalam yang mulai tumbuh, dan ia tidak yakin apakah ia siap menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di dalam mobil, Kaelith masih terdiam di depan gedung redaksi. Ia memperhatikan Naura yang perlahan hilang di balik pintu gedung. Ia tersenyum tipis. Ia tahu, ia sudah mulai melibatkan perasaannya lebih dari yang seharusnya, namun ia tidak berniat untuk berhenti. Kasus korupsi ini adalah misinya, dan Naura... Naura adalah bagian yang paling berharga dari misinya saat ini.

Ia menjalankan mobilnya, kembali ke kampus dengan tekad yang semakin kuat. Tidak peduli ancaman dari ayahnya, tidak peduli intrik di BEM, ia harus memastikan Naura selamat hingga kebenaran terungkap.

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak😍😍😍👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!