"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Butik Ruby Rose
"Ambil kembali koin-koin ini, Nona! Kami mohon ampun!" ratap si kumis tipis, suaranya melengking tinggi penuh keputusasaan di atas tanah yang dingin.
Dengan jemari yang gemetar hebat hingga sendi-sendinya bergemeletuk, pria pengawas Guild yang kemarin bertingkah bak penguasa itu mendorong sebuah kantong beludru hitam ke depan kaki Anna. Di dalamnya berdentang seratus lima puluh lima koin emas tunai yang merupakan seluruh uang denda fiktif dan biaya pendaftaran merek dagang yang pernah mereka bebankan pada usaha kain Anna. Tidak hanya itu, secarik perkamen resmi berstempel lilin merah diletakkan di atasnya; surat pembatalan denda dan pengakuan hak dagang Ruby Rose tanpa syarat.
"Siapa yang melakukan ini pada kalian?" tanya Paul, suaranya berat dan menggelegar, membuat belasan tentara bayaran di halaman langsung tersentak mundur.
"I-Iblis ... bayangan hitam bertopeng menyiksa kami semalaman!" jerit salah satu tentara sewaan dengan wajah yang separuh membiru akibat pukulan. "Kami tidak akan pernah mengusik Tuan dan Nyonya, juga tempat ini lagi! Demi Dewa, ampuni kami!"
Paul menatap pemandangan di depannya dengan mata yang menyipit tajam. Paul tahu persis jenis luka yang ditinggalkan oleh pasukan elit militer. Namun, alih-alih melembut, ia justru memutuskan untuk memberi hantaman terakhir agar tikus-tikus ini tidak pernah memalingkan wajah mereka lagi ke rumah ini.
WUSH!
Sebuah tekanan aura Mana yang luar biasa pekat dan berat mendadak menguar dari tubuh Paul. Udara di sekitar teras seketika mendingin, menekan dada orang-orang Guild hingga mereka sulit bernapas. Dengan satu gerakan santai namun sarat tenaga penghancur, Paul mengayunkan kapak besarnya ke bawah.
BRAKK!
Mata kapak itu menancap sedalam dua jengkal ke dalam tanah halaman, menciptakan retakan menjalar yang membelah permukaan tanah hingga ke bawah kaki si kumis tipis. "Jika aku melihat satu saja dari bayangan kalian mendekati putriku atau rumah ini lagi ... aku sendiri yang akan mendatangi markas pusat Guild Borjuis dan meratakannya dengan tanah. Paham?"
"P-Paham! Ampun, Tuan! Ampun!"
Seketika itu juga, si kumis tipis dan anak buahnya berbalik arah, lari terbirit-birit menjauh dari halaman rumah panggung tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan terkencing-kencing di celana, berteriak ketakutan seperti orang gila yang baru saja lolos dari terkaman binatang buas.
Anna mengembuskan napas panjang, menatap sisa debu yang ditinggalkan para pengecut itu sebelum beralih pada kantong beludru di tangannya. "Ayah, karena kekacauan ini sudah selesai, aku ingin kita menggunakan koin emas ini untuk merenovasi rumah kita."
Paul langsung menarik kapaknya dari tanah, menggeleng tegas. "Tidak, Anna. Kita harus berhemat. Bagaimanapun, kita perlu menyimpan uang agar bisa terus bertahan hidup dan menyamar di negeri ini tanpa menarik perhatian pihak kerajaan."
"Tapi usaha kita ke depan pasti akan lancar, Ayah. Percayalah padaku," bujuk Anna lembut, menuntun Paul dan Marry untuk duduk di dalam ruang tengah yang lebih hangat.
Marry kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu usang tempat penyimpanan rahasia mereka. Setelah dihitung dengan cermat, seluruh uang koin yang berhasil dikumpulkan oleh mereka selama ini hanya berjumlah lima puluh dua koin emas.
Anna tersenyum, lalu membuka kantong beludru dari Guild tadi di atas meja kayu. Seratus lima puluh lima koin emas berkilauan diterpa cahaya pagi. Namun, kejutan yang sesungguhnya belum selesai. Anna meraih kantong kulit yang ditinggalkan oleh Aethan semalam di atas meja, kantong pelunasan yang dikatakan sang Panglima hanya berisi seratus koin emas.
Begitu tali pengikatnya ditarik, ruangan itu mendadak benderang oleh pantulan logam mulia. Buntalan itu tidak berisi seratus koin, melainkan lima ratus koin emas murni.
Kring!
Baik Paul, Anna, maupun Marry seketika terbelalak kaget luar biasa. Keheningan sempat menyelimuti ruang tengah seiring dengan pandangan mereka yang terkunci pada gunungan emas tersebut.
"Lima ratus koin ...." bisik Paul, suaranya mendadak tercekat. Pria tua itu menatap tumpukan emas tersebut dengan perasaan campur aduk, sebelum helaan napas penyesalan keluar dari bibirnya. "Aku ... sepertinya telah keliru termakan isu murahan di luar sana, tapi nyatanya dia justru membayar jerih payahmu berkali-kali lipat dari harga pasar."
Paul mengusap wajahnya penuh penyesalan. "Nanti, jika Panglima itu kembali, Ayah sendiri yang akan bersimpuh di hadapannya untuk meminta maaf atas prasangka buruk ini."
Anna hanya bisa terdiam dengan jantung yang berdesir aneh. "Karena itu, Ayah, mari kita segera merenovasi rumah ini menjadi bangunan yang lebih kokoh dan aman. Musim dingin segera tiba, dan kain-kain kita butuh tempat penyimpanan yang luas dan baik."
Melihat jumlah uang yang lebih dari cukup, Paul akhirnya mengangguk setuju.
Siang harinya, di distrik perdagangan tengah Solmara, Anna didampingi Paul dan Marry, melangkah menyusuri deretan toko bahan bangunan kelas atas untuk memesan fondasi batu batuan magis. Namun, baru saja mereka hendak melangkah keluar dari salah satu gerai toko, sesosok pemuda eksentrik dengan jubah sutra zamrud bertabur sulaman emas menghadang langkah mereka.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan pemilik jenius dari merek Ruby Rose di tempat seperti ini," ucap pemuda itu sembari membungkuk hormat, menyunggingkan senyum menawan yang penuh pesona. "Perkenalkan, namaku Leonardo, cukup panggil aku Leon. Pengusaha logistik tekstil ternama di Solmara."
Paul langsung pasang badan di depan Anna, namun Leon dengan cepat mengangkat kedua tangannya, tanda tidak punya niat buruk.
"Aku tidak datang untuk memeras, Tuan dan Nyonya yang terhormat," ujar Leon terus terang, matanya yang tajam menatap langsung ke arah Anna. "Aku telah mengamati karya Nona. Struktur benang dan kemurnian kualitas magis di dalamnya ... itu setingkat dengan tekstil mewah Kekaisaran Barat yang harganya ribuan koin emas. Alih-alih menjadi kompetitor yang saling menjatuhkan dengan licik, aku datang untuk menawarkan aliansi besar."
Anna mengangkat sebelah alisnya. "Aliansi seperti apa, Tuan Leon?"
"Aku menyediakan modal penuh, tempat paling strategis di distrik elit Solmara, dan jaminan rantai pasokan kain berkualitas terbaik dari seluruh penjuru wilayah," jawab Leon.
"Sementara Anda, Nona Ruby, hanya perlu menyediakan keahlian sihir benang dan desain magis Anda yang luar biasa itu. Kita akan membangun sebuah butik resmi bersama: Ruby Rose Boutique. Bagaimana?"
Mendengar tawaran yang begitu menggiurkan tanpa harus memikirkan urusan logistik dan lokasi pemasaran, Anna bertukar pandang dengan Paul. Setelah diskusi singkat, kesepakatan pun tercapai. Surat kontrak kerja sama hitam di atas putih dengan Leon resmi ditandatangani sore itu juga.
Sore harinya, langit Solmara mulai bergradasi menjadi warna jingga. Saat Anna melangkah berjalan pulang bersama kedua orang tua angkatnya di sepanjang trotoar distrik elit, sebuah perasaan asing mendadak menggelitik tengkuknya.
Ia merasa diawasi dengan begitu intens.
Anna menghentikan langkahnya sejenak, membalikkan tubuh dan mendongak menatap lurus ke arah menara pengawas militer tertinggi yang berdiri tegak di sudut distrik elit tersebut.
Di atas sana, di balik pilar batu yang dingin, siluet tegap dan perkasa milik Aethan Cassian Solaris berdiri kokoh bersedekap dada.
Ada riak kecemburuan yang bergejolak di dalam dada; Aethan tahu persis tentang keberadaan Valen di balik cermin, dan kini, netra peraknya menyaksikan sendiri bagaimana pria lain bernama Leon berani mendekati merpati kecilnya.
Anna menahan napasnya di bawah tatapan sedingin es itu, menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa lari dari bayang-bayang sang Panglima.
lanjut yaaaaa