Bertahun-tahun Ivy membenci kakaknya, Adam. Adam sempurna dalam segala hal, kedua orang tuanya mencurahkan perhatian lebih besar padanya, segala yang yang diungkapkan Adam dianggap serius oleh orang-orang sekitarnya, Adam begitu populer, dan semua suka padanya.
Kecuali Ivy.
Entah sejak kapan ia merasa kalau Adam adalah saingannya dalam segala kehidupan.
Sampai Ivy tahu kalau semua hal yang dilakukan Adam sebenarnya adalah untuk kebaikan Ivy.
Juga sebuah rahasia yang selama ini disimpan Adam rapat-rapat, membuat pandangan Ivy ke Kakak angkatnya itu berubah seratus delapan puluh derajat.
Ivy yang tadinya sangat benci kepada Adam, menjadi bersemangat...
Bersemangat untuk menggoda cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa Pulang
Adam membopong Ivy ke kamarnya lalu melepaskan sepatu gadis itu dengan hati-hati. Ia berusaha agar Ivy tidak terbangun. Dengan perasaan memendam kebencian, ia pun mencari nomor telepon Maudy melalui ponsel Ivy.
Setelah ia dapat nomor telepon itu, ia melanjutkan mencari media sosial Maudy.
Satu per satu foto ia perhatikan.
Ia teliti.
Dan setelah itu ia keluar dari kamar Ivy menuju ke kamarnya sendiri.
Lalu di dalam kamarnya Adam menciptakan beberapa fake account, dan masuk ke media sosial Maudy. Pelan-pelan ia telusuri platform-platform yang berkaitan dengan Maudy, Sampailah ia ke situs pencarian jodoh.
Tampaknya Maudy sedang mencari pasangan. Sebenarnya cewek itu sudah punya pacar, namun ia tidak puas. Spesifikasi pria yang dicarinya mirip seperti Adam kalau dilihat dari ciri-ciri spesifik yang ia lampirkan di profil.
Rambut coklat? Mata hijau? Tinggi 185 keatas...
“Halah...” desis Adam sambil tersenyum mengejek.
Adam cari-cari foto pria yang sesuai dengan kriteria Maudy, ia ubah sedikit rautnya dengan aplikasi desain. Jadilah beberapa foto gabungan. Sosok pria tampan yang tidak ada di dunia nyata.
Lalu ia pun menghubungi Maudy dengan aplikasi pencari jodoh itu.
“Hai, aku tertarik sama kamu. Kalau boleh bisa kita ketemuan? Siapa tahu cocok,” Adam menggunakan akun palsunya dengan foto-foto pria yang ia ciptakan.
Tak berapa lama, muncul balasan dari Maudy.
**
Papa pulang ke rumah keesokan harinya, bersama Cassandra.
“Pah,” sambut Ivy dengan senyum dipaksakan.
Sebenarnya sudah sejak lama hubungan Ivy dan papanya tidak akur. Dimulai sejak Ivy masuk SMA, Mamanya memergoki sang suami berselingkuh. Mereka banyak bertengkar setelah itu, dan Ivy lebih banyak diurus oleh Adam yang memang sudah bekerja. Setelah itu gantian, Papa memergoki mama flirting dengan pria lain. Mama bilang kalau itu pengalih perhatiannya dari kekesalannya akan rumah tangga.
Setelah itu mereka berbaikan.
Dan tiba-tiba datang wanita lain ke hidup papanya.
Lagi dan lagi dan lagi...
Kejadian itu terus berulang, suami istri saling berbalas dendam.
Sampai akhirnya mama capek dan minta bercerai.
Ivy, sudah mati rasa, air matanya sudah habis untuk kondisi orang tuanya.
Gara-gara broken home itu juga dia sering di rundung di sekolah.
Herannya, setelah tahu ada sosok Adam di belakang Ivy, para cewek-cewek itu mulai mau mendekati Ivy, tapi selalu bertanya Adam sedang apa, Adam orangnya bagaimana. Selalu tentang Adam.
Jadi intinya,
Ivy benci Adam, tapi dia ketergantungan akan Adam.
“Ivy...” desis Papanya.
Ivy maju dan mencium tangan papanya, dan papa tidak kuasa menahan rasa kangennya ke anak perempuannya itu. Ia dekap tubuh Ivy seerat mungkin sambil menangis di bahu gadis itu.
“Maafkan Papa,” desis pria itu.
Ivy hanya menghela nafas sambil mengelus punggung papanya.
Ya, ini semua salah papanya.
Tapi semua sudah terjadi.
Apa yang harus ia lakukan selain berlapang dada menerima semuanya?
Tapi tetap saja, ia harus membatasi diri bertemu papanya ini. Rasa kecewa tidak mudah hilang dari hatinya.
Ia menerima Papanya hanya karena ia suka Cassandra.
**
“Aku tinggal di Madrid selama dua tahun, Daddy yang sebelumnya membuatku tertahan di kota itu. Untung saja aku ditinggalkan dalam keadaan kaya, tapi aku patah hati looooh,” desis Cassandra sambil membantu Ivy berdandan.
Mereka akan pergi makan malam, Ivy, Cassandra, Papa dan Adam.
Dan Ivy sangat bersemangat akan hal ini.
“Dan saat itu Tante ketemu papa?” tanya Cassandra.
“Papamu lagi berantem sama cewek di tengah jalan, hahahaha! Cewek itu menampar papamu dan pergi. Lalu karena kasihan aku mentraktir Mi Amor kopi,”
“Wah, unik juga pertemuan kalian,”
Lalu keadaan hening.
Sesaat Cassandra tampak murung, lebih tepatnya tegang. Ia memikirkan mengenai Adam.
Karena kemarin, setelah Cassandra menceritakan apa saja yang selama ini dialami Ivy, seperti apa Ivy diperlakukan oleh teman-temannya, hal itu membuat Adam berang.
Cowok itu hanya diam dengan urat nadi yang bersembulan di dahinya, lalu ia menggendong Ivy dan keluar dari hotel.
Cassandra takut, Adam akan berbuat hal yang diluar batas ke pembully Ivy. Cassandra bahkan tidak tahu nama-nama teman-teman Ivy. Tapi dari sikapnya, Adam tampaknya merencanakan sesuatu yang jahat.
‘Pantas saja aku tidak berhasil menggodanya, ternyata dia jatuh cinta ke adiknya sendiri, gerutu Cassandra dalam hati. ‘ tapi hubungan incest semacam ini kan terlarang yaaaa,’ pikirnya lagi sambil mengernyit.
“Sory kalau mukaku terlalu kusam,” kata Ivy tiba-tiba. Menyadarkan Cassandra kalau ia sedang mengaplikasikan fondi ke wajah Ivy.
“Eh? Apa?” tanya Cassandra.
“Mukaku... kusam,”
“Apanya yang kusam? Ini malah muluuuus banget loh Shay, situ pake skinker apa sih? Kok pori-porinya tak kelihatan giniii?!”
“Eh? Kata teman-temanku mukaku kusam banget, bikin dunia suram,” desis Ivy.
“Ih!!” Cassandra mencebik, “Aku kok jadi pingin ketemu teman-teman kamu ya! Pingin kulempar voucher!!”
Nggak heran kalau Adam semarah itu. Aku yang belum pernah bertemu mereka aja mangkel! Pikir Cassandra.
”Loh? Kenapa Tante? Voucher mah buat saya ajaaa,”
“Shay, Ivy, dengerin aku!” Cassandra menghadap Ivy sambil dengan tajam menatap kedua mata Ivy. “Kamu itu cantiknya selangit! Kamu sangat-sangat Manis. Maqnifique... ngerti?”
“nggak,’
“Ngerti doing ah!”
“Lagian Tante bercanda terus, mau nyindir aku atau bagaimana?”
“Aku nggak nyindir looooh, kamu memang cantik! Sayangi dong diri kamu sendiri sedikiiiit aja!” Cassandra semakin bersemangat mendandani Ivy. “Udah kamu nggak usah liat-liat kaca dulu, aku tunjukin kalau kamu sangat manis! Dijamin setelah ini bahkan Adam saja akan tidak bisa berkata-kata,” Cassandra misuh-misuh sendiri sambil menorehkan fondation ke wajah Ivy.
**
Ya, tidak bisa berkata-kata.
Dengan kata lain, wajah Adam yang tadinya terpana beberapa detik, langsung berubah menjadi muram setelahnya.
“Astaga Anak papa!” seru Papa sambil menghampiri Ivy dan mengecup kedua pipinya, “Kamu cantik sekali sayang!”
“Cantik kaaaan, ya dasarnya memang sudah manis sih yaaa,” sahut Cassandra ceria.
“Ini kamu ya dandani ya Corazon?” tanya Papa ke Cassandra. (Corazon artinya ‘sayang’ dalam bahasa Spanyol)
“Iya dooong, jujur aja, dia lebih cantik dariku,”Ujar Cassandra.
Papa diam sambil melirik Cassandra.
Cassandra membulatkan matanya menatap papa.
Ivy hanya cekikikan.
“itu pertanyaan jebakan, kan?!” tanya Papanya ke Cassandra.
“Iya,” jawab Cassandra.
“Maaf, tapi ya. Ivy lebih cantik darimu,”
“untung saja dia anakmu, hehehe” Cassandra tidak tersinggung, ia malah cengengesan.
“makasihya Bebe,” desis Papa sambil mengecup dahi Cassandra.
Ivy berdehem dan menatap dirinya di kaca ruang keluarga yang biasa diletakkan di sana agar anggota keluarga yang tinggal di sana bisa memeriksa penampilannya dahulu sebelum keluar rumah.
Ivy suka penampilannya.
Sangat suka.
Ia seperti putri dalam legenda klasik.
Dandanan Natural dan baju desainer mewah yang elegan.
Untuk pertama kalinya ia bangga terhadap dirinya.
Tapi...
Saat ia melirik ke belakangnya lewat pantulan kaca, Adam sedang menatap dirinya dengan tajam dan sinis.
Wajah cowok itu tampak tidak senang, malah lebih terlihat seperti sedang menahan amarahnya.
Seketika bulu kuduk Ivy langsung meremang.
Apakah aku sangat tidak pantas mengenakan gaun dan berdandan semacam ini?Sangat buruk rupa kah diriku? Sampai kakak menatapku dengan jijik seperti itu?
Begitu pikir Ivy.