Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Darah di Alas Purwo
Bau tanah basah dan anyir darah menyengat indra penciuman Satria Pamungkas.
Tubuhnya tergeletak pasrah di atas akar-akar pohon raksasa yang meliuk seperti ular sanca.
Rasa sakit yang teramat sangat membakar setiap jengkal kulitnya.
Tulang rusuknya patah, tangan kanannya hancur, dan sebuah luka tusukan menganga di perutnya, terus mengalirkan darah segar yang membasahi tanah hitam Alas Purwo.
Di depannya, berdiri tiga orang pria berpakaian zirah kulit khas prajurit Kadipaten Blambangan.
Salah satu dari mereka, seorang lelaki bermata juling bernama Ki Gede Suro, meludah tepat ke arah wajah Satria yang bersimbah darah.
"Bocah kasta rendah tidak tahu diri," umpat Ki Gede Suro, suaranya parau penuh kejengkan. "Hanya karena kamu berbakat dalam olah Kanuragan, kamu pikir kamu bisa bersanding dengan Gusti Ayu Dyah Sekar Ayu? Melamar Putri Mahkota dengan tangan kosong? Benar-benar katak yang merindukan bulan!"
Satria tidak bisa menjawab. Mulutnya penuh dengan gumpalan darah—tatapan matanya yang sayu namun tajam menatap lurus ke arah tiga orang di depannya.
Di dalam hatinya, tidak ada rasa takut. Yang ada hanyalah kemarahan yang membeku menjadi kebencian mutlak.
Dia ingat kembali bagaimana tiga jam yang lalu, dia dijebak. Dia diundang ke perbatasan hutan dengan dalih ujian kelayakan oleh sang Adipati.
Namun sesampainya di sini, dia justru dikeroyok oleh para Senopati kepercayaan istana.
Alasan sebenarnya sangat sederhana: bakat Satria yang terlalu mengerikan di usia muda membuat para bangsawan merasa terancam. Mereka tidak ingin seorang pemuda dari kasta jembel mengacaukan tatanan kekuasaan mereka.
"Sudahlah, Ki Gede. Cepat selesaikan," ujar prajurit di sebelahnya sambil menghunus keris panjang yang berlumur racun warangan berwarna kehijauan. "Meninggalkannya di tengah Alas Purwo dalam kondisi seperti ini sama saja dengan memberinya makan kepada siluman. Tanpa kita penggal pun, nyawanya tidak akan lewat dari sepertiga malam."
Ki Gede Suro tertawa hambar. Ia melangkah maju, lalu menendang luka di perut Satria tanpa belas kasihan.
"Argh!" Satria melenguh lirih, tubuhnya kejang seketika.
"Ingat ini di neraka, Satria. Di Jagat Dwipantara, orang lemah dan miskin sepertimu hanya punya satu takdir: menjadi batu pijakan bagi kami, para penguasa," bisik Ki Gede Suro dengan senyum sinis.
Setelah puas melihat penderitaan Satria, ketiga prajurit itu berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Satria sendirian di dalam kegelapan hutan yang mulai berkabut pekat.
Suara lolongan serigala gaib mulai terdengar bersahut-sahutan di kejauhan, menandakan bahwa para penghuni malam Alas Purwo telah mencium bau darah yang segar.
Satria menatap langit-langit hutan yang tertutup rapat oleh dedaunan rimbun. Napasnya semakin pendek dan berat. Kesadarannya perlahan-lahan mulai mengikis.
'Apakah aku akan mati di sini?' pikirnya, dibarengi dengan tawa getir di dalam benak. 'Sia-sia... semua latihan keras yang kulakukan selama belasan tahun ini sia-sia hanya karena selembar kertas kasta kemunafikan mereka.'
[Bip! Mendeteksi gelombang kebencian mutlak dan sisa Prana yang murni...]
[Kriteria kecocokan inang terpenuhi. Mengintegrasikan Sistem Penguasa Jagat ke dalam sukma inang...]
Sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi tiba-tiba bergema di dalam kepala Satria, memecah kesunyian malam yang mencekam. Satria terbelalak, mengira dirinya sudah mulai berhalusinasi menjelang ajal.
[Proses integrasi: 10%... 45%... 90%... 100%. Integrasi berhasil!]
[Selamat datang, Inang Satria Pamungkas. Anda telah membangkitkan Sistem Penguasa Jagat (Overlord System).]
"Si... siapa?" bisik Satria dengan sisa tenaganya.
[Saya adalah sistem yang tercipta untuk membantu Anda menaklukkan Jagat Dwipantara. Mengingat kondisi tubuh Inang saat ini berada dalam status kritis (Kematian dalam 120 detik), fungsi awal pelindung otomatis diaktifkan.]
[Pemberitahuan: Anda mendapatkan Paket Hadiah Pemula. Apakah Anda ingin membukanya?]
Satria bukan orang bodoh. Meskipun dia tidak memahami apa itu 'sistem' atau 'paket hadiah', insting bertahan hidupnya yang sangat kuat langsung mengambil keputusan. "Buka... cepat buka..."
[Bip! Membuka Paket Hadiah Pemula...]
[Anda mendapatkan: Pil Pemurni Sumsum Surgawi (Tingkat Mitos) x1]
[Anda mendapatkan: Kitab Ajian Kanuragan 'Langkah Bayangan Sutra' (Tingkat Senopati) x1]
[Anda mendapatkan: 10.000 Poin Sistem awal.]
[Sistem mendeteksi bahwa Pil Pemurni Sumsum Surgawi dapat digunakan secara instan melalui Metode Integrasi Jiwa untuk menyembuhkan luka Inang. Apakah Anda setuju?]
"Setuju! Lakukan sekarang!" teriak Satria di dalam benaknya.
Seketika, sebuah energi hangat yang luar biasa besar meledak dari dalam dadanya.
Energi itu mengalir deras seperti air terjun yang menghantam pembuluh-pembuluh Prana-nya yang tersumbat.
Rasa sakit yang baru muncul, namun kali ini rasa sakit itu disertai dengan sensasi rekonstruksi yang luar biasa.
Satria bisa mendengar suara tulang-tulangnya yang patah mulai menyatu kembali dengan cepat. Luka tusukan di perutnya menutup, menyisakan kulit baru yang mulus tanpa cacat.
Tidak hanya itu, kotoran hitam berbau busuk keluar dari pori-pori kulitnya—itu adalah racun dan ampas kotoran yang selama ini menghambat bakat kultivasinya.
[Bip! Proses penyembuhan dan pemurnian selesai.]
[Status Inang saat ini: Ranah Wira (Tahap 3). Kulit tubuh Anda kini memiliki ketahanan setara perunggu.]
Satria bangkit berdiri dengan hentakan pelan. Ia menatap kedua tangannya dengan tatapan tidak percaya.
Tubuhnya terasa jauh lebih ringan, dan aliran Prana di dalam dirinya mengalir beberapa kali lipat lebih deras daripada sebelumnya.
Hanya dalam hitungan menit, dia tidak hanya sembuh total, tetapi juga melompat langsung ke Tahap 3 Ranah Wira!
"Luar biasa..." gumam Satria, senyum dingin mulai mengembang di wajahnya yang tampan. Tatapannya beralih ke arah kabut pekat Alas Purwo. "Ki Gede Suro... para bangsawan jahanam... kalian harus membayar ini semua dengan kepala kalian."
[Misi Utama Pertama Diaktifkan: Langkah Awal Sang Overlord.]
[Deskripsi: Balaskan dendam Anda pada faksi lokal Kadipaten Blambangan yang telah mengkhianati Anda. Bersihkan kota pinggiran dari pengaruh mereka.]
[Hadiah Misi: 50.000 Poin Sistem, Akses Kategori 2 Toko Sistem, dan fungsi Asmaragama Siphoning.]
[Batasan: Waktu penyelesaian dalam 30 hari.]
Satria membaca teks transparan yang melayang di depan matanya dengan saksama. "Fungsi toko? Sistem, tunjukkan apa saja yang ada di dalam toko saat ini."
[Menampilkan Toko Sistem (Pawon Pusaka) - Kategori 1 (Kitab Kanuragan & Mantra):]
• Kitab Mantra Teluh Gagak Hitam - Harga: 5.000 Poin.
• Kitab Ajian Pedang Pembelah Lautan (Tahap Awal) - Harga: 8.000 Poin.
• Kitab Ajian Kebal Jolo Sutro - Harga: 12.000 Poin.
Satria melihat saldo poinnya yang berjumlah 10.000 poin. Matanya tertuju pada Kitab Ajian Pedang Pembelah Lautan. Sifatnya yang pragmatis dan anti-hero membuatnya tahu bahwa untuk membantai musuh, dia membutuhkan daya serang yang mematikan, bukan sekadar pertahanan.
"Sistem, beli Kitab Ajian Pedang Pembelah Lautan menggunakan metode Integrasi Jiwa untuk diriku sendiri," perintah Satria tanpa ragu.
[Bip! Memotong 8.000 Poin Sistem. Memulai Integrasi Jiwa...]
Wush!
Sebuah kilatan cahaya keemasan langsung melesat masuk ke dalam dahi Satria. Dalam sekejap, ribuan memori, cara mengalirkan Prana ke bilah pedang, serta teknik memotong angin langsung tertanam kuat di dalam benaknya.
Otot-otot tangannya bergerak secara alami, seolah-olah dia telah melatih ajian pedang tersebut selama puluhan tahun di puncak gunung terpencil.
Satria tersenyum puas. Namun, kesenangannya terganggu ketika semak-semak di sekitarnya mulai berdesir kencang. Tiga pasang mata berwarna merah menyala muncul dari balik kegelapan kabut.
Itu adalah Serigala Siluman Alas Purwo, monster tingkat rendah yang setara dengan Ranah Wira Tahap 2. Air liur mereka yang beracun menetes, menatap Satria seolah-olah pemuda itu adalah santapan malam yang lezat.
"Tepat sekali. Aku butuh target uji coba untuk mainan baruku," ucap Satria dingin.
Satria tidak memiliki pedang fisik saat ini, namun dengan penguasaan Ajian Pedang Pembelah Lautan, ia mengalirkan Prana murninya ke ujung jari telunjuk dan tengah tangan kanannya.
Aura tajam berwarna biru keputihan mulai menyelimuti jarinya, memancarkan suara mendengung seperti lebah yang siap menyengat.
Satu serigala melompat menerjang ke arah tenggorokan Satria dengan kecepatan tinggi.
Satria tidak menghindar. Matanya yang tajam mengunci pergerakan monster itu dengan sangat mudah. Ketika serigala itu berada hanya satu jengkal di depannya, Satria mengayunkan dua jarinya secara horizontal.
Sret!
Sebuah garis cahaya tajam membelah udara. Tanpa perlawanan berarti, kepala serigala siluman itu terlepas dari tubuhnya, menyemburkan darah hitam sebelum jatuh berdebam ke tanah.
Dua serigala lainnya yang melihat hal itu langsung menghentikan langkah mereka, insting binatang mereka mendadak merasakan tekanan jiwa yang mengerikan dari pemuda manusia di depan mereka.
[Bip! Anda telah membunuh Serigala Siluman. Memicu Efek Intimidasi Mutlak pada kawanan monster.]
[Mendapatkan: 500 Poin Sistem.]
Satria menatap dua serigala yang mulai gemetaran dan mencoba mundur. Wajahnya tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun.
Baginya, di dunia yang kejam ini, membiarkan ancaman sekecil apa pun tetap hidup adalah tindakan naif yang bodoh.
"Mau lari? Terlambat," bisik Satria.
Dengan gerakan kaki yang cepat hasil dari peningkatan fisiknya, Satria melesat maju, meninggalkan jejak tanah yang retak.
Dua tebasan jari spiritual kembali membelah kegelapan malam, diikuti oleh suara erangan kematian dari dua makhluk malang tersebut.
Setelah membersihkan sisa darah di jarinya, Satria menatap ke arah luar hutan, tempat di mana Kadipaten Blambangan berada.
Langkah pertamanya telah dimulai di sini, di tempat berdarah ini.
"Dyah Sekar Ayu, Adipati Blambangan... tunggu aku. Aku akan kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, dan menghancurkan apa yang kalian banggakan," gumam Satria, sebelum tubuhnya menghilang ke dalam keheningan malam Alas Purwo.
Catatan Author:
Sistem Kekuatan: Ranah Kanuragan (8 Tingkat, Tahap 1–9)
Setiap tingkat besar dibagi menjadi Tahap 1 sampai 9 demi menjaga kepuasan progres jangka panjang:
1. Ranah Wira: Penguatan fisik makro, kulit sekeras perunggu.
2. Ranah Satria: Manifestasi aura Prana (energi dalam) untuk perlindungan/serangan.
3. Ranah Senopati: Manipulasi elemen alam (api, angin, petir) ke tubuh/senjata.
4. Ranah Adipati: Memiliki Tekanan Jiwa tirani yang bisa mengintimidasi ribuan pasukan.
5. Ranah Maharaja: Puncak fana, kemampuan terbang, menghancurkan kota kecil sekali serang.
6. Ranah Resi (Surgawi): Umur ratusan tahun, memanggil khodam/roh suci raksasa.
7. Ranah Hyang (Dewa): Manipulasi ruang-waktu lokal dan hukum alam.
8. Ranah Overlord: Puncak absolut, integrasi seluruh kekuatan harem dan jagat raya.