NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:201
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUAPULUHLIMA

"Kamu udah makan?" tanya Bio saat melihat Arun hanya duduk sambil menatapnya.

"Kamu?" Batin Arun.

Arun menganggukan kepala sebagai jawaban, "darimana aja tadi?" tanya Arun.

Sebenarnya Arun merutuki kebodohannya. Saat ini Arun terlihat jelas seolah tengah memberikan perhatian pada Bio. Dalam hati Arun, mungkin bisa saja Bio nanti merasa kegeeran apa yang sedang Arun lakukan ini.

"Saya ke cafe" balas Bio sambil melanjutkan menghabiskan makanannya.

Cukup. Lagi-lagi Arun mencoba menahan rasa penasarannya, "udah? Atau mau nambah sayur? Nasi?" tawar Arun.

"Cukup, saya udah kenyang" tolak Bio.

Arun langsung bangun dan mengambil piring bekas makan Bio dan diletakannya di wastafel cuci piring karena itu akan dilakukan besok pagi oleh Arun. Saat kembali ke meja makan Arun membawa tudung saji yang terbuat dari anyaman rotan yang berwarna untuk menutupi sisa makanannya.

"Gue mau tanya boleh?" ucap Arun dengan hati-hati.

Bio langsung menganggukan kepala, "sambil duduk" ucap Bio pada Arun.

Arun langsung menarik kursi disampingnya dan duduk dengan menghadap pada Bio, "lo nikahin gue karena kasihan?" tanya Arun tanpa ragu setelah menarik napasnya.

Bio terdiam memikirkan pertanyaan dari Arun, "kenapa?" tanya Bio dengan cukup dingin dan singkat.

"Jujur, kalo itu benar adanya. Sumpah lo gak perlu sampe nikah in gue karena kasihan sama gue. Hidup gue terlalu berharga, lo gak perlu ngasihan in gue!" ucap Arun penuh penekanan.

"Siapa yang bilang?" tanya Bio.

Arun mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda mengerti, "gak perlu tahu siapa orangnya, emang lo itu manusia gak punya hati tau gak!" ujar Arun dengan setengah teriak.

"Arun?" panggil Bio.

Arun memang langsung masuk menuju kamarnya setelah meluapkan kekesalannya pada Bio. Sedangkan saat ini Bio hanya bisa terdiam sambil menatap pintu kamar Arun.

Ada penyesalan dalam diri Bio saat mengatakan bahwa dia tidak menyukai pernikahannya dengan Arun. Tapi disatu sisi ayahnya selalu menekan Bio dan tidak sabar dalam melihat perkembangan Bio.

Tapi pelajaran yang bisa Bio ambil adalah selagi kita ada permasalahan atau apapun itu, kita harus bisa menyelesaikannya segera. Jangan tunda sampai besok atau nanti akan muncul masalah baru dan akan semakin susah untuk menyelesaikannya.

Tok

Tok

"Arun?".

Saat ini Bio tengah mencoba menyelesaikan masalahnya langsung tanpa menunggu nanti atau besok. Persetan dengan Arun yang akan teriak atau malah menolaknya, Bio akan tetap melakukan.

"Arun. Kalo kamu masih diam aja. Berarti saya boleh masuk oke?" tanya Bio dari balik pintu tersebut.

Tanpa berpikir panjang Bio langsung membuka pintu kamar Arun dengan mudah karena tidak dikunci.

Saat terbuka saat itu juga lah Bio melihat gulungan selimut di atas kasur. Terdengar suara rintihan dari balik gulungan tersebut.

"Arun menangis?" Batin Bio.

Terdengar pilu dan menyayat. Setelah mendengar tangisan Arun kembali, Bio teringat dengan kondisi Arun saat ditinggal sang nenek beberapa waktu lalu. Tangisannya sama, tangisan kepedihan.

"A--run" panggil Bio dengan lembut dan sedikit ragu.

Diam. Tidak lagi terdengar rintihan namun Arun masih dengan posisi yang sama menggulung dirinya menggunakan selimut dan bantal. Arun berpikir dengan seperti itu tangisnya tidak akan terdengar.

"Arun, saya minta maaf kalau perkataan saya membuat kamu sakit hati. Saya gak bermaksud begitu" ujar Bio.

Tidak ada respon apapun dari Arun.

Saat ini Arun merasa malu walaupun hanya untuk menunjukan wajahnya pada Bio. Karena saat ini keadaan wajah Arun sangat kacau.

"Harusnya kak Bio kabur jangan mau nikah sama gue!" ujar Arun meski dengan nada yang tidak jelas karena masih dengan kondisi tangis yang  ditahan.

"Arun kita obrolin baik-baik, kamu buka dulu selimut ini. Saya tahu kamu pasti kekurangan oksigen" ujar Bio.

Srek!

Arun langsung membukanya dengan kasar, "kayaknya gue terlalu baik deh kalo manggil lo kak" ucap Arun.

"Jangan bahas itu dulu!".

"Mending lo keluar!" usir Arun sambil menunjuk ke arah pintu kamar yang terbuka.

"Terus kamu mau apa sekarang?" tanya Bio pada Arun.

"Kita pisah".

Bio mengerutkan dahinya lalu tatapan ibanya berganti dengan wajah penuh kekesalan, "enggak, lo pikir ini pernikahan main-main?".

"Kenapa? Lo duluan yang mainin tujuan pernikahan ini!" protes Arun.

"Kita baru nikah beberapa minggu, apa kata orang nanti?".

"Jangan dengerin kata orang! GUE CAPEK TAU GAK LO?!" teriak Arun di depan wajah Bio.

Bio terdiam. Teriakan Arun memang sangat keras, namun saat mengatakan itu air mata Arun turun bersama teriakan tersebut.

"Gue gak mau jadi beban siapapun. Gue gak perlu kalian kasihan in, gue masih mampu kok hidup tanpa kalian semua. KARENA APA? KARENA DARI LAHIR GAK ADA SATU ORANG PUN YANG MAU DAPAT ANDIL DALAM PERJALANAN HIDUP GUE! kecuali nenek" jelas Arun dengan penuh penekanan hingga kepalanya tertunduk saat ini.

"Jadi gue mohon lepasin gue" ucap Arun dengan lemas sambil menatap mata Bio setelah mampu mengangkat kepalanya.

"Enggak" balas Bio.

Arun memutus tatapan mereka dengan kesal, "ckk, kenapa sih?! Padahal mamah lo aja benci sama gue. Kenapa? Lo mau buat gue mati perlahan?" tanya Arun.

"Mamah? Apa maksud lo?" tanya Bio.

"Kalo lo emang gak bisa nentang pak Broto, biar gue yang bilang. Gue yang bakal jelasin sama papah lo kalo kita gak bisa sama-sama. Tujuan kita beda" jelas Arun dengan sedikit tenang.

"Gak! Gue gak akan pernah lepasin lo!" Setelah mengatakan itu, Bio langsung melangkah berjalan keluar dari kamar Arun. Namun langkahnya terhenti tepat di pertengahan pintu.

"Gue punya salah sama lo? KENAPA HARUS GUE? KENAPA LO GAK MAU LEPASIN GUE?" teriak Arun.

Hening terjadi di antara mereka. Sedangkan Arun tengah sibuk mengusap dengan kasar air matanya menggunakan tangan.

"Karena apa yang udah jadi milik gue, gak akan pernah gue lepasin".

Kali ini Bio benar-benar pergi meninggalkan Arun sendirian. Sedangkan Arun masih duduk terdiam di atas tempat tidurnya.

Setelah pertengkaran malam itu, baik Bio maupun Arun tidak saling menyapa. Mereka saling diam meski terkadang tidak sengaja berpapasan saat beraktivitas didalam rumah.

Seperti hari ini, Arun tidak keluar dalam kamarnya lagi setelah menyiapkan makanan. Arun akan keluar saat Bio pergi ke cafe, lalu Arun pun pergi ke kampus.

"Arun?".

"Akbar"

Akbar langsung menarik kursi di hadapan Arun. Akbar tersenyum saat melihat Arun namun hanya sesaat sebelum menyadari raut wajah Arun saat ini.

"Kamu baik-baik aja Run?" tanya Akbar.

Saat ini mereka memang sedang berada di kampus tepatnya di kantin kampus. Arun sedang menunggu kelas yang akan di mulai beberapa waktu lagi. Sedangkan Akbar baru saja selesai kelas. Tanpa sengaja menemukan Arun duduk sendirian.

Arun menganggukan kepala membalas pertanyaan Akbar, "tapi muka kamu ...".

"Lo ada perlu apa?" tanya Arun memotong perkataan Akbar yang sepertinya akan terus mengulik kondisinya saat ini.

"Ehmm, beberapa hari ini aku susah banget buat ketemu kamu. Setelah kepergian nenek Salma aku sama kamu jadi asing, kamu ngehindarin saya Run?" tanya Akbar.

"L--lo salah paham Bar, gue gak bermaksud kayak gitu" ucap Arun merasa tidak enak hati.

"Terus selama ini, kamu tinggal dimana?" tanya Akbar.

Arun terdiam. Tidak mungkin Arun mengatakan kalau dirinya sudah menikah dengan Bio yang merupakan bos dari Akbar.

Arun menggelengkan kepala, "gak! Albar gak boleh tahu" batin Arun.

"Run?"

Arun terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri, "Arun? Arun!" panggil Akbar sambil menggoyang tangan Arun.

"Ah iya, itu ... gue tinggal di kontrakan" ucap Arun spontan.

"Jadi kamu ngontrak sekarang?".

Arun menganggukan kepala sambil tersenyum tipis untuk menghilangkan kegugupannya, "kalo gitu pas banget" ujar Akbar.

"Pas? Maksud lo?" tanya Arun bingung.

"Kamu mau kan balik lagi kerja di cafe?" tanya Akbar dengan mata berbinar dan tersenyum manis.

"Cafe" gumam Arun.

Akbar menganggukan kepala, "cafe lagi butuh banget lo Run, cuma lo yang bisa selesaiin masalah cafe saat ini" jelas Akbar.

"Lo salah orang kayaknya Bar. Sorry, gue gak bisa" tolak Arun.

Mana mungkin Arun kembali ketempat itu dimana Bio berada. Sedangkan saat ini Arun tengah menghindari Bio.

Akbar menggelengkan kepala, "aku gak salah, kamu orangnya Run. Anak-anak yang lain juga setuju dan mereka kangen sama kamu. Aku mohon Run, balik ke cafe ya" bujuk Akbar.

"Tapi Bar ..."

"Gini aja, pulang dari kampus ini kamu sama aku ke Cafe gimana?" Akbar memberikan usulan.

"Gak bisa Bar".

"Kamu liat dulu aja kondisinya, gimana?" tanya Akbar.

Arun menghela napasnya, tidak ada pilihan lain sepertinya. Arun langsung menganggukan kepala menyetujui, lagi pula Arun pun sangat kangen dengan ke dua kakak laki-laki nya yang berada di Cafe.

"Yess, okee" senyum bahagia terpancar di wajah Akbar membuat Arun ikut senang dan menarik kedua sudut bibirnya.

Tbc.

Karena kamu, aku rela menunggu semua sungguh berat yang kurasa 🫀🫀

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!