Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Hari Pertama di Paviliun Surgawi
Hari pertaruhan yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Paviliun Giok Surgawi yang megah hari itu ditutup untuk umum. Hanya para kolektor papan atas, taipan industri, dan kritikus batu mulia terkemuka yang diizinkan masuk sebagai saksi. Liu hadir dengan setelan jas terbaiknya, berdiri di baris depan untuk mendukung sahabatnya, sementara Mei menggenggam tangan Chen erat sebelum kompetisi dimulai, memberikan kekuatan lewat tatapannya.
Perlombaan ini resmi diumumkan akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut dengan tiga ujian yang berbeda.
"Hadirin sekalian, hari pertama dimulai!" seru sang pembawa acara di atas panggung besar. "Aturannya mutlak: Kedua peserta harus memilih satu batu mentah dari seribu batu yang telah disediakan panitia, lalu menebak isinya secara akurat. Batu tersebut harus berisi giok tingkat langka. Jika hanya mendapatkan giok kualitas biasa, maka peserta langsung dinyatakan kalah!"
Suasana seketika hening. Tuan Feng melangkah lebih dulu ke area penyimpanan batu dengan langkah tenang dan berwibawa. Sebagai master legendaris, ia hanya butuh waktu sepuluh menit, meraba permukaan, dan mendengarkan ketukan batu sebelum menunjuk seonggok batu berbentuk silinder. "Saya pilih yang ini."
Kini giliran Chen. Pemuda itu berjalan santai di antara deretan batu. Di balik retinanya, energi hangat berdesir hebat. Chen tidak hanya melihat warna hijau; mata ajaibnya langsung membedah struktur molekul pembentuk batuan di depannya. Ia bisa melihat kadar kepadatan mineral dan serat mikroskopis di dalam setiap batu dengan akurasi 100%.
Langkah Chen terhenti di depan sebuah batu berbentuk pipih yang tampak kusam. Di dalam inti batu itu, ia melihat struktur mineral hijau tua yang sangat solid tanpa cela—Giok Vena Naga (Dragon Vein Jade). "Saya pilih yang ini," ucap
Chen tenang.
Pemotongan dan Detik-Detik Penentuan
Kedua batu tersebut segera dibawa ke panggung utama untuk dibelah di depan para juri dan kolektor.
Batu milik Tuan Feng dipotong lebih dulu. Ketika lapisan luar terkikis, kilauan hijau zamrud yang sangat jernih merekah.
"Giok Es Langit (Sky Ice Jade)! Ini adalah giok tingkat tinggi yang sangat langka!" teriak kurator juri dengan kagum. Tuan Feng tersenyum tipis, sangat percaya diri.
Kemudian, tibalah giliran batu milik Chen.
Zzzzzzt!
Mesin pemotong membelah batu pipih tersebut. Begitu air disiramkan, kilauan hijau tua dengan pola guratan emas yang menakjubkan terpancar ke seluruh ruangan.
"Ini... Giok Vena Naga! Karakter seratnya membentuk pola cakar naga yang sempurna! Ini juga giok tingkat langka!" Aula langsung gempar. Di babak menebak isi batu ini, Chen dan Tuan Feng terbukti sama-sama berhasil mendapatkan giok langka.
Namun, ujian hari pertama belum selesai. Untuk menentukan pemenang sejati, kedua giok tersebut harus langsung dilelang di tempat kepada para kolektor yang hadir. Siapa yang mengumpulkan penawaran tertinggi, dialah pemenangnya.
Cacat Tak Kasat Mata
Pelelangan dimulai. Giok milik Tuan Feng dibuka dengan harga awal lima juta yuan. Para taipan langsung saling sikut menaikkan harga hingga menyentuh angka dua puluh juta yuan.
Namun, tepat saat operator mesin lelang hendak mengetuk palu, Chen tiba-tiba maju dan mengaktifkan penglihatan masa depan jangka pendeknya selama dua detik. Dalam kilasan di retinanya, ia melihat sekelompok ahli giok yang sedang meneliti batu Tuan Feng tiba-tiba berteriak karena melihat retakan internal yang fatal akibat kesalahan sudut pemotongan pisau mesin tadi.
Kembali ke realitas, Chen tersenyum tipis. Cacat struktur makro itu memang tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi mata laboratorium milik Chen bisa melihatnya dengan jelas sejak awal.
Benar saja, beberapa detik kemudian, salah satu kurator senior yang memeriksa batu Tuan Feng dengan senter khusus berteriak panik, "Tunggu! Ada retakan mikro di bagian dalam!
PISAU MESIN TADI MEMOTONG TERLALU DALAM DAN MERUSAK STRUKTUR INTI!"
Kabar itu seperti petir di siang bolong. Para kolektor yang tadinya menawar tinggi langsung menarik kembali penawaran mereka. Nilai jual giok Tuan Feng seketika merosot drastis karena cacat potong tersebut.
Sebaliknya, giliran giok Vena Naga milik Chen yang dilelang. Karena Chen sejak awal meminta operator memotong dengan sudut yang sangat presisi berdasarkan struktur molekul yang ia lihat, giok miliknya keluar dalam kondisi super mulus, 100% utuh tanpa cela sedikit pun. Pola emasnya membius semua orang di ruangan.
"Tiga puluh juta yuan!"
"Tiga puluh lima juta yuan!"
"Empat puluh lima juta yuan!"
Palu akhirnya diketuk. Giok milik Chen terjual jauh lebih mahal dibandingkan milik Tuan Feng.
Meskipun secara aturan dasar babak pertama ini keduanya tetap dinyatakan seri atau imbang—karena sama-sama berhasil menemukan giok langka—namun hasil akhir pelelangan membuktikan bahwa insting Chen jauh lebih bersih. Tuan Feng menatap Chen dengan tatapan yang semakin serius sekaligus takjub. Pria tua itu menyadari bahwa kesalahan pemotongan batunya tadi bukanlah sesuatu yang bisa diprediksi manusia biasa, kecuali... Chen memang sudah tahu segalanya.
Hari pertama berakhir dengan hasil imbang, tetapi sebuah ledakan besar telah terjadi di dunia bisnis giok kota itu. Nama
'Chen', pemuda misterius dari kos-kosan yang berhasil mengimbangi dan bahkan mengungguli nilai lelang sang Master
Legendaris, langsung menyebar luas dan menjadi buah bibir di kalangan seluruh kolektor batu giok papan atas.
👍😁