NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 18 Desas-Desus Skandal|

...|Legacy of Soryu|...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Pintu logam itu berdentang menutup, meninggalkan suara gema di belakang mereka. Begitu kaki mereka berdua menginjak lantai koridor yang lebih terang, bahu Nana tampak sedikit turun—seolah seperti baru saja melepaskan beban tak kasat mata yang menghimpitnya sejak berada di tangga darurat tadi.

"Akhirnya," gumam Nana, sambil mengusap perutnya pelan. "Aku kelaparan sekali, Om... Eh—maksudku, Bara. Baru terasa sekarang perihnya."

Bara berjalan di sampingnya. "Kenapa tidak bilang dari tadi?"

Nana mendengus kecil, tangannya masih menekan sisi perutnya. "Tadi fokusku bukan ke makanan. Ada hal lain yang lebih... mendesak."

"Seharusnya tetap bilang. Maag bisa menyerangmu secara tiba-tiba, apalagi kalau kau sampai telat makan," balas Bara datar, namun ada nada protektif yang terselip di sana.

"Ya, aku juga baru sadar sekarang rasa laparnya jadi berkali-kali lipat." Nana menghela napas pendek, mencoba mengusir rasa kosong di perutnya.

Namun, saat mereka melangkah lebih jauh ke area koridor utama, atmosfer mendadak berubah. Udara yang tadinya hanya terasa gerah siang hari, kini berubah menjadi dingin yang menusuk karena tatapan-tatapan tajam dari para mahasiswa yang berpapasan dengan mereka. Bisik-bisik yang tadinya samar, kini terdengar seperti desisan ular yang serempak.

Nana memperlambat langkahnya, merasa tidak nyaman. "Bara... kenapa semua orang melihat kita seperti itu?"

Bara melirik sekilas ke arah kerumunan mahasiswi di dekat mading yang sedang menatap ponsel lalu beralih menatap Nana dengan tatapan jijik. Ia tahu, sesuatu mungkin telah terjadi.

"Abaikan saja," suara Bara rendah, mencoba menenangkan. "Mungkin hari mereka sedang buruk."

"Buruknya bisa berjamaah begitu ya?" Nana bergidik.

"Mungkin."

Nana mencoba mengalihkan pembicaraan, ia bertanya dengan nada polos, "Bara, rumahmu sebenarnya di mana sih?"

Bara tidak langsung menoleh. "Rumahku ada di atas."

Langkah Nana terhenti seketika. Ia menatap Bara dengan mata membelalak, wajahnya menunjukkan ekspresi horor.

"Di... di atas? Maksudnya di surga? Jadi selama ini aku bicara dengan..."

Bara terdiam, otaknya sempat lag selama dua detik mencoba mencerna pola pikir gadis di sampingnya ini. Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa kesabarannya.

"Maksudku... rumahku berada di kawasan perbukitan, di atas sana. Kawasan elit yang letaknya lebih tinggi dari kota ini. Bukan di akhirat."

Nana mengembuskan napas lega yang sangat keras hingga bahunya terguncang.

"Ya ampun! Bilang dong yang jelas! Aku sudah mau baca doa tadi!"

Tawa tipis nyaris lolos dari bibir Bara, namun ia segera menahannya saat melihat circle Vina berdiri di depan koridor menuju area kantin. Mereka menatap Nana dengan senyum sinis yang menghina, sementara beberapa yang lain terang-terangan menunjuk-nunjuk ke arah ponsel mereka.

Bara merasa rahangnya mengeras. Ia benci cara mereka menatap Nana seolah gadis itu adalah hama. Tanpa banyak bicara, Bara mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu meraih jemari Nana dan menggandengnya dengan erat.

Nana tersentak. Rasa hangat langsung menjalar dari telapak tangan Bara ke seluruh tubuhnya, membuat wajahnya seketika memanas. Ia menatap tangan mereka yang kini bertautan, lalu menatap Bara yang tetap melangkah dengan angkuh dan penuh wibawa.

Seolah mendapat suntikan keberanian, Nana tidak melepaskan genggaman tangan itu. Sebaliknya, ia justru ikut mengeratkan genggamannya, menyandarkan sedikit bahunya ke lengan Bara saat mereka melewati kerumunan mahasiswi tadi.

"OMG! Lihat! Mereka beneran pegangan tangan dong!"

"Berarti video itu nggak bohong! Murahan banget sih si Nana ini! Pasti habis ngapa-ngapain tuh di tangga darurat."

Mendengar bisikan itu, Bara justru sengaja memperlambat langkahnya tepat di depan mereka, seolah ingin memberi waktu lebih lama bagi mereka untuk menyaksikan "pemandangan" yang menyakitkan bagi mata mereka itu.

"Ternyata kamu bisa sangat provokatif ya, Bara," bisik Nana.

"Aku hanya menunjukkan fakta pada orang-orang yang tidak punya kerjaan itu," jawab Bara tanpa menoleh, namun genggamannya pada tangan Nana justru semakin protektif.

Para mahasiswi itu semakin panas dibuatnya. Wajah mereka memerah menahan iri dan amarah. Rumor itu bukan lagi sekadar video buram; kini di depan mata mereka langsung, sang "Pangeran Dingin" baru saja memproklamasikan bahwa mahasiswi polos yang mereka benci itu berada di bawah perlindungannya.

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!