"Jangan dekat rawa itu!"
semenjak banyak yang meninggal karena memasang jebakan ikan di malam hari, rawa kecil itu di jauhi oleh banyak orang karena sudah banyak yang meninggal dunia.
Apa yang sudah terjadi?
Siapa penghuni rawa kecil itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Jebakan Kiara
Sepi dan juga senyap area Desa Pandan Arum karena para warga memang tidak ada yang berani keluar untuk mencari sesuatu atau sekedar berpacaran, anak-anak muda di zaman sekarang memang sangat gatal sekali bila tidak bertemu dengan kekasih tercinta, terkadang mereka akan pacaran di dekat Rawa itu dan sering membawa makanan juga.
Tapi malam ini sama sekali tidak ada karena mereka takut bila nanti akan menjadi korban juga dari penunggu Rawa yang masih belum jelas itu, sungguh ketakutan itu begitu besar di dalam diri dia sehingga membuat para warga merasa minder dan memutuskan untuk menjauh agar tidak ada masalah lebih lanjut yang akan menghantui kehidupan mereka ini.
Sudah cukup tiga korban itu membuat para warga semakin was-was sehingga mereka memutuskan untuk menjauh dan kawasan Rawa itu juga telah diberi pagar yang begitu tinggi, memang itu tidak akan membuat iblis merasa kesulitan untuk keluar namun setidaknya para warga tidak ada yang berani untuk.
Pak Lurah takut nanti malam ada warga yang tetap ngeyel dan memasang perangkap ikan di kawasan itu karena Rawa kecil tersebut memang dihuni dengan banyak ikan, tahu sendiri bahwa kadang memang banyak warga yang keras kepala dan mereka tetap saja memancing di kawasan itu untuk mendapatkan ikan yang sangat banyak.
"Kita cari tempat lain saja lah ya." Digo menolak ketika Kiara mengajak duduk di pinggir rawa.
"Enggak mau, aku mau duduk sini menikmati cahaya bulan." Kiara tetap saja keras.
"Ki demi allah aku takut, mana kamu juga aneh pula malam ini." Digo merinding sendiri.
"Aneh kenapa?" Kiara menatap sang kekasih dengan sengit.
"Kamu tumben saja pakai cadar begitu, aku seperti sedang pacaran dengan siapa lah." Digo menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Nah harus nya kamu tau dong seberapa ingin aku duduk di sini, mana sudah pakai cadar begini biar tidak di gigit nyamuk." seru Kiara sangat kesal.
Digo sungguh tidak paham kenapa Kiara bisa bersikap seperti itu sehingga dia kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana untuk melayani kelakuan gila sang kekasih, kalau saja kesabaran Digo tidak seluas samudra maka pasti sudah lama sekali Kiara ini dia tinggalkan karena terus membuat ulah dan sampai sekarang masih juga tidak mau untuk di ajak menikah.
Ini biasanya juga dia adalah manusia yang paling peka karena dirinya memiliki darah campuran, namun ini malah dengan kekeh ingin duduk di pinggiran Rawa seperti ini sehingga membuat Digo tidak paham kenapa Kiara terus bersikap demikian dan membuat dia begitu pusing dengan segala tingkah laku ini.
''Duduk nah, haaaa indah sekali pemandangan ini.'' Kiara sudah duduk santai.
''Padahal Mama sendiri kan yang pesan kalau kita tidak boleh dekat Rawa ini untuk sementara waktu.'' Digo Akhirnya memilih untuk duduk juga.
''Biarkan saja Mama sibuk dengan para warga karena kita sekarang menikmati waktu berdua.'' Kiara langsung bergelayut manja di sebelah lengan Digo.
''Aih dia manis sekali kalau lagi begini.'' Digo menahan senyum karena memang jarang Kiara bersikap demikian.
''Kita Sudah lama tidak keluar bareng seperti ini dan duduk bersama ya.'' Kiara kembali membuka obrolan bersama dengan sang kekasih.
''Ya kan kamu yang menjaga jarak karena tidak mau aku ajak menikah, Lagi pula kalau ketemu terlalu sering dan kita tak kunjung menikah maka akan jadi omongan para warga.'' Digo berkata dengan nada sedih.
''Emang kamu beneran sudah yakin mau menikah sama aku? emang kamu sanggup menghadapi aku setiap hari kalau nanti sudah menikah!'' Kiara menatap wajah Digo dengan pandangan sayu.
Yang mendapat tatapan seperti itu tentu saja menjadi salah tingkah tidak karuan dan untung saja Kiara sedang menggunakan cadar sehingga dia tidak tergoda untuk mendekati bibir gadis itu, Digo hanya mencium aroma rambut yang begitu wangi dan pandangan dia mengarah pada Rawa kecil yang saat ini telah tertutup rapat dengan pagar.
''Kalau aku mengajak kamu menikah berarti aku sudah sanggup untuk menghadapi segala tingkah iblis kamu.'' Digo menjawab dengan mantap.
''Hahaaaaa tidak ada iblis di dunia ini.'' Kiara tertawa manja.
Pyaaaaaak.
Pyaaaaaak.
''Ki!'' Digo tersentak kaget karena air dalam Rawa itu mulai menimbulkan suara yang cukup menakutkan juga.
Kiara memberi isyarat kepada Digo agar pria ini diam terlebih dahulu sampai nanti kemudian iblis yang menghuni tempat itu sudah keluar, maksud kedatangan Kiara mengajak Digo datang ke sini adalah untuk memancing iblis itu keluar karena dia sudah sangat penasaran juga ingin melihat bagaimana bentuk wujud iblis tersebut setelah semua orang dibuat panik bukan main.
''Diam saja dan seolah kau tidak mendengar itu tadi.'' Kiara berbisik di telinga Digo.
''Jangan bilang kamu mengajak aku ke sini karena ingin memancing iblis itu keluar?!'' Digo baru sadar dengan ulah licik Kiara.
''Hahaaaa ini namanya sekali mendayung dua pulau terlewati, kan kita bisa pacaran di sini sambil nanti kalau berhasil bisa menangkap iblis itu juga.'' Kiara tersenyum dengan sangat licik.
Bluuup.
Bluuuup.
Suara air seperti sedang mendidih dapat mereka berdua dengarkan sehingga Kiara mengajak Digo untuk datang lebih mendekat ke arah sana, dia sudah tidak sabar ingin melihat secara langsung siapa sebenarnya yang telah muat keributan seperti ini sehingga semua orang menjadi panik tidak karuan.
''Dia keluar sekarang!'' Digo menunjuk sesosok bayangan hitam.
''Hahaaaaaa kau keluar juga akhir nya!'' Kiara berkelebat cepat dan langsung menodongkan Trisula kesayangan milik dia.
''Astaga dia lincah sekali kalau urusan iblis.'' Digo segera mendekati juga kearah mereka berdua.
Namun mata Kiara menjadi tidak berkedip sama sekali setelah dia melihat langsung siapa sosok yang ada di Rawa itu, sama sekali tidak pernah dia sangka dan selama ini Ketika gosip itu beredar maka Kiara memilih untuk tidak percaya karena dia memiliki pikiran tersendiri dan yakin bahwa itu tidak mungkin terjadi penghianatan di agensi.
''Kau!''
''Hahaaaaa anak ratu ular memang memiliki kelicikan tiada tara.'' iblis Rawa tersenyum menatap kepada Kiara.
''Tidak mungkin, Kenapa kau melakukan ini semua?!'' Kiara masih tetap tidak bisa mempercayai.
''Apa aku harus memiliki alasan untuk melakukan ini semua? bukankah ratu ular dulu tidak memiliki alasan juga ketika memakan kaum manusia!'' iblis rawa menyeringai.
Lidah Kiara terasa begitu keluh dan dia masih berdiri menatap lawan yang telah dia cari, bahkan untuk memberikan serangan dia juga masih tidak menyangka sehingga iblis itu hanya tersenyum dan menatap dengan tatapan begitu buah sekali, Digo juga hanya terdiam karena dia pun tidak menyangka kalau pelaku utama adalah sosok tersebut.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.
aneh betul dia
naferia curiga SMA siapa ya🤔🤔
Nana jg kok bisa masuk lumpur bukan nya td menghajar melda🤔🤔