NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Mandul!!

Dinikahi Duda Mandul!!

Status: tamat
Genre:Janda / Duda / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Hanela cantik

Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.

Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Yuda akhirnya tetap berangkat ke pabrik pagi itu. Mesin-mesin mulai menderu seperti biasa, para pekerja lalu-lalang, laporan datang silih berganti. Namun untuk pertama kalinya sejak lama, semua itu terasa hampa.

Ia berdiri di lantai gudang, menatap tumpukan karung beras tanpa benar-benar melihat. Saat Asman menjelaskan soal jadwal pengiriman tambahan, Yuda hanya mengangguk, padahal pikirannya melayang entah ke mana.

Beberapa menit berlalu.

“Pak Yuda…?” Asman ragu-ragu.

Yuda tersentak. “Iya, Man. Maaf. Ulangi lagi barusan.”

Asman mengulang penjelasan, tapi Yuda tahu, suasana hatinya memang sedang tidak baik.

Tak sampai satu jam, Yuda akhirnya mengambil keputusan.

“Man, kamu handle dulu. Kalau ada yang penting, kabari saya,” ujarnya singkat.

Asman tampak terkejut. “Bapak mau ke mana?”

Yuda mengambil kunci mobil di mejanya. “Keluar sebentar.”

Ia melajukan mobilnya, bukan ke arah rumah.

Sesampainya disana dia turun dari mobilnya dan melihat Tiara yang sedang berbicara dengan arka yang baru pulang sekolah. Mungkin Tiara sedang menyapanya.

Melihat kedatangan Yuda, mereka berdua langsung menyapanya.

"Om Yuda" seru Tiara sambil berlari kecil menghampiri.

"Om Yuda ngapain kesini" tanya arka.

Yuda tersenyum lebar. Ia jongkok agar sejajar dengan mereka.

“Om mau lihat kalian. Arka gimana sekolahnya hari ini?”

Arka langsung bercerita singkat, wajahnya antusias. Tiara ikut nimbrung meski ceritanya tak nyambung.

Di halaman itu, hanya mereka bertiga. Rumah terasa sepi. Kirana belum pulang kerja, dan Mbak Rita tampaknya sedang di dalam rumah.

Yuda berdiri kembali. “Gimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Makan es krim atau main ke taman dekat situ?”

Tiara langsung melompat kecil. “Mauuu!”

Arka awalnya ikut tersenyum, tapi lalu ekspresinya berubah ragu. Ia menunduk sebentar.

“Tapi… nanti Bunda khawatir, Om. Kalau kita main jauh-jauh,” ucapnya pelan.

Yuda tertegun sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia menepuk bahu Arka dengan lembut.

“Arka pinter. Om nggak mau bikin Bunda kalian khawatir.”

Yuda merogoh ponselnya. “Tenang ya. Om izin dulu sama Bunda Kirana. Kalau Bunda bilang boleh, kita pergi. Kalau nggak, kita tunggu di rumah saja.”

Arka mengangguk lega. Tiara memeluk kaki Yuda, menatap penuh harap.

Yuda menatap layar ponselnya, jempolnya mulai mengetik nama Kirana. Yuda menarik napas pelan sebelum mengetik pesan.

Assalamualaikum, Mbak Kirana. Ini

Arka dan Tiara lagi di rumah. saya mau ajak mereka jalan-jalan sebentar, nggak jauh, cuma makan sama main sebentar. Kalau Mbak berkenan.

Pesan terkirim. Yuda menatap layar beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan ke dua bocah di depannya.

Tak lama, ponselnya bergetar.

Waalaikumsalam

Kalau nggak merepotkan ngga papa mas. Tapi nanti pulangnya jangan terlalu malam ya.

Yuda tersenyum lega.

“Boleh!” katanya sambil mengangkat ponsel. “Bunda kalian izinin.”

Tiara bersorak kecil. “Horeee!”

Arka ikut tersenyum, meski tetap terlihat tenang. “Makasih, Om.”

“Sekarang,” ujar Yuda sambil berdiri, “ganti baju dulu yang rapi. Kita jalan pakai mobil Om.”

Tak butuh waktu lama. Arka sudah rapi dengan kaus bersih dan celana pendek, sementara Tiara memakai dress sederhana kesukaannya. Yuda memastikan mereka membawa jaket tipis dan minum.

Mobil melaju menuju mal terdekat.

Di playground, tawa Tiara pecah berkali-kali. Ia berlarian dari satu permainan ke permainan lain. Arka ikut bermain, sesekali menoleh ke arah Yuda seolah memastikan Om itu masih ada.

Dia juga sesekali ikut dan tertawa, melihat tingkah mereka.

Setelah puas bermain, Yuda mengajak mereka membeli baju. Ia memilihkan kaus baru untuk Arka dan gaun kecil untuk Tiara. Keduanya tampak senang, terutama Tiara yang memeluk bungkusan belanjaannya erat-erat.

Sore mulai turun saat mereka duduk di sebuah restoran keluarga di dalam mal. Arka makan dengan rapi, sementara Tiara sesekali merengek minta disuapi.

Yuda baru saja mengambil sendoknya ketika ia merasakan tatapan tajam dari arah samping.

Laura.

Wanita itu berdiri beberapa langkah dari meja mereka. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan lalu berubah menjadi curiga.

Yuda mengangkat kepala, raut wajahnya langsung berubah datar.

Laura menatap Arka dan Tiara bergantian. “Anak siapa ini?” tanyanya cepat. “Kenapa kamu sama mereka?”

Yuda tak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke Arka dan Tiara.

“Habiskan makanannya dulu ya. Jangan dipikirin,” ucapnya tenang.

Laura mendengus kesal. “Aku nanya sama kamu, Yuda.”

Yuda tetap diam. Fokusnya pada piring di depan anak-anak itu. Sikapnya seolah Laura tak ada di sana.

“Yuda!” suara Laura meninggi, menarik perhatian beberapa pengunjung lain. "mereka anak siapa kenapa bisa sama kamu."

Yuda akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya dingin, lelah, dan penuh kejenuhan.

“Mereka siapa?” desak Laura lagi.

Yuda menjawab singkat, tanpa emosi berlebih, namun cukup untuk menghantam.

“Anak-anakku.”

Laura membeku.

“Apa…?” suaranya nyaris tak keluar. Matanya membelalak, menatap Arka dan Tiara tak percaya. “Nggak mungkin… Secara kamu kan....”

Arka refleks menoleh ke Yuda, bingung. Tiara berhenti mengunyah.

Laura tertawa kecil, tawa yang terdengar sinis dan menusuk.

“Anak-anakmu?” ulangnya dengan nada mengejek. “Yuda… sejak kapan kamu bisa punya anak?”

Yuda berdiri mendadak. Kursinya bergeser keras hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, matanya menatap Laura dengan amarah yang tak lagi ia sembunyikan.

“Jaga mulutmu, Laura,” suaranya rendah tapi bergetar. “Jangan sekali-kali kamu bicara seperti itu. Bukan di depanku. Apalagi di depan anak-anak.”

Laura terkejut, namun gengsinya membuat ia tak mundur.

“Oh, jadi benar?” katanya lagi, kali ini lebih menusuk. “Jadi ini alasan kamu dulu nggak mau adopsi anak dari panti? Karena sekarang kamu nemu anak-anak orang lain buat dijadiin alasan pelarian?”

Yuda mengepalkan tangan. Dadanya naik turun, menahan emosi yang hampir meledak.

“Kamu dengar baik-baik,” ucapnya tegas, tiap kata keluar penuh tekanan.

“Kamu pergi bukan karena aku nggak mau adopsi. Kamu pergi karena kamu nggak bisa menerima takdir. Kamu ninggalin aku demi laki-laki yang kamu kira bisa ngasih kamu apa yang aku nggak bisa.”

Ia mencondongkan badan sedikit, menatap Laura lurus-lurus.

“Dan sekarang kamu nggak punya hak sedikit pun buat mengaitkan kondisiku dengan mereka. Mereka bukan pelarian. Mereka manusia. Anak-anak yang harus kamu hormati.”

Laura terdiam. Untuk pertama kalinya sejak datang, mulutnya tak mampu membalas.

Yuda lalu menoleh ke Arka dan Tiara. Nada suaranya langsung melunak.

“Maaf ya. Om bikin suasana jadi nggak enak,” katanya sambil mengusap kepala Arka dan mengelus rambut Tiara.

Arka menatap Yuda, matanya serius. “Om… Om marah?”

Yuda tersenyum tipis. “Nggak, Bang. Om cuma lagi jaga kalian.”

Ia kembali menatap Laura, kali ini dingin dan final.

“Pergi. Jangan datang lagi ke hidup saya. Dan jangan pernah dekati mereka.”

Laura menelan ludah, wajahnya campur aduk antara malu dan marah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi, langkahnya tergesa.

Yuda menghela napas panjang, lalu kembali duduk. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia segera menyembunyikannya.

“Lanjut makan ya,” ujarnya lembut. “Habis ini kita pulang.”

1
Marina Tarigan
semoga dgn Kirana juda dpt keturunan
Marina Tarigan
semua manusia serakah yg manfaatkan kebaikan Kuda harus diberi pelajaran kalau perlu uanh kerja keras numan jadi benalu
Marina Tarigan
lanjut zllaura zemoga berjasil kamu lupa kamu jalang ya suka2mu saja
Marina Tarigan
laura sebentar lagi datang bawa pacul mau mengusir Kirana ya nyesal ya
Marina Tarigan
juda sdh pernah menikah dgn wanita yg katanya wamita moderen tapi akhlak tdk ada gatal congkak meninggalkan suami yg super baik mengjina lagi
Marina Tarigan
hati2 yuda jgn anggap sepele sm pelacur itu jgn2 nanti dia celakai Mirana dan anak2 nya buatlah pelinxung mereka jgn namti menyesal
Marina Tarigan
kgn sempat anak itu kenapa2
Marina Tarigan
jati2 juda sm jalamg itu Kirana jgn dsmpsi dihanghu Laura
Marina Tarigan
mo inya bim sabim motornya berubah jd mobil ya
echa purin
👍👍
sakura
.....
Faris Setyawan Fais
sangking patuhnya, naik mobil pakai helm 🤣
Hamzah Abdurrohim
gimana sih tor dari bu rini jadi bu rina dari motor jadi mobil ngantuk ya mungkin authornya lagi capek ya
@Al**
/Good/
Hamzah Abdurrohim
tadinya naik mobil mewah kenapa jadi pake helem apa iya naik mobil pake hlem😄😄
Sayekti 0519
Alhamdulillah ceritanya bagus sekali
Sayekti 0519
balas kehilangan dengan kembar ya thoor
Tira Aneri
suuukaaa
Hana
kalo lagi jatuh cinta emang berasa anak muda😍🤭
Omah Tien
ky gt aja percaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!